
Operasi Otniel dilaksanakan hari ini, mereka semua telah membuat persiapan yang matang untuk hal besar ini. Chelsea sudah mempersiapkan dirinya dengan matang.
Edward dan Emily masih belum berbaikan dengan Otniel sejak kejadian beberapa hari lalu, mereka tidak mau bicara dengan Otniel karena Otniel dan Jenny tampak dekat beberapa hari terakhir dan kedua bocah itu tidak menyukainya.
Di dalam ruangan perawatan Otniel, tampak Niel dan Chelsea sedang berbincang sebelum Niel dibawa ke ruang operasi. Gadis itu duduk di dekat brankar Otniel dan Otniel duduk di atas bakarnya sambil terus menatap Chelsea dengan serius.
“Bagaimana dengan anak anak? Apa mereka masih marah padaku?” tanya Otniel pada Chelsea.
“eh... me.. mereka sedikit marah tenang kejadian beberapa hari lalu, tapi tak usah dipikirkan , mereka berdua terus terusan mengkhawatirkan anda Dok, hanya saja kejadian kemarin membuat mereka sedikit kecewa,” ucap Chelsea yang berbicara tanpa menatap Otniel.
Setiap kali dia menatap mata pria itu jantungnya selalu berdegup kencang tak karuan dan itu akan membuatnya malah salah tingkah .
“Apa mereka bicara padamu?” tanya Niel.
“Ya mereka bicara, namanya juga anak anak, anda bisa menjelaskannya nanti setelah operasi selesai, kurasa mereka berdua akan mengerti kenapa anda mengatakan hal kemarin,” jelas Chelsea.
“Hal apa? Apa yang kubicarakan memangnya?” tanya Otniel lagi lagi dengan tatapan mata yang sangat dalam itu.
Chelsea lagi lagi mengalihkan pandangannya, saat mata mereka bertemu jantungnya langsung berdegup kencang tak karuan.
“Ekhmm... i..itu.. so..soal wasiat mendiang kekasih anda dok,”jawab Chelsea dengan pelan meski hatinya sedikit sakit.
“Menurutmu apa yang harus kulakukan?” tanya Otniel dengan serius.
Chelsea sedikit terkejut dengan pertanyaan Otniel, apa Otniel tak bisa membaca dari raut wajah gadis itu kalau dia tidak nyaman dengan topik pembicaraan mereka?
“Eh... i.. itu semua pilihan anda dok, apa anda masih mencintai gadis itu?” tanya Chelsea yang sebenarnya penasaran.
“Tentu, dia cinta pertamaku Chel, dia meninggal dalam pelukanku, aku tak akan pernah melupakannya, dan mungkin aku akan memenuhi permintaan terakhirnya untuk menikah dengan seseorang yang mirip dengannya,” jelas Otniel.
Chelsea menatap Otniel dengan tatapan terkejut namun dia segera mengubah mimik wajahnya.
“Ehhh i..itu bagus dok, ka.. kalau anda bisa mewujudkan keinginan wanita yang anda cintai, itu akan menjadi hal yang bagus,” ucap Chelsea yang menelan dalam dalam perasaannya.
__ADS_1
“Aku tak punya kesempatan, kenapa aku merasa sangat kecewa padahal kami tidak sedekat itu,” batin Chelsea yang menunduk sambil memainkan jari jarinya di bawah sana menelan rasa sukanya pada otniel.
“Tapi...”
“Aku menyukai seseorang,” ucap Otniel yang membuat Chelsea mendongak dengan mata merah dan sedikit berair sepertinya barusan dia hampir menangis.
Otniel menatap mata yang memerah itu, rasanya dia tak tega melihat gadis itu seperti itu, dia tau kalau Chelsea menyukainya dan informasi itu dia dapatkan dari Diandra.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Otniel dengan serius.
Chelsea bingung, keadaan Otniel baginya cukup rumit, disaat pria itu menyukai seseorang datanglah wasiat sang mendiang kekasih yang memintanya menikah dengan orang yang mirip dengannya.
“Menurutmu apa yang harus kulakukan Chelsea? Aku bingung, aku sangat menyukai orang ini, tatapan matanya yang teduh membuatku merasa nyaman, sejak pertama kali kami bertemu di rumah sakit ini dia sudah membuatku penasaran karena mirip dengan seseorang yang pernah kuberikan bunga, apa yang harus kulakukan?” tanya Otniel yang tak sekalipun mengalihkan tatapannya dari wajah cantik itu.
“eh.. i.. itu, menurutku dokter harus mendengar hati dokter, itu pilihan anda dok, dengar kata hati anda, memilih antara mengabulkan wasiat mendiang kekasih anda atau memilih wanita yang anda sukai,” ucap chelsea dengan lembut.
