
Mendengar penuturan Chelsea membuat Otniel menatap intens gadis itu. Dia tentu percaya karena sejak awal dia sudah tau semua seluk beluk keluarga gadis itu.
Jangan ragukan Otniel yang bisa mencari informasi paling pribadi seseorang hanya dalam hitungan satu hari. Dia bisa mengetahui semua yang ada pada diri seseorang hanya dengan mengutak Atik komputer nya.
"Apa yang terjadi pada Putraku? " tanya Otniel lagi.
Chelsea tampak menatap Edward, dia sedikit enggan untuk memberitahukan hal itu pada Otniel saat ada Edward disana.
"Apa tidak sebaiknya kita bicarakan di tempat lain dok?" tanya Chelsea seraya melirik Edward.
"Tidak, katakan saja semua disini," ucap Otniel dengan tatapan datarnya.
Chelsea merinding melihat tatapan dingin itu, tentu saja dia sudah terbiasa namun kali ini tatapan Otniel benar benar dingin, apalagi jika hal itu berhubungan dengan keamanan putranya.
"A.. apa tidak apa apa dok?" tanya Chelsea lagi.
" Ck.. kau ribet sekali, tinggal kasih tau kan mudah, dasar plin plan!" ketus Otniel.
Chelsea terdiam, dia lagi lagi diomeli oleh pria di depannya itu.
"Edward, sekarang lihat Daddy, kamu mau jelasin apa yang terjadi atau aunty dokter yang plin plan ini yang jelaskan? pilih mana hmm?" tanya Otniel dengan tegas sambil menatap wajah putranya, tangannya memegang lembut bahu anak itu.
"A.. Abang..." Edward tampak ragu dia menunduk sedih.
"Chelsea jelaskan!' ucap Otniel.
Tak ada pilihan, Chelsea harus menjelaskan kronologi yang dia ketahui tentang kejadian di sekolah.
"Beberapa hari lalu saya tak sengaja mendengar ucapan Monika tentang Edward yang hanya.. Ekhmm.." Chelsea menatap Edward.
"Hanya seorang anak angkat," ucapnya dengan pelan.
"Hmm.. itu memang fakta lalu apa?" tanya Otniel.
"Eh.. Ekhmm.. Monika mengatakan kalau perangai Edward selama ini menunjukkan kalau dia bukan anak yang dididik dengan baik, anak tanpa ibu yang tidak tumbuh dengan benar pasti akan memiliki perilaku seperti Edward," ucapnya.
Kejadian beberapa hari lalu,
Edward sedang berada di taman, sedang istirahat jam pelajaran, dia bermain bersama Emily yang sudah pulang dari TK, mereka berdua akan dijemput di waktu yang sama.
"Abang, Bubu mau bunga yang itu boleh?" tanya Emily sambil menunjuk sebuah bunga kertas yang dipegang oleh seorang bocah laki laki yang sekelas dengan Edward.
"Bubu mau itu? emm tapi Abang gak bisa buatnya, apa Abang minta saja sama dia?" tanya Edward.
Emily mengangguk dengan senyuman ceria di wajahnya," he em.. bubu mau heheh..."seru si kecil Emily.
Edward tersenyum, dia menepuk pucuk kepala Emily dengan gemas.
"Ya sudah ayo kita minta, siapa tau dia mau berbagi," ucap Edward sambil menggandeng tangan Emily, berjalan menuju anak lelaki itu.
__ADS_1
"Coki boleh minta satu bunganya?" Tanya Edward yang datang bersama Emily mendekati anak kecil bernama Coki itu.
"bunga? Ini?" Tanya Coki sambil mengangkat bunga yang ada di tangannya.
"He.. em.. boleh minta satu ? Aku tidak tau cara membuat nya tapi adikku menginginkannya," tanya Edward dengan lembut dan sopan.
saat mereka sedang berbicara Chelsea ternyata sejak tadi memperhatikan pembicaraan mereka, gadis itu salut dengan sopan santun Edward yang terbilang masih kecil itu.
"nggak boleh!" Teriak Coki sambil menyembunyikan Bunga kertas ya di belakang tubuhnya dan menatap Edward dengan tatapan benci.
"Tapi itu kan banyak, aku cuma minta satu kok," ucap Edward dengan wajah memohon.
"Ini dibuat oleh Mamaku, kamu minta saja sama Mama kamu, .. eh... Oh iya kamu kan gak punya Mama, makanya gak pernah dijemput dan gak dibuatkan bunga, kasihan banget, ibu guru bilang kalau kamu itu anak nakal!" Ucap Coki yang entah belajar dari mana tapi sudah mulai menyebarkan kebencian.
Edward dan Emily terkejut mendengar ejekan Coki, Spontan anak kecil itu menutup telingan ily, dia tak mau adik kecilnya mendengar ucapan ucapan itu.
"jangan bicara begitu di depan adikku!"Ketus Edward.
"ohh Bu guru Monika bilang kamu itu bukan anak baik, terus dia bukan adik, dia punya Mama dan kami nggak, ihh gak mau ya temenan sama ukyang gak punya Mama wleeekk..." Lagi lagi Coki mengejek Edward dan menjelek jelas diri Edward disana.
"bubu maaf ya, Abang gak dapat bunganya, kita pergi saja," Ucap Edward sambil membawa Babg Bubu dengan wajah sendu.
"Abang? Jangan sedih," Lirih Emily dengan mata berkaca-kaca, dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Edward saat ini.
"ada Bubu, jangan takut nanti Bubu bilangain ke Papa, biar dia dihukum," Celetuk Emily sambil menggenggam tangan Edward.
"Nggak apa apa, ayo pergi," Ajak Edward.
plukk...
"Ehh kok Main lempar," gumam Chelsea yang menatap mereka e dari kejauhan.
Punggung Edward di lempar batu kerikil oleh anak anak lain yang juga tak menyukai Edan entah apa alasannya, yang jelas terlihat mereka anak anak orang kaya yang dididik menjadi angkuh sejak dini.
"gak punya ibu gak usah sekolah"
"pantes perangai nya begitu, Gak punya Mama sih!"
"Kita gak mau temenan sama yang gak punya Mama"
"Ihh aneh, anak jelek, anehh"
Berbagai ejekan diterima anak kelas 3 SD itu, Edward melindungi Emily di depan tubuhnya dan jadi perisai bagi gadis manis itu.
"Abang kenapa mereka jahat ?" Lirih Emily, dia menatap mata Edward yang berkaca kaca menahan tangisnya sekuat tenaga.
"Ngga apa apa, Abang jagain kamu kok," Ucapnya sambil berusaha tersenyum.
"hahaha anak jelek, gak punya ibu, pantes aja begitu hahah..."
__ADS_1
Ledekan dan tawa terdengar di taman itu, Chelsea yang tak tahan mendengar ingin beranjak Kesana namun anak kecil yang dijemput nya tiba tiba menangis, membuat Chelsea tak bisa meninggalkan bocah itu.
Begitu dengan Edward, dia tak tahan mendengar ejekan dan menahan rasa sakit di hati dan tubuh nya, dia selalu menahan dirinya seperti saat ini.
"anak pungut... Daddynya pasti udah bodoh memungut anak jelek seperti dirimu hahahah, kau itu berbeda dasar anak alian, Daddynya juga kan alien hahahha..."
Daddy Edan juga di ejek, gakbtahan lagi, Edward mengamankan Emily ke pinggir taman, dia berbalik dan menatap tajam mereka satu persatu.
diambilnya beberapa batu kerikil dan di genggamannya dengan erat erat. Edward benar benar marah, mereka boleh saja mengejek Edward tetapi kalau sampai hal itu melibatkan dan melukai orang orang yang dia sayangi, maka jangan salahkan Edward kalau dia membalas perbuatan mereka.
"Kenapa kalian jahat padaku!!!" Pekik bocah itu, dia melempari mereka dengan batu kerikil yang dia pegang, sekiat tenaga.
"Huaaa... Sakitt...." Mereka menangis karena terkana lemparan batu dari Edward.
Edward melempari mereka lebih kuat daripada yang mereka lakukan sebelumnya.
"Apa yang kau lakukan Edward!!" Suara seorang wanita yang tak lain adalah Monika, menghentikan Edward.
"Miss Monika!!" Rengek anak anak itu sambil menangis dan menghampiri Edward seolah mereka adalah korban.
"Ada apa ini?" Tanya wanita itu.
"Edward membully kami Miss hiks hiks hiks..." Ucap mereka.
"Tidak!! Aku tidak membully mereka, mereka yang mulai!!!" Pekik Edward sambil menatap kesal ke arah mereka.
"Dasar anak bodoh, berani sekali kau membuat keributan di sekolah ini, anak yang tidak punya ibu memang seperti dirimu!!"
"Dasar anak pungut bodoh, kenapa kau memukuli teman temanmu!" Monika malah memarahi Edward tanpa menanyakan sebab nya.
"Bukan aku yang mulai!!" Ucap Edward menahan air matanya.
"Diam kau!"
"Dengar ini, kau tidak akan bertahan lama di rumah keluarga Park, kau pasti akan diusir, Karena perangai burukmu, kau hanya anak pungut yang tidak jelas asal usulnya, bahkan kau menyusahkan Daddymu!" Ucap Monika yang dengan gamblangnya berkata kasar seperti itu.
"Abang nggak seperti itu!!!" Kali ini Emily menangis dan berteriak pada mereka, berdiri di depan Edward.
Monika terdiam menatap anak kecil itu, dia tau siapa Emily, anak pria terkaya dan wanita terhormat di kota itu, tak mungkin dia mengusik bocah itu.
"Ekhmm.. nak, yang Miss bilang itu benar, kamu seharusnya tidak berteman dengan dia, dia itu tidak selevel dengan anak seperti dirimu,"Ucap Monika.
"Miss yang tidak selevel dengan kami!" Teriak bocah itu dengan tatapan dingin dan tajam persisi seperti Papa dan Kakeknya jika sudah marah.
"Monika apa yang kau lakukan!!"
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 😊😊