
Tangan Joy bergerak dan mulai menggoreskan penanya di atas lembaran kertas perceraian serta pengalihan segala harta kekayaannya pada Amel. Sakit hati nya melihat hal itu.
Tiba tiba Joy menarik kertas itu dan berdiri di depan Pak Putra diikuti kedua anak buahnya yang bangun dari akting mereka.
Pak Putra terbelalak saat melihat Joy ternyata tidak terkena jebakannya, Joy malah berdiri dengan tegak di depan Pak Putra sambil memasang wajah marah.
Kecewa dan benar benar hancur saat ini hati Joy saat melihat apa yang dilakukan Papanya pada dirinya.
“Sraaakkk”
Lembaran kertas pengalihan harta kekayaan dan perceraian itu dirobek begitu saja di depan pak Putra.
Sorot mata gadis itu menunjukan perasaanya saat ini, hancur dan kecewa dengan perangai Papanya yang tak bisa diajak bicara baik baik, yang semakin hari semakin parah dan menggila.
Kertas itu dia robek menjadi serpihan kecil dan...
Pyaar
Semuanya dilemparkan di depan pak Putra, Joy menangis menatap papanya yang benar benar tidak bisa lagi berubah.
“Sialan kau anak kurang ajar, beraninya kau menipuku!!” teriak Pak Putra yang naik pitam karena merasa Joy merendahkan dirinya.
Dia berdiri dan hendak memukul Joy namun dua bodygurad Joy langsung menendang pria itu hingga terjatuh ke atas Sofa.
“Beraninya kau Joy, kau harus berpisah dari Vasko, apa pun yang terjadi kau, harus berpisah dari anaknya Justin, karena kau tidak layak untuk bahagia, kau itu anak yang gagal dasar perempuan jal4ng ,” teriak Pak Putra yang malah menggila menatap Putri terakhirnya.
“Aku bukan anak yang gagal Pa, papa yang gagal jadi orang tua buat kami, Papa memisahkan aku dari kak Amel, Papa merusak hubungan kami dan sekarang apa?” teriak Joy.
“Kau mau memisahkan aku dari suamiku? Haha....” Joy tertawa mengejek Pak Putra.
“Bermimpilah setinggi tiingginya untuk mengambil milikku Pa dan akan kupastikan kau jatuh terpental bahkan hancur karena mimpi gila mu itu!!” ucap Joy, dia tak lagi berbicara sopan, habis sudah kesabarannya selama ini.
“Kalian menjadikanku babu selama bertahun tahun aku sabar, tapi kali ini aku tidak lagi bagian dari rumah ini, aku datang kesini untuk mencari Mamaku yang pergi meninggalkan dirimu tuan Putra!!”
Suara Joy bergetar, kecewa dan sedih itu yang dirasakannya saat ini, berbeda dengan Pak Putra yang malah terkejut karena Joy mengetahui kalau Cindy kabur dari rumah.
“Bagaimana dia bisa tau? Tak mungkin aku diawasi,” gumam pria tak berotak itu.
Hancur sudah hati Joy, dia benar benar tak menyangka kalau Papanya akan mengatakan kata kata kasar itu, niatnya datang ke rumah itu adalah untuk melihat Mamanya yang sudah lama tidak dia hubungi, bagaimanan pun hanya Cindy yang menganggapnya ada di rumah itu, namun yang dicari malah tidak ada di rumah dan dia mendapati dirinya hampir saja dijebak oleh Pak Putra.
Joy diam, dia pergi dari sana, gadis itu sedikit berlari dan hendak membuka kamar Amel, namun sayang kamar itu dikunci, dia benar benar penasaran dengan isi kamar Amel saat ini karena kamar itu bau amis tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“Apa yang mau kau lakukan!!” teriak Pak Putra panik saat melihat Joy berusaha membuka kamar tidur Amel, seketika itu dia berlari mengejar Joy.
Namun gadis itu lebih cepat dari dirinya, Joy berlari dengan kencang bersama dua pengawalnya dan langsung masuk ke dalam mobil.
Pak Putra menatap kepergian Joy sambil mengeraskan rahangnya, dia pikir rencananya berhasil ternyata Joy tidak lagi lemah seperti dulu, Joy berubah menjadi wanita yang kuat dan mampu melawan.
Pak Putra masuk dan mengunci rapat rapat rumahnya, dia tak bisa mendapatkan Vasko maupun harta Joy, pria itu memijit pelipisnya.
“Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan putriku,” ucapnya sambil menatap kamar Amelia yang tertutup.
“Jawaban terakhir aku harus menyingkirkan wanita hamil itu, Joy tak bisa maka wanita itu akan jadi tumbalku, Amel harus selamat, aku tidak peduli apa pun yang terjadi dia harus mati agar jiwa Amel tenang,” batin pria itu.
Perlahan pria itu berjalan menuju nakas dan mengambil satu flacon cairan injeksi dan satu buat suntik kemudian berjalan memasuki ruangan kamar Amelia.
