
Seketika mereka semua terdiam di dalam ruangan itu, Otniel bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Chelsea. Dia menatap lekat wajah gadis itu, gadis yang sebenarnya telah menarik hatinya dan membuatnya penasaran sejak gadis itu masuk dan bekerja di rumah sakit itu.
Selama ini Otniel menahan dirinya karena beberapa pengalaman tak menyenangkan yang dia dapatkan saat menaksir seorang wanita, dia pernah dekat dan berharap menemukan seorang Ibu untuk Edward namun nyatanya perempuan perempuan itu membenci anaknya dan hanya menginginkan diri Otniel, hal itu membuat Otniel sangat berhati hati memilih pasangannya.
Meski dia sangat mencintai Jesslyn, dia tau kalau dia tak bisa hidup terus di masa lalu meski cinta pertamanya itu akan selalu menjadi nomor satu di hatinya.
Chelsea tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Otniel bahkan Jenny juga begitu. Kedua bocah yang cerdas dan cerdik itu diam saja mendengarkan dan menunggu bagian mereka.
“hahahah... jangan mengada ada dokter otniel, aku tau jelas kalau dia,” Jenny melirik Chelsea dari atas sampai kebawah seraya memberikan tatapan merendahkan pada gadis itu,” bukan tipemu,” ucap Jenny.
Deghh...
Chelsea cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jenny, apa benar kalau dirinya yang sekarang bukan tipe pria yang dia sukai? Tentu ini hal yang menyedihkan bagi Chelsea.
“Cihh jangan sok tau, sudah ku bilang kalau dia ibu dari anakku,” ucap Otniel dengan tegas. Wajah Chelsea tak bisa bohong , dia benar benar terkejut dengan apa yang dikatakan Otniel, ingin dia menyangkal namun hati kecilnya berkata kalau dia menyukai dan senang dengan ucapan itu.
Mulutnya seolah tertutup untuk menyangkal apa yang dikatakan Otniel, berkali kali dia mencoba untuk bicara namun sebanyak itu juga dia digagalkan oleh hatinya.
“Hahhahaha.. ayolah Otniel, aku tau tipemu seperti apa, Jesslyn, gadis cantik dengan mata cokelat terang, rambut hitam, kulit putih, hidung mancung , tinggi, seksi, cantik jelita, berbakat, dokter terhebat, wanita yang penuh dengan keanggunan, itu tipemu bukan tipe udik seperti dia ini, Jess akan sangat kecewa jika kau memilihnya menjadi ibu dari anak anakmu, aku tau kau belum menikah dokter Niel, aku sudah mencari semua informasi tentang dirimu, ini wasiat dari Jesslyn dan aku harus memenuhinya,” ucap Jenny dengan nada angkuh.
Otniel terdiam, setiap kali membahas nama Jesslyn dia tak bisa berkutik, saat Jess hidup dia tak bisa memenuhi semua keinginan gadis itu, dia tak bisa memberikan apa yang Jess mau, dan saat Jess meninggal, Otniel sudah berjanji akan memenuhi permintaan terakhir Jess, yaitu menikah dengan orang yang mirip dengan diri Jesslyn.
“Itu permintaan terakhirnya Otniel, kau tau kan siapa yang mirip dengannya, dan itu adalah aku, aku tidak berbohong, aku juga punya tujuan hidupku sendiri dan aku rela mengorbankan diriku untuk memenuhi keinginan Jess, dia prioritasku, adikku, adikku yang malang,” ucap Jenny dengan mata berkaca kaca.
Chelsea merasa benar benar sesak di dadanya, belum apa apa, cintanya sudah terhalang wasiat mendiang kekasih Otniel.
“Aku tau kau sangat mencintai Jess Niel, dia hanya ingin kau bahagia, apa kau tidak ingin memenuhi keinginannya? Aku tau kalau kau dulu tidak bisa memenuhi keinginannya, dia banyak cerita kalau selama kalian berhubungan, kalian hanya bisa jalan berdua ke bioskop itu pun diganggu dengan panggilan dari rumah sakit, aku tau semuanya, dia selalu bercerita padaku,” jelas jenny dengan mata berkaca kaca, wanita itu tak bisa menahan tangisnya lagi, dia menangis sambil menyampaikan kata katanya.
“jesslyn benar benar mencintaimu, dia ingin yang terbaik untukmu,” ucap jenny sambil menunduk.
__ADS_1
Otniel yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Chelsea menangkap raut kesedihan yang sangat mendalam dimata gadis itu.
“Kenapa denganmu Chelsea? Apa kau sakit mendengar hal ini?” batin Otniel.
“Akan kupikirkan, aku juga masih mencintai Jesslyn,"ucap Otniel, hancur sudah harapan Chelsea, belum juga berjuang tapi langkahnya sudah terhenti saat kakak kembar mendiang kekasih Otniel tiba di rumah sakit itu.
“Kenapa disini sangat sakit?” batin Chelsea yang menunduk seraya memegang dadanya yang terasa sesak. Cinta yang tidak tersampaikan, cinta yang tak sampai pada sang pujaan hati harus terhambat oleh wasiat, sungguh miris.
“Memikirkan apa Daddy hah??” gerutu Edward yang tidak suka dengan isi pembicaraan Jenny dan Otniel, dia paham betul dengan arah pembicaraan Jenny dan Otniel. Dia bisa menangkap raut sedih di wajah Chelsea.
“Memikirkan untuk menjadikanku sebagai Ibu barumu nak,” ucap jenny sambil mengusap kepala bocah itu.
Namun Edward yang memang dasar susah didekati, langsung menepis tangan wanita itu dan memasang wajah marah.
Bahkan wajah pria kecil itu langsung merah padam karena sangat marah dan tidak suka dengan jenny yang terlihat seperti bukan wanita baik baik, berbeda dengan Chelsea yang selalu menatapnya dengan penuh kelembutan.
Otniel bahkan sangat terkejut dengan sikap Edward,” nak kamu gak boleh begitu sama orang tua, harus hormat!" ucap Otniel menegur putranya.
“Daddy, ibu dokter itu yang mulai duluan, dia ejek ejek Mommy Chelsea, Emily ndak suka,” ketus si Baby Bubu yang turun dari brankar dan mendekati Chelsea yang dia panggil dnegan sebutan Mommy.
“Mommy?” tanya Otniel dengan mata terbelalak.
Edward menatap Daddynya dengan tatapan kecewa, dia turun dari brankar dengan wajah kesal karena menurutnya sang Daddy benar benar tidak punya pendirian.
“Daddy ternyata lemah, Daddy sudah pernah janji sama abang untuk melupakan masa lalu Daddy, nyatanya karena ada seseorang yang mirip dengan masa lalu, daddy dengan mudahnya berkata akan memikirkan wasiat itu, abang kecewa!” ucapnya dengan suara lirih.
“Abang sukanya sama aunty Chelsea, dan mulai sekarang Aunty Chelsea yang jadi Momnya abang, kalau Daddy gak mau, gak apa apa, Daddy nikah saja sama ibu dokter jahat mirip nenek lampir itu, Abang pergi!” ucapnya sambil melemparkan tatapan dingin pada Otniel.
Jenny terbelalak kaget dengan ejekan yang keluar dari bibir mungil anak kecil bermata biru emerald yang sangat indah itu. Bisa bisanya dia diejek samapi separah itu oleh seorang anak kecil.
__ADS_1
Nenek lampir? Demi dewa yang hidup, Jenny sudah melakukan perawatan termahal untuk membuat dirinya tetap muda seperti anak remaja tapi bisa bisanya anak kecil itu menyebutnya nenek lampir.
“Parah nih bocah, kayak bapaknya sih haishhh bisa bisanya gue diejek nenek lampir sama bocil,” batin Jenny yang tak habis pikir.
Baru kali ini anak kecil itu sampai semarah itu pada Otniel, baru kali ini dia mengatakan kata kata itu meski hatinya juga sakit, namun entah apa yang membuatnya seperti itu, Edward dan Emily tak rela jika harus kehilangan Chelsea yang baru beberapa minggu ini dekat dengan mereka.
Keduanya memegang tangan Chelsea dan menarik tangan gadis itu untuk keluar.
“Ayo keluar Mom, kita tinggalkan saja Daddy, abang gak suka kalau daddy jadi orang yang plin plan dan ingkar janji,” ucap anak kecil itu.
“ehhh mom?” tanya Chelsea dengan mata terbelalak.
“Iya Mom El, Mom mulai sekarang Mommynya Abang sama Emily,” celetuk Emily kecil.
Chelsea ditarik paksa keluar dari ruangan itu meninggalkan Otniel di ruangan itu bersama Jenny.
Setelah kepergian Chelsea dan kedua bocah itu Jenny dan Otniel saling menatap.
Tiba tiba...
“Pffthhh...bwahahahhahahahahhaaa.......
.
.
.
Like, Vote dan komen
__ADS_1