
Malam menguasai langit, bumi kini sedang beristirahat dalam tidurnya. Namun keheningan malam seolah tidak berpengaruh apa pun bagi sekelompok orang yang sedang berjaga di sebuah markas rahasia yang terletak jauh dari kota.
Suara gemerincing rantai besi yang saling bergesekan dan jeritan demi jeritan terdengar di markas besar itu.
Api unggun dinyalakan di depan markas, para anak buah berjaga bergiliran mengawasi dan mengamankan markas besar Aliansi Black Rose yang didirikan di kota itu.
Pria pria berbadan kekar dengan tato bunga mawar tampak lalu lalang disana. Ada juga anggota perempuan, namun jangan salah mereka tidak lemah, bahkan beberapa dari mereka adalah ketua tim dalam aliansi, orang orang hebat yang berbakti pada aliansi dengan alasan yang tak terbantahkan yakni hutang nyawa pada Aliansi Black Rose yang mengangkat harkat hidup mereka dan keluarga mereka di masa lalu.
Otniel telah tiba di tempat itu bersama Vasko, David tak bisa ikut karena dia harus mendampingi dan memenuhi semua permintaan si Mama Gorilla yang sedang dalam masa ngidam dan penuh dengan drama aneh setiap hari.
"David pasti kesal karena tak bisa ikut dengan kita," ucap Otniel.
"kurasa dia akan lebih kesal kalau kita memaksanya ikut, kau tau kan Dia Dea adalah segalanya bagi David," celetuk Vasko.
"Hmm kau benar. ,lalu Apa Joy bukan segalanya bagimu?" tanya Otniel.
"Ck.. pertanyaan apa itu Niel, kau seperti tidak tau saja Joy seberharga apa bagiku, dia segalanya dan prioritas ku juga Jacob," ucap Vasko tanpa jeda dan tanpa keraguan sedikitpun.
"Hahaha aku bercanda, aku bisa melihat ketulusan itu di mata kalian, " balas Otniel.
"Terserah,"
Kedua pria itu berjalan menuju markas besar sambil bercanda, mereka disambut oleh para anak buah yang berjaga.
"Tapi aku jadi merindukan Joel, lama juga mereka di Jerman, kenapa dia tidak kembali?" celetuk Otniel yang teringat secara tiba tiba pada Joel dan Ara.
"Kau tau kan Ara dan Joel sudah melalui banyak hal, jadi biarkan mereka menikmati waktu berdua mereka, kasihan juga Ara yang selalu ditindas di masa lalu, dia harus benar benar tenang secara mental," ucap Vasko.
"Ya kau benar, tumben kau bijak hahahahahha..." ejek Otniel.
"Ck... Kau mau mengajakku bergelut Niel?" ketus Vasko sambil memutar malas kedua bola matanya.
"Hahahha maafkan aku, tapi aku benar benar merindukan mereka berdua, Celetukan si Pirang itu benar benar membuat suasana hidup apalagi kalau sudah bergabung dengan Diandra, suasana akan benar benar ramai hahahahha...." Otniel tertawa mengingat waktu mereka bersama sahabat sahabat mereka.
"Mereka pasti akan pulang, hanya belum menemukan waktu yang tepat," ucap Vasko.
__ADS_1
Kedua pria itu tertawa dan bercanda bersama, hal yang selalu membuat para anak buat terheran heran.
"Saat mereka mendekati penjara dimana para narapidana dikunci, air muka mereka langsung berubah menjadi dingin, dan tentu saja diikuti dengan suasana yang menjadi menyeramkan dan menegangkan di markas itu.
"Barusan mereka tertawa sekarang mereka berubah menjadi gunung Everest dan duo malaikat pencabut nyawa yang seram dan dingin," batin anak buah yang membukakan pintu untuk mereka.
"Terimakasih!" ucap Vasko seraya menepuk bahu anak buahnya.
Hal kecil seperti ini yang membuat para bawahannya semakin menghormati pria pria itu, dia tak.memandang rendah orang orang yang bekerja di bawahnya, tetapi dia menghormati mereka meski mereka adalah bawahannya.
"Attitude selalu dinomorsatukan, aku salut!" batin anak buah itu sambil membungkuk hormat pada Vasko dan Niel.
Kedua pria itu kini berdiri di dalam ruangan dengan sel sel besi yang ditutup dengan beberapa bilah baja. Ada dua orang manusia tak berahlak yang diikat di masing masing ruangan itu.
Korban yang lain? tentu tidak disana lagi, mereka tidak sembarang menargetkan orang lain.
Monika tampak diikat di atas kursi dalam salah satu sel itu, tubuhnya lemah dan ada bebe luka di tubuhnya.
