
Kejadian kemarin sore,
Edward dan Emily sudah menentukan siapa saja dokter yang akan dieksekusi untuk mewujudkan keinginan mereka agar Chelsea bisa menjadi dokter yang merawat Daddy mereka.
Seperti biasa setelah pulang sekolah biasanya mereka akan langsung ke rumah. sesampainya di rumah, kedua bocah itu langsung berbicara dan menyampaikan rencana besar mereka kepada Diandra, satu satunya orang dewasa yang bisa diajak bekerja sama dalam hal seperti ini.
"Mama!!" Seru kedua bocah itu dengan riang gembira sambil masuk ke dalam rumah, mereka dijemput oleh Vasko bersama Jacob.
" Wahhh... Anak anak Mama sudah pulang ya, bagaimana Sekolahnya?" Sambut Diandra sambil memeluk mereka berdua dengan penuh kasih.
" Sekolahnya luar biasa!" Ucap Mereka berdua dengan senyuman sumringah.
"uncle Vasko dimana?" Tanya Diandra.
"langsung ke rumah, Jacob mau pipis tadi,," Ucap Edward.
"ahh baiklah, ayo kita ke dalam!" Ucap Diandra sambil memegang tangan kedua bocah itu.
Setelah mengganti pakaian dan menjadi lebih rapi, Edward dan Emily menghampiri Diandra yang sedang menyiapkan makan siang mereka di ruang makan sambil bersenandung ria.
"Mama!" Panggil mereka berdua, sontak saja Diandra langsung menoleh ke arah kedua bocah kecil nan menggemaskan itu.
" Ayo duduk sayang, sebentar lagi kita makan siang, Papa David nggak pulang untuk makan siang, jadi hanya kita bertiga, nanti setelah makan kita pergi ke rumah sakit,," Ucap Diandra.
"baik ma," Ucap mereka.
"ma ada yang mau Edward bicarakan!," Ucap Bocah itu sambil mengeluarkan ponselnya yang berisi daftar orang orang yang akan mereka eksekusi yang mereka kumpulkan tempo hari.
"Ada apa nak?" Diandra menghampiri mereka sambil membawakan makan siang ke meja makan.
"Emmm begini, kami ingin agar aunty Chelsea yang menjadi dokter untuk menyembuhkan Daddy, tapi Aunty menolak dengan alasan ada senior yang lebih hebat tapi Abang nggak yakin," Ucap Edward.
"Hmmm? Nggak yakin gimana sayang?"
" Begini, rekan rekannya aunty itu pernah Abang dengar lagu berbincang bincang, mereka menjelek jelekkan aunty bahkan Daddy juga mereka ejek, waktu itu Abang nggak sengaja dengar dan ternyata mereka adalah orang orang ini," Ucap Edward sambil menunjukkan foto foto beberapa orang di layar ponsel itu.
Diandra menatap ponsel Edward," darimana kalian dapatkan ini" Tanya Diandra.
"Dari paman Varrel waktu di rumah sakit," Jelas Edward.
"Hmmm... "
"Mama juga sebenarnya setuju kalau aunty Chelsea yang menjadi dokter untuk merawat Daddy Otniel, belum lagi sebenarnya kemampuannya sangat mumpuni dan Mama menyukai gadis itu, "
"Tapi sayang, aunty mungkin menolak Karne takut akan dipecat dari rumah sakit atau karirnya dihancurkan oleh para senior munafik itu," Ucapnya.
"Lalu kalian mau bagaimana sekarang nak? Biar Mama bantuin" tanya Diandra sambil menatap kedua anak itu.
"Ma bagaimana kalau kita buat mereka tidak bisa menjadi dokter untuk mengoperasi Daddy?" Tanya Edward.
"Hmmm... Boleh juga, mereka kan butuh tangan untuk mengoperasi maka tangan mereka harus diberi hukuman kecil agar tidak bisa bekerja hehehehe..." Ucap Diandra sambil tersenyum licik.
