Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Flashback


__ADS_3

David, Vasko, Joel,Otniel, Sean dan Joy duduk di sofa dalam ruangan itu, mereka semua dengan tenang menunggu penjelasan dari Sean mengenai kejadian yang sebenarnya dan mengapa Diandra bisa samapi di tangan Sean dan yang lainnya.


Flashback,


Setelah kepergian Joel dari rumah mereka, Para pengintai yang diperintahkan untuk menculik Diandra bersiap di posisi mereka masing masing.


Terdapat 10 orang pengawal yang menjaga rumah itu, sedangkan pengintai itu terdiri dari 15 orang pria bertubuh besar dengan pengikat kepala berlambang harimau.


Mereka berasal dari kelompok mafia yang sering dipanggil dengan sebutan Tiger, musuh bebuyutan Black Rose yang sudah dihancurkan Vasko setahun lalu.


Orang orang itu menyerang anak buah Joel dan Vasko yang berada disana, beruntung anak buah Vasko terhubung langsung dengan markas besar Aliansi Black Rose sehingga mereka langsung tau kalau ada serangan mendadak di area yang mereka sebut Area 88, Area yang harus dilindungi.


Dengan cepat alarm di markas Black Rose berbunyi setelah anak buah Vasko mengirim kode suara.


Anak buah Joel dan Vasko di lumpuhkan dan disuntik dengan racun berwarna merah terang, kemudian mereka masuk ke dalam rumah itu dan mencari dimana posisi Diandra.


Mereka menjalankan perintah penculikan dari seseorang yang belum jelas diketahui siapa itu.


Diandra yang tak sadarkan diri di angkat dan di bawa menuju mobil van berwarna hitam yang sudah menunggu di depan rumah Vasko.


“Ayo berangkat!!” ucap pria yang membawa tubuh Diandra ke dalam mobil, wanita itu di letakkan di kursi penumpang dengan keadaan lemah.


“Kau tidak ikut bodoh!” umpat seseorang yang mencekik leher pria itu dari belakang dan menodongkan pistol ke kepala penculik itu.


“A... apa ini,” ucap penculik itu terkejut bukan main, bagaimana bisa mereka sampai lengah seperti ini, padahal beberapa saat lalu mobil hitam itu ditumpangi oleh anak buah kelompok Tiger, namun sekarang jelas orang yang berbeda menumpangi mobil itu.


Temannya yang duduk di depan melakukan perlawanan pada pengemudi yang membawa mobil itu namun...


Bughhh... tak.. tak...


Tiga pukulan telak di titik terlemahnya membuat pria itu diam kaku tak berdaya, bahkan belum ada satu serangan dia layangkan, tubuhnya sudah kaku karena dipukul tepat pada bagian titik vital yang membuat tubuh kaku seketika.


Brukk....

__ADS_1


Pria itu di tendang keluar oleh pengemudi yang hanya memiliki sebelah mata dan luka bekas jahitan di sepanjang wajahnya, tubuhnya kekar, banyak bekas luka jahitan yang bekasnya ditutupi dengan tato di sekujur tubuhnya.


“Bodoh!” umpat pria itu sambil melemparkan tatapan tajam ke arah penculik itu.


“Lihat keluar,” ucap pria yang membekuk penculik yang membawa Diandra tadi, dia adalah Sean pria sangar itu, kepala penculik itu diputar paksa untuk melihat apa yang terjadi di depan mereka saat ini, bahkan mata pria itu dibuka paksa oleh Sean.


“Lihat dengan jelas Bajingan, beraninya kau menggangu seorang wanita lemah di area kami,” ucap Sean dengan nada tajam dan menusuk.


Sean sangat membenci kekerasan pada anak anak dan wanita, karena setiap dia melihat itu dia terbayang dengan anak, istri dan keluarga yang dijaganya penuh.


Penculik itu melihat ke arah luar, betapa terkejutnya dia saat melihat anak buahnya sudah di lumpuhkan, ada yang kabur dan beberapa orang tertangkap dan dimasukkan ke dalam van hitam persis seperti yang mereka naiki.


“B...black... Ro..Rose,” ucapnya gemetar ketakutan sambil melirik ke arah Sean yang menyeringai seperti singa liar dibelakang pria itu, dia melihat jelas tato Bunga mawar hitam di lengan kiri setiap pria yang menghajar anak buahnya, Black Rose yang legendaris ternyata menguasai lokasi itu.


“Beraninya kau bermain main di area kami dan menculik seorang wanita, kalian tau kan kami paling benci melihat kekacauan di area kami,” bisik Sean dnegan suara pelan menusuk membuat penculik itu bergetar ketakutan.


Area 88 adalah area kekuasaan Black Rose apalagi jika daerah itu sudah di tandai dengan bendera biru maka tak ada yang boleh menyebabkan kekacauan di area itu. Jika sampai ada yang berani berbuat jahat maka akan diselesaikan di markas Black Rose.


Setelah tumbang dari pemimpin lamanya, Black Rose kini menjadi aliansi yang melindungi anak anak dan perempuan, apalagi di daerah itu banyak mafia yang bersebaran. Mereka akan menghajar siapa pun yang berani bermain main di area mereka.


“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Sean, karena dia tau leader Tiger tak akan bertindak ceroboh jika sudah diberi peringatan keras apalagi sampai menyinggung Vasko, itu sama saja menggali lubang kuburan mereka.


Pria itu tetap diam dan tidak ingin memberitahukan siapa yang menyuruhnya, jika dia buka suara sama saja dia mati di tangan bos dan di tangan musuh mereka itu. Jika dia tetap diam mungkin dia akan disiksa sampai ambang batas kematian, benar benar membuatnya frustasi.


“Sial... apa yang harus ku lakukan,” ucap penculik itu di dalam hati.


“Akhhh...... sa...sakit...” Diandra bangun dan kembali meringis kesakitan, dia mengalami pendarahan membuat Sean terkejut bukan main, Diandra meringkuk, dia menekan perutnya, air matanya sampai keluar karena dia benar benar kesakitan saat ini.


“Bawa kalian orang ini, jangan biarkan dia lepas,” ucap Sean menyerahkan penculik itu pada anak buah Sean yang tengah berjaga di depan pintu mobil.


“Baik Tuan,” jawab mereka serentak, penculik itu di bekuk dan diikat, mulutnya di tutup dan tangan serta kakinya diikat dengan kencang.


“Zach ayo berangkat, kita ke rumah sakit,” ucap Sean yang dianggukkan oleh Zach pengemudi bermata satu itu.

__ADS_1


Selama di perjalanan Diandra meringis kesakitan, darahnya menetes semakin banyak, wajahnya pucat dan keringatnya menetes membasahi tubuhnya.


Flashback End.


Mendengar penjelasan Sean membuat David dan Vasko mengeraskan rahang mereka, terasa aura dingin menusuk di dalam ruangan itu yang akan membuat siapa pun yang berada satu ruangan dengan mereka merasa sesak napas.


“Dimana pria itu sekarang?” tanya David.


“Kami melepaskannya,” ucap Sean yang membuat mereka terkejut apalagi Otniel dan Joy namun Vasko, Joel dan David paham dengan strategi Sean.


Mereka dengan sengaja pura pura lengah dan membiarkan pria itu lepas padahal diu tubuhnya sudah dipasangi alat pelacak berbentuk microchip yang sangat kecil yang warnanya menyerupai warna kulit, dengan menggunakan itu mereka bisa melacak keberadaan target mereka.


“Apa sudah ada pergerakan ?” tanya Joel.


“Belum, kita akan awasi selama seminggu ini, mungkin dia tak akan segera menemui orang itu karena misinya gagal,” ucap Sean.


“Baik, terus awasi dan perketat keamanan,” ucap Vasko yang dianggukkan oleh Sean.


“bagaimana dengan racun itu?” tanya Sean.


“Sudah ditangani, mereka sudah di bawa ke markas,” ucap Vasko.


“Baiklah, kami akan memastikan kalau identitas kaian tidak terbongkar,” ucap Sean.


Joel tampak diam, kali ini dia akan bertindak sendiri untuk membongkar siapa gerangan yang berani bermain main dengan mereka.


“Akan kuhabisi kau jika sampai kau juga terlibat dengan kejadian ini Kak,” batin Joel.


Vasko melirik Joel, “Apa yang akan kau lakukan Joel?” batin Vasko


.


.

__ADS_1


.


Like, Vote dan Komen


__ADS_2