Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
rencana


__ADS_3

Otniel menatap Chelsea denagn tatapan datar, tanggapan Chelsea persis seperti apa yang dia pikirkan tentang gadis itu, bahwa dia akan menolak tawaran untuk mengoperasi diri Otniel.


Otniel tergelak,” hahaha kau pikir aku serius denagn kata kataku? Lagi pula siapa yang ingin dioperasi oleh dokter tak kompeten dan dokter tidak percaya diri seperti dirimu, itu sama saja seperti aku mengantarkan nyawaku pada ,malaikat maut hahahhahaa..... “


“kau lucu sekai Chelsea hahahhahaha” Otniel tertawa terbahak bahak, menertawakan dirinya sendiri lebih tepatnya.


“Sial sekali nasib mu Otniel, mau pdkt malah ditolak hahahha memalukan,” batin pria itu.


Chelsea sedikit terkejut mendengar kata kata Otniel, dia memegang dadanya yang entah kenapa terasa pedih ketika Otniel mengatakan kalau itu bukan hal yang serius, kali kedua dia mengalami ini dan pertama kali saat dicueki oleh Edward kecil di taman.


“Tuh kan akau merasa seperti ini lagi, ada apa denganku,, kenapa aku bisa sampai merasa seperti ini padahal dia kan memang mengatakan yang sebenernya?” batin Chelsea sambil menatap Otniel yang masih tertawa.


“Astaga tapi kenapa rasanya seperti sedang ditolak?” batin Chelsea.


Diandra, Vasko dan kedua anak itu tentu saja heran mendengar suara tawa Otniel yang terdengar mencurigakan, tak biasanya dia tertawa terbahak bahak seperti itu di depan orang lain, belum lagi nada tawanya terdengar lebih rendah dari biasanya.


“Wah ada apa dengan kak Otniel apa dia sedang dilema tentang sesuatu?” bisik Diandra pada Vasko.


“Ada yang aneh dek, apa menurutmu Otniel sudah gila? Maksudku karena penyakitnya itu dia jadi tidak waras?” balas Vasko.


Bughh


Diandra memukul perut Vasko dengan wajah kesal,” jangan mangada ada, kalau sampai dia gila aku mana rela, dasar kakak ini, apa jangan jangan kau yang gila,” kesal Diandra.


“Haihhh... kenapa kau sensitif sekali seperti ibu hamil saja,” ketus Vasko seraya mengusap perutnya yang terasa sakit karena pukulan si mama gorilla itu.


“Ck... diamlah,” ketus Diandra.


Sementara itu Chelsea malah larut dalam kebingungan karena sejak tadi dia hanya melihat dan mendengar Otniel yang tertawa terbahak bahak, menertawakan Chelsea padahal Chelsea tidak tau apa yang sedang ada dalam pikiran Otniel.


“Hahahaha... baiklah.. ekhmmm.. eghh... a.. a....”


“Shhh... tak masalah kau tak mau. Itu pilihanmu, kalau begitu silahkan pergi dan tak perlu mengunjungiku lagi,” ucap Otniel yang kembali ke mode datar dan dingin seperti biasanya.


“Ehhh se... sebenarnya saya datang kesini karena saya ingin mengucapkan terimakasih atas pertolongan dokter waktu itu, lain waktu saya akan membalas budi anda dok, terimakasih banyak karena telah menyelamatkan nyawa saya,” ucap Chelsea yang sudah berdiri dan membungkuk hormat pada Otniel.

__ADS_1


“Kalau begitu kau harus balas budi saat ini juga, kau yang harus menyembuhkan aku,” ucap Otniel yang masih berharap kata setuju keluar dari bibir mungil gadis cantik itu.


“Ehh untuk masalah itu saya tidak berani dok, sejujurnya saya hanya dokter fellow tahun kedua, saya juga sudah dikeluarkan dari departemen bedah syaraf karena mengambil keputusan sendiri terkait operasi ganda waktu itu, sekarang saja saya bahkan tak tau harus melakukan apa, saya hanya belajar sendirian, saya tak ingin dipecat dari rumah sakit ini jika saya kembali macam macam dok,” jujur Chelsea menceritakan keadaannya yang serba salah saat ini.


“jujur saja, saya tidak berani mengambil resiko besar seperti ini, lebih baik saya dikatai bodoh daripada saya harus mengorbankan karir saya dok, maaf sebelumnya,” ucap Chelsea.


“Hmmm baiklah gadis bodoh, pergi sana, aku juga tak mengharapkanmu, kasihan juga kau dikeluarkan dari departemenmu, lagi pula kau memang pantas mendapatkan hal itu,” ucap Otniel dengan ketus.


