Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Minta maaf


__ADS_3

Diandra dan nyonya Alena sudah berbaikan, akhirnya Dian paham mengapa Mamanya berpisah dengan dirinya saat dia masih kecil. Setelah mendapatkan penjelasan dari suaminya, Diandra pun paham dan mendatangi nyonya Alena.


Mereka banyak berbincang tentang masa lalu. Diandra juga sangat bahagia saat mengetahui bahwa Reva yang selalu menempel padanya jika berkunjung ke rumah Aniston ternyata adalah adik kandungnya sendiri dan kebenaran bahwa Sean adalah kakak angkatnya.


Keadaan mereka sudah baik saat ini, tak ada lagi kekecewaan dan David bisa sedikit tenang melihat istrinya mulai stabil.


Seperti hari ini, David, Joy dan karyawannya di Jerman tengah mengadakan rapat Online, sedangkan Vasko tengah menemani Mamanya didampingi oleh Luna, mereka akan melakukan terapi untuk memeriksa kaki nyonya Alena.


Sedangkan Joel dan Otniel tengah terlelap di kamar mereka masing masing, entah apa yang dilakukan kedua manusia yang punya banyak sifat itu, mereka selalu saja kelelahan.


Diandra yang merasa bosan di rumah mengajak Sean dan Reva keluar rumah, tentu atas seijin suaminya.


Mereka beranjak dari rumah menuju Mall terbesar di kota itu dan didampingi oleh beberapa pengawal atas perintah David, dia tak bisa menemani istrinya karena sedang melakukan rapat, setidaknya dia tenang karena ada Sean yang menemani Diandra.


Ketiga bersaudara itu pun keluar dari rumah dengan Sean sebagai pengemudi, di belakang mobil mereka diikuti oleh dua mobil anak buah David.


“Kak Sean, apa kakak sudah menikah?” tanya Diandra tiba tiba.


“Sudah, aku sudah menikah dan sudah memiliki seorang putra, anak dan istriku tinggal di Australia saat ini,” jelas Sean.


“Dan kak Niki tengah mengandung anak kedua mereka, ahhh... jadi kangen sama kak Niki,” ucap Reva yang duduk di samping Diandra.


“Wahh benarkah? Selamat kak, aku jadi penasaran, wanita seperti apa yang mau dengan kak Sean yang menyeramkan ini hahahah,” kekeh Diandra yang membuat Sean tersenyum.


Awalnya dia berpikir kalau Diandra adalah wanita yang tidak ramah namun semakin banyak berkomunikasi dengan Dian, dia tau kalau Diandra adalah wanita yang asik diajak ngobrol persis seperti Reva.


“Nanti kita hubungi mereka, Niki juga pasti akan senang bertemu denganmu,” ucap Sean .


Beberapa menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di Mall yang mereka tuju. Ketiganya keluar dari dalam mobil , Reva menggandeng tangan Diandra dan Sean di masing masing sisinya.


“kak kita mau kemana nih?” tanya Reva.


“Ummm aku mau beli ponsel Va, ponselku pecah dan gak bisa hidup, entar gimana ngehubungin kak David kalau mereka ke Jerman,” ucap Diandra sambil mengangkat ponselnya yang layarnya retak karena terjatuh dari atas meja.


“Cieee.... dasar bucin, ponselnya gak nyala langsung nyari yang baru hahahah, “ goda Reva.

__ADS_1


“Iya dong heheh,” jawab Diandra sambil tersenyum manis.


“Ya udah ayo kita cari,” ajak Sean yang dianggukkan kedua perempuan itu.


Mereka bertiga masuk menuju toko penjual ponsel sekaligus barang elektronik. Saat sedang asik memilih ponsel dan beberapa barang elektronik yang Dian perlukan, mata Diandra bertemu dengan mata Bella yang juga mengunjungi Mall itu bersama William.


“Kak Bella,” gumam Diandra terkejut, dia langsung berjalan mundur dengan sedikit ketakutan, dia memegang perutnya seraya melindungi janinnya, wanita itu bersembunyi di belakang punggung Sean.


“Kenapa Dian?” tanya Sean, wanita itu menunjuk Bella tanpa berbicara.


