
Vasko dan Joy terdiam saat mendengar Pak Putra menolak dengan tegas bahkan menatap kesal ke arah mereka.
"Kami akan menikah Pa, kami akan menikah!" ucap Joy dengan nada lantang.
"Joy beraninya kau berbicara meninggi pada Papa!" Pak Putra marah besar.
Cindy istrinya tak bisa apa apa, dia hanya bisa diam tanpa ikut campur, suaminya memang orang yang sangat keras kepala.
"Katakan alasan logisnya Pa? Kenapa Papa gak setuju?" Joy menurunkan nada suaranya.
Dalam situasi ini Vasko masih tetap diam dan memperhatikan.
"Alasannya mudah, kau sudah dijodohkan!" ucap Pak Putra dengan cuek sambil bersandar di kursinya.
Degh...
Vasko dan Joy sama sama terkejut bukan main mendengar hal itu. Joy sendiri tidak tau kalau dia akan dijodohkan, bagaimana Papanya bisa mengatakan hal seperti itu ketika Joy membawa kekasihnya ke rumah.
Hati Vasko tentu saja sakit, sama halnya dengan Joy.
"Aku tidak mau!" tegas Joy, tatapan mata gadis itu persis seperti ketika dia menghadapi musuh musuh perusahaan mereka di Jerman.
"Kau tidak bisa melawan Joy! ini sudah papa putuskan sejak kau masih dalam kandungan!" tegas pria itu.
Jantung Joy bagai dihujam ribuan belati, dia menatap Vasko yang tampak memasang wajah kecewa. Matanya berkaca-kaca, dia tak mau seperti ini.
"Joy tidak mau, Joy hanya mencintai kak Vasko," ucap Gadis itu dengan tegas.
"Cihh... cinta? makan cintamu itu anak bodoh!" umpat Pak Putra.
"Berani beraninya kau membawa seorang preman ke rumah ini!"
"Aku tak Sudi memiliki menantu tanpa masa depan seperti dia!"
"Pokoknya kau sudah dijodohkan, dan kau akan segera menikah dengan orang yang Papa jodoh kan, mereka akan datang nanti malam!" ucap Pak Putra dengan tegas.
"TIDAK ADA PENOLAKAN!" tambahnya sambil menekankan kata katanya.
"Joy nggak mau Pa, Joy nggak mau!" ucap Gadis itu, dia menggenggam tangan Vasko dengan erat, bisa Vasko rasakan kalau tangan kekasihnya gemetar.
"Om.. kami saling mencintai, saya memang tidak sehebat yang om katakan tapi saya berjanji akan menjaga Joy," kali ini Vasko berbicara.
"Diam kau!" Pak Putra menatap tajam ke arah Vasko.
Seketika wajah Vasko menjadi datar membuat Pak Putra terdiam dan merasa aneh.
"Sorot mata itu?" batin pak Putra yang terdiam.
"Kami akan menikah Pa, dan nggak ada yang bisa menghalangi Joy!" teriak gadis itu.
"Tidak boleh, aku tidak merestui kalian, kau mau menikah dengan pria tanpa masa depan ini? mau jadi apa rumah tangga kalian Joy hah??" Pak Putra semakin kesal.
__ADS_1
Joy mengeraskan rahangnya, Papanya memang sangat sulit di taklukkan.
"Joy... Joy hamil Pa!"
Degh...
Mereka semua terbelalak mendengar ucapan gadis itu, bahkan Vasko tak menyangka kalau Joy akan mengatakan hal itu.
Plakkkk
"Joy!!" teriak Vasko dan Cindy bersamaan.
Satu tamparan telak mendarat di wajah gadis itu membuatnya terhuyung ke belakang, untung Vasko segera menangkap tubuh gadis itu.
"Anak sialan kau!!!" pekik Pak putra dengan kemarahan yang berapi api di matanya.
"Aku tak pernah mendidikmu menjadi perempuan Jal4ng Joy!" teriak Pak Putra.
"Joy kenapa kau melakukan ini?" tanya Vasko yang sedikit panik, kekasihnya sangat pemberani.
"ikuti saja kak," balas Joy sambil menggenggam tangan Vasko.
"Aku tak mau berpisah, maka ini adalah jalan yang tepat!" bisik nya.
"Pergi kau dari rumah ini! jangan pernah menginjakkan kakimu disini!!" ucap Pak Putra.
"Om ini tidak seperti yang anda pikirkan!" ucap Vasko, dia tentu tak mau merusak hubungan ayah dan anak itu.
"Joy..." Vasko menatap gadisnya yang sudah menangis.
Pak Putra terdiam begitu juga dengan Cindy, selama ini Pak Putra memang kurang memberi perhatian pada putrinya itu.
"Bukannya anak kesayangan Papa itu Kak Amel? kenapa bukan dia yang Papa jodohkan? hah... maaf Pa aku tidak mau, sudah kubilang aku sedang hamil, dan kami akan menikah entah itu dengan persetujuan Papa atau tidak!" tegas gadis itu
"Joy !!" geram Pak Putra, tangannya mengepal dan dia mengeraskan rahangnya.
"inilah perbedaan mu dengan kakakmu, dia itu gadis baik baik, dia itu anak kesayanganku, kau... kau sudah dipengaruhi oleh pria tanpa masa depan ini, kau hanya seorang gadis jal4ng!!" pekik pak Putra .
" Papa dia putrimu juga!!" kali ini Cindy yang marah.
"Diam, Mama diam, jika dia tidak menurut maka dia bukan putriku, aku cuma punya satu putri yaitu Amelia!" teriak Pak Putra.
"Hahahahahah.... hahhaha.... terimakasih sudah mengonfirmasi hal itu Pa, aku.. sudah tau ini jawaban Papa," ucap gadis itu.
Meski dia tertawa tetapi air matanya mengalir deras, sungguh pedih hati Joy saat ini.
"Ma, maaf Joy pergi dulu, kita bisa bertemu di rumah keluarga Park, Joy tidak akan pulang kesini," ucap Gadis itu sambil tersenyum getir.
"Anak Mama... hiks hiks hiks .."
"Ayo kak,"
__ADS_1
"Tapi Joy,"
" sudah, ayo aku tak mau kakak dihina oleh Papa, dia hanya peduli dengan dirinya," ucap Joy sambil menarik tangan Vasko.
"kami permisi Tan," Vasko pamit pada Cindy tapi tidak pada Putra.
Putra menatap kepergian mereka, ada rasa bersalah di hatinya saat melihat putri kecilnya menangis, ya selama ini dia hanya menuntut yang dari Joy tanpa memberi perhatian yang layak.
"Papa jahat hiks hiks hiks...dia juga putrimu, dia juga punya hak atas hidupnya!" Cindy pergi dari hadapan suaminya dan mengurung dirinya di kamar sambil menangis.
"Sayang.. maaf" lirih pria itu.
Sementara itu, Joy menarik tangan Vasko, mereka berdua berjalan menuju Van, saat keduanya berjalan seorang gadis yang tampaknya lebih tua dari Joy berpapasan dengan mereka.
"Joy kau pulang dek?" sapa gadis bernama Amel kakak kandung Joy.
Joy diam saja, dia menatap datar kakak nya, orang yang selalu membuatnya iri karena mendapatkan perhatian penuh dari Papanya.
"Kau siapa!" ucap gadis itu tanpa menoleh.
"Loh Joy, kenapa dek?" Amel terlihat bingung dengan sikap adiknya.
Dia menatap pria yang digandeng oleh Joy," tampan," gumamnya dengan senyum tipis.
"Hey Joy kau tidak sopan pada kakakmu!" teriak Amel namun tak dipedulikan oleh Joy.
Amel menatap mereka berdua dengan tatapan tak lepas dari Vasko.
Vasko tau, dia langsung merasa tak nyaman dengan tatapan aneh gadis itu, selain itu wajah Amel tampak pucat.
Mereka berdua berjalan menuju mobil Van, Joy dan Vasko masuk ke dalam, yang lain langsung menyambut mereka.
Melihat wajah keduanya tak senang, membuat yang lain juga merasa aneh.
"Joy.." panggil Diandra.
Joy menatap Diandra seketika dia menghamburkan pelukannya pada Diandra dan menangis tersedu-sedu disana.
"Kak.. hiks hiks hiks... huaaa...." Joy menangis tersedu-sedu, Joel, Otniel dan David sampai terkejut, mereka menatap Vasko yang juga tampak murung.
"Ada apa ini kak?" tanya Diandra sembari membalas pelukan Joy, dia bisa merasakan kegetiran dari tangis gadis itu.
"Kami diusir!"ucap Vasko dengan suara lirih sambil memandang kekasihnya yang menangis dalam pelukan Diandra.
"Apa!!" mereka semua terkejut bukan main dengan hal itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