
Otniel mengerjakan bagiannya untuk memulihkan kembali namanya yang telah rusak, sampai pukul 3 dini hari dia masih berkutat dengan komputer nya mengumpul semua keburukan Dokter Richard dan antek anteknya.
Krakk... Krakk..
Bunyi persendian Otniel terdengar garing di dalam ruangan kerja itu, dia meregangkan tubuhnya, memutar kepalanya dan memijit pelipisnya.
Meski dia harus kurang tidur, tapi hal itu tidak menghalanginya untuk memulai penjelajahan dengan internet dan meretas seluruh jaringan komputer untuk menemukan data data terbaik tentang musuh musuhnya.
Senyuman tampan yang tak pernah tertinggal dari wajahnya.
"Cukup bermain mainnya Richard, aku tak akan membiarkan dirimu merusak namaku dan nama anakku, kau bukan tandingan ku bodoh!" Gumam Otniel.
Setelah membuat jadwal otomatis untuk memunculkan berita baru tentang Richard dan antek anteknya, Otniel akhirnya bisa tenang dan kembali ke kamarnya.
Dia berjalan sambil memijit kepalanya yang sedikit pusing kerena menatap komputer semalaman.
Dibukanya pintu kamar anaknya, dia masuk kesana dan menatap Edward yang masih terlelap dengan tenang.
Seutas senyuman tergambar jelas di wajah pria itu.
Perlahan dia berjalan, kemudian membaringkan tubuhnya di samping putranya dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Edward.
Memeluk tubuh putranya dan terlelap bersama Edward dengan senyuman bahagia.
"Daddy akan berjuang untukmu sayang, tak akan Daddy biarkan siapa pun merusak kehidupan kita," ucap Otniel sebelum dia Bena benar terlelap di samping putranya.
Malam menguasai langit Indonesia, bintang bintang tampak gemerlap menghiasi langit indah nan cerah di malam hari itu.
Lampu kota menghiasi seluruh pemandangan di malam hari, beberapa kendaraan masih lalu lalang di jalanan ibu kota pertanda bahwa masih ada penduduk bumi yang beraktifitas meski hari telah larut malam.
Tak terasa waktu berlalu hingga sang Surya kembali duduk di singgasananya menyinari bumi dengan cahaya hangat nan cemerlang yang dia pancarkan.
Udara pagi yang khas, hiruk pikuk perkotaan yang padat, aktivitas manusia kembali di mulai.
Tring... Tring... Tring
Alarm berbunyi, tampak bocah kecil yamg terlelap kembali membuka matanya setelah beberapa jam terlelap mengistirahatkan tubuhnya.
"hoaaamm... Udah pagi ya," celetuk Edward seraya mengusap matanya menggunakan kedua tangannya.
Bocah kecil itu menatap Daddynya yang terlelap di sampingnya.
"Daddy? Apa Daddy begadang lagi semalam? Kasihan," gumam Edward sambil memperbaiki selimut Otniel yang tidur tengkurap seperti seekor cicak yang sedang merayap di dinding.
Merasa ada yang bergerak di sampingnya, Otniel membuka matanya. Dia menatap Putranya yang juga tampak sedang menatapnya.
"Good morning son!" Sapa Otniel seraya menatap anaknya.
"Morning Daddy, kenapa langsung bangun? Tidur lagi aja" ucap Edward sambil beranjak dari atas kasur.
__ADS_1
"Hmm... Iya, jam berapa kamu ke sekolah? " Tanya Otniel.
"Jam 7 Dad, masuk jam 7.30" jelas Edward yang sudah ngacir ke lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya sendiri.
Bocah kecil benar Benar mandiri dalam segala hal, jika bisa, dia tidak akan meminta bantuan apapun dari orang lain selama dia mampu melakukannya.
"Ahh... Ini masih setengah enam, nanti jam tujuh bangunkan Daddy ya, biar Daddy antar, jangan lupa di bangunin," ucap Otniel.
"Apa Daddy gak lanjut tidur aja?"
"Nggak sayang, Daddy mau antar kamu ke sekolah, Daddy gak masuk kerja hari ini, capek, setelah itu kita jalan jalan berdua, " Ucap Otniel.
"Ajak Baby Bubu dan Jacob boleh?"
"Kita ijin sama Mama Dian ya nak," Ucap Otniel.
"Baik Daddy heheheh, kalau gitu Abang mandi dulu," Ucapnya yang dianggukkan oleh Otniel.
Hari ini Otniel tidak masuk kerja, lelah mengotak Atik komputer membuat nya kembali meminta ijin cuti selama sehari pada sang direktur muda rumah sakit KenRose.
Niatnya dia akan menemani Edward hari ini, pergi ke sekolah bermain dan menikmati waktu berdua mereka yang jarang mereka lakukan karena kesibukan Otniel selama beberapa waktu belakangan.
Dia kembali terlelap menunggu putranya selesai bersiap siap menuju sekolah.
Sementara itu, Edward kecil tengah bersiap, dia berpakaian sendiri dan menyiapkan semua barang barang yang akan dia bawa ke sekolah, lalu turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama yang lainnya.
