
Mendengar kata kata Dokter Otniel yang begitu tepat sasaran berhasil membuat Chelsea dan Riko merasa bersalah dengan kekacauan di ruang operasi beberapa saat lalu.
Otniel berkancah pinggang, para dokter fellow dan petugas medis yang ikut serta menatap mereka dengan serius.
“Apa kalian pikir ruang operasi adalah tempat untuk bermain hah..” teriak Otniel dengan suara kencang dan menggelegar di seluruh ruangan itu.
Jerry dan Andre tarik nafas, mereka merasa lega karena dengan cepat bertindak sebelum mereka mendengar suara malaikat pencabut nyawa itu menusuk telinga mereka. Lain halnya dengan yang lain, mereka sudah pusing tujuh keliling mendengar suara teriakan otniel yang begitu kuat.
Emily dan Edward yang sudah hapal dengan situasi dan hapal dengan sifat Daddy mereka sudah menutup telinga sejak masuk ke dalam ruangan itu menggunakan penyumbat telinga yang selalu mereka bawa kemana mana jika mereka akan bertemu dengan Otniel si pria dengan suara besar menggelegar itu.
Chelsea dan Riko meringis mendengar teriakan Otniel yang hampir saja memecahkan gendang telinga mereka karena terlalu keras.
“Apa kalian tidak berpikir dengan jernih sebelum masuk ke dalam ruang operasi, dan kau Riko, beraninya kau mengacaukan ruangan operasi ku dengan memarahi rekanmu sendiri, dokter macam apa kau? Tim macam apa yang kalian bangun selama ini dasar bodoh...” Otniel terus menerus marah, dia berjalan mondar mandir di depan mereka sambil memijit pelipisnya sendiri.
“Maaf Dok, tapi bukannya dokter Chelsea yang melaukan kesalahan kenapa saya juga turut serta?” tanya Riko yang masih belum paham dengan situasi saat ini.
Mendengar pertanyaan konyol keluar dari mulut pria itu sukses membuat Otniel naik pitam .
Bughh... pletak
“Pertanyaan konyol apa yang keluar dari mulutmu itu bodoh, apa kepala departemen kalian tidak mengajari kalian tentang kerja sama tim hah? Apa pun kondisinya apa pun keadaannya jika Chelsea tidak melanjutkan operasinya tadi maka karirmu sebagai seorang dokter bedah syaraf juga akan tamat Riko..” ucap Otniel.
“Apa kau pikir hidup pasien itu sebuah permainan, di awal kau mengatakan setuju melakukan operasi kerena tertarik dengan operasi yang kulakukan, tetapi saat terjadi kesalahan kau hanya membentaknya bukannya membantu menyelesaikan masalah tetapi malah memperkeruh suasana, apa kau pikir jadi dokter itu permainan potong memotong tubuh manusia hah...” Kali ini Otniel benar benar kehabisan kesabarannya.
Rasa kesal, marah dan kecewa mendengar jawaban segamblang itu dari mulut seorang dokter fellow yang pastinya sudah beberapa kali mengikuti dan menyaksikan prosedur operasi dilakukan.
“Ma.. maaf dok,” ucap Pria itu sambil menunduk. Kai ini dia benar benar menyadari kesalahan apa yang telah dia perbuat.
“jika seandainya Chelsea tidak menemukan penyebab tremornya semakin parah maka kau juga akan tamat sama seperti saat nyawa pasien melayang di meja operasi Rijo..” ucapnya dengan nada datar dan berat, tidak seperti biasanya.
“Dan kau Chelsea, jika kau benar benar ingin menjadi seorang dokter bedah syaraf, maka kau harus memperbaiki kecemasanmu di ruang operasi, jika kau masih berteriak tidak jelas seperti tadi jangan harapkan kau bisa masuk ke dalam ruang operasi, aku yang akan memastikan kalau namamu tidak diperbolehkan masuk ke ruangan sakral itu..” ucap Otniel.
Benar benar tegas dan menyeramkan, bahkan wajahnya sampai memerah saat mengucapkan kata katanya.
__ADS_1
“Riko, jika aku menemukan kesalahan yang sama kedua kali maka habis karir mu di tanganku, kau tidak tau seberapa besar pengaruhku dalam industri ini, jadi bersikap baiklah padaku, camkan itu..” ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
Mereka berdua mengangguk paham masih dengan posisi menunduk.
Otniel menatap rekan rekan yang lain , yang turut serta dalam operasi ganda itu.
“Dan untuk kalian dokter fellow yang ada di bawah didikanku, kerja bagus untuk kerja sama kita hari ini, pastikan Friska menyadari kesalahannya, sana keluar, cari dia,” titah Otniel pada jerry dan Andre.
Mereka berdua berdiri dan membuka penyumpal telinga mereka,” Baik dok,” ucap mereka sambil membungkuk hormat seperti biasa lalu beranjak keluar dari ruanagn itu dengan perasaan lega karena kerja mereka kali ini cukup baik di mata Otniel yang selau marah marah itu.