Sean juga terkejut saat melihat Bella dan William leader Tiger kini ada dihadapan mereka.


“Mau apa kalian?” suara dingin dan datar reva terdengar menusuk di telinga Bella dan William.


Gadis yang berjalan mendekati Dian itu terdiam, dia tau kalau Diandra pasti takur padanya mengingat semua perbuatannya di masa lalu.


William dengan lembut menepuk bahu Bella, dia kenal dengan Bella dan dia tau kalau Bella tidak akan melakukan hal yang buruk lagi.


“Maaf, aku hanya ingin bicara dengan Diandra,” ucap Bella dengan pelan dan lembut, tidak seperti dia yang biasanya selau berkata kasar dan angkuh.


“Dian, tak apa apa maaf kalau kakak membuatmu takut, aku... aku hanya ingin berbicara sebentar padamu, ada yang mau kusampaikan,” ucap Bella pelan, dia berharap Diandra mau berbicara dengannya.


“Diandra mengintip dari balik tubuh tinggi dan tegap kakak angkatnya Sean. Dia terlihat seperti seekor anak kucing yang penakut namun rasa penasarannya membuatnya mengintip dari balik sana.


“Berbicara apa? Kau hanya menakuti kakakku,” ketus Reva yang berdiri di samping Sean, dia tak mau kakaknya disakiti oleh orang lain.


“Kakak? Bagaimana kau bisa... “ bella terhenti dia mengingat tujuan awalnya untuk memperbaiki hubungannya yang rusak dengan Diandra.


“Kumohon, sebentar saja, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu,” ucap Bella penuh harap.


“Sayang, jangan dipaksakan,” ucap William lembut.


Sean cukup terkejut melihat perubahan tiba tiba pada kedua orang itu. “Dia aneh, mereka berdua berubah? Bahkan tak ada satu gambar tato pun yang melekat di tubuh William? Ada apa ini? Apa ini termasuk jebakan?” batin Sean yang terus berhati hati jika sampai mereka melakukan sesuatu yang buruk pada Diandra dan Reva.


“Tapi aku hanya ingin bicara dengan Diandra,” ucap Bella pelan.

__ADS_1


“Mau bicara apa?” cicit Diandra dari belakang tubuh Sean dia masih mengintip.


“Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting Dian,” ucap Bella tulus.


Diandra menatap Sean dan Reva bergantian,”Lakukanlah yang mau kau lakukan, kami disini menjagamu,” ucap Sean pelan.


“Baiklah,” jawab Diandra, wanita itu menampakkan dirinya, dia tampak gugup.


“Ayo kita bicara tapi jangan disini,” ucap Diandra.


Mereka pun memilih berbicara di sebuah kafe di dekat tempat mereka berbelanja.


Reva dan Sean duduk di meja lain, sedang William di sisi yang lain, Bella duduk berhadapan dengan Diandra.


Grep...


Bella langsung menggenggam tangan Diandra dan menatap wanita itu dengan mata berkaca kaca.


“Maafkan aku atas kejadian di masa lalu, maaf karena dulu aku telah menyakitimu Diandra, aku salah aku bukan kakak yang baik, aku melakukan itu karena kau cemburu dengan dirimu yang memiliki kasih sayang melimpah dari Papa, maafkan aku karena membuatmu mengalami waktu yang sulit,” ucap Bella.


Diandra cukup tertegun mendengar gadis di depannya itu meminta maaf padanya, seperti bukan diri Bella yang biasanya.


“Apa kau sudah gila? Ehh ups... “ Diandra keceplosan sampai sampai dia menutup mulutnya.


“Astaga bisa bisanya kak Dian bercanda di situasi seperti ini,” gumam Reva yang tak habis pikir dengan sifat Diandra.


“Maaf bukan maksudku, hanya saja kau terdengar aneh, apa kau sedang mabuk? Ini masih siang hari,” celetuk Diandra.


Bella hanya tersenyum menanggapi ucap Diandra,” Aku sadar sepenuhnya Dian, aku benar benar meminta maaf karena telah membuatmu kesulitan di masa lalu,” ucap Bella dengan tulus.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2