
Joel membawa Ara menuju Perusahaan David, dia melihat Ara yang tampak ketakutan, tangan gadis itu gemetaran bahak. wajahnya pucat pasi.
"Ra," panggil Joel, dia benar benar khawatir dengan kondisi mental gadis itu sekarang.
"Ra, Ara!" panggil Joel namun masih belum di dengar oleh Ara.
Merasa tak ada respon, Joel menepikan mobilnya, dia benar benar panik saat ini, apalagi Ara tak menyahutinya. Kejadian tadi mungkin saja membuat Ara down, belum lagi para perisak itu memperhatikan mereka disana.
Joel menatap Ara yang terus menunduk dengan tubuh gemetaran. Ara saat ini merasa sesak, ingatan akan tindak bullying yang dilakukan Max dan pembully lainnya.
Hanya melihat mereka saja sudah membuat Ara ketakutan apalagi kalau sampai mereka melakukan hal yang sama lagi.
"Ra," panggil Joel sambil menepuk bahu Ara.
"Arrhhkkk.... hiks hiks hiks hiks..."Sontak Ara terkejut, dia berteriak histeris dan menangis ketakutan sambil meringkuk dan memeluk dirinya sendiri, menangis dengan tatapan mata takut dan panik, bibir gadis itu bergetar tak karuan.
Sorot matanya menunjukkan bahwa dia ketakutan saat ini.
Joel bahkan malah jadi ikut terperanjat kaget karena Ara, padahal beberapa saat lalu Ara masih tampak baik baik saja, tidak ada yang tau ternyata gadis itu malah sepanik ini.
"Ampun... hiks hiks... jangan sentuh aku... kumohon... jangan pukul aku , kumohon... kumohon... tolong jangan," racau gadis itu sambil memeluk dirinya sendiri, dia ketakutan, wajahnya pucat bahkan tubuhnya sampai bercucuran keringat.
Joel menatap sedih pada Ara, dengan pelan dan lembut Joel menyentuh bahu gadis itu.
"Ara," panggilnya dengan pelan dan lembut, dia menatap gadis itu dengan tatapan sedih. Bagaimana seseorang bisa mengalami penyiksaan yang sampai meninggalkan trauma mendalam bagi gadis itu.
Tangan Joel perlahan menepuk bahu Ara yang gemetaran," Ara tenang," ucap Joel dengan lembut, dia beberapa kali mengucapkan kata kata itu untuk menenangkan Ara.
"Ara, tenang ada aku, tenang," ucap Joel.
Ara yang menutup wajahnya seketika mendengar suara lembut Joel yang menyentuh relung hatinya, bukan suara bentakan dan suara pukulan yang dia dengar, sentuhan tangan Joel di bahunya bahkan membuat dia mulai sadar.
Ara melepaskan tangannya dari wajahnya, dia masih gemetaran, perlahan dia menatap Joel dengan berderai air mata. Dia masih gemetaran.
"Ada aku, tenang," ucap Joel dengan lembut, tangannya pelan pelan naik ke kepala gadis itu dan mengusapnya dengan lembut membuat Ara merasa hangat dan tidak ketakutan.
"Jo...Joel hiks hiks hiks...." Ara menangis tersedu-sedu, dia benar benar ketakutan bahkan sampai saat ini.
Ingin rasanya Joel menangis juga melihat keadaan Ara yang begitu terpuruk. " Jangan takut, ada aku, aku bersamamu," ucap Joel dengan suara bergetar, bisa dirasakan kalau dia juga ketakutan.
Grepp...
__ADS_1
Joel memeluk Ara dengan hati hati dan sangat lembut, tak ingin membuat gadis yang telah menarik perhatiannya itu ketakutan.
Puk... puk... puk
Tangan Joel menepuk nepuk punggung gadis itu dengan lembut, berusaha agar Ara tetap tenang dan nyaman.
"Tenang, jangan ingat lagi itu, ada aku disini," ucap Joel sambil menenangkan gadis itu.
Ara menangis tersedu-sedu sambil memeluk Joel, dia menumpahkan segala kesedihan nya dalam pelukan pria yang masih asing baginya namun berhasil membuatnya tidak ketakutan.
Joel ingin bertanya namun dia urungkan agar Ara tidak mengingat lagi kejadian menyedihkan itu, masalah apa yang terjadi pada Ara bisa dia cari tahu nanti, yang penting sekarang Ara bisa tenang.
