
Masih di kediaman keluarga Joy,
Pak Putra diikat dengan rantai karena dia meronta ronta, bahkan menggigit beberapa pengawal yang berusaha untuk menahannya.
" hahahaha.... Mana kau Joy!!!" teriak Pak Putra dengan mata melotot, dia terkadang mendapatkan kesadarannya, terkadang meracau tak jelas, menangis, tertawa persisi seperti orang gila karena obsesinya untuk mendapatkan segalanya tanpa perlu berusaha.
Joy menatap Papanya sambil menangis, dengan segera Vasko memeluk istrinya. Sedih rasanya melihat kelakuan Papanya yang tidak normal itu.
" Papa...." Lirih Joy dia menatap Pak Putra yang diamankan di sudut ruangan.
" Tenang sayang," ucap Vasko sambil mengusap bahu Joy yang gemetaran.
" Papa kenapa begitu Kak hiks hiks... lihat penampilannya, menyedihkan!"
" Sabar sayang,"
Vasko menenangkan istrinya yang menangis tersedu sedu melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Pak Putra bukan lagi Papa yang dia kenal dulu.
Tak ada sedikitpun kenangan indah dalam hati Joy tentang Papanya, tapi dia masih menganggap pria itu sebagai Papanya.
David menatap Pintu kamar yang ditutup rapat, tangannya diikat dengan kain untuk menghentikan pendarahan, tubuhnya bersimbah darahnya sendiri karena ulah Pak Putra.
" Buka kamar itu!" titah David pada anak buahnya.
" Mau apa kalian, anakku, jangan buka pintu itu, anakku disaanaaa!!" pekik Pak Putra yang menangis histeris saat melihat beberapa anak buah mencoba membuka pintu itu.
Pintu dikunci dengan rapat, terpaksa mereka merusak pintunya dengan cara mendobrak.
Bahkan sebelum dibuka sudah tercium bau amis.
" Pakai masker kalian!" titah David lagi yang merasa mual karena bau amis dari kamar itu, ingat, David juga mengalami syndrom kehamilan seperti istrinya tentu saja dia akan mengalami hal yang sama jika mencium bau tak enak meski tak sensitif istrinya.
Para pengawal memakai masker dan memulai pekerjaannya membongkar kamar itu.
Brak....
Brakkk.
Braaakkk....
Pintu hancur seketika dan terlepasnya dari engselnya.
Bau menyengat menyeruak di seluruh ruangan itu, mereka semua menutup mulut mereka.
Lampu dinyalakan,
Tampaklah kondisi kamar Amel yang berantakan. Kain berserakan di atas lantai, ada bercak darah dimana mana, tisu bekas yang berbercak darah kering terletak di atas lantai.
Nald suntik dan spuit berserakan dimana mana , flacon flacon kosong berserakan di atas lantai, kotoran dan debu menumpuk, udara yang lembab dan bau benar benar berantakan.
Mata mereka terbelalak melihat seorang wanita yang duduk di atas kasur dengan tubuh kurus tetapi diberi make up sehingga dia terlihat seperti mayat hidup yang dirias, pakaian lusuh,rambut panjang tak terurus, wajah lelah tetapi tersenyum menatap sebuah boneka di pangkuannya.
__ADS_1
" anakku sayang, cup cup cup... jangan menangis, anak Mommy hahahah.... jangan menangis sayang, Mom disini hahahah..." racau wanita yang juga telah kehilangan kewarasannya.
dan yang paling menyedihkan adalah melihat kalau wanita itu diikat dengan rantai yang di jepitkan di lemari.
Amel dijadikan seperti seorang tahanan dalam depresi, menyedihkan, dan membuat siapa pun yang melihatnya mendelik ngeri.
" Kak Amel!!" pekik Joy yang hendak berlari menghampiri kakaknya namun Vasko menghalangi Joy.
" Nanti saja sayang," ucap Vasko.
" Tapi... " ucap Joy dengan mata berkaca-kaca.
" Kumohon," pinta Vasko.
Joy mengangguk, dia tetap di posisinya, suaminya terus merangkul tubuhnya yang bergetar ketakutan melihat keadaan Amel saat ini.
Mengenaskan sekali!
Para pengawal mendekati Amel dengan pelan namun tiba tiba wanita itu melompat seperti orang kesetanan, untung dia diikat dengan rantai jika tidak dia sudah menyerang mereka dengan brutal.
" Mau apa kalian, kalian pasti mau mengugurkan kandunganku kan? anakku... anakku... hiks hiks hiks..." Amel meracau dia mengusap perut ratanya, dalam pikirannya dia sedang hamil, padahal dia sudah keguguran karena memukuli dirinya sendiri.
"Jahat... jahat.. hiks hiks hiks... ahh harus bersih bersih, kalau tidak bersih, Papa akan menbuangku seperti Joy, Papa akan memukul Mama Papa akan memukul adikku Joy ..." perubahan perilaku yang drastis.