"Tapi bagaimana caranya Ma? Abang udah memikirkannya semalaman tapi Abang takut terlalu beresiko," Ucap Edward.
"Serahkan saja pada Mama, kita kan punya pengawal sayang, hihihi..." Tawa jahat Dia dra terdengar menggema di dalam ruangan itu, dia sangat bersemangat dalam hal membalas dendam pada orang lain.
__ADS_1
" Nah sebelum itu kalian makan siang dulu, kita akan lakukan nanti, ikuti saja rencana Mama hehehehhe..., " Ucap wanita itu dengan senyuman licik.
Entah apa yang merasuki Diandra, tetapi beberapa hari terakhirnya ini dirinya seperti orang lain, terlihat lebih kejam, lebih judes, lebih pemarah dan sangat cerewet serta sensitif.
Setelah makan siang, seperti yang dikatakan oleh Diandra tadi mereka akan melancarkan aksi mereka.
Diandra memanggil lima orang anak buah yang disiapkan suaminya untuk selalu siap siaga di dekatnya jika dibutuhkan kapan saja seperti saat ini.
Mereka berlima tampak seperti orang biasa dengan pakaian kasual, penampilan biasa dan tidak mencolok.
Berdiri di hadapan si Mama Gorrilla yang baik hati dan selalu membuat mereka nyaman dalam bekerja, dan merasa seperti di rumah.
" Baiklah kalau berlima hari ini punya misi khusus," Ucap Diandra.
"Misi khusus apa nyonya?" Tanya Vivian salah satu pengawal mereka.
"Berikut ini ada daftar nama nama yang harus kalian beri sedikit pelajaran, kinerja mereka tidak baik di rumah sakit dan itu mengganggu Otniel," Jelas Diandra sambil menunjukkan foto sekitar 20 orang dokter yang sudah dia print dan tempelkan di papan tulis putih lengkap dengan biodatanya serta segala hal yang mereka suka dan tidak sukai.
Tentu saja Diandra punya keahlian untuk mencari tau hal ini dan itu adalah bakat nya yang jarang dia tunjukkan ke orang orang.
"Mau diapakan mereka nyonya? Apa mereka menyakiti Nyonya dan anak anak?" Tanya Beni.
"Mereka orang orang jahat pak Beni, mereka itu nggak baik," Celetuk Emily kecil, meski dia masih kecil, jangan ragukan kemampuan yang sama persis seperti sang Mama, cerdas, dan teliti namun jenaka seperti kakeknya Aiden.
"Ahhh... Jadi mau dikasih sedikit pelajaran? Baiklah" ucapnya sambil tersenyum pada Emily.
"Yang harus kalian lakukan adalah mengikuti apa yang kurancang untuk membuat mereka sedikit terluka, dan fokus kita adalah pada tangan mereka," Jelas Diandra.
"Nah untuk pria botak yang tidak ada tampan tampannya ini, kalain boleh lakukan lebih, aku tidak menyukai orang ini!" Ketus Dia dra sambil menunjuk foto Aris.
Diandra masuk ke ruang kontrol atas seijin Varrel dan dikawal oleh pengawas lain.
Semuanya sudah ada di posisi mereka, Dan Dia dra serta kedua bocah itu duduk di ruang kontrol CcTv mengkoordinir mereka.
"Baiklah kita mulai operasi hukuman kecil hahahah." Ucap Diandra melalui earphone yang terhubung dengan anak buahnya.
"SIAP NYONYA!" Ucap mereka semua.
Diandra mengarahkan mereka, korban pertama adalah tiga dokter senior yang sedang berjalan melalui tangga dan akan menuju lantai kedua, Diandra menyuruh anak buahnya yang berpura pura menjadi pasien, melewati mereka dan menumpahkan minyak sebelum mereka naik ke tangga berikut nya.
Minyak akan ditumpahkan, dengan tenang pria itu lewat dan berakting seolah dia sedang sakit parah.
Ketiga dokter bedah syaraf itu berjalan dengan sedikit menghindari pria tadi.
