
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih,” (1Y4.18) “......sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (W21.4)
Otniel menatap lekat wanita yang terlihat sangat mirip dengan Jesslyn mendiang kekasihnya yang telah berpulang hampir sepuluh tahun yang lalu. Dia menatap lekat wanita dengan rambut blonde itu, wanita berkacamata dengan warna kulit putih dan wajah oriental yang sangat cantik.
Otniel masih mentap lekat wanita itu,” apa itu Jesslyn? Tapi disini...” Otniel memegang dadanya menatap wanita itu,” aku tidak merasakannya seperti saat bertemu dengan Jess dulu,” batin pria itu.
Tanpa sengaja matanya malah bertemu dengan mata Chelsea yang menatapnya juga dari sudut ruangan. Seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat sorot mata teduh dari gadis cantik yang duduk bersama putranya, Emily dan Diandra.
Deg... deg... deg...
Jantungnya berdegup semakin kencang, mata itu seolah menenggelamkan Otniel dalam lautan cinta yang tak terbatas, menyelami kedalaman kasih yang lembut dan teduh di mata gadis cantik yang berhasil menarik hatinya. Rasa yang semakin hari semakin besar , bertambah, semakin hari semakin kuat membuat Otniel tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata gadis cantik yang dipanggilnya si gadis buket bunga itu.
“Justru jantungku berdebar debar saat bersama dia, ohhh Jess sebenarnya yang mana maksudmu? Dan kau momnya edward wanita yang mana yang kalian maksud,” gumam Otniel seraya menatap langit langit.
Meski melihat wajah wanita itu begitu mirip dengan gadis yang dicintainya, tapi Otniel tidak pernah berpikir kalau itu adalah Jesslyn yang sebenarnya. Karena, Jesslyn meninggal dalam pelukannya, bahkan dia turut serta dalam proses kremasi jenazah kekasihnya dan sampai ke pembakaran tubuh kekasihnya untuk kemudian ditempatkan di tempat penyimpanan debu orang yang sudah meninggal.
“Itu bukan Jesslyn, wajahnya saja yang mirip,” gumam Otniel.
“Baiklah mereka akan menempati semua posisi yang telah kosong dan akan diumumkan nanti, seluruh departemen akan tau berita ini, dan untuk kalian..” Varrel menatap ke sepuluh orang baru itu.
“Kunantikan kinerja baik dari kalian semua, ingat dengan segala konsekuensi yang akan kalian terima jika melanggar salah satu persyaratan, maka karir kalian nakan habis seperti orang orang tadi,” ucap Varrel dengan tegas.
“Baik pak Direktur,” ucap Mereka sambil memberikan salam hormat ke arah mereka.
Chelsea tampak menatap wanita yang sepertinya pernah di lihat di ponsel seseorang.Diandra menangkap siapa sosok yang dilihat oleh Chelsea dan Diandra tau perempuan itu, perempuan yang memiliki wajah sama dengan mendiang kekasih otniel.
Seketika wajah Diandra tersenyum tipis, entah apa yang ada di pikiran wanita itu, tetapi tampaknya dia memiliki sebuah rencana.
“Hmmm ini akan menarik hehehe...” batin Diandra.
“bukannya dia momnya Edward? Dia kan wanita yang ada di foto itu? Tapi kata Edward Momnya sudah meninggal, tapi kenapa ada disana?” batin Chelsea yang tampak bingung dengan situasi saat ini.
__ADS_1
Dia menatap Edward yang tampak biasa saja, tidak bereaksi saat melihat wanita yang mirip Jesslyn itu disana. Semakin bertambahlah kebingungan Chelsea saat ini, namun saat dia melihat Otniel menatap wanita itu, ada sedikit rasa cemburu dan sesak di hatinya saat melihat pria yang dia sukai melirik wanita itu.
“atau apa memang dia adalah wanita itu? Kok nyesek?” batin Chelsea.
Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke lokasi mereka masing masing. Wanita yang mirip jesslyn itu juga menyadari tatapan Otniel dan teman teman Otniel pada dirinya, namun dia biasa saja.
“Kak Niel bukan?” sapa wanita itu pada Otniel yang membuat pria itu segera menoleh, begitu juga dengan yang lain.
“Uhhh panas Oana... kok gerah weehhh...” seloroh Diandra seraya mengipasi dirinya sendiri dan melirik Chelsea. Yang dilirik diam saja dan memperhatikan.
