Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Identitas


__ADS_3

Reva menatap Mamanya, dia tau kalau nyonya Alena tak akan pernah mengubah keputusannya.


“Ma… please, jangan paksain diri Mama,” lirih gadis itu.


“Apa yang Reva lakukan selama ini belum cukup Ma? Reva juga udah korbanin masa muda Reva untuk kerja di tempat terkutuk itu hiks hiks hiks, apa Mama gak bisa nyuruh kak Sean aja? Reva…” Gadis itu menangis.


Nyonya Alena terdiam, apa yang dikatakan reva benar, gadis itu sudah mengorbankan masa mudanya untuk melindungi Diandra dan mengawasi wanita itu, namun perjalanan mereka masih panjang, keluarga mereka belum bersatu dan Diandra terancam nyawanya.


Nyonya Alena menggeser kursi rodanya, dia turun dari kursi rodanya dan duduk di samping Reva yang tengah menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Maafkan mama sayang, Mama egois, tapi tolong kali ini saja, Mama… Mama mohon biarkan Mama melakukannya, setelah itu kita semua kembali seperti dulu, Mam… hiks hiks hiks Mama tau kalau mama egois tapi Mama bisa apa nak, Mama hanya ingin kamu menikmati keluarga yang sempurna, Mama tau kalau itu keinginan kamu selama ini,” ucap Nyonya Alena sambil menatap putri bungsunya.


“Mama mengusahakan semua ini untuk kamu dan kedua kakakmu, Mama ingin kalian hidup sebagai saudara, Mama ingin ada yang melindungi kamu, Mama pengen mewujudkan keinginan kamu untuk punya keluarga yang sempurna, maaf kalau kamu harus mengorbankan masa mudamu, hiks hiks hiks,” Nyonya Alena mengungkapakan isi hatinya.


Semua yang dia lakukan semata mata bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk ketiga anaknya, dia tak akan tenang jika Reva putrinya hanya bisa menatap saudara saudaranya tanpa bisa bergaul layaknya saudara pada umumnya.


“Kamu ingat gak lukisan yang kamu gambar dari kelad 1 SD sampai kamu SMP juga kamu sering melukis itu, lukisan potret keluarga kita yang sempurna bersama kakakmu Sean, Mama tau itu nak, walau kamu simpan rapat mama tau kamu merindukan keluarga yang utuh,” ucap nyonya Alena.


Reva terkejut, dia menatap Mamanya, bagaimana mamanya bisa tau tentang lukisan lukisan itu, padahal dia sudah menyembunyikannya dengan rapat.


“Ma… mama tau?” Tanya Reva yang dianggukkan oleh nyonya Alena.


“Mama tau sayang, sejak saat itu mama bertekad mempertemukan kamu dengan semua saudara kandungmu dan juga papamu, tapi kalau cara mama salah, mama minta maaf, mama gak akan memaksa kamu, kamu boleh mundur dari misi ini,” ucap nyonya Alena sambil menangis.


Reva terdiam, akhirnya dia paham mengapa nyonya Alena bersikukuh menyatukan mereka semua, mengapa mamanya berjuang secara batin dan finansial untuk menyatukan keluarganya, bagaimana perjuangan nyonya Alena untuk menyatukan keluarga mereka.


“Mama…. Hiks hiks hiks…. Maaf, Reva salah, maaf, Reva terlanjur marah, maaf Reva gak paham tujuan mama hiks hiks hiks….” Reva menghamburkan pelukannya pada sang Mama.


Nyonya Alena memeluk putrinya dengan erat, dia tau Reva juga berjuang untuk kakak kakak dan papa mereka.


“Sudahlah jangan menangis, semuanya akan baik baik saja,” ucap Nyonya Alena.


“Ahhh maaf ya Ma, Huh…. Reva akan bantu Mama, kita ke Indonesia besok, lebih cepat lebih baik, biar kak Sean yang menemani kita nanti,” ucap Reva sambil mengusap air matanya sendiri.


“Terimakasih sayang,” ucap nyonya Alena.


-


-


-

__ADS_1


Diandra kini duduk diantara keluarga besar mereka, dia awalnya berpikir kalau keluarga besar suaminya tak menerima dirinya yang hanya seorang anak tanpa status, namun ternyata semua pemikirannya salah, mereka menerima Diandra dengan sepenuh hati.


“Nak bagaimana usia kandungan kamu?” Tanya Mikha sambil menatap menantunya yang duduk diantara Vasko dan David.


Vasko duduk di samping Diandra karena beberapa saat lalu wanita itu memanggil Vasko untuk duduk di sampingnya, bukan tanpa alasan, dia dan janinnya menginginkan itu.


Bahkan keluarga David sampai heran, namun mereka melihat kode dari David akhirnya mereka tak banyak Tanya.


“Sudah menjalani minggu ke enam Ma,” jawab Diandra sambil tersenyum manis.


“Laki laki atau perempuan?” seloroh Aiden membuat merkea semua ingin memukul mulut calon kakek berkedok pelawak itu.


“Aiden sepertinya kau mulai pikun ya, kau pikir di minggu keenam sudah bisa lihat jenis kelamin hah? Dasar bodoh,” umpat Alex .


“Ehhh belum bisa ya? Masa sih?” ucap Aiden lagi.


“Haduh, nak Diandra maklum aja ya sama sikap Papi mertuamu itu, otaknya lagi korslet,” ucap Mark sambil geleng gelang kepala.


“Heheheh… kalian semua menyenangkan sekali,” kekeh Dian sambil tersenyum manis.


“Aduduh cantik banget menantuku,” seru Andin sambil tersenyum bahagia, “Ahhh Joan cepat cepat dong bawain Mama Menantu, kurang nih, masa Cuma David doang? Kamu juga Varrel, Gara juga, kalau Kiel jangan dulu, si kembar juga ahhhh Mama pengen mainan baruuuuu…” seru Andin.


“Mama Andin bener, kamu cepat cepat bawain Mom Menantu,” ucap Rose.


“Mom please jangan lagi dehh,” ucap Varrel sambil mengerutkan wajahnya.


“Benar kata Mom kamu, cepat bawa menantu, jangan kamu peluk peluk terus istriku, biar kamu punya istri sendiri,” ketus Ken yang selalu cemburu dengan anaknya sendiri.


“Jiahhh hahahhaha Daddy Ken cemburuan ahhh hahahah,” tawa Karina meledek Daddy Ken mereka.


“Aku iri dengan mereka,ahhh aku bahkan tak bisa merasakan kasih sayang dari Mama, Papa hah…. Apalagi, kak Will? Dia merebut semuanya,” batin Joel.


David menyadari perubahan ekspresi Joel yang duduk di samping Joy, “Dia seperti itu lagi, sampai kapan kau akan hidup dengan dendam itu, kenapa kau menyembunyikannya?” batin David.


“Kakak ipar apa tidak mau makan sesuatu gitu?” Tanya Jesika yang duduk di samping Mark Papanya.


“Nggak, Cuma pengen dekat kak Vasko dan kak David itu aja,” jawab Diandra dengan polosnya.


“Wah vid kau sepertinya punya saingan berat,” celetuk Gara sambil melirik Vasko yang selalu memasang wajah datarnya itu.


“Saingan? Dia bukan sainganku, dia kakaknya Diandra,” ungkap David.

__ADS_1


“Kakak? Kakak kandung?” tanya Joan.


Vasko terkejut, dia sadar pembicaraan David kearah mana, dia menatap pria itu seolah meminta penjelasan, yang ditatap malah tidak menghiraukan.


“Bukan kak dia…” ucapan Diandra terhenti saat David menyela perkataannya.


“Kurasa Vasko sudah lebih tau apa hubungannya dengan Diandra, iya kan?” ucap David sambil menatap Vasko dann menaikkan satu alisnya.


“Mari kita selesaikan maslah ini satu per satu, kau harus mengungkapkan jati dirimu yang sebenarnya Vasko, terutama pada Diandra,” ucap David.


Diandra menatap mereka berdua, dia bingung dengan tujuan pembicaraan mereka.


“Tapi..”


“Ini waktunya Vasko, jika kau ingin melindungi Dian, maka ini waktu yang tepat mengatakan semuanya, atau apa perlu aku mengungkapkan semuanya?” Tanya David.


“Apa kau…” David mengangguk sebelum Vasko menyelesaikan perkataannya.


“Aku… aku..” Vasko tiba tiba gugup.


“Ada apa sebenarnya kak? Aku bingung, kebenaran apa? Apa yang harus ku ketahui?” Tanya Diandra penasaran.


Anggota keluarga yang lain juga sama penasarannya dengan maksud David.


“Vasko sebaiknya ungkapkan sekarang tentang siapa Diandra sebenarnya sebelum kita kembali ke Jerman dan menyelesaikan masalah disana,” ucap David dengan nada tegas dan memaksa.


Vasko terdiam, dia menatap Diandra, Joel, Joy dan David,


“Apa sebenarnya yang terjadi?” batin Joel dan Joy.


“Ternyata ini adalah waktunya,” ucap Vasko sambil menatap Diandra dengan lekat.


“Dian… kau sebenarnya…”


.


.


.


Like, Vote dan Komen

__ADS_1


__ADS_2