Hati Chelsea sakit saat mendengar kata kata Otniel, namun apa daya memang dia pantas menerima itu. Gadis itu menunduk sambil menahan agar air matanya tidak menetes.


"Kau terlau lemah untuk menjadi seorang dokter, tida percaya diri dan bahkan tidak tau kemampuan mu seperti apa, kau benar benar seorang dokter yang mengecewakan Chelsea,” ucap Otniel lagi.


“Sa,.... saya tau dok, maaf kalau saya tidak kompeten dan malah mengakibatkan kerugian pada rumah sakit besar ini,” ucap Chelsea yang memang jelas terdengar seperti tangisannya akan segera tumpah.


Otniel menghela nafas, jujur saja dia benar benar kesal dengan jawaban tidak percaya diri dari gadis itu.


"Ck... sejujurnya kau adalah dokter terbaik yang pernah kutemui selama aku bekerja disini, bahkan si Aris bodoh itu tidak bisa menyaingi kemampuanmu, tapi masalahnya sekarang kau tidak percaya diri dasar gadis bodoh!!" batin Otniel mengomel.


"Bodoh!" ketus Otniel.


"Sana pergi keluar, aku tak ingin melihatmu!" ketus Otniel.


Otniel melirik kepergian gadis itu," sepertinya aku menyukaimu Chelsea, tapi kau... Haihh... sudahlah, kita lihat saja yang akan terjadi," gumam Otniel.


Melihat Chelsea pergi, Diandra segera mendekati Otniel.


"Kak, kenapa biarkan Kakak ipar pergi begitu saja, aku tau kau pasti menyukai nya, iya kan," goda Diandra.


Wajah Otniel lagi lagi bersemu," ck... kalau sudah tau tak usah di bilang bilang Diandra," ucap Otniel yang jadi salah tingkah di depan Diandra.


"Pffftthhh hahahahah... kak Otniel menyukai gadia tadi hhahah, kupikir kakak tidak normal selama ini hahahahaha..." Diandra Tertawa terbahak-bahak.


"Jadi dia benar benar menyukainya?" ucap Vasko dengan wajah terbelalak.


"Hahaha iya kak, kakak lihat saja wajah si dokter badut ini sudah memerah seperti kepiting rebus hahahahah...."

__ADS_1


"Hahahah... pertama kali setelah sekian lama ya Niel, apa kau benar benar sudah bisa melupakan Jesslyn?" goda Vasko.


"Jesslyn itu cerita lain Vasko, dia tidak akan pernah kulupakan," ketus Otniel.


"Hahahah.. selamat untukmu, tapi jangan sampai masa lalu mu menghalanginya Niel, lagi pula anak anak menyukainya," ucap Vasko.


"Jadi Daddy suka sama dokter Chelsea?" tanya Edward dengan mata berbinar-binar, dia sudah berada di dekat Otniel.


"Eh... i..itu, se..sedikit sih nak, tapi kalian lihat kan dia menolak mengoperasiku, apa yang harus aku lakukan?" tanya Otniel.


"Hahaha... masalah itu tenang saja kak, Kami bertiga sudah membereskannya," ucap Diandra dengan senyuman licik, bahkan kedua anak itu juga turut tersenyum seolah mereka telah melakukan sesuatu.


Vasko dan Otniel saling menatap, hal gila apa lagi yang mereka bertiga lakukan.


"Apa yang kalian lakukan? kuharap bukan sesuatu yang berbahaya Diandra," ucap Vasko.


"Tenang saja kak, aku melakukan sesuatu yang akan membuat kalian berterimakasih pada kami bertiga, iya kan anak anak," ucap Diandra.


"Iya Ma," seru mereka berdua.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, aku ingin agar Chelsea yang mengoperasi diriku, aku tak yakin dengan dokter lain," ucap Otniel.


"Cihh dasar, mulutmu tadi bilang tidak mau, taunya hatimu mau, dasar plin plan," ejek Vasko.


"Ekhmmm...itu hanya sebagai pencitraan, agar imageku tetap terlihat keren di mata gadis itu hehehe," kekeh Otniel.


Vasko dan Diandra hanya bisa menggelengkan kepala mereka, Otniel memang selalu di luar perkiraan.


"baiklah yang akan kita lakukan adalah melakukan rapat besar untuk menentukan siapa yang akan mengoperasi kakak, kakak akan lihat apa yang terjadi nanti hehehe..." Diandra tersenyum licik dan itu terlihat agak menyeramkan.


"Apa lagi yang mere lakukan?" batin Vasko dan Otniel.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😉😊


__ADS_2