“Apa kau mengenalku?” tanya Otniel, karena wajah wanita itu begitu mirip dengan Jesslyn, membuat Otniel tak bisa memalingkan perhatiannya dari wanita itu. Dia benar benar merindukan kekasihnya itu, kekasih yang baik hati dan sangat lembut itu.
“tentu saja, aku sangat mengenalmu,” ucapnya sambil tersenyum, senyuman yang sama dengan senyuman milik kekasihnya, hati Otniel pedih mengingat bagaimana Jesslyn pergi untuk selama lamanya di dalam pangkuannya.
Otniel menatap tajam wanita itu, dia kembali ke mode serius, wanita di depannya itu tak mungkin Jesslyn, “ Siapa kau? Aku tak mengenalmu,” ketus Otniel dengan wajah kesal.
“Ohh ayolah kak Otniel, apa kau tidak mengingat wajah ini, ini aku.. Jess..” ucap Wanita itu seraya berjalan mendekat ke arah Otniel.
“Bahkan suaramu saja berbeda dengan suara jesslyn ku, kau bukan dia...” ucap Otniel sambil menatap wanita itu dengan tajam.
“hahahhaha... kupikir kau akan mudah dibohongi kak, hahahhaha ternyata kau sehebat apa yang dikatakan Jesslyn,” wanita itu tertawa terbahak bahak sambil menatap wajah Otniel.
Yang lain diam dengan tenang dan memperhatikan interaksi mereka, tidak terlalu banyak ikut campur sebelum Otniel meminta bantuan mereka.
“a.. apa maksudmu?” tanya Otniel.
“Kak Varrel, kenapa kau menerima wanita gila ini disini, kenapa kau menerimanya?” tanya Otniel yang tidak suka dengan wanita yang mirip dengan jesslyn itu.
“Dia memiliki kualifikasi terbaik Niel, mana mungkin aku melepaskan kesempatan emas ini,” ucap Varrel dengan santai.
“Cihh yang kau pikirkan hanya uang , dasar direktur kampret,” ketus Otniel dengan wajah kesal.
__ADS_1
“hohohoho... tentu saja, kalau tidak demikian, rumah sakit ini bisa hancur Otniel,” ucap Varrel dengan santai.
“Ck...”
“Ka Niel.. perkenalkan aku Jenny, kakak kembarnya Jesslyn, dia tidak pernah cerita kan? kalau dia punya kakak kembar heheh...” kekeh wanita bernama jenny itu.
“ke..kembar?” tanya Otniel.
“Ya aku kakak kembarnya, kami terpisah sejak kecil, aku bersama nenek di Australia dan Jess bersama Mom dan dad di Jerman, jadi yahh saat ku tau dia meninggal aku hancur saat itu, dan bahagia karena dia meninggal di pelukan pria yang dia ceritakan setiap malam hahahhha...” Jenny orang yang banyak tertawa dan terkesan sedikit sepele dan terlalu santai, berbeda dengan Jesslyn yang lebih serius dan kalem.
“Ahhh... mau apa kau kau kesini?” tanya Otniel dengan tatapan tak suka.
“Cihhh jangan melihatku begitu Otniel, aku kesini karena ada misi khusus, dan itu tak ada hubungannya denganmu, jadi kau tenang saja ,” ucap Jenny seraya melirik seseorang diantara mereka semua, tidak tau entah siapa yang dia lirik, tetapi senyuman licik tergambar jelas diwajahnya.
“Terserah, “ ucap Otniel yang terkesan cuek, meski dia masih penasaran tentang kaka kembar mendiang kekasihnya itu.
“Apa kau tidak mau tanya tentang Jess?” tanya jenny.
“Untuk apa? Dia sudah tenang disana, untuk apa aku mengungkit luka lamaku,” ucap Otniel sambil berdiri dari kursi rodanya dan memilih berjalan dari pada harus dianggap sebagai orang sakit sakitan.
Jenny tersenyum,” kita lihat saja apa kau masih belum move on dari adikku atau tidak hahahha..” Batin wanita itu.
“Sepertinya rencana ini akan berjalan dengan lancar, “ batin orang misterius yang sejak tadi melirik Jenny.
.
.
.
Like, vote dan komen.
__ADS_1