
Joel dan Roy masuk ke dalam ruangan pria itu, tampak wajah Joel sangat serius saat ini, bahkan Roy tau kalau Joel sedang tidak dalam mode bercanda saat ini.
“Roy, apa kau tau apa yang terjadi dengan gadis itu di supermarket ini?” tanya Joel saat mereka sudah duduk di dalam ruangan itu.
“Siapa ? Ara? “ tanya Roy dan Joel mengangguk.
“Memangnya apa yang terjadi? Setauku semua baik baik saja, dan tidak ada yang aneh, aku jarang ke tepat ini, ini juga hanya kunjungan bulanan,” jawab Roy.
“Apa kau pernah memeriksa kamera CCTV?” tanya Joel.
“Tidak, sudah ada bagian keamanan yang memeriksa dan mengontrol itu, ada apa sebenarnya?” tanya Roy penasaran.
“Ara dibully disini,” ucap Joel dan sontak saja hal itu membuat Roy terbelalak, setahu pria itu keadaan di supermarket baik baik saja dan tidak terjadi apa apa selama ini, sebelumnya juga tak ada keluhan.
“kau yakin? Darimana kau mendapat informasi buruk itu, karyawan disini dilatih dengan baik, dan aku mendapat laporan kinerja karyawan setiap bulan, tapi gadis yang kau katakan itu mendapat nilai paling jelek, atau jangan jangan dia mengatakan itu padamu kalau dia di bully?” tanya Roy yang malah mencurigai Ara.
Dia adalah seornag pengusaha, tentu saja dia tak ingin usahanya dinilai buruk dan memiliki citra jelek di mata masyrakat yang akan mempengaruhi binis itu.
Joel tersenyum tipis,” hahahah kau ternyata tidak tau apa apa, aku hanya bercanda, kau terlalu serius dasar kau ini, tidak berubah juga,” celetuk Joel yang memilih mengaihkan pembicaraan itu.
“Haihhh kau ini membuatku takut saja, yang kutahu karyawan disini semuanya baik baik saja, hanya saja gadis itu memang sedikti bermasalah, nilai perilaku dan kinerjanya paling buruk,” ucpa Roy.
“Ahhh begitu, kau mendapat laporan dari siapa?” tanya Joel.
“Dari asisten manager di supermarket ini,” jawab Roy.
“Ahhh begitu,” ucap Joel.
“Ngomong ngomong apa hubunganmu dengan gadis pembuat maslaha itu?” tanya Roy.
“Ahhh dia... rahasia, hahha.... kalau begitu aku pergi dulu, teman temanku sudah menunggu ku,” ucap Joel sambil berdiri.
“hei secepat itu? Tidak minum minum dulu seperti dulu?” tanya Roy sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Jangan sekarang, nanti saja saat sudah tiba waktunya,” ucap joel sambil tersenyum menyeringai.
“Kita sudah lama berteman, ku harap kau paham Roy,” ucap Joel sambil keluar dari ruangan itu.
Melihat senyuman tipis di wajah Joel, roy paham bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan harus segera diselesaikan,” Ada apa sebenarnya? Dia tidak tida pernah sampai bertanay pada orang lain, dia bisa mencaritau sendiri, apa yang tidak ku ketahui sebenarnya?” gumam Roy sambil menatap kepergian Joel.
__ADS_1
Joel berjalan dengan wajah datar,” siapa dalangnya? Siapa yang mengakari masalah ini?” gumam pria itu, dia berjalan dengan tatapan datar dan dingin.
Bertepatan dengan dia keluar dari ruangan itu, Ara sedang berjalan ke arah ruangan itu juga dengan membawa kantong plastik sambil menunduk.
“Berani juga ya kau datang ke tempat ini sambil membawa pria, cihh dasar gadis murahan,” umpat rekan kerjanya.
“Cihhh lihat apa yang akan pak Roy lakukan nanti saat tau bagaiman perilakumu,” umpat yang lain.
Ara tampak bergetar ketakutan, “Kau masih punya muka ya Ara, hahahah apa kau sudah siap melayaniku?” bisik pria yang diketahui sebagai asisten menajer di supermarket itu.
Ara terkejut, dia bergetar ketakutan, tangannya menggenggam erat kantongan plastik itu, dia terus berjalan berusaha untuk melawan rasa takutnya.
“Hei kau budeg ya, orang ngomong itu dijawab,” ucapnya sambil enarik tangan Ara.
“Ara!" panggil Joel yang sedari tadi mengamati mereka.
