Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Berhasil


__ADS_3

Otniel memegang bahu Chelsea, memberikan instruksi dan arahan agar gadis itu tidak panik.


" Tarik nafas pelan dan keluarkan, konsentrasi dan lihat objek yang akan kau amati sekali lagi," ucap Otniel dengan tenang.


Tentu saja semua orang merasa heran dengan Otniel yang masih bisa dalam keadaan setenang itu meski suasana sedang genting.


" Wahh dokter Otniel benar benar tenang sekali, tak pernah kujumpai satu dokter pun yang bisa setenang itu di dalam ruangan operasi, belum lagi usianya baru kepala tiga,"


"Kau benar, dokter muda dengan segala potensi kini ada dihadapan kita, jangan lewatkan setiap sesi operasi yang dilakukan dokter ini, dia benar benar hebat!"


Para Dokter bergunjing memuji kehebatan Otniel namun tidak untuk Varrel. Baginya kondisi Otniel ini justru sebuah hal yang aneh dan tidak wajar, ekspresi dan tatapan mata Otniel saat membedah tubuh pasien sangat menyeramkan jika melihatnya lebih teliti lagi.


Seolah dia sedang membedah tubuh manusia untuk memenuhi semua rasa penasarannya akan tubuh manusia.


"Dia psikopat, seandainya para pasien itu tau kalau yang membedah mereka adalah seorang psiko, apa mereka akan memuji Otniel seperti itu?" gumam Varrel.


" Kalian tidak tau saja, manusia Yang ada di hadapan kalian adalah setan paling kejam di dunia, bersyukur dia bertemu dengan Sahabat sahabatnya dan juga Edward, jika tidak, dia mungkin menjadi pembunuh paling terkenal di Dunia," batin pria tinggi dengan dengan wajah kharismatik dan tatapan dingin itu.


Sementara di luar ruangan operasi para dokter bergunjing memuji kehebatan Otniel dan mengkritik dokter Chelsea yang dinilai terlalu naif untuk seukuran dokter fellow di dalam ruangan suasana cukup menegangkan karena sedari tadi Chelsea belum memulai operasinya.


" Sekarang lihat ke dalam, dan temukan masalahnya," ucap Otniel tepat di telinga Chelsea.


Chelsea mengangguk, dia melihat dan meneliti bagian mana yang salah sekali lagi. Dengan perlahan dan penuh konsentrasi, dia mencari dan matanya menemukan syaraf yang mengalami sedikit kerusakan.


"ketemu!" ucapnya.


" Lakukan dan selesai kan dengan benar!" ucap Otniel.


Chelsea mengangguk, dia memperbaiki saraf yang rusak itu sesuai dengan prosedur yang dia pelajari dan dia ingat. Jangan lupakan posisi mereka berdua yang masih dalam posisi sangat dekat dengan Otniel memegang bahu Chelsea dengan lembut.


Beberapa menit berlalu, perlahan tubuh pasien menjadi normal, detak jantungnya berada pada titik normal dan seluruh sistem sarafnya bekerja dengan baik Tanpa ada masalah.


" Selesai!" ucap Chelsea.


Semua dokter akhirnya bernafas lega setelah kejadian menegangkan tadi. Otniel tersenyum tipis lalu kembali memasang wajah datar dan kembali ke posisi nya.


" Baiklah, operasi Ganda sukses, kerja bagus semuanya, sekarang giliran kalian mengakhirinya dengan baik, kalian bisa kan?" tanya Otniel.


" Bisa dok terima atas kerja bagusnya!" ucap Para dokter sambil menunduk hormat terutama Chelsea dia benar benar bahagia atas bantuan pria tadi.


Otniel menatap mereka lalu melenggang keluar dengan wajah datar dan tatapan sinis, sepertinya dia akan mengamuk setelah ini.


" Ahh... setelah selesai dengan pasien kalian semua temui aku di ruangan presentasi, tanpa terkecuali!" ucap pria itu tepat sebelum dia keluar dari ruang operasi dengan wajah datar dan dingin.


Mereka semua saling menatap, semuanya menenggak kasar Saliva mereka. Rekan Chelsea menatap tajam ke arah Chelsea, dia tau kalau mereka akan mendapatkan masalah dari si dokter psikopat itu.

__ADS_1


" Ini semua gara gara ulahmu Chelsea!" kesal pria itu.


Para suster dan Dokter yang mendampingi diam saja tanpa berkomentar apa pun.


"Apa kami akan terkena amukannya? ahhh kuharap tidak," batin Chelsea sambil menyelesaikan pekerjaannya.


Mereka semua sibuk dengan pasien itu, semen Otniel keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah.


Meski terlihat sangat kuat di dalam ruang operasi, namun nyatanya Otniel kelelahan, wajahnya sedikit pucat, dia berjalan sambil memijit pelipisnya, benar benar menguras tenaga dan menguras pikiran.