Sakit jati Joy melihat kakaknya seperti itu. Sementara itu Amel merapikan kamarnya sendiri, menyingkirkan semua bebas kotor ke tepi kamar, memperbaiki pakaiannya.
" Kak Amel!!" panggil Joy dengan suara bergetar, sedih hatinya mendengar racauan wanita itu. Amel menjadi korban keegoisan Papanya sendiri.
" Joy? adikku? adikku?" ucap Amel dia menatap ke arah mereka sambil tersenyum dengan wajah kurusnya itu.
" Joy adik kecil kakak, adik kecil kakak hahah, adik kakak pulang?"ucapnya sambil menatap Joy, dengan tersenyum namun air matanya menetes.
Tiba tiba dia menangis," Joy pergii... Pergi Joy, Papa akan pulang, Papa akan marah sama Joy hiks hiks hiks, Papa akan pukul Joy lagi Pergiii kau Joyyy... arkkhhhh... Pergiiiii!!!!" Amel memekik sambil menjambak rambutnya sendiri.
" Kak Amel!!" pekik Joy, Amel diam lagi saat mendengar suara adiknya dia menangis menatap Joy, dia tersenyum sambil menatap wanita itu.
" Kakak sayang Joy," ucapnya sebelum akhirnya dia pingsan tak sadarkan diri.
Miris melihat Amel mengalami hal menyakitkan itu, sakit sekali hati Joy melihat kakaknya seperti itu.
" Joy juga sayang sama kakak hiks hiks hiks...." Joy menangis tersedu-sedu.
Para pengawal segera membuka ikatan di tubuh Amel, mereka dengan cepat mengevakuasi Amel dan melarikan wanita itu menuju rumah sakit .
Mereka semua pergi dari sana, Pak Putra dibawa ke rumah sakit dimana orang orang gila ditampung, namun Pak Putra didiagnosa mengalami kegilaan total dan tak akan ada harapan untuk bisa kembali normal seperti semula.
Amel dirawat dirumah sakit dengan penjagaan super ketat. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa Amel masih bisa dipulihkan meskipun sedikit lambat sebab trauma yang dialami wanita itu sangat besar tetapi ada harapan untuk dia kembali pulih seperti semula.
Cindy memilih menenangkan dirinya di pelosok, di kampung halamannya untuk sementara waktu. Dia benar benar terpukul dengan keadaan keluarganya yang hancur berantakan karena obsesi berlebihan suaminya.
...****************...
__ADS_1
Di rumah sakit,
Di sebuah ruangan isolasi, Amel tampak duduk di atas brankar pasien, dia sudah dirawat disana selama dua hari.
Joy menatap kakaknya dari luar, mereka belum diperbolehkan masuk selama Amel belum bisa dipastikan sudah mulai pulih. Dukungan terus Joy berikan bagi kakak perempuannya, kenangan masa kecilnya dipenuhi dengan hal hal bahagia bersama kakaknya.
" Kak Amel, kuharap kakak bisa cepat pulih," gumam Joy.
" Sayang," seseorang datang menghampiri Joy sambil membawa dua buah minuman dingin.
" minum dulu," ucap Vasko.
" terimakasih kak," ucap Joy.
" Kau baik baik saja?" tanya Vasko.
Joy mengangguk pelan," Aku baik kak, semuanya sudah tenang sekarang, kuharap kak Amel bisa segera pulih, aku ingin bersama kakakku lagi"
" Karena ada Kau yang mendampinginya, dia pasti pulih dengan cepat sayang, " ucap Vasko yang memeluk Joy dari belakang.
" Mama gimana Kak? apa dia aman?" tanya Joy.
" Mama Cindy aman di kampung halamannya, aku juga mengirim beberapa orang untuk menemani Mama disana, kamu jangan khawatir ya," ucap Vasko.
" Terimakasih selalu bersamaku kak," ucap Joy.
" Sudah kewajiban ku sayang," ucap Vasko.
" Kita pulang, Kak Dian pasti merepet melihat kondisi kak David, kurasa kita juga akan habis diomeli si bawel itu," ucap Joy.
" Hahhah... kau benar, aku saja sudah bisa menebak kalau Diandra pasti sedang mengomel sambil mengunyah makanan di mulutnya," ucap Vasko.
" Hmmm... kau benar Kaka," balas Joy.
" Kau kapan begitu?" tanya Vasko.
" Apa kakak mau punya anak?"
" Tentu saja, diberkahi anak adalah sebuah anugerah luar biasa, tapi kalau kau tidak mau aku tak masalah karena itu adalah tubuhmu," ucap Vasko.
Joy tersenyum mendengar jawaban suaminya," terimakasih kak," ucap Joy.
Vasko mengangguk sambil tersenyum, dia sangat menghargai istrinya yang kekurangan kasih sayang dari orangtuanya, tak ingin Vasko membuat Joy merasakan kembali rasanya kurang kasih sayang.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉
__ADS_1
Kode keras bang Vasko 🤣🤣