
Dia dengan lihainya memasak makanan untuk mereka semua, hitung hitung sebagai balasan karena bisa tinggal di rumah itu.
David masuk ke dapur untuk mengambil air minum, dia berdiri di ujung pintu sambil memandang Diandra yang begitu asik membersihkan bahan masakan sambil bersenandung.
Pria itu tersenyum melihat Diandra, perlahan dia berjalan mendekati kulkas.
"Dian, " panggil David membuat wanita itu menoleh.
"Wah ada apa dengan suara itu? Kenapa aku merinding, " batin Dian.
"Ada apa kak?" Tanya Diandra tanpa menoleh dan berusaha bersikap senormal mungkin.
"Maaf soal semalam," ucap David sambil menatap wanita itu.
Dian menoleh, dia tak menyangka akan mendengarkan permintaan maaf dari pria yang sedingin bongkahan es itu.
"Kau boleh bekerja dengan Joel supaya lebih aman," ucap David sambil menenggak minumannya.
"Baik kak, terimakasih," ucap Diandra sambil tersenyum manis, hampir saja David tersedak melihat senyuman secerah cuaca pagi ini.
Diandra mendekati David lalu menaruh tangannya di kening pria itu, jantung David? Jangan ditanya sudah lari maraton sejak tadi.
"Kau tidak demam, tapi kenapa badanmu panas tadi?" Ucap Dian dengan polosnya sambil menurunkan tangannya.
"Itu... I...itu Ekhmmm... Tak ada, " ucap David gugup.
"Aku akan bekerja siang nanti di restoran, sorenya aku akan kerja sampingan di hotel, kalau ada apa apa langsung hubungi aku, kau punya nomorku?" Tanya David yang dibalas gelengan kepala oleh Diandra.
"Dimana ponselmu supaya kumasukkan nomorku," ucap David.
Diandra memberikan ponselnya pada David tanpa bicara apa apa, Karena dia benar benar gugup saat ini.
David mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomornya disana, ponselnya berbunyi pertanda nomor Diandra sudah masuk di ponselnya.
"Sudah," ucap David sambil menyerahkan Ponsel itu dan diambil oleh Dian.
"Kau mau memasak apa?" Tanya David.
"Emmm masak ayam goreng pakai sambal udang khas Indonesia, apa kalian ada alergi udang?" Tanya Diandra sambil sesekali melirik David.
"Tidak ada yang alergi, wah kau tau masakan Indonesia?" Ucap David yang di balas anggukan kepala oleh Diandra.
"Mama orang Indonesia jadi sering diajari dulu, aku juga bisa bahasa mereka," ucap Diandra yang di balas anggukan keoal oleh David.
"Mami juga orang Indonesia dia jago masak, wah jadi kangen mereka," ucap David.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi kenapa mereka tidak di Jerman?" Tanya Diandra.
"Hanya aku yang nyasar ke negeri ini, Setelah nenek meninggal kami memilih tinggal di negara kelahiran Mami, hanya saja aku memisahkan diri dari mereka, " ucap David yang mulai terbuka soal keluarganya.
"Dia mau menceritakan tentang keluarganya padaku, wah ini awal yang baik heheheh" batin Diandra.
"Apa kau kakak punya saudara?" Tanya Diandra yang sudah mulai mengolah bahan masakannya.
"Punya, aku punya banyak saudara di Indonesia, tapi cuma satu saudara kandung, dia kakak perempuan ku," ucap David.
"Banyak saudara?" Tanya Dian sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Yap, kapan kapan ku perkenalkan padamu," ucap David sambil menepuk kepala Diandra dengan lembut membuat jantung wanita itu berdegup kencang.
Deg... Deg .. deg... Deg
"Apa bisa ku tinggal sebentar? Aku ingin siap siap, pagi ini aku ada urusan," ucap David sambil menatap Diandra dengan intens.
Dian menoleh, betapa terkejutnya mereka berdua saat pandangan mata mereka saling bertemu membuat degup jantung mereka berpacu kencang.
"Ba... Baiklah, tak apa," ucap Diandra langsung memalingkan wajahnya.
Sedangkan David tersenyum tipis, dia menepuk pucuk kepala wanita itu, bukannya marah tetapi Dian malah merasa nyaman dengan tangan David.
Dia merasa familiar dengan sentuhan lembut di kepalanya itu.
Lain halnya dengan David, pria itu berjalan dengan cool keluar dari dapur, sesaat kemudian dia berlari secepat kilat menuju kamarnya seperti orang gila yang kegirangan meloncat kesana kemari dan menahan tawanya hingga...
Brukkk
Prakkk
Dia terpleset saat di lantai dua Karen jingkrak jingkrak tak karuan.
"Awhhhh.... Shhhh kenapa aku begini?" Gumam David sambil mengusap bokongnya.
"Ada apa kak?" Diandra berlari dari dapur dengan wajah panik, bahkan spatula masih bertengger di tangannya, dia mendengar suara benturan yang cukup keras membuat dia benar benar panik.
"Ahh... Cuma terpeleset, gak apa apa kok," ucap David yang malunya sudah tingkat dewa saat ini.
"Hati hati dong jalannya," ucap Diandra sambil naik ke lantai dua memeriksa keadaan David.
"Iya tergelincir tadi, udah sana lanjut masaknya entar gosong itu," ucap David.
"Oh iya ya ampun, ya udah hati hati ya kak," ucap Diandra langsung turun ke bawah menghampiri masakannya yang nanggung karena David.
__ADS_1
Sementara itu disudut Lain ruangan itu, Joel tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah sahabatnya seperti anak ABG yang sedang kasmaran.
Dia bahkan terkejut saat melihat David bisa jingkrak jingkrak dnegan wajha bahagia seperti itu.
"Pfhhh bwahahahahhahahahah, astaga seharusnya tadi ku rekam saja itu sangat lucu hahahahahah, Vasko dan Otniel pasti tertawa terbahak-bahak melihat tingkah si konyol itu huahahahha uhukk... Uhukk... Uhukk... Hahahahahaaa" pria itu tertawa sepuasnya.
Sementara David dia sudah masuk ke dalam kamar, pria itu memegang dadanya yang berdegup kencang, masih jelas diingat nya wajah manis Diandra, bahkan cara wanita itu memeluk nya tadi pagi, senyumannya barusan sungguh membuat hatinya tiba-tiba berbunga.
"Astaga Papi,anakmu ketularan tingkahmu, Mami aku kena virus Papi dan Kak Aurel " batin David sambil tersenyum mengingat rangkaian kejadian tadi.
Dia menatap tangannya yang selalu saja bergerak sendiri menepuk pucuk kepala istrinya tanpa dia perintahkan.
"Dasar tangan nakal, tapi kau hebat, astaga sepertinya aku mulai menyukai hal ini, hufff... Menegangkan sekali hahahah" kekeh pria itu menertawakan dirinya sendiri.
Dia berjalan ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya. Setelah mengganti pakaian, dia berjalan ke meja rias dan melihat dompet istrinya.
Di bukanya dompet itu, hanya ada beberapa lembar Euro, ATM pun Diandra tak punya, disana hanya ada KTP, Foto mendiang Mama Diandra dan foto Diandra.
Dengan inisiatif, David mengambil amplop yang di terimanya semalam lalu mengeluarkan isinya dan memasukkannya ke dalam dompet Diandra.
Kemudian membuka Dompetnya dan mengambil semua uang kertas di dalam dompet itu lalu memasukkannya ke dalam dompet istrinya.
"Segini dulu ya, nanti ku kasih Lebih banyak, " gumam David.
Dia ingin memberikan salah satu kartu miliknya, namun jika dia melakukan itu sama saja membongkar identitas nya, dia masih ingin menikmati harinya dengan hidup sederhana seperti ini sekaligus melihat sampai mana Diandra tahan dengan dirinya.
David menatap foto Mendiang Mama Diandra, sebuah senyuman terukir indah di wajah pria itu. Di usapnya foto itu, teringat kembali kenangan ketika mereka bertiga bersenda gurau bersama, sungguh sebuah momen yang tidak terlupakan bagi David.
"Tan aku akan berusaha menepati janji itu, aku akan menjaga Diandra dengan segenap hatiku, dia sudah kembali ke sisiku, aku bersyukur," ucap David.
Ada sebuah rasa syukur yang dia rasakan karena tak jadi bersama dengan Reni, wanita mata duitan itu.
"Aku akan membahagiakanmu Dian," ucap David.
Sepertinya hati David sudah kembali seperti semula, dia sudah memantapkan hatinya untuk menerima Diandra di dalam hidupnya.
Belum lagi mendengar racauan wanita itu tadi padi benar benar menyadarkan David kalau Dian adalah yang terbaik baginya.
Dian bahkan tak segan segan mengecup bekas luka di wajahnya itu tanpa rasa jijik atau takut sedikitpun.
"Benar kata mereka, masa lalu cuma bagian dari hidup, aku akan menjalani hidupku ke depan bersama mereka," batin David.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😊😉😊