Hingga....
Gdebukk... Brukk... Brukk.
.
"arrrhhhh...." Mereka bertiga berteriak saat terpleset di atas lantai karena menginjak minta tarik, seolah sudah di atur tangan mereka malah tertusuk paku payung yang diletakkan di atas lantai saat pria tadi lewat benar benar licik.
"3 orang selesai!" Ucap diandra.
Korban berikutnya juga tak kalah menyedihkan, ada yang terpleset di lantai, ada beberapa orang yang terkena jepitan tikus yang ditaruh diam diam di lacinya, ada yang terjatuh, ada juga yang terkejut sehingga melukai tangannya sendiri.
__ADS_1
Kini giliran Aris, Diandra dapat info kalau pria itu alergi dengan udang, saat makan siang di kantor, pelayan yang membawakan makanan Aris adalah anak buah Diandra yang bernama Vivian, si ratu akting.
Tuk.. tak... tuk.. tak..
Gadis itu berjalan melenggak lenggok menggunakan pakaian pelayan kantin rumah sakit.
Membawa hidangan yang sudah mereka campur dengan udang tanpa ketahuan.
"Ini makanannya pak dokter, silahkan dinikmati," Ucap Vivian seraya menggigit bibirnya dan mengedipkan sebelah matanya pada Aris si pria mata keranjang itu.
"Sedap sekali," Ucapnya sambil menatap lekuk indah tubuh Vivian.
Vivian tersenyum palsu," makanlah tuan," Ucapnya dengan manja sambil duduk di depan Aris dengan membusungkan dadanya seolah dia adalah wanita penggoda.
Aris meleleh, dia melahap semua makanan itu tanpa tau kalau di dalamnya ada udang yang dia jauhi selama hidup.
"Mampus kau bangsat!" Batin Vivian.
Aris kembali menatap gadis itu dengan tatapan lapar," apa kau mau bermalam denganku sayang?" Ucapnya seraya mengelus paha Vivian dari bawah.
Vivian geram, dia naik pitam," Arrhhhh tolong ada dokter mesum!!!!!" Pekik gadis itu sambil berdiri dengan wajah ketakutan berpura pura kalau Aris yang memulai duluan padahal ini rencana dari sang majikan.
semua orang menatap kedua orang itu,
"I..ini salah paham, di..dia yang menggodaku !!"Teriak Aris yang merasa dijebak.
"Arrhhh hiks hiks hiks... Dia melecehkan ku dia menyuruhku duduk disini dan memandangi tubuhku, hiks hiks hiks.." Tangis Vivian.
"Diam kau, kapan aku? Kau yang menggodaku dasar jal4ng!!"Teriak Aris yang benar benar takut kalau karirnya akan tamat karena hal ini.
"ada apa ini?"Anak buah Diandra yang lain datang pria berbadan besar dan bertato tampak sangat menyeramkan.
"Sayang!!" Teriak Vivian sambil pria berbadan besar itu, dia memang kekasih Vivian di dunia nyata.
"Ada apa?" Tanya pria bernama Malik itu.
"Dia melecehkan ku hiks hiks..." Rengek Vivian.
"apa!!! Bu..bukan aku!!!" Teriak Aris ketakutan.
"Beraninya kau!!!" Ucap Malik.
Dia mendekati Aris dan menarik kedua tangan Aris lalu menghempaskan tubuh pria itu ke lantai, mematahkan tangannya dan membuat Aris benar benar terluka parah di bagian tangan
" Arrhhkkk... Sialan... ini sakit... gatal... badanku.... arhhh gaasataaallll......" teriak Aris yang sudah babak belur Karena Malik.
"Berani kau menyentuh dokter Otniel dan Dokter Chelsea, kuhabisi karirmu saat ini juga bangsat"Bisik Malik yang menyampaikan ucapan Diandra.
Mereka pergi dari sana dengan keberhasilan misi dari sang Mama Gorilla.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😉😊