“Tahan Joel, tahan, belum waktunya melakukan pembalasan dendam, tahan, tahan...” batin pria itu, dia mendengar kata kata mereka dengan Jelas.
Mendengar suara Joel, sontak pria itu melepaskan genggamannya dan menyuruh pelayan lain pergi.
“Ara kemari,” panggil Joel.
Ara tampak diam ketakutan, dia melihat tatapan mata si asisten manajer seolah mengancamnya.
Ara menurut, dia berlari menghampiri Joel dengan tubuh gemetaran.
“Jadi dia orangnya?” batin joel.
“Kita pergi, apa kau sudah selesai memilihnya?” tanya Joel dengan lembut sambil merangkul bahu Ara namun lagi lagi Ara terlihat bergetar ketakutan saat Joel melakukan itu.
“Sialan, apa yang sebenarnya terjadi pada Ara? Aku harus mencari tahu semuanya,” batin Joel yang kemudian memilih menggenggam tangan gadis itu dan mengambil alih belanjaan mereka.
“Kita pergi,” ucap Joel dan Ara hanya menurut.
Bagi Ara pergi ke tempat itu sama seperti memasukkan dirinya ke dalam lubang singa, membuatnya ketakutan setengah mati bahkan sampai sesak nafas. Ingin rasanya Ara menangis dan berteriak sekencang kencangnya saat ini.
Mereka berdua pergi dari lokasi itu. Kelima orang yang menatap Ara sedari tadi terus memperhatikan gadis itu.
“Heh itu si Ara, beraninya dia pura pura tidak kenal dengan kita, dan pria pirang itu, siapa dia kenapa tatapan matanya mengesalkan?” ketus salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Entah, cihhh tapi dia minta dihajar memang, sebaiknya kita beri saja dia pelajaran malam ini, supaya dia tau cara bersikap yang benar” ucap salah saru perempuan.
“Wohoooo... aku sudah tidak sabar ingin mencicipi tubuhnya, itu pasti akan menyenangkan, ahhh pasti akan nikmat apalagi dia masih perawan hahahaha,” teriak pria bertato dengan badan besar dan tubuh tinggi.
“Cihh dasar Hypersex, nanti saja kalau kau mau menikmatinya, kita jual saja dia, pasti banyak pria hidung belang yang menawarnya dnegan harga tinggi,” ucap mereka.
“Ck... aku akan menikmatinya dulu baru menjualnya, aku butuh gadis yang masih sempit hahahah,” ucap pria itu sambil menyesap rokoknya.
“Harusnya kita lakukan sejak lama, supaya si jal4ng itu tau cara bersikap,” ucap mereka.
Mereka menatap kepergian mobil Joel dimana Ara berada, seperti singa liar yang haus akan darah mereka benar benar ingin menghabisi gadis itu.
“Tuan boleh saya pinjam pemantik apinya? Milikku habis,” ucap seorang pria dengan tubuh tinggi besar dan wajah menyeramkan dengan tato di tangan kirinya.
Mereka berlima sedikit terkejut melihat orang yang lebih terlihat seperti monster itu, “ini pakailah,” ucap pria berbadan besar yang sering disapa Max itu si pria hypersex.
“Ahh terimakasih, tato mu bagus,” puji orang asing itu.
“ahhh ini, tentu saja, ini dibuat oleh pelukis tato terkenal di kota ini,” ucapnya dengan angkuh.
Pria besar tadi mengangguk,” wahhh motormu juga bagus, dapat dimana? “ tanya pria itu seraya menepuk bahu Max.
“Dapat dari cina, mau kutunjukkan siapa penjualnya?” tanya pria itu.
“tak perlu, aku punya banyak seperti ini, terimakasih untuk pemantiknya,” ucap pria itu dan langsung pergi dari hadapan mereka.
“Orang itu sedikit mencurigakan,” bisik salah satu teman Max.
“Perasaanmu saja, dia itu anggota mafia, jangan berani melawan siapapun yang memiliki lambang harimau di lengannya, mereka itu monster Tomi,” Ucap Max yang mengenali lambang di lengan pria itu, lambang tiger.
“Ihhk menyeramkan, sebaiknya kita pergi dari sini, jangan berada disini dulu, tunggu situasi aman, lagipula dia tidak akan pergi kemana mana, “ ucap gadis bernama hera.
“Hhmmmm kau benar baby, sebaiknya kita main kuda kudaan iya kan hemm?” ucap Max seraya merem4s bokong perempuan itu dan mengecup lehernya, dia sudah mulai menggila.
“Psikopat kau,” ketus Hera.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen.