
Pagi kembali bertahta di langit sang Surya, aroma dedaunan dan aroma matahari pagi menyeruak memenuhi bumi.
Semilir angin berhembus, dedaunan menari nari dengan indah bersama dengan lembut sentuhan sang mentari pagi.
Ketenangan pagi itu benar benar tidak terasa di ruangan kamar Chelsea.
"Lepas... lepaskan... arrkhhhh.... Daddy ... Daddy...." Terdengar suara anak kecil berteriak sambil menangis ketakutan di samping Chelsea.
Chelsea tersentak dari tidurnya dia langsung bangun saat mendengar anak itu menjerit, tubuhnya keringatan dan gemetar ketakutan sambil memeluk lengan Chelsea dengan erat, dia menangis sambil meracau tak jelas.
Emily juga terbangun karena suara Edward sontak dia ikut menangis karena melihat anak lelaki itu begitu ketakutan dalam tidurnya.
Jadilah ruangan kamar itu dipenuhi dengan tangisan kedua anak itu.
"Nak, Edward sayang gak apa apa... sayang tenang, Edward..."Chelsea memeluk Edward dengan lembut menepuk nepuk punggung anak lelaki itu.
"Ayo bangun sayang, itu cuma mimpi, nak..."Chelsea tak berhenti memanggil Edward.
Alhasil anak kecil itu terbangun dan sontak memeluk Chelsea dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Bahunya naik turun sambil menangis dia memeluk Chelsea dengan erat.
"Emily sini sayang, astaga ada apa dengan kalian berdua? apa kalian setiap pagi seperti ini?" Chelsea tampak khawatir, dia memeluk kedua anak itu dengan erat.
Otniel yang tidur di sofa terbangun karena mendengar suara tangisan anaknya, dia hendak mengambil Edward namun yang dilakukan Chelsea membuatnya berhenti dan membiarkan gadis itu menenangkan putranya dan juga Emily.
Perlakuan Lembut Chelsea benar benar membuat kedua anak itu tenang. Edward dan Emily satu paket yang tidak akan terpisahkan, hebatnya mungkin batin mereka sudah terjalin satu sama lain, saling mengerti dan memahami perasaan masing-masing.
Chelsea menepuk nepuk punggung keduanya dengan lembut.
"Tenang sayang itu cuma mimpi buruk," ucap Chelsea.
"Sekarang cerita, ada apa hmm?" tanya Chelsea sambil menatap kedua anak yang duduk dalam pangkuannya dengan mata sembab dan air mata bercucuran.
"Abang takut hiks hiks.... Miss Monika... Abang gak mau sekolah, Abang gak mau ke sekolah huaaaaa....." Racau pria kecil itu sambil geleng geleng kepala dan memukul kepalanya sendiri.
Chelsea terkejut bukan main, mendengar nama Monika dari bibir anak kecil yang tampaknya mengalami trauma itu.
"Sayang, ada apa?" tanya Chelsea lagi.
"Huaaa..... Miss Monika jahat, arhhhh... Abang Mau Daddy hiks hiks... Daddy!!!!"pekik anak itu lagi.
Melihat situasi tak terkendali, Otniel segera menggendong putranya," Ini Daddy, Daddy disini sayang, tenang Daddy disini," Otniel memeluk putranya dengan erat.
Edward menangis sesenggukan sampai sesak nafas, air matanya mengalir deras, dia memukuli kepalanya sendiri, tampaknya trauma di masa lalu yang sempat sembuh kembali lagi menghampiri anak kecil itu.
__ADS_1
"Abang... jangan nangis huaaa....." Emely turut menangis, Chelsea benar benar bingung dengan apa yang terjadi, dia menggendong Emily dan menenangkan gadis kecil itu.
"tenang sayang, gak ada lagi yang akan sakiti Edward, ada Daddy, ada Daddy sayang jangan takut... hussshhh.... " Otniel berusaha semaksimal mungkin menenangkan putranya yang menangis sesenggukan, bahkan sampai nafasnya tersengal sengal, sungguh sakit hati Otniel melihat putranya dalam kondisi itu.
Beberapa lama mereka menenangkan kedua anak itu hingga Diandra masuk ke kamar itu karena mendengar suara tangisan putrinya.
"Ada apa kak?" tanya Diandra panik, wajah wanita itu tampak sedikit pucat karena morning sickness yang dialaminya cukup parah namun dia memaksakan diri untuk masuk ke dalam kamar itu.
"Mamaaaa...." Teriak Emily sambil melompat dari tempat tidur dan menghamburkan pelukannya pada sang Mama.
Diandra menggendong putrinya dan memeluk gadis kecil yang baru menangis itu.
"Ada apa sayang hmmm?" tanya Diandra dengan lembut.
"Ada apa dengan mereka kak?' tanya Diandra pada Chelsea.
