Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Suka


__ADS_3

Edward dan Emily benar benar serius memilih beberapa nama yang berpotensi untuk menjadi dokter yang akan merawat daddy Otniel mereka. Keduanya melingkari banyak nama senior di departemen bedah syaraf.


Hanya Nama Chelsea dari dokter fellow tahun kedua yang ada dalam daftar itu. Kedua anak ini masih berharap Chelsea mau menjadi dokter yang merawat Otniel.


Selain menandai beberapa nama, mereka berdua juga mengambil gambar dari orang orang yang mereka tandai.


Satu jam mereka melakukan itu, lebih tepatnya Edward melakukannya sendirian 30 menit setelah Emily terlelap karena kelelahan bermain tadi. Lucunya Edward masih sempat sempatnya mengatur posisi tidur Emily agar nyaman. Dia meletakkan kepala gadis kecil itu di atas pahanya dan memberikan selimut yang dia minta dari Varrel.


Bahkan Jessika yang masuk ke ruang kerja suaminya terkejut melihat bagaimana Edward begitu perhatian pada Emily.


“Sayang, apa menurutmu ada jodoh yang sudah ditentukan bahkan sejak pasangannya masih dalam bentuk janin,” bisik Jessica pada Varrel.


“Hmm? Kalau aku melihat mereka berdua, itu mungkin saja, kita juga kan begitu sayang,” bisik Varrel seraya memeluk pinggang istrinya.


“Ck.. dasar kau ini, itu kasus lain heheheh..” kekeh Jessica.


“sama saja , hmm Mana anak anak?” tanya Varrel.


“Sedang tidur di ruangan mereka,” ucap Jessica yang dianggukkan oleh Varrel. Keluarga itu memiliki ruangan khusus yang dijaga ketat bahakan masuk kesana saja harus melalui jalan rahasia.


“Paman, Aunty, ini sudah selesai,” ucap Edward dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh keduanya.


Varrel menghampiri Edward dan mengambil kembali buku besar itu,” apa cukup?” tanya Varrel.


“Cukup paman, terimakasih atas bantuannya,” ucap Edward.


“Sama sama nak, lalu sekarang kamu bagaimana, Emily sedang tidur ,” ucap Varrel.


“Apa kami masih boleh disini sebentar lagi sampai Baby Bubu bangun paman?” tanya Edward dengan sopan.


“tentu saja boleh nak, “ ucap Varrel sambil tersenyum bangga dengan anak kecil yang sangat sopan itu. Didikan Diandra benar benar tertanam dalam diri bocah itu.


“Terimakasih paman, aunty,” ucapnya sambil tersenyum.


“Kamu mau sesuatu nak?” tanya Jessica sambil melihat beberapa cemilan.


“Emmm nggak usah aunty, Edward mau tidur juga hoaaammm... ngantuk banget,” ucapnya sambil meletakkan kepalanya di sisi sofa dan menutup matanya.


Mungkin karena benar benar lelah anak itu langsung saja terlelap dengan posisi duduk dan Emily kecil ada di pahanya. Varrel menunggu beberapa menit sebelum memindahkan mereka berdua.

__ADS_1


Jessika menyiapkan tempat tidur yang bisa dibongkar pasang yang biasa di pakai oleh Varrel.


“sayang, taruh disini saja,” ucap Jessica.


“Baiklah,” ucap Varrel.


Kedua anak itu dipindahkan ke atas tempat tidur dan diberi selimut, mereka akan lebih nyaman tidur di ruangan itu karena tak ada suara berisik.


Hari pun berlalu, Otniel masih saja belum menentukan siapa dokter yang akan mengoperasinya. Malam berganti menjadi pagi dan jam terus berjalan.


Siang hari di rumah sakit KenRos,


Tampak dua anak kecil berlarian masuk ke dalam rumah sakit bersama Diandra dan Vasko. David sedang di jalan dari kantor dan Joy sedang mengurus putranya yang tiba tiba saja rewel dan menolak pergi ke rumah sakit karena tidak suka bau obat.


“Edward, Emily jangan Lari lari nak,” teriak Vasko.


“hahahha gak apa apa Uncle, kita pelan pelan kok,” seru kedua bocah yang tampak girang itu.


“Haduhh mereka berdua memang benar benar aktif, maklum saja kak, aku saja dibuat heran dengan sifat mereka yang persis sama itu,” ucap Diandra sambil geleng geleng kepala.


