
“Ck... ayolah Papi, jangan ajak aku bercanda, perutku masih sangat sakit,aku baru operasi donor ginjal beberapa hari lalu dan Papi ingin membuat luka di perut ku kembali terbuka?” ucap David yang berbicara dengan menggunakan ponsel Vasko.
Dia sebenarnya sudah siuman, namun dia tak mau menunjukkan wajahnya yang pucat pada istrinya karena malah akan membuat Diandra semakin panik.
“Tenang saja nak, Mami akan ikat Papimu ini, kau fokus saja pada kesembuhanmu, Diandra punya pawang disini, aku heran dia hanya menurut pada kalian berempat memang kalian benar benar aneh,” ucap Mikha.
“Ohh ayolah Ma, itu sebuah ikatan batin,” ucap David sambil tersenyum.
“Ck jangan tersenyum dengan wajah pucatmu itu, aku seperti sedang mengucapkan salam perpisahan, cepatlah hubungi istrimu sebelum pikirannya mulai sesat lagi,” ketus nyonya Alena.
“hahah... awhhh shhhh... baiklah Ma, akan kulakukan, terimakasih sudah menjaganya,” ucap David sambil tersenyum.
“Iya iya... cepatlah sembuh anak bodoh,” umpat Aiden sebelum mengakhiri panggilannya.
...****************...
Jerman, Kota Berlin.
David berbaring di atas ranjangnya, luka operasinya masih belum sembuh dengan sempurna, wajahnya tampak pucat, dia menatap layar ponselnya, menatap foto istrinya yang cantik sedang bekerja di kebun anggur milik Joel.
Pria itu tersenyum sambil mengusap foto itu, “ maaf sayang, aku pasti membuatmu khawatir, jangan sedih aku akan pulang dengan cepat, “ ucap David.
Sehari setelah kejadian itu, di saat dia terbangun setelah dari ruang operasi yang pertama kali dilakukannya adalah menghubungi keluarganya di Indonesia, dia tak menghubungi Diandra karena takut istrinya panik.
David meminta laporan Joy mengenai kesehatan Diandra karena di dalam mimpinya Diandra sedang menangis ketakutan padahal memang sebenarnya itu sedang terjadi.
Setiap hari Joy dan Otniel melaporkan keadaan Diandra pada David, apa yang dia makan, periksa apa, obat apa, keadaan janinnya dan segala hal tentang Diandra.
Dia sangat merindukan Diandra dan calon anak mereka, sama halnya seperti wanita itu, namun David memilih menahan kerinduannya sampai dia benar benar sehat dan bisa pulang tanpa terluka.
Brukkk...
“Eghhh badanku pegal gara gara si kampret ini, haisshhhh kenapa juga menyuruhku membawa barang barang ini kesini,” keluh Joel sambil meletakkan buku buku milik David dan beberapa brang barang kantornya dibawa ke ruangan itu.
“Ini pakaianmu, kau yakin bisa melakukan itu ?” tanya Vasko yang datang sambil membawakan satu set kemeja dan jas milik david.
“Aku sangat yakin, “ ucap David.
“heh dia akan curiga denganmu malam malam begini pakai Jas bodoh,” ucap Joel.
“Hmmm kalau begitu di buat berantakan saja,” ucap David.
__ADS_1
Joel dan Vasko membantu David menata ruangan itu supaya tampak seperti mereka sedang berada di ruang kerja David. David memakai kemejanya dengan bantuan Vasko, wajahnya diberi sedikit bedak agar terlihat tidak terlalu pucat.
“Beres,” ucap Vasko.
“Apa ini sudah meyakinkan?” tanya David pada kedua sahabatnya.
“Sudah, ini cukup meyakinkan, kau terlihat seperti orang yang gila kerja dan sibuk sepanjang hari dengan penampilan itu,” ucap Joel yang dianggukkan juga oleh Vasko sebagai pertanda kalau dia setuju.
“ terimakasih atas pujiannya,” jawab David dengan cuek sambil membuka laptopnya dan menghubungi sang istri.
...****************...
Di Indonesia,
Diandra sudah selesai makan dan dia sudah membersihkan dirinya, entah kenapa hari ini dia ingin tampil segar dan cantik, dia memakai gaun berwarna merah jambu dengan tile kosong di bagian atas dada hingga lengan dan kain motif bunga bunga berwarna merah jambu yang panjangnya di atas mata kakinya.
Rambutnya di ikat tinggi seperti ekor kuda, Wajahnya di beri sedikit bedak yang aromanya membuat Diandra tenang, bibirnya di beri pelembab agar tidak kering, sangat cantik dan natural.
