Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Sedih


__ADS_3

Ruangan perawatan,


Kabar bahagia dari pasangan David dan Diandra tersiar ke Jepang dimana orangtua kandungnya sedang berada saat ini bersama keluarga kecil Sean anak angkat Alena yang sudah pindah ke Jepang.


Seluruh keluarga besar dikabari dan semuanya mengucapkan selamat atas kehamilan Diandra. Mikha dan Aiden yang sedang berada di Jersey, USA langsung menghubungi bumil cantik itu, bahkan berbicara seharian pada wanita itu dan cucu cucu mereka karena sangat merindukan mereka semua.


Mikha dan Aiden sedang menemani Kiel dan Kiara anak mendiang Anna dan Ferdi yang sedang melakukan riset terkait pekerjaan mereka disana.


Kabar bahagia ini benar Benar membuat semua keluarga bahagia.


Namun tampak si Mama Park tersenyum kecut melihat anak sahabat sahabatnya sudah menikah, sedangkan anak anaknya masih belum menikah juga sampai saat ini.


"Sayang ada apa?" bisik Gama yang duduk di samping Luna sambil memperhatikan keluarga kecil David sedang berbicara dengan Aiden dan Mikha.


"Aku sedikit iri dengan mereka," bisik Luna.


"Eh... apa karena anak anak kita belum ada yang menikah?" tanya Gama .


"iya sayang, aku juga ingin punya banyak cucu, kita baru dapat satu itu pun dari Otniel, aku maunya punya menantu juga, Si kembar juga undur undur waktu terus," ucap Luna mengutarakan resah hatinya.


"Aku iri dengan mereka yang bisa bercanda dengan menantunya, Kak Ken dan Kak Rose juga sudah punya cucu, Demikian Andin dan kak Mike, Anak Kak Alex dan Kak Vanya juga sudah menikah, kak Bima dan Kak Celine juga, lah anak kita kapan dong??" tanya Luna dengan wajah penuh harap.


"Kapan apa nenek?" celetuk Edward yang ternyata sejak tadi berada di dekat mereka.


"Ehh cucu nenek, sejak kapan disini, maaf nenek gak lihat tadi," ucap Luna yang langsung memeluk Edward dalam pangkuannya, Emily sedang menempel pada Mamanya dan berbicara dengan kakek neneknya.


"Sejak tadi heheh, kenapa nenek dan kakek sedih hmm?" tanya Edward seraya mengusap wajah mereka berdua.


Anak menggemaskan itu sangat disayangi di rumah keluarga Park, bagi mere Edward adalah cucu pertama di keluarga itu, meski tak ada ikatan darah, bagi mereka Edward adalah bagian dari keluarga besar Park.


"Nenek dan Kakek gak sedih kok, cuma khawatir sama Daddy dan uncle kembar kamu," ucap Gama sambil mencolek hidung bocah itu.


"Hmm? apa karena Daddy belum menikah juga?" tanya Anak itu.


"Daddy boleh kok nikah, Edward gak masalah, beberapa kali Edward a dengar kalau Daddy gak mau nikah karena ada Edward, kalau Edward gak ada pasti Daddy lebih senang dan bebas dong," ucapnya dengan suara berat.


"loh sayang kok ngomong gitu?" tanya Luna, dia bisa menangkap rasa sedih di wajah anak kecil itu.

__ADS_1


"Kan emang bener nenek, sejak Abang Edward disini, Daddy gak bebas mau ketemu dengan siapa pun, berarti Abang beban dong buat Daddy, makanya, Abang udah pikirin ini sejak beberapa hari lalu, kalau Daddy mau nikah Daddy nikah aja, Abang gak masalah, Abang gak mau Daddy jadi sedih gara gara mikirin Abang terus," jelasnya sambil menunduk sedih.


Tiba tiba ada sebuah tangan yang mengangkat Edward dari pangkuan kakek neneknya.


"Siapa bilang begitu hmm? siapa yang bilang kalau Abang itu beban buat Daddy? siapa dia berani beraninya buat anak Daddy sedih hah!?" ketus Otniel yang ternyata mendengar semua ucapan Putranya.


Tangannya sudah pulih dan luka bekas opera tidak lagi sakit.


"Daddy? apa Daddy dengar?.. ma..maaf.." ucap Edward dengan mata berkaca-kaca.


Luna dan Gama saling menatap saat melihat kesedihan pada sorot mata bocah itu.


"Ada apa dengannya? tak biasanya dia seperti ini," ucap Luna pada Otniel.


"Aku juga gak tau Ma, aku sepertinya melewatkan sesuatu," ucap Otniel.


"Apa kau yakin? ini seper bukan Edward, apa yang sebenarnya terjadi, beberapa hari lalu dia sangat semangat saat kami mengatakan akan menjodohkan mu dengan Chelsea tapi sekarang dia malah lesu begini Niel," jelas Gama.


"Hah menjodohkan aku?" mata Otniel terbelalak.


"ehh aduh keceplosan.." ucap Gama.


"iya nak, kami menyukai Chelsea, dan gadis itu juga tampaknya baik pada anak anak, kau lihat kan bagaimana Edward dan Emily begitu akrab dengan dia," ucap Luna.


"Ahh, kalian tau saja aku suka padanya heheheh..." kekeh Otniel dengan semburat mera di wajahnya.


"dasar kau ini, urus dulu anakmu, ada apa dengannya? kenapa jadi begini?" Luna tampak khawatir sebab Edward a jadi murung akhir Akhir ini.


"Aku akan memeriksa nya Pa, Ma ,tenang saja, dan untuk rencana kalian itu, kalau boleh dipercepat hihihi..." Otniel terkikik .


"Kau benar benar menyukainya?" tanya Gama.


"he.. em, sangat Pa, dinikahkan sekarang pun aku mau heheheh..." ucap pria itu sambil melirik putranya yang tak bersemangat, entah apa yang terjadi pada Edward.


Sebenarnya sejak tadi Otniel, dan kedua orangtuanya berusaha memancing agar Edward mau menanggapi pembicaraan mereka, namun hasilnya nihil, anak kecil itu hanya diam dan tak bersemangat sambil memeluk Daddynya yang menggendong dirinya.


Otniel menggelengkan kepalanya, dia sedih, anaknya tiba tiba berubah.

__ADS_1


"Segera pastikan apa yang terjadi, Mama dan Papa akan bantu," ucap Luna yang dianggukkan oleh Otniel.


"Aku keluar dulu ya Pa, Ma," ucap Otniel.


Pria itu pergi keluar dari ruangan rumah sakit, dimana Dia dan Diandra dirawat selama seminggu penuh disana atas permintaan keluarga mereka.


Kini Otniel sudah sehat namun masih cuti dari tugasnya. Dia membawa Edward keluar, mereka berjalan menuju taman rumah sakit, tak ada kata semangat di wajah Edward.


Keduanya duduk di bangku panjang taman itu," Nak ada apa? kenapa kamu tiba tiba begini?" tanya Otniel.


Edward hanya diam, dia tak menjawab apa pun.


" sayang jelasin ke Daddy ya, apa yang terjadi, Daddy tau kalau ada sesuatu yang terjadi dengan kamu, katakanlah, biar Daddy paham," ucap Otniel.


Edward menatap Otniel tanpa ekspresi, tangannya naik dan menyentuh wajah Daddynya. Seketika sebuah senyuman tampak tergambar dengan jelas di wajah bocah kecil itu.


"nggak kenapa kenapa kok Daddy, heheh, Abang senang aja akhirnya bisa berupa begini sama Daddy," tukasnya sambil ter.


"ehh? tiba tiba? lalu kata katamu tadi?" Otniel terheran heran.


"tadi? heheh cuma main main biar kita bisa keluar berdua, abang maunya sama Daddy, berdua begini, rasanya udah lama gak begini," ucap Edward yang terlihat sisi dewasanya padahal dia masih anak kecil.


Otniel menatap penasaran pada putranya, ini benar benar perilaku yang aneh, tak pernah Edward seperti itu sebelumnya.


"yakin? masa cuma gara gara kita keluar berdua saja? biasanya juga kamu yang. merengek harian bawa Baby Bubu," ucap Otniel sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Edan kecil.


Edward tersenyum namun Otniel dengan jelas melihat ada guratan kesedihan di mata bocah kecil itu.


"Ada apa sebenarnya nak? kenapa kau begini? kenapa tidak jujur pada Daddy?" batin Otniel yang jadi risau melihat kondisi anaknya.


"Eh... halo Edward!!" sapa seseorang yang membuat Mereka berdua menoleh.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😊


__ADS_2