
Chelsea menatap kedua bocah yang menempel pada dirinya itu, dia sudah persis seperti seorang ibu yang sedang menunggu suaminya siuman sembari duduk bersama anak anaknya dan memandangi wajah suaminya dengan intens.
"Mom kok Daddy nggak bangun? ada apa?
apa Daddy gak sembuh? atau apa Daddy... Daddy... Daddy gak akan bangun lagi?" tanya Edward Dnegan suara pelan nan lirih.
Matanya sudah berkaca-kaca menatap Otniel yang masih betah terlelap di atas brankar padahal semua orang begitu mengkhawatirkan dirinya tetapi Otniel terus tidur dan tidak menunjukkan gejala apa pun.
Chelsea kembali mengusap lembut kepala anak kecil itu. Edward benar benar takut kehilangan Daddy nya, orang yang paling sia sayangi di dunia ini.
"hiks hiks hiks... Abang takut Daddy gak mau bangun seperti Mom Sean dulu, Abang takut huaaa... Abang takut Daddy gak kembali, Abang takut mom El," tangis Anak kecil itu semakin keras yang membuat semua orang dalam ruangan itu terbelalak saat mendengar suara Edward yang menangis.
" Edward harus kuat, sabar nak Daddy kamu pasti bangun, " ucap Chelsea sambil memeluk Edward dan Emily.
Kejadian yang dialami oleh Otniel membuat Edward begitu terpukul dan mengingat bagaimana Mom Sebabnya meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Semua orang yang dia sayangi diambil dari dirinya, dia tak ingin hal itu juga terjadi lagi, dia tak mau Daddynya diambil dari dirinya. Daddy Otniel yang merupakan separuh hidup Edward, akan terjadi kekacauan besar jika sampai Otniel tak bangun juga.
Saat mereka duduk disana menunggu Otniel untuk bangun, tiba tiba Otniel membuka matanya dan mengerjapkan kedua matanya menyesuaikan penglihatan dengan ruangan itu.
"... A... air..." ucap pria itu
"Daddy bangun!!!" teriak Emily saat melihat tangan Otniel terangkat meminta air.
Semuanya terkejut dan langsung mendekati brankar Otniel. Chelsea menurunkan Emily dai pangkuannya. Dia langsung mengambilkan segelas air putih dan membantu Otniel meminumnya.
" Ini airnya dok," ucapnya sambil membantu mengangkat kepala Niel untuk memudahkannya meminum air itu.
Setelah Otniel minum, Chelsea langsung mengecek kondisi Otniel, senyum nadi, tekanan darah detak jantung pria itu dia periksa.
"Akhirnya anda bangun dok," ucap Chelsea yang akhirnya bisa bernafas Lega setelah pria itu bangun.
Mereka semua turut senang melihat Otniel sudah bangun dari tidurnya.
" Bagaimana keadaannya nak Chelsea?" tanya Si Mama Park.
"Mama? Pa? eghh.... sudah berapa hari aku tidur?" tanya Otniel sambil menatap Mamanya yang tampak khawatir pada dirinya.
"Sudah dua hari lebih dok, sejak operasi berakhirnya anda belum sadarkan diri," jelas Chelsea.
"Ahh pantas saja tidurku sangat nyenyak, baru kali ini aku tidur seenak ini hahah..." celetuk pria itu.
__ADS_1
"nak Mama khawatir sekali pada Dirimu, kenapa kau betah sekali membuat orang lain ketakutan hah," gerutu Luna yang kembali ke mode cerewet nya.
"Mama kangen!!" rengek pria itu sambil mengangguk kedua tangannya. Chelsea mengamati tangan pria itu, tak ada lagi getaran disana bahkan Otniel sudah mengangkat tangannya dengan leluasa.
"Cihh... Mama juga kangen sayang," ucap Luna sambil memeluk putranya. Meski Otniel sudah besar, bagi Luna pria itu tetaplah Alvaro kecilnya yang menggemaskan, waktu yang hilang puluhan tahun akan dia ganti, dia maksimalkan untuk menikmati waktunya bersama anak anaknya.
"Jangan sakit lagi, Mama gak tegas sayang, Mama sedih kalau kamu sakit begini, Lihat Edward dia bahkan gak bisa tidur dengan tenang sejak kamu di operasi," ucap Luna sambil melepaskan pelukannya.
Otniel menatap putra nya yang sejak tadi diam saja menahan air matanya agar tidak mengalir. Bahkan Emily juga diam, gadis cerewet itu biasanya ribut dan heboh tapi dia ikut diam arena melihat Edward juga tak bereaksi lebih selain memandangi Otniel yang sudah sadar.
"Anak Daddy," panggil pria itu.