"Nak, Daddy dimana?" Tanya David sambil mengolesi selai strawberry untuk Edward dan Emily, selai kesukaan kedua bocah itu.
"Apa Otniel tidak masuk ya? " Ucap David.
"Mungkin saja kak, biar saja, kasihan dia kelelahan setiap hari, tangannya juga terus gemetaran, aku takut," Diandra melirik Edward yang menikmati sarapannya bersama Emily.
" Ekhmm... Nanti saja" ucapnya yang hampir memberitahukan kondisi Otniel di hadapan anak anak.
"Baiklah, terserah dia saja, hari ini kamu kerja juga?" Tanya David.
"Iya, ada banyak orderan cake, aku harus segera kesana yang," jelas Diandra.
"Kalau begitu biar aku menolongmu ya," Ucap David.
"Hmm? Apa kau tidak bekerja? Bukannya urusan kantor lagi padat? Aku nggak apa apa kok, kamu bisa kerja," Ucap Diandra seraya menatap heran dengan suaminya.
"Hmm... Aku ingin menemani mu, masalah pekerjaan sudah beres dan di handel oleh Reva, aku ingin bersamamu hari ini," Jelas David sambil tersenyum.
"Aneh, tumben kamu begitu yang? Apa terjadi sesuatu? Apa ada masalah?" Tanya Diandra.
"Nggak sih, cuma hati aku bilang kalau aku harus terus bersamamu hari ini, gak tau kenapa heheh, mungkin karena kita jarang menikmati waktu berdua karena aku sibuk terus," Seloroh David.
"Cihh bilang aja gak mau pisah dari aku hahahah..."
__ADS_1
"Ya begitulah, kalau boleh sebenarnya aku gak kerja dan hanya berduaan setiap hari bareng kamu," ucap David sambil tertawa kecil.
"Jiaahhh dasar si bucin, kalau kalian berduaan terus pasti ujung ujungnya bosan, kalau seperti ini kan ujung ujungnya selalu ada hal romantis yang terjadi, dasar kau ini..." Celetuk Otniel yang ternyata memilih bangun sebelum dipanggil oleh Edward.
Pria itu sudah rapi dengan pakaian kasualnya, wangi dan toan seperti biasanya.
"eh kak Niel, apa gak lanjut tidur aja dulu? Lagian Edward berangkatnya setengah jam lagi," Ucap Diandra.
"Nggak deh,asa iya aku dibangunkan, pas ngantar Edward dan Emily malah ileran, kan gak kece hahhahaha" celetuk Otniel sambil duduk di kursi di samping Edward.
"Terserah padamu lah, apa kau sudah minta ijin pada kak Varrel? Jadwalmu bagaimana?" Tanya David.
"Aku sudah minta ijin, paling kalau butuh bantuan mereka akan menghubungi ku, lagipula pasti rumah sakit sedang gempar sekarang hihihi..." Ucap Otniel sambil tertawa jahil.
"Dasar si kunyuk ini, lalu rencanamu apa hari ini?" Tanya David.
"Umm aku akan mengantar Edward dan Emily ke sekolah, jadi kalian bisa menikmati waktu berdua kalian, " ucap Otniel seraya menaikturunkan alisnya.
"Apa yang kau pikirkan dokter gadungan?" Ucap Diandra mendengus kesal.
"Hahaha apa saja yang terlintas di otak mu itu Mama Gorilla ,"Kekeh Otniel.
"Aku akan membawa Emily dan Edward jalan jalan setelah pulang sekolah, jika Jacob bisa aku juga akan membawanya " ucap Otniel.
"Apa boleh?" Tanya Otniel.
"Boleh, tapi jangan ceroboh, mereka anak anak yang rentan dengan bahaya, aku tak.maj terjadi apa apa pada mereka," Ucap David memperingatkan.
"aashiiap bos!" Seru Otniel.
"Anak anak, setelah pulang sekolah, Daddy akan bawa kalian jalan jalan, mau kan?" Tanya Otniel
"Mauuuu..."Seru Emily dan Edward bersamaan dengan suara ruang gembira.
"Nanti Mama buatkan bekal, kak jangan kasih es krim ya, Edward sama Emily semalam masuk angin gara gara cuaca dingin, aku takut mereka mual, aku akan siapkan kebutuhan mereka dulu," Ucap Diandra yang bahkan belum menyentuh makanannya karena sibuk mengurus orang rumah.
David menatap istrinya, " sayang makan dulu, biar aku yang siapkan , kau pasti lelah," Ucap David.
"Eh gak apa kak, biar aku aja,"
"Udah jangan bawel, kau makan dulu, biar kami yang siapkan, kami tak mau Mama Gorilla ini berubah jadi Mama Kukang, kan gak Lucu," Celetuk Otniel serta menahan tangan Diandra agar tak beranjak dari sana.
"Cihh... Baiklah, kalian yang minta," Ucap Diandra.
"Dan terimakasih," Ucapnya diakhir kata katanya.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 😉😉