"Aku juga bingung, tapi sepertinya mimpi buruk, Edward tiba tiba menangis histeris begitu juga dengan Emily, apa kau tau sesuatu? aku bingung," jelas Chelsea.
"Kak Niel," Diandra kini menatap Otniel.
Yang ditatap tampak diam, ekspresi wajahnya mengatakan kalau ini adalah sebuah masalah yang benar benar serius.
"Ini semua karena wanita itu," ucap Otniel dengan wajah kesal.
Otniel memutar kedua bola matanya," ohh ayolah apa kau tidak sadar sepopuler apa kakakmu ini Diandra," balas Otniel.
"Cihhh.... apa kau sudah selesai kan masalah nya? aku tak mau anak anak jadi korban, apa yang sebenarnya terjadi pada Edward?" tanya Diandra..
"Banyak hal telah terjadi, Edward sepertinya trauma, ini benar benar sebuah masalah besar," ucap Otniel.
"trauma ? lagi!!!" teriak Diandra.
" Apa sebelum nya dia pernah trauma?" tanya Chelsea.
"Iya kak, Edward pernah... ahhh kejadian itu, tak usah dibahas," ucap Diandra yang kini memasang wajah kesal .
"Apa ini ada hubungannya dengan Monika? tadi Edward mengucapkan nama itu," tanya Chelsea.
"Ya, dia dalangnya El, tapi tenang saja dia sudah diurus, tugas kita sekarang menyembuhkan trauma Edward," ucap Otniel.
Edward menenggelamkan kepalanya di pelukan Daddynya, tempat ternyaman bagi Edward, tempat paling aman dan hangat yang dia miliki.
Chelsea turut sedih dengan apa yang terjadi pada Edward, dan dia tau pasti Monika melakukan sesuatu pada anak kecil itu, karena dia juga mengalaminya.
__ADS_1
Jika orang dewasa saja sampai trauma apalagi anak kecil, hal itu pasti sangat berat bagi Edward.
Otniel mendudukkan Edward di atas kasur, dia berjongkok dan menatap wajah putranya.
."Nak, lihat Daddy," ucapnya dengan lembut sambil mengusap lembut wajah putranya.
"Daddy..."lirih anak kecil itu.
"Nggak apa apa, Edward kuat kok, tenang ya, semua akan baik baik saja, dia tidak akan menyakiti Edward lagi," ucap Otniel.
"Abang gak mau sekolah, takut..." lirih anak kecil itu.
Otniel tersenyum mendengar ucapan putranya," ummm... kalau Abang gak mau sekolah berarti Abang lemah dong, masa takut sama guru jahat itu, " ucap Otniel.
"Daddy tau?" tanya Edward.
"Tentu Daddy tau, mau sebaik apa pun Abang diemin masalah ini , Daddy pasti akan tau karena Edward selalu dalam jangkauan Daddy," ucap pria itu.
"Maaf, Abang gak mau buat Daddy khawatir dan Abang takut Baby Bubu dan Baby Star(panggilan Jacob) disakiti sama Miss jahat itu," jelas Edward sambil menunduk.
Otniel menatap putranya," Abang hebat, sudah bisa melindungi baby Bubu dan Baby Star tapi lebih hebat lagi kalau Abang bisa lindungi diri Abang juga, bayangin kalau Abang gak masuk sekolah, Baby Bubu dan Baby Star siapa yang jagain? kamu mau mereka disakiti orang lain?" tanya Otniel.
Edward menggelengkan kepalanya,' nah kalau begitu Abang harus bisa jadi lebih kuat, dan kalau ada masalah seperti ini kasih tau sama Daddy, jangan takut dengan ancaman orang jahat ya nak,"
"iya Daddy,"
"Janji? Abang bisa kan? ini untuk melatih Abang jadi pemimpin yang kuat, karena Daddy yakin anak Daddy akan jadi orang hebat," ucapnya.
"he..em Abang pasti bisa... terimakasih Daddy, selalu ada buat Edward, Edward sayang Daddy!" ucapnya sambil memeluk Daddynya dengan erat.
Diandra dan Chelsea tersenyum melihat bagaimana cara Otniel mengatasi rasa takut putranya, hubungan yang kuat antara ayah dan anak itu membuat keduanya saling bergantung.
Bagi Otniel setengah hidupnya adalah Edward, lebih baik dia kehilangan segalanya daripada kehilangan Edward, dan bagi Edward Daddynya selalu menempati tempat paling spesial di hatinya.
"Diandraaaa!!!!!!" terdengar teriakan seseorang dari luar kamar.
"Eh... udah bangun, gimana nih?" gumam Diandra yang spontan melihat ke kiri kanan saat mendengar suara itu memanggil namanya.
" Ada apa lagi ini?" gumam Otniel sambil menatap Diandra yang sibuk mencari tempat persembunyian di dalam kamar itu.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😉😊