
Diandra membulatkan matanya saat Dev mengatakan kalau dia adalah kekasih yang dimaksud oleh Dev, sebenarnya dia sudah berpikir kalau Dev ingin mengatakan hal itu, tetapi rasanya dia tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.
David menatap mata Diandra dengan tenang dan lembut, memberikan kehangatan bagi wanita itu, membuat Dian nyaman dan tidak ketakutan adalah hal yang selalu ingin David lakukan.
“Ja...jadi benar itu aku?” tanya Diandra sambil menunjuk dirinya, mata bulatnya bersinar indah, tapi air matanya masih menggenang di kedua pelupuk matanya membuatnya tampak menggemaskan dengan ekspresi tidak percayanya itu.
David mengangguk pelan sambil tersenyum lembut, sikap dinginnya tak ada lagi, yang terjadi saat ini adalah sebuah perubahan besar dalam diri David yang bisa dilihat oleh Diandra dengan sangat jelas.
“Huaaaa....... hiks hiks hiks kakak tidak berbohong kan? Kakak tidak sedang mempermainkan perasaanku kan?” ucap Diandra sambil menangis tersedu sedu menatap David.
Pria itu tersenyum, dia tak mau lagi membuat Diandra menangis dan bersikap dingin padanya, lebih baik dia membangun hubungan yang harmonis dengan istrinya dan membangun keluarga kecil yang bahagia.
“Cup.... cup... cup... utututuhh.... cengeng banget sih kamu cantik, husshh udah jangan nangis terus ihh, air matamu kering nanti,” ucap David dengan wajah tersenyum sambil mengusap kedua pipi Diandra dan membersihkan air mata wanita itu dengan lembut, menatap mata itu dengan hangat.
Tentu hal itu berhasil membuat jantung Diandra berdegup kencang bahkan pipinya sampai berubah menjadi merah merona karena malu sekaligus gugup.
“Suamimu ini tidak berbohong Diandra, sudah jangan menangis ya, kamu ternyata sangat cengeng,” ucap David sambil memegang bahu Diandra dengan kedua tangannya.
“Apa benar? Kakak tidak bohong benar benar tidak bohong kan?” ucap Diandra sambil menangis.
“Benar Dian, kenapa cengeng banget sih?” ucap David dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya.
“Huaaaaa........ ku pikir kakak punya kekasih lain, kupikir kakak bicara pada pacar kakak tadi huaaaaa....” Diandra kemabli merengek, entahlah dia benar benar cengeng saat di dekat David.
David menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa Dian begitu cengeng hari ini tapi dia suka melihat wajah wanitanya menangis, sangat menggemaskan.
“Hahahaha, aku punya dong ini dia si cengeng ini, dasar bocah,” ucap David sambil tertawa bahagia karena berhasil menggoda istrinya.
Diandra berdiri dan langsung memeluk David, tak ada lagi kata malu malu untuk memluk suaminya, dia ingin sepenuhnya percaya pada sang suami.
“Kenapa kalian semua memanggilku bocah kak? Aku bukan anak kecil lagi, aku sudah dewasa,” gerutu Diandra.
“Hehehe, karena kamu menggemaskan sayang,” ucap David yang mulai mengubah panggilannya pada Diandra.
“Sa...sayang?” ucap Dian terperangah dengan panggilan David pada dirinya.
“He...em... sayang, boleh kan aku panggil begitu? Aku lebih suka menggilnya begitu lebih romantis,” jelas David sambil melingkarkan kedua tanagnnya di pinggul ramping istrinya.
Diandra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis, dengan berani Diandra melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh David.
__ADS_1
Cup...
Satu kecupan lembut mendarat di bibir David membuat pria itu terbelalak kaget, Diandra sendiri langsung menutupi wajahnya dan bersembunyi di dalam dekapan David.
“Kau berani sekali ya sayang,” ucap David.
“Heheheh maaf, apa tidak boleh,” terdengar suara Diandra yang snagat menggemaskan di telinga David.
“Tentu boleh Sayang,” ucap David dengan senyuman bahagia di bibirnya.
“Tapi apa kau mencintaiku?” tanya Diandra pelan, dia benar benar ingin tau perasaan David pada dirinya.
“Aku..... aku menyukai dan mencintaimu Diandra, aku nyaman bersamamu, maaf karena bersikap dingin padamu selama ini, aku hanya terjebak dengan semua masa laluku, maafkan aku sayang,” Jujur David.
Mendengar itu membuat Diandra terharu, dia juga sudah mencintai suaminya bahkan sejak pertemuan pertama di hotel waktu itu, dia benar benar sudah jatuh hati pada pria itu.
Mereka berdua berdiri sambil berpelukan, “Lihat aku,” ucap David sambil memutar wajah Diandara untuk menghadap ke arahnya.
“Aku masing ingat dengan jelas janji pernikahan yang kita utarakan di atas altar pernikahan, dan aku tidak akan mengkhianati janji itu, aku mungkin punya banyak kekurangan, tapi aku akan berusaha lebih baik lagi padamu, aku akan berusaha menjadi kepala keluarga yang bijaksana sayang,” ucap David.
Diandra menangis haru, dia memeluk David dengan erat menyalurkan semua rasa bahagia di dalam hatinya.
David tersenyum dia juga bahagia akhirnya bisa mengakui perasaannya pada sang istri, dia berkomitmen untuk membangun keluarga yang sempurna bersama istrinya.
David menarik dagu Diandra, dia mengusap air mata wanita itu, merapikan rambut Diandra, mata mereka bertemu, tangan David mengusap rahang wanita itu sedang tangan yang lain memeluk pinggul Diandra dengan posesif.
Perlahan tatapan mata itu semakin dalam, David menundukkan kepalanya , mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra, perlahan mereka berdua menutup mata mereka, dan kini keduanya meyalurkan rasa cinta mereka dengan berciuman, sebuah ciuman yang benar benar tulus bukan karena n4fs* tetapi karena rasa cinta yang sudah tumbuh dengan baik di hati keduanya.
Diandra mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang suaminya, menikmati setiap sentuhan lembut dari bibir suaminya.
Kini ruangan itu dipenuhi dengan decapan dari mulut keduanya, tidak menuntut lebih hanya sekedar ciuman hangat dari sepasang anak manusia yang tengah di mabuk cinta.
Saat mereka tengah asik menikmati ciuman hangat itu, tiba tiba pintu kamar mereka di gedor gedor dan terdengar seseorang berteriak dari luar dengan suara panik.
Dor....dor....dor...
“Daviiidddd Dian,” teriak Joel dari luar, terdengar pria itu panik dari luar sepertinya terjadi sesuatu yang gawat.
“Kak, “ ucap Diandra melepaskan bibir mereka.
__ADS_1
“Sebentar,” ucap David melepaskan pelukannya dari Diandra lalu beranjak menuju pintu kamar mereka.
Diandra merapikan rambutnya dan mengekori Davoid dari belakang.
“Ada apa Jo?” Tanya David, Diandra juga muncul di belakang David.
“Vasko... Vasko dia... dia babak belur Dav, dia... ahhh... cepatlah, “ ucap Joel sambil menarik David keluar dari kamar itu.
Mendengar nama Vasko, Diandra juga ikutan panik sepertinya terjadi sesuatu pada pria sangar bertato itu.
Dengan langkah cepat mereka bertiga berlari tergesa gesa menuju lantai bawah di mana Vasko berada dan sedang di tangani oleh Otniel yang sedang tidak bertugas hari ini.
Beberapa saat lalu, Vasko pulang ke rumah setelah semalaman keluar dari rumah tanpa permisi pada mereka semua.
Vasko pulang dalam keadaan hancur lebur, tubuhnya berantakan, banyak sayatan di kedua lengannya, banyak bekas luka pukulan di wajahnya, dia benar benar hancur saat tiba di rumah.
Tadi Joel sedang menyiapkan peralatan untuk berangkat menuju lahan pertaniannya, dia melihat mobil vasko masuk dan betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan Vasko yang hancur lebur berlumuran darah di sekujur tubuhnya.
David menggenggam tanagn Diandra mengikuti Joel menuju kamar di lantai bawah dimana Vasko sedang dirawat oleh Otniel, pria sangar itu tidak mau jika di ajak ke rumah sakit, jadi Otniel selalu menyiapkan peralatan medis di rumah itu karena bukan Cuma sekali dua kali Vasko babak belur setiap pulang ke rumah, sebelumnya Dia hampir tiap hari berkelahi dengan kelompok lain, entah kenapa hari ini terjadi lagi.
“Kak Vasko,” ucap Diandra yang begitu terkejut melihat keadaan Vasko yang berlumuran darah.
“Kenapa kalian bawa Dian kesini paok,” gerutu Otniel saat melihat Diandra tampak shock melihat kondisi Vasko.
“ kalian di luar saja dulu, aku akan membereskan ini, dasar tidak becus, kenapa pula Diandra harus melihat hal ini,” gerutu Otniel dengan mulut cerewetnya itu.
Pletakkk....
“Kau bisa diam bodoh, suaramu sangat berisik, obati saja yang benar” gerutu Vasko sambil menatap kesal ke arah Otniel, dia sudah kesakitan belum lagi harus mendengar ocehan Otniel membuat dirinya kesal namun matanya tak lepas dari Diandra dan David.
David tampak memasang wajah datar menatap Vasko dia menarik istrinya keluar.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1