Beberapa lama mereka berpelukan di dalam mobil sampai Ara benar benar tenang. Merasa Ara tak menangis lagi, Joel menatap wajah gadis itu, ternyata Ara terlelap karena lelah pikiran dan lelah menangis.
Di usapnya wajah lembut gadis itu, bisa Joel lihat di wajahnya bekas pukulan yang baru saja sembuh, bahkan di lehernya ada luka luka lebam yang malah membuat Joel terbelalak.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya?" Mata Joel menelusuri leher gadis itu, terlihat seperti bekas gigitan.
Jantung Joel berdegup kencang, dia bahkan sampai gemetaran, dia melihat tangan kurus gadis itu, ada bekas luka sayatan di kanan dan kiri. Ingin rasanya Joel berteriak saat ini karena melihat kondisi mengerikan gadis itu.
Joel mengusap wajah kekasihnya, dia mengusap rambut gadis itu dan dia kembali terbelalak saat melihat rambut yang dipakai Ara adalah rambut palsu.
Degh....
Tanpa Joel sadari air matanya menetes dari kedua pelupuk matanya, dia mengusap wajah gadis yang sudah bertahta di dalam hatinya itu.
" Ara hiks hiks.... hatiku sakit melihat keadaanmu begini, arhhh.... pantas saja dia sampai depresi dan ingin mengakhiri hidupnya, Ara..." Joel menangis, pria itu menangisi Ara yang begitu menyedihkan.
Dia memeluk kekasihnya dengan erat, hatinya benar benar hancur melihat keadaan Ara saat ini. Dia hanya memeriksa bagian leher, kepala dan tangannya saja, belum lagi bagian tubuh yang lain, entah sudah seperti apa kondisi gadis itu.
"Ahhh bagaimana bis aku bertahan dengan keadaan seperti ini Araaa!!" pekik Joel sambil menangis tersedu-sedu. Dia marah, sedih, kasihan dan kacau dalam waktu yang bersamaan.
"Bagaimana kau bertahan dengan keada ini Ara!!" suara Joel begitu lirih.
"Ahhh bodoh kau Joel, seharusnya kau cari tau waktu itu!" pria itu memukul dirinya sendiri, menyalahkan dirinya karena tidak peka.
Perlahan Joel merebahkan tubuh Ara di atas kursi mobil dan menyesuaikan tinggi kursi dengan tubuh Ara. Dia mengambil penutup kepala milik Diandra yang selalu tersedia di dalam mobil dan memakaikan ke kepala Ara.
Selimut kecil milik Edward dia letakkan di atas tubuh Ara, dia mengusap air mata gadis itu dan membiarkannya terlelap untuk sementara.
"Aku akan melindungi mu sayang, ada aku, aku akan membalas mereka setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan padamu, jangan takut lagi ada aku disini" ucap Joel sambil menatap wajah kekasihnya.
__ADS_1
Cup..
Sebuah kecupan mendarat di kening gadis itu, Joel mengusap kasar wajahnya, dia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
" Bagaimana bisa ada manusia bajingan seperti kalian!" umpat Joel sambil menatap jalan dengan tatapan kesal dan marah.
Dia merogoh ponselnya dan menghubungi David.
" Halo," jawab Diandra dari sana.
"Diandra, dimana David?" tanya Joel.
"Sedang di toilet, ada apa kak? kenapa kakak Lama? apa terjadi sesuatu? Dian khawatir," ucap wanita itu.
" Nanti kakak jelaskan, katakan pada David untuk datang ke rumah sakit milik Om Ken, Kakak menuju kesana Sekarang," ucap Joel.
" Rumah sakit? apa kakak sakit? ada apa kak? " tanya Diandra panik.
" bukan kakak, nanti kakak jelaskan, kakak sedang buru buru, kalian datang saja ke rumah sakit," ucap Joel.
"Baiklah kak," Jawa Diandra.
Joel mengakhiri Panggilannya, dia menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju rumah sakit.
Drrttt....
Ponsel Joel berbunyi, dia menjawab panggilan itu.
"Ada apa?"
"Sudah kami laksanakan tuan!"
"Tunggu perintah dariku, awasi saja mereka semua!" ucap Joel.
Joel melaju, sesekali dia melirik Ara.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉
Maaf lambat Up, author ujian 🤯🤯🤯