Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Tak Sadar


__ADS_3

Joel, Diandra, dan David kini sudah berada di rumah Sakit, mereka di sambut oleh kakak David yaitu Aurel yang mengetahui kedatangan mereka.


“Kak bagaimana keadaan kak William?” tanya Diandra pada Aurel.


“Dia sedang diperiksa oleh Otniel, aku juga baru melihatnya, ayo kutemani kesana,” ucap Aurel sambil menggandeng tangan Adik iparnya.


“Apa kakak tidak sibuk?” tanya David yang berjalan disisi lain istrinya sedangkan Joel berjalan di belakang mereka sambil mendengarkan percakapan mereka, dia sedikit menunduk karena dia memakai piyama tidur saat ini.


“Tidak, hari ini bukan jadwalku jadi sedikit santai,” ucap Aurel.


“Hmmm pantesan kau sedikit lebih rapi, biasanya kau selalu acak acakan seperti gembel,” ejek David.


“hushhh... kenap ngomong begitu kak?” ucap Diandra sambil enepuk lengan suaminya.


“He... em.. kenapa ngomong begitu? Aku kan tetap cantik meski kayak gembel hahahah,” kekeh Aurel.


“Ck... sayang kamu belum lihat aja kalau kak Aurel udah sip malam persis kayak gembel dari kolong jembatan bahkan mengalahkan mereka,” ucap David.


“Dasar adek laknant gak usah buka buka kartu kampret,”gerutu Aurel sambil mengerucutkan bibirnya.


“Kan emang bener kak,” ucap David tak mau kalah.


“Hahahhaha... kalian lucu sekali seperti tom dan Jerry saja, selalu berdebat,” tawa Diandra sambil melihat mereka berdua secara bergantian.


“Ekhmmm.... apa aku tidak di ajak bicara,” ucap Joel dengan wajah iri melihat mereka bertiga bercanda sepanjang jalan.


“Ehhh Joel, maaf nih habisnya kamu gak ngomong sih, kentut kek apa kek hahahaaa, canda Joel canda...... jangan tegang banget nanti tegangnya pas lihat William, dia babak belur,” ucap Aurel yang malah membuat Joel panik.


“Ck.. cepat tunjukkan jalannya padaku,” gerutu Joel dengan wajah kesal.


“hahahah, lihat wajah kesalnya itu,” kekeh Aurel.


Mereka melangkah menuju ruangan dimana William dirawat, saat tiba di depan ruangan itu mereka bertepatan dengan Otniel yang keluar setelah selesai memeriksa keadaan William.


Joel dengan sedikit berlari menghampiri Otniel dan langsung mencengkram lengan pria itu dengan wajah panik.


“Bagaiamana keadaannya Niel?” tanay Joel panik.


Otniel menunduk, sepertinya ada yang salah dengan William.


“Maaf..” satu kata itu keluar dari mulut Otniel.

__ADS_1


Diandra dan David yang mendengar hal itu juga ikut panik sebab Otniel tampak bersungguh sungguh dengan kata katanya.


“Ada apa dengannya?” tanya Joel yang sampai mencengkram kerah pakaian Otniel.


Dokter muda itu diam saja, dia tampak murung membuat Diandra jadi ikutan panik.


Joel yang tak sabaran langsung masuk ke dalam kamar perawatan, dia melihat tubuh kakaknya dibaringkan di atas brankar pasien dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya, wajahnya di perban dan tangan dan kakinya dibalut dengan penyokong tulang.


“Kak... Kak Will..” panggil Joel namun tak ada jawaban dari William yang terdengar di dalam ruangan itu hanya suara monitor yang menunjukkan detak jantung pasien.


“Niel... ada apa dengannya? Kenapa dia seperti ini?” ucap Joel sambil terduduk di atas lantai dengan wajah sedih, dia benar benar terpukul saat melihat saudaranya seperti itu.


Seketika perkataan Diandra tentang bagaimana perjuangan Wiliam dan Mamanya untuk melindungi dirinya terngiang di kepalanya.


“Niel katakan apa yang terjadi padanya,” ucap Joel dengan suara lemah.


Diandra, Aurel dan David masuk ke dalam ruang perawatan pasien, mereka juga terkejut melihat kondisi William yang begitu menyayat hati.


“Kak William.... kupikir dia tadi tidak samapi separah ini,, ternyata dia benar benar sekarat,” guamam Diandra yang benar benar terkejut melihat keadaan William.


“Dia mengalami cedera otak dan mungkin tidak akan sadarkan diri selama beberapa hari bahkan kita tidak tau kapan dia akan sadar, kaki dan tangannya patah, bahkan perutnya mengalami cedera mengerikan, aku bahkan kaget mengetahui fakta kalau dia masih punya tenaga untuk menemui kalian di depan Mall itu, seharusnya dia sudah mati,” jelas Otniel.


