
Joy sudah selesai melakukan tugasnya, dia melaju menuju rumah milik keluarganya, namun ada yang berbeda dengan penampilan gadis itu.
Dia tampak memakai riasan yang lebih tebal dengan contour yang menunjukkan wajah tegas, lipstik merah merona, tatanan rambut yang membuatnya seperti orang kejam dan tegas bayangkan saja nenek sihir dalam film Snowhite, kira kira seperti itulah penampilan Joy saat ini dengan pakaian resminya seperti biasa dia memakai satu stelan kemeja kerja dengan celana tisu yang membuatnya tampak anggun dengan pakaian branded itu.
Dengan sengaja gadis itu menaruh sebuh titik hitam di bawah bibirnya yang malah menambah kesan tak terkalahkan dan mendominasi.
“Pak coba lihat penampilanku apa sudah sempurna?” tanya Joy sambil bertingkah dengan menatap datar ke arah pak supir yang membawanya serta pengawalnya.
“Astaga nyonya kaget saya lihatnya, saya pikir mak lampir dari mana eh aduh maaf maaf nyonya,” ucap Pak Supir yang keceplosan.
“hahahaha... bapak benar emang kayak mak lampir sih, apa sudah cukup untuk menakut nakuti orang pak?” tanya Joy yang tertawa terbahak bahak mendengar ucapan si pak supir.
Dua pengawal yang bersamanya juga ikut tertawa mendengar celetukan pak supir.
“Sudah cukup bahkan sangat menyeramkan nyonya, apa nyonya mau berperang?” celetuk pengawal yang lain.
“Iya aku akan memerangi satu komplotan kurang asam hari ini,” ucap Joy seraya memeriksa make upnya di cermin kecil miliknya.
“Anda pasti menang nyonya,” ucap para pengawal.
“Tentu saja, ahhh untuk menambah rasa takutnya, kalian harus menemaniku nanti dan ingan jangan pasang wajah hello kitty itu,” ucap Joy.
“Yahh si nyonya kita begini juga Cuma sama nyonya, kalau sama orang mah beda nya,” ucap para pengawal yang sebenarnya adalah anggota terbaik dalam aliansi Balck Rose yang diminta untuk mengawal Joy.
Bukan hanya Joy bahkan Setiap anggota grup Chat Sontoloyo itu diberi pengawal masing masing dua dari anggota campuran Tiger, Black Rose dan anak buah David, khusus untuk si bumil cerewet dan Edward pengawalnya adalah para pengawal tak terlihat dan jumlahnya tidak diketahui berapa.
“Heheheh... baiklah baiklah, kurasa kalian tau apa yang harus dilakukan kan heheh,” kekeh Joy sambil menatap mereka.
“Anda bisa mempercayakan itu pada kami Nyonya, jika kami tidak melakukan yang terbaik, nyonya Besar akan mengamuk hahahah,” Kekeh mereka sambil mengingat bagaimana Diandra juga akan mengomeli mereka jika salah dalam bekerja.
“Apa kalian juga terkena amukan ibu hamil itu?” tanya Joy terbelalak, mereka bukannya takut dengan Vasko tetapi malah lebih takut pada omelan si bumil.
“Iya nyonya, bisa kami dikebiri hahahah,” kekeh mereka.
“Bwahahahhahah.... astaga ternyata kalian juga jadi korbannya wanita hamil si bawel itu ya hahahhha,” Joy tertawa terbahak bahak mendengar ucapan mereka.
“Heheh... iya nyonya tapi menyenangkan bekerja bersama nyobes meski bawel tapi perhatiannya membuat kami merasa nyaman, nyobes benar benar the best lah hahahah,” ucap pak supir.
“Ya dia benar nyonya, kalau nyobes udah nanyain kami sudah makan atau belum, makan apa bahkan ingin memakan makanan yang sama dengan kami, rasanya tuh dihargai banget jadi karyawan, nyobes gak mandang kasta,” celetuk mereka.
“Ya nyonya, bahkan nyobes gak segan segan gabung makan bersama kami kalau pengawal lagi istirahat, benar benar menyenangkan, jarang dapat majikan sebaik nyobes,” ucap mereka.
Mendengar hal itu membuat Joy tersenyum, Diandra memang sangat spesial bagi mereka semua bukan hanya diantara sahabat sahabat dan keluarga tetapi diantara semua orang yang dekat dengan Diandra.
“kalian benar, dia memang seseorang yang sangat spesial,” ucap joy seraya menatap cincin pernikahannya, jika bukan karena Diandra yang menguatkannya mungkin dia tidak akan sadar seperti apa besar rasa cinta suaminya pada dirinya.