“Miris sekali nasibmu Chelsea, ternyata orang yang kau sukai malah menyukai orang lain, haihh...” batin gadis itu meratapi nasibnya sendiri.
“kalau aku memilih mengikuti wasiat itu apa wanita itu tidak apa apa? Karena dia juga menyukaiku, apa itu tidak apa apa? Aku memang belum menyatakan perasaanku padanya, tapi aku tau dia menyukaiku juga,” ucap otniel.
“Lalu apa kau tidak apa apa?” tanya Otniel tiba tiba seraya menggenggam tangan chelsea.
Chelsea terkejut, sentuhan tangan Otniel membuatnya merasa seperti tersengat listrik, cepat cepat dia menarik tangannya dari Otniel karena jantungnya sudah benar benar tidak normal.
“Sa.. saya? Kenapa dokter tanya saya?” Chelsea terlihat bingung.
“Karena sejak tadi kau gemetaran, ada apa denganmu, kau kan akan melakukan opersi , apa kau sakit? Bagaimana nanti nasibku di ruang operasi jika kau seperti ini Chelsea, bahkan wajahmu merah seperti tomat apa kau sedang demam? Kenapa kau seperti itu, dasar gadis aneh,” celetuk Otniel yang sudah kembali ke mode liarnya.
“Ehh... i.. itu... aku hanya merasa sedikit kepanasan, bukan maslaah besar, kita tetap akan melakukan operasi, aku sudah berjanji pada Edward dan emily untuk menyelamatkanmu, tak mungkin aku mengingkari janjiku pada mereka,” ucap Chelsea seraya menggaruk tengkuknya untuk menghilangkan rasa gugupnya, dia takut ketahuan bohong kalau dirinya sedang merasa sedih dengan ucapan Otniel.
“Ck... baguslah, karirku di tanganmu chelsea, jangan sampai aku tidak sembuh karena kau banyak pikiran, buang dulu pikiran pikiran anehmu itu, fokus chel fokus, kau pasti bisa,” ucap otniel seraya menepuk pucuk kepala Chelsea memberi semangat pada gadis itu.
Hati Chelsea gemetar, dia benar benar dibuat panas dingin oleh tingkah Otniel yang menurutnya sangat manis tetapi dia tau seharusnya dia tidak merasa seperti itu.
__ADS_1
“Ekhmm... ba..baik dok, kalau begitu apa anda sudah siap untuk dioperasi?” tanya chelsea sembari menetralkan kembali isi pikirannya.
Dia tau kalau dia harus profesional dalam bekerja, dan ada janji yang harus dia penuhi.
“Aku siap, apa kau siap Chelsea?” tanya Otniel.
“Tentu aja, aku 'kan dokter anda sekarang tuan Otniel Park,” ucap Chelsea sambil bangkit berdiri hendak keluar dari ruangan itu.
Namun tangannya di genggam oleh Oleh Otniel membuat gadis itu menoleh, tak ada penolakan dari Chelsea sebab dia merasa nyaman dengan hal itu.
“Kuserahkan padamu Chel, karirku ada di tanganmu, kuharap setelah operasi aku bisa menyatakan perasaanku pada wanita yang kucintai itu, aku tidak akan memilih wasiat Jesslyn, itu hanya masa lalu, akau akan bangkir mengikuti permintaan anakku Edward,” ucap Otniel dengan benar benar serius.
Chelsea terdiam mendengar kalau otniel akan menyatakan perasaannya pada wanita yang dia cintai jika operasi ini selesai. Rasa sesak di dadanya semakin bertambah. Siapa yang tidak sedih mengetahui orang yang dia sukai justru menyukai orang lain.
Chelsea tersenyum lembut meski hatinya sedikit kecewa, kecewa pada keadaan dan pada dirinya yang tidak bahan untuk menyampaikan kalau dia suka pada seseorang.
“aku berjanji akan membantu Anda dok,” ucap Chelsea sambil menggenggam tangan Otniel, genggaman tangan yang hanya bisa dia lakukan dan menurutnya, mungkin ini yang terakhir dia bisa sedekat itu pada Otniel.
“Mendekatlah,” ucap Otniel yang masih belum melepaskan tangannya dari tangan Chelsea. Chelsea membungkuk,
Puk... pukk
“kau pasti bisa gadis buket bunga,” ucap Otniel sambil menepuk pucuk kepala Chelsea yang berhasil membuat gadis itu benar benar salah tingkah.
“Eh.. ekhmm... i..iya...” ucap Chelsea dengan nanda gugup, pipinya memerah,jantungnya berdebar kencang, dia segera menjauh dari Otniel dan menetralkan perasaannya.
“Sudah, aku akan memanggil perawat untuk membawamu, sebentar lagi jadwalnya, aku pergi,” ucap Chelsea.
"Aku pasti akan mendapatkan mu Momnya Edward," gumam Otniel sambil menatap kepergian Chelsea.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen.