Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Mommynya Edward


__ADS_3

Otniel memeluk Edward dengan sangat erat, anak kecil itu terlelap dalam pangkuan Otniel dengan posisi di infus, Edward tidak mau lepas dari Niel menyebabkan pria itu harus menggendong Edward yang tertidur.


Mereka sekarang berada di rumah sakit yang sama dimana William di rawat. Sean sedang diperiksa oleh Dokter yang bertugas di rumah sakit itu.


Menurut keterangan Edward, mereka sudah tiga hari tinggal di taman itu, mereka tidur di gazebo taman dan mengemis di jalanan untuk mengisi perut lalu kembali ke taman itu untuk beristirahat.


Otniel benar benar khawatir saat melihat kondisi Edward yang mengenaskan, wajah bocah kecil itu Luka luka dan di penuhi bekas pukulan di tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu nak? apa pria bajingan itu memukulmu? " gumam Otniel sembari mengusap wajah tampan Edward yang masih terlelap.


Mereka berdua ada di dalam ruangan perawatan dimana Sean diperiksa oleh dokter.


"Otniel," panggil Aurel yang terjun memeriksa keadaan Sean karena diagnosa dokter yang menangani Sean mengatakan bahwa Sean memiliki penyakit jantung turunan, padahal usianya masih sangat muda.


"Bagaimana kak?" tanya Otniel.


Aurel menggelengkan kepalanya pertanda ada yang tidak beres pada wanita itu.


"Apa yang terjadi? bisa jelaskan keadaannya?" tanya Otniel dengan nada khawatir, dia khawatir pada Edward.


"Di memilik penyakit jantung yang sudah berada di stadium akhir, dan dia sedang mengandung tetapi kandungannya yang sangat muda itu sudah tak ada harapan lagi Niel, kami... kami tak bisa melakukan apa pun," ucap Aurel sambil menunduk dan menatap Edward yang ada dipangkuan Otniel.


"Selain itu mungkin dia mendapat kekuatan untuk bertahan selama beberapa hari karena anak ini, rahimnya membusuk Niel, sangat menyedihkan, tubuhnya banyak bekas luka, apa yang sebenarnya dialami wanita itu, " tambah Aurel.


Otniel tak bisa berkata-kata lagi, nafasnya bagai tercekat saat mendengar kata kata Aurel. Bagaimana bisa wanita itu mengalami hal menyedihkan itu?


"Ba... bagaimana ini? bagaimana dengan Edward nanti?" Suara Otniel terdengar lirih, dia menatap Edward yang ternyata sudah bangun dan mendengar percakapan mereka.


"Mom kenapa buk Doktel? hiks hiks hiks apa mom cakit? Mom Edward dimana? Daddy, Mom Edward dimana hiks hiks hiks..." Bocah kecil itu mulai menangis, meski usianya baru 4 tahun dia sudah paham dengan hal hal seperti itu, dia bukan anak yang bodoh atau lamban dalam menangkap sesuatu.


"Edward..." Otniel menatap anak itu.


Tiba tiba seorang perawat datang menghampiri mereka sambil berlari.


"Dok.. pasien sadar, dia ingin bertemu dengan anaknya, sepertinya..." Dia berhenti bicara saat Aurel mengangkat jarinya di depan bibirnya.


" Mom bangun? Edward mau jumpa Mom, Daddy mana Mom hiks hiks hiks hiks... Edward mau jumpa Mom!! bawa Edward Mom huaaa..." Edward menangis dalam pelukan Otniel.


"Tenang nak, kita jumpai Mom ya, ayo jangan menangis, anak tampan jangan menangis," ucap Otniel sambil mengusap wajah bocah kecil itu.

__ADS_1


Aurel menatap Otniel yang begitu perhatian pada Edward, dia memperlakukan anak yang baru dikenalnya dengan sangat lembut, dan itu membuat Aurel bangga dengan pria itu.


"Ayo kita lihat," ucap Aurel.


Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan itu, Otniel sejujurnya sedikit khawatir dengan Edward, dia takut anak kecil itu menjadi trauma.


Mereka melihat Sean yang berbaring di atas ranjang pasien dengan wajah pucat, tubuhnya kurus dan keadaannya sangat buruk.


"Mom? Mommy!!" pekik Edward saat melihat Mommy Seannya di atas brankar.


Mata Sean langsung menangkap Sosok putra kecil yang ditemukannya dan diangkatnya sebagai anaknya.


Air matanya tumpah, dia menangis melihat anak malang itu.


"Nak... Anak Mom, peluk Mon sayang hiks hiks hiks..." suaranya terdengar lemah.


Secara medis, tak mungkin lagi Sean bangun dari pingsannya mengingat detak jantung nya perlahan melemah bahkan setengah bagian tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Otniel meletakkan Edward di samping wanita itu membiarkan Sean memeluk Edward di waktu terakhirnya.