__ADS_1
Tidak terbayang kalau sampai mereka semua kehilangan ibu hamil itu, tentu semuanya akan suram dan tak bersemangat lagi.
Sementara itu di taman rumah sakit, Diandra yang sedang duduk di atas tikar sedang makan bersama para pengawal dan perawat yang merawat Ara tiba tiba bersin bersin tak karuan.
“Haaachoo... haisshhh... hacchoooo....” Diandra menggosok hidungnya.
“Nyonya kenapa ini tisu, mungkin nyonya kena flu duduk di atas saja nyonya biar kami disini,” ucap perawat wanita sambil memberikan tissue.
Diandra mengambil tissue,” haihhhh..... sepertinya ada yang membicarakan aku, arhhhh... hidungku gatal,” gerutu Diandra.
“hahahah kurasa ada yang marah dengan nyonya karena nyonya marahi,” celetuk salah satu pengawal laki laki.
“Ck.... emang gitu ya? Kau pasti mengerjaiku kan haishhh dasar kau ini,” celetuk Diandra sambil menatap pria itu.
“Ehh kirain mempan nya hahah,” celetuk pria itu seraya menggaruk tengkuknya.
“Hahahah... aku sudah kebal dengan yang begitu, jadi cari cara lain untuk mengerjaiku ya hahaha,” Diandra tertawa.
Mereka semua tertawa bahagia, nyaman sekali rasanya bekerja dengan atasan seperti Diandra.
Saat sedang bersenda gurau tiba tiba ada sebuah bola melambung tinggi ke arah Diandra.
Plukkk....
Dengan pengawal yang melihatnya langsung menendang bola itu hingga melambung jauh.
Diandra menatap mereka dengan wajah bingung, mulut penuh dengan makanan membuatnya terlihat menggemaskan dengan pose itu.
“Ada apa?” tanya Diandra dengan mulut penuhnya itu.
“Bwahahahahha.....” mereka semua tiba tiba tertawa melihat kelakuan ibu hamil yang selalu saja membuat siapa saja gemas dengan tingkah lakunya.
“Hmmm? Kalian aneh dasar, senangnya menjahiliku saja,” ketus Diandra.
“Hahahah.... habisnya Nyonya menggemaskan sekali,” ucap para perawat perempuan.
“Hehh itu mah udah sejak lahir hahahah...” kekeh Diandra.
“Ekhmmm... senang banget ya makan disini,” tiba tiba seseorang menghampiri Diandra bersama si kecil Edward.
“Ehh sayang, kapan pulang, sini duduk, makan dulu ayo,” ajak Diandra sambil tersenyum.
“Onty gak ajak ajak Edward ihh,” ucap Edward memasang wajah cemberut.
“Kamu tadi tidur, Onty gak tega bangunin kamu,” ucap Diandra.
__ADS_1
Melihat tuan besar datang para pengawal dan perawat ingin beranjak dari posisi mereka.
“Duduk saja, kalian mau kemana? Gak usah segan,” ucap David dengan ramah namun tetap dengan tatapan penuh kharisma.
“Baik tuan,” ucap mereka.
“Kamu makan apa sih sayang , kok tiap hari makan mulu, ini benar benar besar sekarang hahah,” kekeh David sambil mengusap perut istrinya.
“Lapar yang, heheh, kamu makan nih,” ucap Diandra.
“Baiklah,” ucap David.
“Edward mau gak onty suapin?” tanya Diandra.
“Mau, “ seru anak itu,” ehh tapi nggak usah deh onty, kan edward supelhilo jadi harus bisa makan sendili, Onty makan aja, Edward udah becal heheh,” celetuk bocah kecil yang Daddynya sedang bertugas.
“Baiklah sayang,” ucap Diandra sambil tersenyum.
Sementara mereka menikmati hari yang cerah disana, Joy sudah tiba di rumah keluarganya, diikuti beberapa mobil.
Gadis itu keluar dari dalam mobilnya dengan menenteng tas keluaran Dior, kacamata hitam yang bertengger di wajahnya dan kharisma yang berlipat ganda dengan riasan yang dia gunakan.
Para pengawal berdiri di belakang gadis itu menunjukkan kekuasaan dan keangkuhan pada gadis itu.
“Kita mulai aksinya,” gumam Joy dengan senyuman smirk.
Para tetangga yang menyaksikan kedatangan gadis itu terbelalak melihat perubahan besar pada Joy, benar benar bukan gadis polos yang dulu mereka kenal.
Joy melangkah dengan tegas memasuki rumahnya sendiri.
“ Papa, Joy pulang,” teriak gadis itu dari luar.
Terdengar deru langkah kaki mendekati pintu dan suara pintu yang dibuka.
Pak Putra membuka pintu dan...
"Ding Dong!!"
“Arrhhhhh....”
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen