
Ara meracau ketakutan, dia memukuli kepalanya sendiri. Para petugas tak bisa mendekat secara langsung, jika itu dilakukan Ara mungkin bisa gila dan traumanya semakin besar.
Otniel mengeluarkan jarum suntik dan cairan penenang yang selalu dia bawa di dalam kantong celananya.
" Kak apa kita harus melakukan ini? apa tidak bisa tanpa penenang?" tanya Diandra yang bena benar khawatir dengan keadaan Ara.
" Aku juga tidak mau melakukan ini dek, tapi mau bagaimana lagi," ucap Otniel.
Mereka hanya bisa berdiri di dekat Ara tanpa bisa menyentuhnya, bukan tanpa alasan, Beberapa saat lalu Otniel dan Diandra mencoba mendekati Ara namun gadis itu malah semakin histeris karena tubuhnya disentuh.
" Kak Joel kemana sih, kenapa bisa seperti ini!" gerutu Diandra sambil menangis dia benar benar tak bisa membiarkan Ara seperti ini.
Disaat yang bersamaan Joel datang, matanya terbelalak melihat apa yang terjadi.
"Ada apa Niel!" teriak Joel yang langsung berlari menghampiri mereka saat melihat kekasihnya meringkuk ketakutan.
" Ck... kemana saja kau? kenapa tidak bersamanya!!" bentak Otniel, dia benar benar kesal saat ini.
Joel terkejut bukan main dia menjatuhkan minuman yang dia bawa, jantungnya berdegup kencang saat melihat Ara dalam kondisi Down seperti saat ini.
" Apa yang terjadi? aku hanya mengambil minum sebentar," ucap Joel dengan suara bergetar.
" Sepertinya, ada yang menghampiri nya tadi Kak," ucap Diandra sambil mengangkat kertas undangan bertuliskan nama Bobby dan Yanti serta foto mereka di undangan itu.
Joel mengambil undangan itu, dia benar benar terkejut melihat siapa yang ada di dalam foto itu, mantan Sahabat dan mantan kekasih Ara.
" Apa Ada masih belum bisa melupakan kekasihnya yang bajingan itu!" umpat Joel, tampak raut kesedihan tergambar jelas di wajah Joel.
" Apa mereka orang yang menyakiti Ara?"tanya Diandra.
" Ya mereka yang mengkhianati Ara, mantan sahabatnya dan mantan kekasihnya berselingkuh terang terangan di depan Ara, bahkan mereka memalak gadis malang ini, tapi Ada sepertinya sangat mencintai pria itu," Joel terlihat sedih.
Diandra menepuk punggung Joel," Jangan lemah kak!" ucap wanita itu dengan tegas.
Joel terkejut," tapi dia sampai histeris karena ini Ra," ucap Joel.
" Berjuanglah kak, cinta itu butuh perjuangan, aku yakin kak Ara sudah memiliki perasaan yang sama dengan kakak, hanya saja saat ini dia dalam kondisi seperti ini, kakak harus jadi orang yang kuat untuk mendapatkan cinta kak Ara," Diandra memberi kekuatan pada pria itu.
" Diandra benar bro, dukungan dibutuhkan disini, melihat perkembangan kesehatan jiwa Ara yang sangat besar, kau adalah kuncinya," tambah Otniel yang juga menepuk bahu Joel.
Pria itu menatap mereka berdua," Terima karena kalian selalu mendukungku," ucap Joel terharu.
Plakkk
__ADS_1
" Bukan saatnya terharu, sana cepat bantu kakak ipar!" ketus si Bumil yang sudah kembali dalam mode garang sambil memukul punggung Joel .
" Awhhh kenapa memukulku Diandraaa..."gerutu Joel sambil mengusap punggungnya.
" Ngidam Hahaahah," kekeh Diandra.
" Alasan,"
Joel pun mendekati Ara, dia berjongkok mensejajarkan tubuhnya di depan Ara sambil menatap wajah ketakutan gadis itu.
" Ara," panggil Joel dengan sangat lembut namun masih belum di respon oleh Ara.
"Raina Alesha!" panggil Joel lagi dengan lembut.
Mendengar nama lengkapnya di panggil membuat gadis itu menoleh meski dengan mata ketakutan dan bibir bergetar.
Dia melihat Joel, pria yang berhasil membuatnya tenang selama beberapa waktu belakangan ini.
"Ara, kau baik baik saja? ini aku Joel, ini aku," ucap Joel dengan lembut, tangannya bergerak perlahan sambil mengambil tangan Ara yang dia taruh di kepalanya.