Di sel yang satu lagi ada seorang pria yang duduk dengan wajah babak belur, luka yang sudah lama, kakinya diikat dengan rantai dan tubuhnya kurus dia adalah Richard, menyedihkan memang tetapi semua itu karena ulahnya sendiri, yang tidak menganggap orang lain sebagai manusia dan kini dia tidak dianggap sebagai manusia.
Setidaknya dia harus bersyukur dia masih bernafas sampai saat ini, atau haruskah dia menangis meminta dibunuh saat ini juga karena penderitaannya tidak akan pernah berakhir.
hal paling menyakitkan adalah saat Anak buat Vasko secara rutin menayangkan semua kejahatan pria itu, saat dimana dia hanya diam saja menonton pasiennya mati di meja operasi, saat dimana dia menolak pasien kritis yang malah meregang nyawa karena ulahnya, saat dimana dia menyuntikkan obat expired dan semua kejahatannya diputar di layar tipis itu.
Penyesalan selalu datang terlambat, dia tak bisa memperbaiki dan mengembalikan nyawa orang yang telah dia hilangkan.
Aliansi tidak akan mau menahan orang dalam waktu yang lama kalau kesalahannya hanya kesalahan kecil, lain ceritanya dengan Richard yang memang pantas mendapatkan semua itu atas perbuatannya di masa lalu.
Kembali ke Otniel dan Vasko.
"Keluarkan dia!" titah Otniel pada Anak buahnya.
Monika dikeluarkan dari dalam sel dan diposisikan di depan Vasko dan Otniel.
"Siram!" ucap Otniel .
__ADS_1
byuurrr..... tubuh Monika diguyur dengan air es Yang sangat dingin, ada alasan mengapa Otniel bersikeras mengulum wanita itu, dia punya sebuah rahasia besar yang belum dia sampaikan.
Monika terkesiap, dia membuat matanya dan tampak terkejut karena tiba tiba disiram dengan air es.
"Ahh... uhukk... uhuk... ma... mau apa kalian!!!!" pekik wanita itu yang dalam sekejap menjadi panik saat melihat Vasko dan Otniel kini berada di hadapannya sambil berkancah pinggang.
"tak usah banyak basa basi, aku akan cepat, Sekarang jelaskan apa yang kau lakukan pada putraku!" ucap Otniel sambil mengeluarkan beberapa foto yang dia dapatkan saat mencari info tentang Monika.
Vasko bahkan tidak tau ada foto foto itu, dia bahkan terkejut saat melihat apa.yang dilakukan Monika pada Edward saat di sekolah.
"Jelaskan bangsat!!!!" teriak Otniel yang mengamuk.
"Kau tidak bilang ada ini, apa sebenarnya yang....
Vasko terbelalak melihat beberapa foto itu, foto dimana wajah Edward dicoret coret dengan spidol berwarna hitam dan seragamnya yan. diberi label "dumb" bahkan tampak di gambar itu Monika tertawa terbahak-bahak menatap Edward.
foto foto yang berhasil didapatkan Otniel dari kamera CCTV yang berhasil dipulihkan, lokasinya di belakang sekolah yang jarang dilewati oleh orang orang.
Tampak Edward dijadikan bahan tertawaan oleh Monika, diancam dan ditekan, dengan dalih kalau itu hanya untuk bersenang senang agar Edward tidak kesulitan di sekolah.
"Hahahahah... jangan menangis bocah tengil, ini hanya untuk bersenang senang, sekolah itu sangat berat kan? kau itu hanya anak pungut kau tak perlu belajar sekeras itu, ahhh jangan beritahu Daddymu kalau ingin adik kecilmu itu selamat ya hahahaha...." suara tawa melengking Monika terdengar dalam sebuah rekaman yang didapat Otniel saat meretas ponsel Monika.
Hancur hati Otniel saat mendengar hal itu, bahkan Vasko yang mendengarnya naik pitam saat mengetahui semua perbuatan Monika pada Edward, pantas saja Edward mulai pendiam sejak dia duduk di kelas tiga, Edward sering kali mengalihkan pembicaraan saat mereka bicara tentang sekolah dan terkadang malas ke sekolah, ternyata dia diancam, anak kecil kembali mendapatkan trauma.
"Sialan kau !!!" teriak Vasko yang kini mencengkram leher Monika, dia benar benar marah saat ini, baginya Edward juga adalah anaknya, dia juga menyayangi bocah kecil yang selalu menjaga semua adik adiknya dengan baik, terbayang senyuman tulus Edward saat putra Vasko lahir, sakit hati Vasko membayangkan bagaimana bocah itu menangis karena diancam oleh Monika.
"Uhukk... uhukk... di..dia pantas mendapatkan itu..." ucap Monika yang benar benar telah kehilangan akal sehatnya.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉 u
__ADS_1