Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Rumah Ternyaman


__ADS_3

Ketiga pria tampan tapi psiko itu kini telah tiba di rumah sakit dimana Diandra dan yang lainnya berada. Kamar rawat Ara dijadikan tepat mereka bersama.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam pertanda kalau penghuni bumi sudah kembali terlelap untuk mengarungi mimpi mereka.


David masuk bersama Vasko dan Joel, mata mereka tertuju pada pasangan masing-masing yang sudah terlelap di tempat tidur mereka.


Hanya melihat wajah Diandra saja membuat David merasa lega untuk bernafas, dia mendekati istrinya yang sudah terlelap.


" Lama juga kalian," ucap Otniel yang masih terjaga sambil menepuk nepuk punggung putranya yang sudah terlelap.


" Loh belum tidur? kenapa?" tanya David heran.


Otniel menunjukkan Tabletnya yang juga menu situasi di bar dimana David dan yang lain tadi beraksi.


" Jadi Kau mengawasi kami? apa mereka tau?" tanya Vasko seraya berbisik.


Otniel menggelengkan kepalanya," mereka tidak tau," jawabnya dengan santai.


" Huffft... syukurlah," ucap mereka.


" Tadi Petra Demam dan Diandra tiba tiba mual muntah, jadi aku mengurus mereka berdua dulu," ucap Otniel.


" Vid sebaiknya temui istrimu, kasihan dia, mualnya sangat parah tadi," ucap Otniel.


" Apa dia sering seperti itu?" tanya David yang memang sibuk belakangan ini.


" Apa dia tidak bilang?" tanya Otniel.


" tidak, memangnya ada apa?" tanya David penasaran sekaligus khawatir.


" Dia mengalami morning sickness yang cukup parah, dia sering menahannya, kau harus lebih banyak meluangkan waktumu untuknya, dia mungkin takut memberitahu padamu," jelas Otniel.


" Begitu kah? astaga, kenapa aku sampai tidak tau hal ini," ucap David memijit pelipisnya, dia memang disibukkan dengan tugas tugas kantornya sehingga dia dan Diandra lebih banyak berbicara dari ponsel.


" Sudah sana temui dia," ucap Vasko yang dibalas anggukan kepala oleh David.


"Aku ke Joy dulu," ucap Vasko sambil menghampiri istrinya yang sudah terlelap.


David menemui istrinya, dia menatap Diandra yang terlelap dengan posisi tidak nyaman. David menutup tirai dan naik ke atas tempat tidur, dengan hangat dia memeluk istrinya.


Tangannya mengusap perut buncit Diandra," Pasti sulit bagi kalian, maafkan aku sayang terlalu sibuk belakangan ini, baby Bubu maaf ya sayang Papa akan lebih memperhatikan kalian" ucap David.

__ADS_1


Diandra yang merasa tempat ternyamannya sudah pulang otomatis memeluk David, hanya mencium aroma tubuh David saja sudah membuat dirinya tenang.


Vasko di tirai lain juga memeluk istrinya dengan erat, mereka berdua belakangan ini juga disibukkan alias sengaja disibukkan agar Joy tidak kepikiran dengan keluarganya. Bahkan bulan madu selepas pernikahan saja tidak mereka lakukan karena kejadian yang datang beruntun, faktanya keduanya bahkan belum melakukan malam pertama sebagai pasangan resmi.


Joel menatap Otniel," bagaimana keadaan Ara?" tanya pria itu.


" Masih sama Joel, traumanya sangat besar, dia butuh waktu untuk kembali pulih, itu pun kita tidak tau apa kepercayaan dirinya bisa kembali, bahkan yang paling bermasalah suatu saat nanti adalah dia mungkin mengalami disfungsi seksual karena kejadian itu, tubuhnya mungkin akan menolak hal hal yang berhubungan dengan hal itu," ucap Otniel dengan wajah lesu.


" Kemungkinan terburuk dia bisa mengalami trauma selama bertahun-tahun, jika tidak dipantau dia bisa dimanfaatkan orang lain dan mengalami depresi berkepanjangan," jelas Otniel.


Mendengar hal itu membuat hati Joel sakit, kekasihnya akan menjalani perawatan yang lama, harapan untuk pulih pasti ada tetapi luka itu pasti akan membekas di dalam hatinya Samapi selamanya.


" Sialan!" umpat Joel sambil memijit pelipisnya, dia benar benar kacau saat mendengar penjelasan Otniel.


" Dia bisa sembuh Joel, kau harus membantunya mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, korban bullying harus diberi dukungan, dan kau harus sabar, dia bisa saja tiba tiba histeris ketika sebuah situasi memiliki suasana yang sama dengan saat dia dirisak," ucap Otniel.