Otniel masuk ke dalam ruangan perawatan Diandra yang masih satu ruangan Dengan William yang belum juga bangun.
“Wahhh... cantik sekali dek,” puji Otniel dengan mata terbelalak melihat penampilan Diandra yang begitu manis hari ini.
“tidak, ini sangat cantik, kau mau keluar?” tanya Otniel dan dibalas gelengan kepala oleh diandra.
“Lalu?” tanya otniel.
“Aku ingin jalan jalan, bisa kakak temani? Aku mau keliling taman rumah sakit,” ucap Diandra dengan senyuman manisnya.
Lagi lagi Otniel terpana melihat kecantikan ibu hamil itu, dia tak menyangka kalau Diandra akan secantik itu kalau berdandan.
“Kak... kak Nieeellll..” panggil Diandra.
“Ehh aduh maaf kamu sih cantiknya kebangetan, kakak sampe pangling ,” ucap Niel jujur sambil menggaruk garuk kepalanya.
“Yeee baru sadar ya aku cantik, dasar kakak aneh,” ejek Diandra.
“Heheh,... ya udah mau jalan jalan kan? Ayo kakak temani,” ucap Otniel.
“Baik kak, terimakasih,” jawab Diandra dengan senyuman bahagia.
“Sepertinya suasana hatimu sedang baik hari ini, apa ada yang membuat mu senang?” tanya Otniel.
__ADS_1
“Ummm mungkin karena kak Bella akan pulang hari ini, aku tidak sabar ingin bertemu kakak, dan aku senang kak Niel ada bersamaku disini, aku jadi punya teman berkelahi hehehe,” jawabnya sambil tertawa.
“Cihhh dasar adik tengil, sudah ayo,” ucapnya sambil menepuk kepala Diandra.
Wanita itu memegang lengan otniel sambil melangkah keluar dari ruangannya.
“kak William, Kak Bella akan pulang cepatlah bangun,” ucapnya saat melewati brankar William.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu meninggalkan William disana sendirian.
Keadaan William masih sama, dia belum sadarkan diri, namun kesehatannya sudah mulai membaik, hanya saja dia belum juga membuka matanya seperti dia sedang menunggu kedatangan seseorang untuk segera membangunkannya.
Saat Diandra mengucapkan hal itu, jari William bergerak, air matanya mengalir secara tiba tiba, bersamaan dengan itu di Bandara, Bella tiba tiba teringat dengan William, dia belum di beritahu mengenai keadaan William, yang dia tau William sudah meninggal.
“Willi...” ucapnya sambil menatap ke arah langit, air matanya menggenang, dia berusaha menahan dirinya agar tidak menangis.
Di taman rumah sakit, Otniel dan Diandra duduk berdua di taman yang tampak seperti taman bermain itu, banyak bunga disana, anak anak kecil bermain bersama perawat dan orang tua mereka, semuanya tampak ceria sama seperti Diandra yang moodnya benar benar baik hari ini.
“Kau sepertinya sangat bahagia,” ucap Otniel yang juga senang dengan keadaan Diandra saat ini. Keadaan Diandra makin membaik setelah makan dengan benar.
“Tentu saja, aku merasa senang sekali,” ucapnya , senyumannya tak pernah hilang dari wajah cantiknya itu, dia menatap ke arah langit sambil tersenyum bahagia, tangannya mengusap perutnya yang mulai membuncit.
“Nak, langitnya cerah sekali kan,” ucap Diandra berbicara pada janinnya, hal yang sering dia dan suaminya lakukan.
“Kamu pasti merindukan Papa kan? Sama, Mama juga rindu dengan Papa, kita tunggu ya nak,” ucap Diandra lagi.
Otniel tertegun melihat sisi keibuan Diandra, dia menengadah ke atas langit ,” Akankah aku mendapatkan seorang wanita seperti Diandra di kehidupan ini? Dia benar benar tipeku, persis seperti dia... hmmm apa kabarmu di atas sana, aku masih mencintaimu,” batin Otniel sambil menatap langit dengan mata berkaca kaca.
Drrtt... drrrtt... drrttt
Ponsel Diandra berbunyi, dia melihat ponselnya dan seketika itu raut wajahnya berseri seri melihat nama pemanggil itu.
"Kak David... Dia menelpon, Kak Niel lihat aku apa sudah cantik?!!" tanya Diandra langsung menoleh ke arah Otniel yang melamun.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😊
__ADS_1