Pintu kamar di buka lalu dengan cepat dia menutup kamar itu.
Terdengar suara seperti barang jatuh dari dalam kamar bahkan suara teriakan yang berlangsung cukup lama, entah apa yang dia sembunyikan di kamar itu tetapi ada yang aneh dengan rumah itu saat ini.
Sementara itu Joy dalam perjalanan pulang dia melaju bukan menuju rumah besar keluarga Park yang mereka tempati selama mereka di Indonesia.
Gadis itu menuju tempat kerja baru suaminya, bar yang baru di buka dan dikelola suaminya sebagai markas sementara di Indonesia.
Sepanjang perjalanan Joy tampak hanya diam sambil menatap jalanan kota itu, dia benar benar butuh suaminya saat ini.
Kedua pengawal itu juga paham dengan situasi dan tidak bertindak berlebihan.
Joy mengingat apa yang dilakukan Pak Putra saat dia tiba di rumah itu tadi, bagaimana pak Putra dengan manisnya berkata kalau dia menyayangi Joy dan berkata dengan lembut.
Ternyata semuanya itu hanya kebohongan belaka yang disusun Pak Putra untuk menjebak Joy karena ada maksud dan tujuan yang harus tercapai.
Dunia Joy memang begitu kejam saat dia kembali ke keluarga kandungnya, dia dituntut untuk menafkahi keluarga tanpa ada perhatian sedikitpun.
Sedangkan saat bersama suami, sahabat sahabat dan keluarga mertuanya dia benar benar bebas, bisa melakukan apa pun yang dia suka.
Kilas balik kehidupan joy yang menyedihkan, hanya karena dia dekat dengan keluarga Park dan keluarga Maureer membuat Pak Putra ingin Joy meraup uang sebanyak banyaknya dari rumah itu.
Keluarga Park dan Maureer tentunya atau jenis orang seperti apa pria itu dan mereka tidak menyalahkan Joy untuk itu.
Mereka bahkan mendidik Joy dengan baik di rumah itu, Joy yang kekurangan kasih sayang Papa dan mamanya justru menerima begitu banyak kasih sayang dari keluarga besar itu, belum lagi dari keluarga yang lain kasih sayangnya begitu melimpah.
****
__ADS_1
Tak lama kemudian Joy tiba di bar milik suaminya, Gadis itu melangkah keluar tanpa menunggu pengawal membukakan pintu untuknya.
Kedua pengawal itu saling menatap ,
” Sepertinya Nyonya sedang dalam suasana hati yang buruk,” ucap si supir.
“Kita doakan saja yang terbaik, kalau aku memiliki papa seburuk itu aku pasti akan lari dari rumah,” ucap rekannya.
“Sudahlah, kita doakan semoga Nyonya tidak telalu terpuruk, yang kita bisa hanya menjaganya dari hal hal seperti tadi,”
“Kau benar,”
Joy memasuki bar milik suaminya, bar itu sudah cukup ramai pengunjung apalagi hari sudah menjelang malam.
Para pengunjung menatap gadis itu, siapa yang tak tertarik denagn gadis cantik nan menawan berwajah super datar dan dingin itu. Apalagi yang berkunjung disana bukan orang biasa, rata rata adalah pebisnis ulung.
Namun sekali lagi saat mereka menatap gadis itu mereka akan langsung menarik pandangan mereka saat melihat anak buah Black Rose mengkawal gadis itu, dan beberapa orang yang memiliki jabatan tinggi justru menunduk hormat pada istri dari leader mafia itu.
Joy terus berjalan mengikuti arahan pengawal menuju dimana suaminya berada.
Di lantai dua, Vasko sedang berbicara dengan rekan rekan bisnisnya, dia berdiri di lantai dua sambil menatap ke lantai satu dimana para pengunjung berada.
Saat dia sedang berbicara tiba tiba Joy berlari ke arahnya dan langsung menghamburkan pelukannya pada Vasko.
Vasko sedikit terkejut, dia meminta yang lain pergi dan memberi mereka ruang.
Kini yang tersisa disana adalah Joy dan Vasko dengan Joy memeluk Vasko dengan erat sambil menangis, Vasko adalah tempatnya untuk menangis, bahagia dan rumah untuknya.
“Sayang?” panggil Vasko namun Joy tak menanggapi.
Dapat di dengar Vasko dengan jelas kalau Joy saat ini menangis sesenggukan sambil memeluknya. Perlahan tangannya mengusap kepala istrinya dan merangkul pinggul gadis itu.
“Kak.. hiks hiks hiks... huaaa.....” Joy menangis sejadi jadinya, hatinya lelah bahkan fisiknya juga demikian.
“Menangislah tak apa, menangis sepuasmu sayang,” ucap Vasko yang paham betul dengan perasaan istrinya.
.
.
.
__ADS_1
Like, Vote dan komen