
Joel dan Ara tampak sedang berada di kos kosan lama Ara. Mereka berdua duduk di dalam rumah kecil itu.
Mata Ara tampak sembab, beberapa menit yang lalu dia menangis tersedu sedu setelah pulang dari rumah orangtuanya.
Joel menatap sendu tunangannya, dapat dia rasakan kesedihan dan kesesakan di hati Ara akibat kejadian tadi.
Hati Ara benar benar hancur, dia menangis tersedu-sedu di dampingi sang kekasih. tangan Joel menepuk bahu kekasihnya itu dengan lembut, dia tau ini berat bagi mereka tetapi keduanya harus menghadapi ujian ini.
" Ra," panggil Joel dan Ara menoleh.
" Sudah tak apa, tenang lah," ucap Joel, dia mengusap kepala Ara.
" Mereka terlalu jahat Joel, mereka tidak pantas melakukan itu padamu, hiks hiks hiks, " ucap Ara kembali menangis.
"lihat ini, wajahmu sampai terluka karena dia maafkan aku, mereka menghinamu, maafkan aku hiks hiks hiks...." tangis Ara sambil mengusap wajah Joel yang terluka di bagian pipi kirinya.
" ini bukan salahmu Ra," ucap Joel sambil menggenggam tangan Ara yang menyentuh wajahnya.
" Lagi pula aku kan menghajarnya lebih dari ini heheh," ucap Joel sambil tersenyum.
" ini tidak seberapa, kau lihat kan wajahnya hancur lebur hahahah," kekeh Joel.
Ara menatap calon suaminya dengan mata berkaca-kaca, dia memeluk Joel dengan erat, menenggelamkan kepalanya dalam pelukan erat sang kekasih.
" Semua akan berjalan dengan baik, kau tidak perlu takut, sekarang kau adalah bagian dari kami, lupakan saja mereka yang tidak menghargai mu,"
Kejadian beberapa jam lalu,
" Ra jujur padaku, pasti ada yang mengganggu mu kan? aku tau Ra, kau tak bisa membohongiku, sudah beberapa hari kau murung seperti ini!"
Joel berjalan kesana kemari sambil mengomeli Ara, mereka berada di sebuah taman.
" Ayolah, tanpa kau bilang aku bisa tau apa yang terjadi, apa kau masih tidak mau jujur?"
" Sejak di rumah sakit kau terus diam dan murung, kenapa kau tidak bilang apa apa pada kami Ra?"
Suaranya terdengar lirih, sesekali pria itu memijit pelipisnya sambil menatap sang kekasih.
" Kau diam, wajahmu murung, kau bahkan terlihat gemetaran, setiap ditanya kau selalu bilang tidak ada apa apa tetapi matamu mengatakan kalau terjadi sesuatu yang, " omel Pria itu lagi.
" Jujur Ra, kau ini kenapa sih?" Joel menggoyang goyang bahu Ara membuta gadis itu menatapnya.
" Ma..maaf," cicitnya pelan seperti anak burung yang terjepit di bawah lemari, bersuara tapi seperti tak bersuara.
__ADS_1
" Maaf.. maaf.. maaf... nyenyenye... maaf terus sampai lebaran monyet!" ketus Joel.
" huhh.... kalau kau tidak mau memberitahu apa yang terjadi aku akan pergi, aku akan pulang ke Jerman!" Joel mendengus kesal sambil berbalik dan hendak meninggalkan Ara.
Mendengar Joel mengatakan itu sontak Ara menarik ujung baju Joel, untung nggak sampai terjungkal kan hilang momen sedihnya.
" Jo..." suara Ara terdengar Lirih, belum apa apa dia sudah menangis saja. Sebenarnya bukannya Joel tak bisa mengetahui apa yang terjadi, tapi dia ingin Ada mengungkapkan pada dirinya tanpa Joel harus cari tahu.
Joel menghela nafas berat, dia berbalik dan menatap Ara yang mulai menangis. Tangan pria itu terangkat dan membelai wajah cantik Nan polos yang sedang menangis di depannya itu.
" Katakan yang sejujurnya, apa yang terjadi, tak usah takut," ucap Joel lembut, dia berjongkok di depan Ara sambil menggenggam tangan gadis itu.
" Aku takut kau marah ...." ucap Ara dengan nada lirih.
Joel menyerngitkan keningnya," marah? apa aku pernah marah padamu? kecuali atas kesalahanmu sendiri ya aku marah apalagi kalau itu sampai membahayakan diri mu, pasti aku marah Ra, sekarang apa alasannya?" tanya Joel.