"Mom? Mommy cakit hiks hiks hiks... Mommy jangan cakit, nanti capa yang jaga Edward? Mommy halus cehat jangan cakit begini, Mom halus makan, iya Mom Halus makan!" celetuk bocah kecil itu sambil menatap Otniel dengan mata berkaca-kaca.


Betapa hancur hati Niel dan semua yang ada di ruangan itu saat melihat Edward mencari makanan untuk Momnya yang bahkan tak akan mungkin bisa bertahan lagi.


" Sayang," panggil Sean dengan suara lembut, tangannya mengusap rambut laki laki tampan itu, dia tersenyum menatap putranya.


"Mom bangga punya anak sehebat Edward, tapi maaf sayang, Mom tidak bisa menjaga kami sampai akhir, Mom harus pergi, kamu harus hidup jadi laki laki yang hebat dan bertanggung jawab, tunjukkan pada dunia kalau Edward putra Mom Sean yang hebat, maaf Mom gak bisa jaga Edward lagi," ucap Sean pelan, dia tidak lagi menangis, dia malah tersenyum lembut menatap bocah itu.


"Mom jangan bercanda!" ucap Edward dengan wajah kesal.


"Edward kesal, Mom halus makan, Daddy mana makannya? buk Doktel mana makannya?" ucap bocah kecil itu.


"Sayang, maaf ya Mom gak kuat lagi nak, tuan tolong jaga Edward, dia tidak memiliki siapa pun sejak dilahirkan di dunia ini, saya hanya ibu sambungnya, saya titip Edward pada Anda, tolong jaga dia, jangan biarkan pria itu menyakiti nya lagi, " ucapnya sambil menatap Otniel.


Melihat tatapan menyedihkan itu, seketika Otniel teringat dengan mendiang kekasihnya yang juga meninggal dengan cara yang sama, di saat terakhir hidupnya wanita wanita itu banyak berbicara dan menyampaikan pesan pada orang yang akan mereka tinggalkan untuk selamanya.


"Edward, sampai jumpa di lain waktu sayang, Mom yakin akan ada perempuan lembut yang akan menjaga kalian," ucapnya sambil menatap Otniel dan Edward bergantian.


"Mom mau kemana? Edward ikut, jangan pelgi cendili gak baik,om kan bilang Gak boleh pelgi cendilian, Mom mau kemana?" ucap Bocah kecil itu sambil menggoyang lengan Sean dengan air mata bercucuran.

__ADS_1


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt..


Sean menghembuskan nafas terakhirnya sambil menggenggam tangan kecil Edward, dia meninggal dengan senyuman bahagia di wajahnya.


air mata terakhirnya menetes di saat perpisahannya dengan sang putra angkat.


"Mom? Mommy bangun? Kenapa tidur? Mommy? hiks hiks hiks... Daddy Mom kenapa ..." Edward menangis saat melihat Sean tak lagi menanggapi kaya katanya.


Dipeluknya tubuh Sean yang tak lagi bernyawa, dia menangis histeris sambil menggoyangkan tubuh Sean.


Otniel menunduk, yang lainnya juga demikian, mereka menangis menyaksikan perpisahan ibu dan anak itu.


Terlebih Otniel, dia tak tega melihat Edward histeris seperti itu, dia dengan cepat menggendong Edward dan memeluk nya dengan erat.


" Sayang Daddy disini, Daddy akan jaga kamu, ahhh... kenapa kita berdua mengalami nasib seperti ini nak?" Otniel menangis sambil memeluk Edward.


Dua kali pria itu bertemu dengan wanita yang meninggal sambil tersenyum setelah menyampaikan kata kata terakhirnya, belum lagi hal itu dialami oleh Edward yang bahkan tidak memiliki siapa pun lagi.


Malam itu menjadi malam yang menyedihkan terutama bagi Edward, bocah kecil yang malang itu.


" Daddy akan melindungimu nak, mulai saat ini Edward adalah anak Otniel, Aku akan menjagamu sayang, Aku akan menjaganya untukmu Mommy nya Edward, terimakasih sudah menjaganya sampai detik ini, kau akan dikenang sebagai Ibu Edward untuk selamanya, aku akan membalas perbuatan orang orang yang menyakiti kalian berdua," batin Otniel sambil menatap tubuh Sean yang tak bernyawa.


"Pembunuh! Kau membunuh istriku!" Teriakan seseorang terdengar menggema di ruangan dimana mereka baru saja kehilangan sosok perempuan yang berharga bagi Edward.


Telinga Otniel menangkap suara itu, dia berbalik dan menatap tajam pria yang baru saja masuk itu.


.


.


.


.


.


like, vote dan komen 😉😊


MAIN MAIN NIH SAMA DADDY OTNIEL, KASIHAN EDWARD, SEAN HARUS MEREGANG NYAWA SUPAYA KEBENARAN TERUNGKAP SECEPATNYA.

__ADS_1


__ADS_2