Edward masih saja diam, dia menundukkan kepalanya sambil memainkan kedua jarinya di bawah sana menahan tangisannya agar tidak pecah di ruangan itu.
"Anak Daddy, Edward," panggil Otniel lagi.
"Nak Daddy memanggil kamu, ada apa?" tanya Chelsea seraya mengusap punggung bocah laki laki itu.
Edward terus saja Dian, dia menunduk. Tiba tiba bahunya bergetar, air mengalir dari matanya, anak kecil itu tiba tiba saja menangis, tak tahan menahan air matanya di kedua pelupuk matanya, Akhirnya tangisan itu pecah di hadapan mereka semua.
"Hisk.. hiks. huaaa.... Daddy!!!" pekik Anak itu, yang langsung menangis histeris.
Apa pun katanya dia masih seorang anak kecil yang memiliki hati yang sensitif. Rasa takut, khawatir dan panik menyelimuti hati bocah kecil itu.
Air mata Otniel mengalir menatap putranya,"kemari nak, maaf Daddy bikin kamu khawatir," ucap Otniel sambil merentangkan kedua tangannya.
langsung saja Edward menghamburkan pelukannya pada Daddy, menangis tersedu sedu membuang semua rasa khawatir dan ketakutan dalam dirinya.
"Daddy kenapa lama bangunnya, Abang takut hiks hiks... Abang takut... Abang gak mau Monster jahat ambil Daddy huaaa... " Edward menangis histeris, seketika ruangan itu dipenuhi dengan suara tangisan karena Emily juga turut menangis, mereka berdua memang satu frekuensi.
Otniel memeluk erat putranya, dia memeluk Edward sambil mengusap pucuk kepala putranya yang menangis tersedu sedu dalam pelukannya.
"Maaf sayang, Daddy keenakan tidurnya hehehe, sekarang Daddy udah sehat, udah gak apa apa, Mom kamu selamatkan Daddy, " ucap Otniel yang tidak lagi merasa kesakitan di tangan dan bagian punggungnya yang menandakan operasi itu berhasil dan sukses.
"Uluhh anak ganteng Daddy kok nangis, Lah Baby Bubu kemari sayang, nangis juga, haduhh kalian memang sama sama cengeng ya," ucap Otniel sambil memeluk mereka berdua.
David menatap Otniel yang sudah sadarkan diri," Bro jaga kesehatan, aku pergi dulu, ada urusan di kantor, nanti aku datang, Vasko dan Joy sudah di jalan, mereka sudah kuberitahu kalau kau sudah sadar," ucap David.
"ahhh thanks vid," ucap Otniel.
Namun dia merasa aneh dengan tatapan dingin di mata pria itu.
__ADS_1
"Ma, Pa, Sir Petra, David pergi dulu, ada urusan kantor agak mendesak," ucapnya.
"Emily, Edward Papa pergi dulu ya, nanti Papa bawakan mainan," ucapnya yang dianggukkan kedua bocah kecil itu.
"Dian, aku pergi," ucapnya tanpa menatap istrinya, nada suara yang dingin membuat Dian sadar kalau suaminya sedang marah.
Tak pernah David memanggil Dian dengan namanya langsung, sangat jarang, tetapi nada dan panggilan itu membuat Dian merasa sedih.
"Kak..." panggil Dian.
"Aku sedang sibuk, terlalu banyak urusan Dian, kau sudah biasa kan?" ucap David yang langsung pergi dari sana tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut dari istrinya.
"Dad, what happen?" bisik Otniel pada Sir Petra.
"Biasa, cekcok pasutri, nggak apa apa kok, kamu tenang saja, sekarang urusanmu adalah si cantik itu," bisik Sir Petra seraya mengedipkan sebelah matanya pada Otniel.
Otniel memutar malas kedua. matanya," Daddy ada ada saja, tapi emang harus langsung di tangkap hihihi..." Kikik pria itu.
"Daddy mau nangkap apa?" tanya Edward dan Emily bersamaan.
"Nangkap Mom kamu hahahahaha..." celetuk Sir Petra sambil terkekeh.
"Dasar mereka ini, bisa-bisanya bercanda dalam situasi ini," gumam Gama seraya memijit pelipisnya sendiri.
"Nak tenang lah," ucap Luna pada Diandra yang tampak sedih menatap kepergian suaminya.
"Gimana Dian bisa tenang Ma, Kak David marah hiks hiks hiks..." lirih wanita itu.
tiba tiba....
Brukk....
Diandra pingsan dalam pelukan Luna, semuanya panik, mereka panik dan takut melihat Diandra yang tampak terguncang.
"Diandra!!!!" pekik mereka semua.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😊