“Untuk kalian, kepala perawat, asisten dan perawat, jangan pernah kulihat kalian ada dalam ruangan operasi yang sama denganku, karena kalian sama saja dengan pria bodoh ini, hanya bisa menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi, kalian pikir aku tidak dengar percakapan kalian di ruangan ini tadi, jangan salah, aku punya seribu mata di rumah sakit ini, bahkan aku tau kalau salah satu dari kalian akan segera diberhentikan tidak terhormat dari rumah sakit ini,” ucap Otniel sambil menatap mereka dengan tatapan kebencian.
Mereka semua terkejut bukan main, bahkan Chelsea dan Riko juga turut terkejut, Otniel membawa sebuah masalah yang tak ada hubungannya dengan masalah ruangan operasi, tetapi masalah apa? Tak ada yang tau.
Mereka semua seketika itu terdiam, menunduk dan bergelut dengan pikiran mereka masing masing. Benar apa yang yang dikatakan oleh rumor di rumah sakit kalau Otniel memiliki kekuasaan yang bahkan tidak tau sampai batas mana dia bisa tau segala macam masalah di dalam rumah sait itu.
Selagi ingin selamat dari maut, maka cara yang paling aman adalah menghindarkan diri terlibat maslaah dengan Otniel .
Otniel memijit pelipisnya, marah marah membuat padangannya sedikit kabur dan tangannya gemetar membuatnya merasa sedikit kesakitan namun bertindak seolah tidak terjadi apa apa pada diirinya.
“Daddy,” ucap Edward sambil menggenggam tangan Otniel yang gemetar, sepertinya dia tau apa yang sedang terjadi dan sedang dialami oleh Daddynya.
“Ahhh ada apa nak?” tanya Otniel dengan lembut.
“Duduk dulu,” ucap Edward sambil menarik pria itu ke sisi tempat duduk dimana Emily sedang menatap mereka.
Otniel mengangguk, dia mengikuti putranya, rasanya cukup melelahkan dan menegangkan sebab dia melakukan dua operasi besar sekaligus hari ini dan menghadapi berbagai maslaah yang membuatnya merasa pusing.
Otniel duduk di samping Emily bersama Edward di sisinya yang lain, dengan telaten Emily dan Edward malah memijit lengan pria itu.
“terimakasih nak, maaf kalau kalian harus melihat daddy marah marah di depan mereka, tapi itu adalah hal yang harus dilakukan untuk anak anak didik yang nakal seperti dokter doter dan petugas rumah sakit itu, suatu saat nanti ketika kalian memimpin sebuah kelompok kalian akan paham apa yang Daddy lakukan ini,” jelas otniel.
“Iya Daddy tapi jangan kelelahan juga,” ucap Emily.
__ADS_1
“Daddy jangan banyak marah marah nggak baik buat kesehatan Daddy, mulai sekarang jangan marah marah lagi, Edward akan awasi Daddy,” tegas bocah kecil itu sambil menatap Daddynya dengan tatapan serius.
“eh tapi Daddy kan,”
“ENGGAK BOLEH DADDY” Tegas Edward sekali lagi yang berhasil membuat Otniel bungkam. Anaknya kalau sudah punya keinginan pasti akan seperti itu, dan Otniel tau itu untuk kebaikannya.
“Baiklah baik, kau ini seperti kakek kakek tua yang sedang menasehati cucunya, dasar bocah tengil,” ketus Otniel.
“Cihhh... gak masalah mau kakek tua, bocah atau apa pun itu yang penting Daddy dilarang marah marah kayak tadi, “ ucap bocah itu.
“Edward gak mau monster besar ambil daddy,” ucap nya dengan nada murung.
“Abang..” ucap Emily.
“Apa kamu mimpi lagi nak?” tanya Otniel dan Edward mengangguk.
Otniel segera memeluk putranya, entah itu benar atau tidak tetapi setiap kali Edward bermimpi tentang mosnter besar maka akan terjadi sesuatu entah itu pada dirinya sendiri atau pada Daddynya.
“Gak akan terjadi apa apa, Daddy akan baik baik saja begitu juga dengan kamu,” ucpa Otniel.
“Iya, makanya jangan marah marah lagi, ada orang jahat, Edward gak mau daddy diapa apain,” ucapnya.
“baiklah nak , baik Daddy paham,” ucap Otniel dengan lembut.
Smeua petugas medis yang berada dalam ruangan itu menatap terkejut dengan sisi lembut Otniel , dia benar benar seorang ayah yang perhatian.
“Tangannya apa terjadi sesuatu? Ahh mungkin hanya perasaanku saja,” gumam Chelsea yang sejak tadi fokus pada tangan Otniel.
“Akan kuhancurkan karirmu, lihat saja bajingan berengsek, termasuk anakmu itu,” batin seseorang yang mengawasi mereka entah dari mana.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen.