
Setelah pembicaraan dengan seluruh keluarga besar, acara pernikahan Ketiga anak Luna akan dilaksanakan seminggu lagi.
Luna mengatakan lebih cepat lebih baik dan masalah persiapan mereka hanya perlu mencocokkan pakaian. Acara akan dilaksanakan dalam tiga hari dengan resepsi dan acara besar besaran untuk seluruh keluarga, kerabat dan teman teman serta karyawan di perusahaan Park serta orang penting lainnya.
Kini semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk acara pernikahan Ketiga pasangan calon pengantin.
waktu terus bergulir, semuanya sangat bersemangat dengan seluruh persiapan pernikahan.
Joy berdiri di lantai dua menatap ke bawah, semuanya sedang sibuk mengurus pernikahan anak anak keluarga Park.
Wanita itu menekan perutnya yang teras perih,dia masih saja belum memberitahukan penyakitnya pada yang lain.
" Mereka tidak boleh tau, aku tidak bisa merusak kebahagiaan ini, akhhh ini sangat sakit, bukannya dokter itu bilang kalau setelah makan obat rasa sakitnya akan berkurang,tapi kenapa ini semakin menjadi jadi?" gumam Joy yang mulai merasa kesakitan lagi.
Joy berlari ke kamar,dia mual akibat penyakit yang di deritanya. Segera wanita satu anak itu masuk ke kamar mandi dan lagi lagi memuntahkan isi perutnya.
"Huweeekk.... uhuk uhuk... akhhh..." Joy tampak sangat kesakitan, dia muntah berkali kali bahkan sampai pakaiannya basah karena keringatnya bercucuran.
"Eghh.... aku harus sembuh, keluargaku masih butuh diriku, aku harus kuat," ucapnya menguatkan diri ya sendiri.
Wanita itu berdiri meski dengan kedua lutut yang mulai gemetar. Dia berjalan menuju lemari dalam ruangan itu,mencari kotak obatnya.
"eghh... obatku dimana ya?" Joy mencari kotak obatnya, seingatnya terakhir kali dia meminum obat, dia meletakkannya di tempat semula, tetapi kini kotak obat itu hilang.
Joy terus mencari dengan panik, wajahnya pucat, rasa sakit di perutnya mulai terasa lagi.
"Akhh.... seingatku aku meletakkannya disini, tapi kenapa tidak ada," ucap wanita itu.
Joy terus mencari dan mencari tapi tidak juga ketemu.
"Cari ini sayang?" suara Vasko terdengar di dalam ruangan kecil itu. Dia berdiri sambil mengangkat kotak obat milik Joy dan tangannya yang lain menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.
Joy terkejut, dia berbalik dan melihat Vasko memegang kotak obatnya.
"Eh.. ke..kenapa ada di kamu, Ekhmm... berikan padaku, ini vitamin," ucap Joy. Dia benar benar gugup, wajahnya pucat ketakutan saat melihat ekspresi datar suaminya sambil mengangkat kotak obat miliknya.
Joy mengambil kotak obat itu dari Vasko dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
" Apa isinya?" tanya Vasko, sebenarnya dadanya sudah bergemuruh, ingin sekali ia memeluk istrinya dan mengatakan kalau semua akan baik baik saja, namun dia harus tenang agar Joy tidak panik.
__ADS_1
"Vi..vitamin, ya ini vitamin, " ucap Joy sambil tersenyum kaku, siapa pun yang lihat bisa tau kalau wanita itu berbohong.
"Lalu ini apa?" tanya Vasko sambil mengangkat kertas hasil pemeriksaan kesehatan Joy.
Mata Joy terbelalak saat melihat Vasko mengangkat kertas itu, jantungnya berdegup kencang, antara takut kena marah, takut suaminya kecewa, sedih dan khawatir bersatu dalam pikiran dan hatinya.
"i..itu..." Joy terdiam, tak bisa menjawab lagi.
"Kenapa tidak bilang padaku Joy, kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit!!!!" ucap Vasko dengan nada sedikit membentak, dia berusaha menahan dirinya agar tidak marah dan memperkeruh suasana.
"A..aku... i..itu bukan apa apa, hanya sakit sedikit tak perlu khawatir.. a..aku makan obat kok," jawab Joy.
Vasko benar benar tak bisa berkata apa-apa lagi, dia berjalan dan menarik istrinya ke dalam pelukannya, dia tau Joy tak ingin membebani orag lain tapi untuk masalah seperti ini, Joy harus terbuka karena kanker bukan masalah yang kecil.
Vasko memeluk istrinya dengan erat, " kenapa diam sayang, kenapa kau tidak bilang, seharusnya... arhhh... seharusnya kau bicara, " ucap Vasko, dia benar benar khawatir.
Joy menangis tersedu-sedu, dia memeluk erat suaminya mencengkram kemeja pria itu, rasa sedih dengan kenyataan yang harus dia hadapi membuatnya terpuruk.
"Maafkan aku... aku takut hiks hiks aku benar benar takut.." wanita itu menangis sampai sesenggukan, jujur saja menjadi salah satu pasien pengidap kanker membuatnya takut akan hari esok yang akan dia hadapi.
Vasko memeluk istrinya dengan erat, yang dia khawatirkan adalah kondisi kesehatan mental istrinya. Dia takut Joy terpuruk dan malah depresi dengan penyakit yang dideritanya.
"Hushhh.... tak ada yang perlu ditakutkan sayang, kamu bisa melaluinya, sudah kubilang jika terjadi sesuatu beritahukan padaku, kalau kamu seperti ini kamu justru membuatku semakin takut sayang, kanker bukan penyakit main main!" ucap Vasko sambil menatap wajah istrinya.
"Jangan bicara yang tidak tidak Joy, kau pasti sembuh, kau tidak akan pergi kemana mana, kau bisa sembuh sayang, ini masih stadium satu, dengan pengobatan kau bisa segera pulih," ucap Vasko.
"Aku tidak suka mendengar kata katamu, kalau kau tau kami butuh dirimu maka jujur lah dengan keadaanmu," ucap Vasko dengan tegas.
Joy menangis sejadi-jadinya, "maafkan aku hiks hiks hiks... aku ketakutan... aku benar benar tak bisa berpikir dengan baik," ucap Joy .
Vasko mengusap air mata istrinya, dia juga sedih tapi dia harus menjadi suami yang kuat di saat seperti ini.
" tenang, semua akan baik baik saja, kita hadapi bersama sayang, kota hadapi bersama kau pasti akan membaik," ucap Vasko.
"Uhuk... uhukk... ..hueewkk...
Joy kembali mual, perutnya terasa sangat sakit, dia berlari ke wastafel dan muntah muntah lagi.
Vasko berusaha tenang, dia menepuk nepuk punggung Istrinya yang tampak sangat kesakitan.
__ADS_1
Khawatir? tentu saja Vasko khawatir, dia takut istrinya semakin parah tapi dia tak mau menunjukkan rasa khawatirnya dia berdiri di samping istrinya dan memberi kekuatan pada istrinya.
"Sudah?" tanya Vasko dan Joy mengangguk.
"kau sudah minum obat?" tanya Vasko.
"Belum, ini waktunya," ucap Joy.
"ayo keluar dulu, jangan menyembunyikan obatmu disini lagi," ucap Vasko sambil menuntun istrinya.
"terimakasih," ucap Joy dengan nada lirih.
"Tenang sayang, kau akan baik baik saja," ucap Vasko.
Vasko membantu Joy, dia menyiapkan obat wanita itu, Joy dengan cepat menenggak obat obatan yang sangat banyak itu, rasanya sangat sakit setiap kali dia harus menenggak pil itu.
"Kita periksa sekali lagi ya sayang, setelah itu kau harus mendapatkan perawatan terbaik," ucap Vasko.
"Baiklah, tapi apa boleh Otniel yang merawatku, aku tidak yakin dengan dokter lain, ini..." Joy menunjuk obatnya.
"Aku sebenarnya tidak yakin dengan obat obatan ini, aku lebih tenang kalau Niel yang periksa," ucap Joy.
"Hmm baik, kalua begit ku kau istirahat sebentar ya, aku akan panggilkan yang lain," ucap Vasko.
"Apa kau akan memberitahu mereka?"tanya Joy.
"Harus sayang, mereka semua berhak tau," ucap Vasko.
"Baiklah, tapi aku takut Diandra dan Ara stok, mereka sedang hamil," ucap Joy.
"Tak perlu khawatir, aku akan mengatakannya pelan pelan, kau istirahat saja ya," ucap Vasko lagi.
"terimakasih," balas Joy.
Vasko tersenyum dia membantu istri berbaring, lalu memperbaiki selimut istrinya," tidurlah dulu, kau harus banyak Istirahat," ucapnya.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😊😊