Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Jembatan


__ADS_3


l


Joel tampak mengemudikan mobilnya, dia meninggalkan Diandra dan Edward di kantor pria itu. Pria tampan itu mengemudi menuju lokasi baru klub yang didirikan oleh Vasko.


Dia melaju dengan kecepatan sedang melewati jembatan layang yang ada di kota itu. hiruk pikuk kota Jakarta yang sangat padat lalu lintas membuat suasana sangat ramai.


Kendaraan berlalu lalang kesana kemari pertanda bahwa ini adalah jam sibuk di kota itu. Semuanya sibuk dengan dunia dan urusan mereka masing masing.


Begitu juga dengan pria keturunan Jerman itu, dia memiliki kesibukan nya sendiri di kota yang padat penduduk itu.


Dengan santai namun tetap berhati hati Joel melalui jalanan di kota itu.


"Kak bawakan martabak nanti ya oke!"


"Edward mau es krim uncle!"


"Bro bawakan gorengan, sepertinya aku yang mengidam ini haihhh..."


Diandra, Edward dan David berbicara melalui telepon yang dihubungkan ke mobil.


Joel tergelak," Yakk... kalian pikir aku pesuruh apa, dasar tengil, baiklah akan ku bawakan!" ucap Joel sambil tertawa.


"Yeaaayyyy.... wohooo... Joel terbaik, Uncle Joel hebat, makasih kak Joel hahhaha..." teriak mereka dari seberang sana.


"Hmmm... apa masih ada yang mau dipesan? biar sekaligus kubawakan," ucap Joel.


"Minuman nya susu hangat!!" seru mereka serentak.


"ehh kok samaan? hahahahahah....." kembali lagi ketiganya tertawa terbahak-bahak di seberang sana.


"Dasar kalian ini, baiklah akan kubawakan, kalau begitu panggilan nya kuakhiri ya, aku sedang di jalan," ucap Joel.


"Baik, terimakasih !" ucap mereka bertiga.


Joel tersenyum, dia merasa senang dengan keluarganya saat ini. Belum lagi melakukan hal hal manis seperti ini sangat jarang dia lakukan.


Pria itu melaju dengan kecepatan sedang.


Saat dia sedang lewat, kerumunan Warga tampak terlihat di bahu jalan.


Joel menatap ke arah sana dan matanya menangkap seorang gadis yang berdiri di atas tiang pembatas jembatan sambil merentangkan kedua tangannya.


Joel memperlambat mobilnya, dia melihat kereta yang beberapa kali dia lihat dikendarai oleh wanita yang menarik hatinya.

__ADS_1


"Heh bukankah itu kendaraan gadis pengecut itu?" gumam Joel.


Semakin dia mendekat, semakin jelas wajah gadis itu. Dan benar saja orang yang berdiri di jembatan itu adalah Ara, gadis yang dimarahi oleh Joel, pacar orang yang malah menarik hati Joel.


"Ya Ampun gadis supermarket!" teriak Joel panik saat melihat gadis itu disana.


"Huffft.... sial! ada apa sebenarnya?" batin Joel.


Dia keluar dari dalam mobilnya, lalu berjalan dengan tenang meski hatinya tak tenang, Karen adalah sedikit saja, gadis itu bisa jatuh dan kehilangan nyawanya.


"Nona turunlah, semuanya bisa dibicarakan baik baik jangan melakukan hal ini!" teriak salah satu warga yang berusaha menghentikan Ara.


"Hahahah... hidup bajingan, hidup bangsat, tak ada gunanya lagi aku hidup hahaha... semuanya jahat!!" teriak gadis itu sambil menunggu tersedu sedu.


" Kenapa harus aku yang mengalami ini semua? kenapa bukan orang orang kaya itu saja, hidupku saja sudah miskin tapi kenapa aku harus dilimpahkan segala macam kutuk ini!!" pekik Ara.


" pria bajingan itu arhhhh dia yang menghancurkan hidupku, dia berselingkuh dia..


hiks hiks hiks.... kupikir dia menyayangi ku dengan tulus!!!" teriak Ara menangis disana.


Joel berjalan perlahan mendekati gadis itu, para warga menatap ke arahnya.


"Ssssttt..." Joel menaruh jarinya di depan bibirnya agar yang lain tetap diam.


"Hahaha.... saat ku coba untuk menjadi tidak pengecut dan melawan bajingan bajingan itu, malah aku yang hampir di bunuh hahahah... hidup bangsat!!" Ara terus menangis dan mengumpat, mengeluarkan semua sakit hati dan uneg unegnya selama ini.


Mendengar semua ocehan gadis itu, dia cukup terkejut, dia belum mencari tau semua tentang Ara, karena informasi pertama yang dia dapat waktu mencari tau tentang gadis itu adalah bahwa Ada memiliki seorang kekasih dan dia sangat mencintainya.


"Kenapa harus aku yang diberi hidup menderita, semuanya pergi meninggalkan ku, arrhhhhh.... siaaaalaaaannnn...." Lagi lagi dia berteriak sekencang kencangnya, mungkin saja setelah ini dia akan mengalami radang tenggorokan karena terlalu berlebihan.


"Apa yang terjadi padamu? kenapa kau berdiri di sini? apa kau ingin mati?" Joel langsung bertanya.


"Hidupku hancur hiks hiks hiks.... hidupku hancur!!" ucapnya tanpa sadar kalau dia sedang berbicara dengan Joel.


"Hancur? dari sisi mana kau melihatnya hancur?"tanya Joel lagi.


Mendengar ada pertanyaan lagi, Ara langsung sadar kalau seseorang berada di dekatnya.


Gadis itu menoleh dan menatap Joel,dia terbelalak saat melihat pria yang memarahinya di supermarket waktu itu berada di dekat kakinya.


"Ma..mau apa ka, pergi menjauh!! menjauh kau dari sini semua ini juga karena kata katamu!" pekik Ara.


Joel menaikkan sebelah alisnya," Bagaimana bisa ini karena kata kata sepenggal dari mulutku waktu itu? cih... kau memang pengecut!" Bukannya membuat tenang Joel malah membuat gadis itu kesal dan marah.


"Iyaa... aku memang pengecut!!!" pekik Ara sambil menangis tersedu-sedu, hatinya benar benar sakit dan hancur saat ini.

__ADS_1


"Memalukan hanya karena seorang pria kau menangis, perempuan lemah, pengecut!" ucap Joel dia berbicara dengan tenang namun otaknya sudah menyusun bebagai strategi agar bisa menarik Ara turun dari sisi jembatan itu.


"Kalau jatuh kesana bakal jadi manusia penyet bukan ayam penyet, ck... ngapain juga nangisin cowok gak berguna, ada bang Joel neng!" batin pria itu sambil melirik ke bawa.


"Iya aku memang lemah, aku sudah berusaha sekuat tenaga melawan mereka tapi apa hasilnya, mereka dimenangkan dengan uang, pergi kau sana kau, kau tidak tau apa apa tentangku!" teriak Ara lagi.


"Hei jangan berteriak, kau bisa terkena radang tenggorokan nanti, bisa infeksi loh," ucap Joel.


Para warga hanya bisa menatap perdebatan mereka, keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang berdebat di pinggir jalan.


Orang orang yang berada disana malah terbelalak di buat Joel, bisa bisanya pria itu berbicara dengan tenang di samping orang yang ingin bunuh diri.


"Pergi kau atau aku akan melompat!" teriak Ara.


Mendengar semua itu, Orang orang disana menjadi panik namun tidak untuk Joel.


"Cih, melompat lah, yang rugi bukan kami juga, " ketus Joel.


Ara terbelalak dengan kata kata sarkas pria itu, bahkan para warga juga demikian , mereka terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Joel.


" Silahkan melompat, kami semua akan menyaksikan kematianmu secara perdana, bukankah ini menjadi acara yang enak untuk ditonton?" ucap Joel tanpa menoleh, dia masih berdiri di dekat kaki Ara.


"benar kan, bukan kami yang rugi kalau kau mati, iya tidak para warga?" tanya Joel menatap warga sembari mengedipkan sebelah matanya.


"I..iya... Bu..bukan kami yang rugi," ucap mereka yang mengikuti rencana Joel.


Ara terdiam, ada sedikit keraguan dihatinya.


"Meski kami tidak rugi tetapi kami akan direpotkan dengan mengurus mayatmu, belum lagi jika kau jatuh di atas mobil orang lain dan malah mati disana, menyebabakan macet lalu lintas, bayangkan saja kalau diantar mobil mobil sana ada korban kecelakaan lain atau pasien yang butuh perawatan tetapi hanya karena mengurus mayatmu jalanan menjadi macet, selain itu rasa bersalah dari pemilik mobil dan trauma, bayangkan kalau di dama pemilik mobil itu ada seorang anak kecil, betapa mengerikannya melihat manusia jatuh," ucap Joel dengan panjang kali lebar.


"Bayangkan saja betapa berat trauma yang akan dihadapi orang orang hanya karena melihat mayatmu, kalau uang jatuh setumpuk dari langit sih enak lihatnya, nah kalau manusia? apalagi manusia cengeng seperti dirimu? ihhh ogah banget!" cerocos Joel.


Semua warga tebelalak dengan kata kata Joel, bahkan Ara sendiri malah jadi bimbang dengan dirinya.


"Silahkan melompat!" ucap Joel seraya meniup ujung jari jari tangannya tanpa menatap Ara.


"Gimana kalau si bodoh ini lompat ya? haihhhh kenapa juga mulutku secerewet ini, kalau Diandra dan yang lainnya tau, habis aku diomeli," batin Joel yang sudah panik.


.


.


.


like, vote dan komen 😉😉😊

__ADS_1


__ADS_2