Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Lesu


__ADS_3

Kini Diandra di rawat di dalam ruangan pasien, dia tampah lesu, bahkan wajahnya sedikit pucat, wanita itu disatukan ruangannya dengan Otniel, dia tidak suka terpisah dan sudah biasa mereka melaju hal seperti itu, selain lebih praktis rasanya juga lebih nyaman.


"Mama sakit? kenapa Mama gak bilang?" ucap Emily yang duduk sambil menggenggam tangan Mamanya begitupun dengan Edward kecil yang sudah duduk di sisi Diandra yang lain.


"Mama cuma sedikit kelelahan saja sayang, maaf ya bikin kalian khawatir," ucap Diandra sambil mengusap pucuk kepala kedua bocah itu.


Seorang dokter wanita tampak datang menghampiri Diandra, semua orang penasaran dengan hasil pemeriksaan Diandra.


"Apa yang terjadi pada Putri kami dok?" tanya si Mama Park yang sejak tadi terus mendampingi Diandra.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat pada nyonya, Anda sedang mengandung nyonya, usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu," ucap dokter wanita itu.


Mereka semua terkejut mendengar berita itu, saja perilaku Diandra benar benar berbeda belum lagi tiba tiba permintaannya aneh aneh.


Diandra tak menyangka kalau dia mengandung lagi dia spontan mengusap perutnya, ada janin lagi yang sedang bertumbuh Diandra. Seketika air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya, dia tidak merasakan apa apa, bahkan tidak mual dan muntah seperti saat dia mengandung Emily.


"Aku.... Hamil ? A.. aku diberi anak lagi, hiks hiks hiks... terimakasih sudah hadir di perut Mama sayang," Diandra menangis terharu.


"Selamat sayang, kamu hebat," ucap Luna yang sontak memeluk Diandra dengan erat sambil mengusap air mata wanita itu.


"Selamat nak," ucap Gama yang turut senang.


"Selamat ya Diandra bawel, kamu punya baby lagi, huhuhu... akan ada baby bomb lagi hahaha...." celetuk Sir Petra yang tingkah jenakanya semakin menjadi jadi.


"Wahhh ada Maureer junior lagi!!!" seru Otniel yang juga tampak antusias dengan berita kehamilan adiknya itu, "ini akan menyenangkan hahahah... wahh selamat Mama Gorilla, bentar lagi ada balon besar lagi di rumah hahahah tinggal tunggu meletus Tus tus... hahaha..." celetuk pria itu, dia tidak terlihat seperti orang sakit.


Bagaimana bisa baru sadar dari operasi sudah duduk anteng sambil makan kuaci dan menatap mereka dengan gaya songong seperti dia biasanya. Seolah olah luka bekas operasi itu tidak ada apa apanya, memang pria ini selalu saja di luar nalar.


Diandra tersenyum namun hatinya kecut karena suaminya tidak disini, dia ingin memberitahukan berita bahagia itu pada David tapi David terlanjur marah padanya.


"Jadi kami punya Adik!!!" ucap Edward dan Emily dengan mata berbinar-binar sambil menatap mereka satu persatu.


"iya cucu kakek, kalian punya adik sayang, selamat ya!!" ucap Gama seraya menepuk pucuk kepala Edward yang berada di dekatnya.


"Wahh senangnya!!" seru Emily.


"Papa kemana? Papa harus diberitahu!"ucap Emily.


"Kan Papa tadi kerja Baby Bubu, kamu gimana sih," celetuk Edward.


"Heheh lupa," kekeh Emily.


"Kita telepon saja!" usul Edward.


Tiba tiba Chelsea masuk ke dalam ruangan itu sambil terengah engah," Hah... tuan David sudah pergi tadi, saya gak sempat ngejar," ucapnya sambil mengatur pernafasannya.


"Kau mengejarnya?" tanya Otniel.

__ADS_1


"iya, makanya saya keluar tadi," ucap Chelsea sambil duduk di salah satu kursi dalam ruangan itu.


Diandra tampak sedih, dia menunduk dan menahan air matanya.


"Teleponnya....


drrrtt... drrrt... drttt...


Terdengar bunyi ponsel David yang tertinggal di atas nakas dalam ruangan itu, semakin sedihlah hati Diandra yang tak bisa menyampaikan kabar itu langsung pada suaminya.


"Ponsel Papa ketinggalan!" ucap Edward yang menunjuk ponsel milik David.


"Mama, jangan sedih, nanti Mama sakit lagi, nanti papa pasti pulang," ucap Emily menghibur Mamanya yang sedang dalam fase sensitif saat ini.


"Dok bagaimana dengan kandungan Dia Dea? apa ada masalah?" tanya Otniel.