" shhh.... ini sakit lagi," gumam Otniel sambil menatap tangannya yang mengalami Tremor, hal yang akhir akhir ini terjadi pada dirinya.


"Daddy!!!" teriakan dua orang bocah terdengar jelas di telinga Otniel.


Pria itu menoleh dan melihat si kecil Edward dan Emily serta Diandra berdiri tak jauh dari posisinya saat ini.


Seketika rasa lelahnya berkurang drastis hanya dengan melihat wajah putranya dan juga si kecil Emily.


" Anak anak Daddy!!!" seru pria itu yang berlari menghampiri mereka berdua seperti seorang anak kecil yang menghampiri sahabatnya.


Diandra menggelengkan kepalanya, perilaku Otniel memang persis seperti tiga pria lainnya yang kalau ketemu anak anak sifatnya malah lebih dari anak anak.


Siapa lagi kalau bukan David, Vasko dan Joel. Mereka bertiga persis seperti Otniel saat ini.


Edward dan Emily memeluk Otniel sambil tersenyum sumringah.


" Baru saja kak, tadi kami bersama kak David tapi tiba tiba ada panggilan lagi dari kantor, huh.. lama kelamaan dia akan menjadi kurus, pola makannya benar bena tidak teratur, dia bisa sakit kalau seperti itu terus,"gerutu Diandra seraya memijit pelipisnya.


Otniel terkekeh, memang akhir akhir ini David sangat sibuk, belum lagi harus terbang ke berbagai negara untuk memenuhi semua permintaan klien dan memperluas perusahaan nya.


"Sabar Diandra, David melakukan semua itu untuk kalian, dia tak ingin kamu dan Baby Bubu kekurangan dalam berbagai hal," ucap Otniel.


" aku tau, tapi jangan sampai menyiksa dirinya, aku tak suka, memangnya apa lagi yang kurang sih, dia juga pergi pagi pulang malam, aku kasihan kak," ucap Diandra dengan mata berkaca-kaca.


" Sudahlah, nanti aku akan coba bicara pada David," ucap Otniel.


Diandra mengangguk pelan, mereka berempat pergi dari sana.


" Daddy lapar, kita makan yuk? apa Daddy ada pekerjaan lagi?" tanya Edward yang duduk anteng dalam pangkuan Daddynya.


" Nggak ada, kita makan, Daddy juga udah lapar," jawab Otniel.


" Pantes perut Daddy bunyi bunyi..


krukukk... kruuukk... kruukkk kayak suara katak hahahah..." celetuk Emily.

__ADS_1


" Palingan Daddy Niel cacingan hahahah," tambah Diandra yang malah mengejek Otniel.


" Ck.. kalian ini, apa tidak ada bahan ejekan lain selain diriku?" ketus Otniel sambil memutar malas kedua bola matanya.


"Hahahhaha....


Mereka tertawa di sepanjang lorong rumah sakit itu.


" Ehh Jacob dan Joy kenapa tidak datang?" tanya Otniel.


"Ahhh tadi kak Vasko jemput mereka, katanya mau main ke taman hiburan, aku tanya Edward dan Emily kata mereka udah janji mau ketemu sama kakak," jawab Diandra dengan wajah sedikit murung.


" ohh begitu ya," ucap Otniel sambil manggut-manggut dan melirik wajah sedih Diandra.


" Jangan sedih Dian, " ucap Otniel yang paham dengan perasaan Diandra.


" Hufftt... aku tidak mau seperti ini, tapi entah kenapa aku ingin menangis, kak David...


" Kak David kenapa hmm? belum ditinggal berapa jam udah nangis aja, dasar cengeng!" ejek seseorang yang tak lain adalah David.


" Papa!!!" seru Emily dan Edward.


" Sa..sayang?" Diandra terkejut melihat suaminya kembali.


" Heh, dasar cengeng, kemari peluk dulu," ucap David.


Diandra memeluk suaminya, matanya berkaca-kaca, meski tahun terus berganti tetapi kehangatan dan keharmonisan mereka berdua tak pernah berganti malah semakin bertambah setiap hari.


" Bukannya ada rapat?" tanya Diandra.


" Rapat nggak lebih penting dari kalian sayang, maaf aku terlalu sibuk akhir akhir ini, jangan nangis ya, aku gak suka lihat kamu sedih begini," ucap David.


" Huaa... ku pikir kakak tadi pergi, hiks hiks hiks...


"mana mungkin, wanita yang kucintai saja ada disini,"


" ahhh aku makin cinta!!" Seru Diandra.


Otniel memutar malas kedua bola matanya," Nasib jomblo apa harus melihat keromantisan tiada akhir ini? Haihh... dasar tidak sopan!" gerutu Otniel.


" Ayo anak anak, kita makan, biar mereka makan cinta cintaan itu, ck... " ejek Otniel.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😉😉


__ADS_2