“Namanya juga anak anak dik, mereka harus menikmati masa masa ini, jangan sampai mereka mengalami apa yang kita alami dulu, aku tak mau mereka tidak memiliki kenangan apa pun di masa kecil mereka Diandra,” ucap Vasko mengingat dirinya yang dulu tak punya masa kecil yang bahagia.


“Wah adik kakak semakin dewasa ya,” ucap Vasko seraya menepuk kepala adiknya. Meski sudah berumah tangga, hubungan kakak beradik itu semakin hari semain erat, mereka ingin menebus semua waktu yang hilang yang tidak mereka lewati bersama di masa lalu.


Mereka semua masuk ke dalam ruangan kamar inap Otniel, sampai saat ini Otniel masih dirawat dengan menggunakan obat obatan dan terapi ringan meski tidak terlalu berpengaruh pada tubuhnya.


“Daddy.!!” seru kedua bocah kecil itu sambil berlari menghampiri Daddy Otniel mereka dengan senyuman manis seperti biasa namun kali ini mereka lebih semangat dari biasanya.


“Wah anak anak Daddy datang ya, udah selesai sekolahnya? Gimana tadi di sekolah semua baik baik saja kan ? apa pelajarannya sulit,” tanya Otniel.


“Nggak sulit Daddy, Emely bisa jawab semua pertanyaan gurunya, “ celetuk Emily.


“Wahh hebat, kalau abang?” tanya Otniel, semalam mereka sudah berbaikan dan semua itu karena Chelsea yang menjelaskan keadaan Otniel sebenarnya.


“Abang juga lancar kok dad, Daddy gimana? Kapan operasinya? Jangan terlalu lama, nanti Daddy makin sakit,” ucap Edward yang duduk di brankar Daddynya bersama Emily.


“Daddy masih memikirkan siapa yang akan merawat Daddy nak,” ucap Otniel.


“Emmm apa boleh Abang kasih saran?” tanya Edward.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat para orang dewasa menatap bocah itu dengan tatapan heran.


“Saran? Apa kamu tau siapa yang cocok sayang?” tanya Otniel dan Edward menjawabnya dengan anggukan kepala.


“Iya Daddy, Emmm sebentar,”


Edward mengambil ponsel yang dibelikan Otniel padanya, ponsel yang dipakai untuk situasi situasi darurat.


“Ini ada daftar dokter bedah syaraf semuanya senior dari departemen itu, tapi abang dan Baby Bubu pengen aunty ini yang operasi Daddy,” ucap anak itu sambil menunjuk foto Chelsea.


“Dokter Chelsea? Darimana kamu tau nak? Dan daftar ini?” Otniel terlihat bingung.


“Emmm abang minta bantuan sama paman Varrel, terus abang dan baby Bubu kemarin sore berbincang sama aunty dokter, katanya Aunty sembuh karena Daddy yang selamatkan, karena penjelasan aunty juga abang jadi gak salah paham lagi sama Daddy,” jelas anak itu.


Otniel terkejut namun tak menunjukkan ekspresi berlebihan,” benarkah? Lalu apa kalian sudah tanyakan pada aunty itu?” tanya Otniel yang seolah tau apa yang dilakukan anaknya.


“Sudah,” jawab mereka berdua dengan wajah murung.


“Lalu masalahnya?” tanya Otniel seraya menaikkan sebelah alisnya menatap mereka berdua.


“Aunty Dokter menolak Daddy, katanya aunty gak mampu, dan masih banyak dokter berbakat lainnya, selain itu Aunty juga udah dikeluarkan dari departemen bedah syaraf jadi.. ya gitu deh,,” ucap Edward dengan wajah lesu.


“padahal Aunty itu sepertinya baik loh Daddy, aunty itu pasti bisa bantuin Daddy,” celetuk Emily.


“Darimana kamu tau kalau dia baik nak?” tanya Diandra yang juga turut mendengarkan.


“Emmm Emily pernah lihat aunty dokter menolong anak anak yang terjatuh di jalan, terus menolong kucing, terus ngasih hadiah sama orang lain, Emily suka sama aunty dokter abang juga kan?” tanya Emily.


“He... em.. abang suka, Dokter itu baik, bicaranya juga lembut, harum jeruk juga, cantik lagi, tapi... aunty gak mau bantuin kita,” ucap Edward dengan wajah murung.


"Jadi apa boleh Aunty yang mengobati Daddy? Abang yakin Aunty pasti bisa sembuhkan Daddy" pinta anak itu.


"hmmm... menurut Daddy...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2