"Nyonya Diandra hamil? " gimana Chelsea sambil menatap Diandra.


"Kandungannya baik baik saja, tapi jika terus begini..." dokter itu menatap Diandra yang tampak murung dan bersedih, " saya takut kandungannya terganggu, sebaiknya jika ada masalah segera diselesaikan, ibu hamil tidak boleh stres," jelasnya.


" Terimakasih atas bantuannya dok," ucap mereka.


Dokter itu keluar setelah menyelesaikan tugasnya, semuanya yang ada disana menatap Diandra.


" Tunggu saja ya nak, jangan bersedih terus," ucap Luna.


Tiba tiba seorang wanita masuk, " Diandra ada apa denganmu??" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Dokter Jenny, dia masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah panik saat mendengar kalau Diandra pingsan, dia mendengar nya dari perawat.


"Jen?" lirih wanita itu dengan wajah sedih.


"hei ada apa?" tanya Jenny sambil menghampiri Diandra.


Edward dan Emily tampak tidak suka melihat Jenny namun karen mendengar dia khawatir pada Diandra mereka diam saja.


"Niel ada apa?" tanya Jenny khawatir.


"Ahh Diandra Sedang hamil, dia kelelahan, tak perlu khawatir dokter sudah mengurus nya," ucap Otniel.


"Lalu bagaimana denganmu? apa kau baik baik saja, aku sangat khawatir, kenapa tak ada yang memberitahukan hal ini padaku," gerutu wanita itu sambil menatap kesal pada mereka.


"Maaf Jen, aku juga baru sadar dari operasi itu," jelas Otniel.


"Apa!!! baru sadar?" Jenny terbelalak.


"Dokter Chelsea ada apa? kenapa dia baru sadar apa ada kesalahan selama operasi? ada apa??" tanya Jenny yang tak bis menyembunyikan kepanikannya.


Diandra menggenggam tangan Jenny yang memang mudah panik," hei tenang, aku baik baik saja dan kak Nile juga baik, tak ada masalah apa apa, kenapa kau panik sekali," ucap Diandra.

__ADS_1


"hufftthh... aku takut terjadi apa apa dengan kalian, itu saja," ucapnya jujur sambil memeluk Diandra.


"Aku baik Jen, semuanya baik baik saja," ucap Diandra.


"syukurlah, jadi kau sedang hamil ya? selamat ya Dian, aku turut senang untukmu," ucap Jenny dengan mata terharu, dia teringat dengan dirinya yang belum juga hamil sampai saat ini.


"Kau juga akan segera menyusul Jen, aku yakin," bisik Diandra.


"kuharap begitu," ucapnya yang menyembunyikan air matanya.


"Hei Jen, apa aku tidak dapat pelukan?" tanya Otniel.


"ahh tentu saja, kau kan calon suamiku, tentu kau dapat pelukan," ucap Jenny sesuai bangkit berdiri dan memeluk Otniel .


Chelsea benar benar terbakar api cemburu saat ini, iri sekali dengan kedekatan mereka. Dan dia bahkan tak merasa curiga sama sekali dengan kedekatan ketiga orang itu.


"Kenapa juga harus pelukan di depanku," gimana Chelsea yang melirik Jenny dan Otniel dengan tatapan cemburu.


"Otniel benar benar pintar memainkan hati wanita, dasar si kunyuk itu," bisik Luna pada suaminya.


"Kurasa dia mendapatkan semua sifat aneh itu dari orag disebelah kita ini," ucap Gama sambil melirik Sir Petra yang tersenyum bangga menatap Otniel.


"hehehe tak sia sia ajaran ku, hahahah..." batin pria itu.


"Hmm kau benar sayang, mereka sama sama aneh, tapi kau juga begitu sih ahhahah..." kekeh Luna.


"permisi, saya mau memanggil dokter Chelsea" ucap seseorang sambil masuk ke dalam ruangan itu.


"Chel, bisa ikut denganku? ada yang ingin kubicarakan!" ucap Jerry si pria tampan anak didik Otniel yang menarik tangan Chelsea seraya menggenggam tangan gadis itu.


"Ada apa?"


"Ayo, ini penting, " ucap Jerry.


"kami permisi dok, ahh dokter Niel saya bawa Chelsea dulu, ada urusan," ucap Jerry.


Seketika hati Otniel panas saat melihat Jerry menggenggam tangan Chelsea dengan erat bahkan merangkul bahu gadis itu.


Jenny terkikik geli melihat wajah Otniel yang terbakar api cemburu.


"Jerry... kenapa harus pegang pegang sih!!!" geram pria itu.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2