" Ara," suara Joel benar benar lembut, dan berhasil membuat Ara merasa benar benar tenang.
" Jo... Joel..." Air mata gadis itu mengalir deras dari kedua pelupuk matanya, dia menangis dan gemetaran.
" Tak apa, tenang lah, tidak apa apa..." ucap Joel sambil membantu Ara berdiri.
"Kemarilah," ucap Joel sambil merentangkan kedua tangannya.
Otniel, Diandra dan petugas medis yang merawat Ara memperhatikan perilaku gadis itu, dia hanya tenang jika Joel yang bertindak.
" Kemari Ara, tak apa," ucap Joel.
Ara langsung menghamburkan pelukannya pada Joel, dia menangis sambil gemetar ketakutan dan memeluk Joel dengan sangat erat.
Joel membalas pelukan Ara dan menepuk nepuk punggung kekasihnya itu agar dia tenang.
" Husshhh... tak apa aku disini, tak apa apa, mereka tak akan bisa menyakitimu, kau bisa Ra, kau kuat, kau hebat, " ucap Joel.
" Mereka jahat, hiks hiks hiks.... Joel ... aku mau sembuh," ucap Gadis itu sambil menangis tersedu-sedu.
Sebuah hal yang membahagiakan saat mendengar kata kata itu dari Ara.
Joel, Diandra dan juga Otniel benar bena e bahagia saat Ara mau dan memiliki semangat untuk bisa sembuh.
__ADS_1
" Ahhh.... kau bisa sembuh sayang, kau bisa, kita hadapi bersama ada kami disini bersamamu, kau tak perlu khawatir," ucap Joel yang benar benar bahagia mendengar ucapan Ara.
" Aku... aku bersyukur ada kau disini," Ara masih menangis.
Joel tersenyum, begitu juga dengan Diandra dan Otniel.
" Tentu saja, aku selalu membuat orang lain bersyukur atas kehadiran diriku," ucap Joel dengan penuh percaya diri sambil tertawa.
" Cihhh.... dasar mafia narsis," ejek Otniel dan Diandra sambil pergi meninggalkan mereka dan bermain lagi dengan kursi roda bersama si kecil Edward yang sedari tadi hanya planga plongo tak mengerti arti percakapan mereka.
" Heh aku tidak narsis, dasar kunyuk kunyuk ini!" ketus Joel.
" Ya sudah ayo Lita mulai pengobatannya Ara, lalu pasti bisa, ucap Joel sambil mengusap wajah Ara dan membersihkan Air mata Ara dengan kedua tangannya.
" Kau bisa sayang," ucap Joel dengan senyuman mempesona.
Wajah Ara memerah karena malu, Joel malah tergelak
" Hahahah, ciee malu ya" ejek Joel.
" He... em... aku malu," cicit Ara sambil menyembunyikan kepalanya di dada Joel.
Ara memeluk Joel dengan erat, satu satunya laki laki yang berhasil membuatnya melepaskan ketakutannya akan sentuhan fisik seperti saat ini, tempat ternyaman bagi Ara saat ini.
Pria yang menyelamatkan nyawanya dan malah menjadikan dirinya sebagai kekasih.
" Oh Tuhan kuatkan hamba, aku tak kuat kalau begini terus, lihat wajah menggemaskannya itu, ingin ku kecup bibirnya, arkhhh.... sabar Joel sabar, tunggu halal dulu," batin pria itu berteriak.
" Ya sudah ayo, kita jalani pengobatan," ucap Joel.
Ara dan Joel berjalan bersama, tangan Ara tak pernah dilepaskan oleh Joel, dia terus menggenggam tangan gadis itu dengan erat sambil melemparkan senyuman ke arah Ara.
Ara mulai mendapatkan kepercayaan dirinya, saat Joel memanggilnya tadi dia menyadari ada getaran lain di dalam dirinya, rasa hangat, nyaman dan aman yang Joel berikan pada diri Ara.
Ara melirik Joel sambil tersenyum tipis," Sepertinya kau berhasil mendapatkan hatiku Joel, aku memiliki perasaan yang sama dengan dirimu, aku mencintaimu," batin Ara sambil tersenyum lembut.
" Heh kenapa senyum senyum sendiri, aku bisa khilaf loh, ku cium tau rasa kau!" celetuk Joel yang menangkap senyuman di wajah Ara.
" Eh... ," Ara jadi salah tingkah karena ulah Joel.
" Hahahhaha.... malu lagi dia hahaha ..
.
__ADS_1
..
like, vote dan komen 😊😉