" Sementara dia harus mengonsumsi obat," ucap Otniel lagi.


" Kumohon lakukan yang terbaik Niel, apa pun akan kulakukan agar dia sembuh," ucap Joel seraya memohon.


Otniel tersenyum," Aku yakin dia akan sembuh Jo, kondisi tadi hanya sebuah kemungkinan, melihat dia bisa berinteraksi dengan kita saja sudah sebuah hal yang baik," ucap Otniel.


" Sana temui dia, dia mencarimu tadi," ucap Otniel.


Joel melangkah menuju brankar Ara yang tirainya dibuka, sementara tempat tidur Joy dan Diandra dibatasi dengan tirai agar mereka nyaman.


Perlahan pria itu mendekati Ara, tidak ingin gegabah dan malah membuat Ara terkejut, dia berjalan dengan pelan.


Pria itu duduk disampingnya sambil menggenggam tangan gadis yang sudah terlelap dengan tenang itu.


Tangannya menggenggam tangan Ara dengan lembut. Sambil tersenyum lembut Joel mengusap kening Ara.


" Cantik sekali," gumam Joel sambil menatap Ara.


Ara yang memang sangat sensitif dan mudah panik sejak kejadian itu langsung terbangun dari tidurnya saat merasakan seseorang menyentuh dirinya.


Nafasnya mulai naik turun dan dia gemetar, belum jelas dia lihat siapa yang ada di depannya sehingga itu membuatnya takut.


Di pikiran Ara ketika melihat sosok remang remang itu adalah sosok Max yang hampir menyetubuhinya hari itu. Hingga dia mendengar suara Joel yang selalu lembut dan hangat membuat nya sadar kalau itu Joel bukan Max.


" Ara," panggil Joel dengan lembut, benar benar lembut.

__ADS_1


Mata Ara menatap Joel, lagi lagi dia hampir menangis.


Joel tersenyum," mimpi buruk hmm? lihat wajahku dong, aku kan manis jadi kamu gak akan mimpi buruk," ucap Joel sambil terkekeh.


Ara tersenyum, mendengar candaan Joel membuat hatinya bahagia.


" Darimana saja?" tanya Ara pelan tak ingin membuat keributan karena ada yang lainnya disana.


" Ada pekerjaan tadi bersama Vasko dan David, bagaimana perasaanmu? apa ada yang sakit?" tanya Joel, tatapan matanya begitu indah menatap gadis cantik itu.


"Aku hanya sedikit takut beberapa saat tadi, selebihnya aku baik, " jawab Ada sambil tersenyum.


" Ahh manisnya," ucap Joel seraya mencolek pipi Ara membuat gadis itu tersipu malu.


"Hahahha... wajahmu memerah lagi," Joel tertawa terbahak-bahak.


" Joel!" suara ketiga pria yang sedang mengamankan pawang mereka membuat pria itu terdiam.


" Hehehe... Mereka marah," Joel cekikikan dengan suara pelan.


Ara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah pria itu, benar benar lucu dan menghibur.


" Sudah ayo istirahat lagi, kau butuh istirahat agar cepat pulih, aku sudah tidak sabar ingin membawamu kencan heheh," Joel tersenyum tidak menunjukkan kesedihannya, tidak menunjukkan kekhawatiran nya meski hatinya sakit saat ini.


Ara mengangguk, dia memang sangat mengantuk.


" Kau juga tidurlah, jangan kelelahan, " ucap Ara pelan.


" He... em... aku akan tidur, ayo tutup matamu, ini sudah sangat larut," ucap Joel.


Ara menutup matanya dan mulai terlelap, tangan Joel selalu menggenggam tangannya, pria itu menatap Ara dengan sendu, dalam pikirannya akankah Ara bisa sembuh dan mendapatkan dirinya kembali? hanya waktu yang bisa menjawab.


Joel terlelap di samping Ara, dia meletakkan kepalanya di atas brankar dan tidur dengan posisi duduk. Dia tidak ingin meninggalkan Ara sendirian disana karena sewaktu-waktu Ara bisa terbangun tiba tiba dan mengingat traumanya.


Tanpa sadar air mata pria itu menetes, khawatir dan takut menghantui pikirannya. Joel benar benar telah jatuh cinta pada gadis pemilik nama Ara itu.


Hari pun terus berlanjut, Malam semakin dingin dan sepi menandakan ini Waktu untuk beristirahat dari segala kesibukan.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😊😉😊


__ADS_2