Deghh...


“Ba.. bagaiaman ini, kenapa bisa begini hiks hiks hiks... kasihan kak Willl,” Diandra menangis saat mendengar hal itu. Dengan cepat David memeluk istrinya yang menangis.


“Husshh tenang sayang, “ ucap David.


Joel menatap tubuh kakaknya yang terluka, tanpa dia sadari air matanya ikut menetes saat mendengar kondisi kakak laki laki nya yang sebenarnya sangat disayanginya.


“Beraninya kau sakit bahkan sebelum aku memukulmu bajingan... banguuunn.... banguuunnn kau kaaaakkkk.... baaaanguuuuunn kaaaakkk... arhhhh... kakak hiks hiks..... kenapa harus seperti ini, kenapa kau sampai babak belur seperti ini, ini aku kak aku sudah datang ,” tangisan Joel terdengar menyedihkan pria yang biasanya ceria itu kini menangis di depan William.


Otniel menenangkan sahabatnya, dia membawa Joel duduk dia atas Sofa, sedangkan Aurel mengabilkan tisu untuk Diandra dan Joel.


“Kau harus menyembuhkannya Niel, kau harus memastikan kalau Ka William bisa bangun, kumohon ini permohonanku sebagai seprang sahabat, buat dia sadar, aku .. aku akan membalaskan semua perbuatan mereka, bahkan aku berjanji akan mencari tau siapa orangtua kandungmu kumohon,” ucap Joel yang malah membuat Otniel terbelalak.


Pletak


Dokter itu menyentil kening Joel,” jangan mengatakan yang tidak tidak bodoh, tak mungkin kau menemukan orangtua kandungku, yang menculikku bukan orang sembarangan,aku saja sudah mencari tau keluargaku tapi tak ketemu,” ketus Otniel.


“Kau fokus saja membalas mereka tak usah pikirkan yang lain lain, serahkan William padaku, kau bisa mengandalkan sahabatmu ini,” ucap Otniel.

__ADS_1


“Terimakasih,” ucap Joel.


“Sepertinya kita harus segera bergegas mencari keberadaan bella,” ucap David.


“Biar aku yang tangani masalah ini, namun kita harus ke Jerman David, aku, Kau, Vasko dan Joy harus ke Jerman, kau ingat kan kalau beberapa hari lagi ada pertemuan perusahaan besar di Jerman, Besara akan beraksi disana,” ucap Joel.


“Bagaimana kau tau?” tanya David.


“Nanti kujelaskan, sekarang kita harus bergegas menyusun rencana kita, dan secepatnya kita harus ke Jerman, Reva dan Diandra harus dijaga di rumah besar Park, mereka juga menjadi incaran para penjahat itu,” ucap Joel.


“Jadi kalian akan segera berangkat?” tanay Diandra.


“Iya, kamu baik baik saja kan Dian?” tanya Joel.


Diandra mengangguk pelan meski pun dia merasa sedih kalau harus berpisah dengan mereka.


“Ya... tak.. tak apa, kalian harus cepat dan selesaikan semuanya dengan baik,” ucap Diandra.


“Baiklah kita selesaikan masalah ini secepatnya sebelum semakin besar,” ucap Otniel yang dianggukkan oleh mereka semua.


“eghh... aku ke toilet dulu,” ucap Diandra beranjak menuju toilet.


“Sayang kau baik baik saja?” tanya David khawatir.


“He..em au baik, aku hanya mau buang air kecil,” ucap Diandra sambil sedikit berlari menuju toilet.


Wanita itu masuk ke dalam toilet sementara yang lain masih berdiskusi.


“huwekk.... huweekk.... egh... uhuk... uhuk... ayolah Diandra jangan begini, mereka bisa khawatir, jangan menambah masalah,” gumam Diandra yang mual mual di dalam kamar mandi mengeluarkan seluruh isi perutnya.


“Nak... Mama akan menjaga kamu sayang, jangan khawatir, tante Bella akan ditemukan,” gumam Diandra sambil mengelus perutnya.


“Hiks hiks hiks... kuharap mereka tidak menyakiti kak Bella... aku tak sanggup kalau kak Bella sampai kenapa kenapa,” Diandra menangis di dalam toilet, hatinya benar benar sedih, namun dia menutupinya dari mereka semua.


“Kak.. Bella... hiks hiks hik... kak William.... “ Diandra sesenggukan di dalam toilet sambil duduk bersnadar pada dinding toilet.


“Diandra, sayang kau baik baik saja kan?” tanya David yang merasa tidak tenang dengan istrinya.


.


.

__ADS_1


.


Like, Vote dan Komen.


__ADS_2