" Ceritalah, sudah berapa kali aku mengatakannya, aku jadi penasaran Ara..." kali ini Joel yang merengek .
" Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku dihubungi oleh Mama, dia memaksaku untuk pulang," ucap Ara sambil menunduk.
Mendengar itu Joel mengubah posisi duduknya dia duduk di samping Ara dengan waja benar benar serius.
" Dia menyuruh mu pulang? bukannya mereka tak peduli padamu? kenapa tiba tiba?" tanya Joel.
" Aku dijodohkan!" ucap Ara yang bahkan tak berani menatap mata kekasihnya.
Mata Joel terbelalak, jantung nya bagai dihujam batuan yang sangat besar, benar benar membuatnya shock, sebuah hal keramat yang sangat Joel benci.
" Cinta kita di halangi perjodohan? apa ini sinetron!!" ucap Joel terbelalak.
Ara menunduk, air matanya terus mengalir, jujur saja dia tak mungkin mau berpisah dari Joel, sakit sekali hatinya saat mendengar sang Mama dengan gamblangnya berkata kalau Ara dijodohkan.
" Maaf, aku juga tidak mau Jo, aku tidak mau" ucap Ara sambil menangis.
Joel menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya dengan kasar.
" Haah...!!" kesal Joel.
" Ada ada saja manusia sekarang," ketusnya.
" Lalu kenapa kau menangis? apa kau akan mengikuti keinginan mereka?" tanya Joel sambil berdiri dan berkancah pinggang di depan Ara.
Ara dengan cepat menggelengkan kepalanya," aku tidak mau, aku tidak akan pernah mau, aku hanya mencintaimu!" ucap Ara dengan tegas meski air matanya terus mengalir.
__ADS_1
Mendengar itu hati Joel yang panas bak disiram air es yang seketika itu segar kembali.
Pria itu tersenyum dan menarik Ara ke pelukannya dan malah membuat Ara bingung.
" Apa kau tidak marah?" tanya Ara pelan.
" Buat apa ? toh jawabanmu tadi sudah menunjukkan apa yang akan terjadi kedepannya, karena aku pun begitu, aku hanya akan mencintaimu," ucap Joel dengan senyum bahagia.
Ara terkejut, dia pikir Joel akan marah, namun nyatanya Joel malah memberi dia semangat dan menguatkan dirinya atas kejadian itu.
"Lalu bagaimana, mereka tidak akan melepaskan ku dengan mudah Jo, mereka punya kekuasaan, mereka bisa melakukan apa pun apalagi kakak laki laki, temperamen nya sangat buruk," ucap Ara.
Joel menatap wajah cantik kekasihnya, dia mengusap wajah itu dengan lembut, " jangan takut, aku ini Joel, kau akan lihat seberapa hebat aku nanti," ucap Joel.
" Tapi aku takut," lirih Ara.
" Ck... kau ini nakal ya, sudah dibilang jangan takut," ketus Joel.
" Sudahlah, ayo kita ke rumah keluarga mu itu, kita balasan perbuatan mereka dan buat mata mereka terbuka kalau hidupmu adalah milikmu!"
" Jangan ketika ada maunya, mereka sok peduli dengan mencarikan jodoh untukmu, tetapi saat maunya dipenuhi mereka malah meninggalkan mu, itu sama saja tak beretika dan aku membenci orang seperti itu!" ucap Joel.
" Udah jangan sedih, sekarang senyum ya," ucap Joel.
Ara tersenyum lembut, tentu saja setiap melihat senyuman itu hati Joel selalu damai dan tenang.
" Ahhh cantiknya calon istriku, udah jangan takut lagi, serahkan ini semua pada bang Joel heheheh," celetuk pria itu dengan bangga.
" Terimakasih selalu memahamiku, maaf kalau aku menyakitimu," ucap Ara sambil membenamkan kepalanya di dada sang tunangan.
" he.. em... tenang saja, ada Joel semua akan baik baik saja," ucap Joel.
"*Wadohhh mampus aku, kenapa juga mereka pakai acara jodoh jodohan emangnya jaman Siti Nurbaya, haihhhh kalau sampai Ara dipaksa menikah dengan orang asing, bisa mampus aku,"
"mulutmu terllau pintar berkata romantis Joel tapi lihat sekarang, kau ketar ketir kan arhhhh sialaan*!!!!!" Batin Joel berteriak.
Sejujurnya dia takut dan khawatir saat ini tapi ditutup dengan celetukan celetukan anehnya itu.
"Aku tau kau takut Joel, apa pun yang terjadi aku tak akan meninggalkanmu" batin Ara.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....