
Joy sedang dalam perjalanan menuju rapat yang diadakan di luar kantor, wanita itu pergi bersama beberapa pengawal yang diperintahkan Vasko untuk menjaganya.
Sebut saja saat ini Joy terlihat seperti seorang artis atau orang penting yang selalu dikawal kemana mana karena memang Vasko tak bisa terus bersama dengan Joy karena dia memiliki kesibukannya sendiri.
Joy sedang di dalam mobil yang disediakan khusus untuknya oleh sang suami, segalanya yang diperlukan oleh Joy sudah disiapkan, sebenarnya Joy tidak perlu bekerja karena Vasko pasti akan menyiapkan segalanya untuk Joy.
Tetapi Vasko tak ingin memaksakan istrinya karena apa pun yang membuat Joy senang pasti akan diusahakan oleh Vasko.
Mobil sedan itu melaju membelah jalanan kota, Joy duduk sambil menatap ponselnya. Sesekali dia tersenyum membaca pesan pesan yang dikirimkan seluruh keluarga besarnya di dalam grup chat keluarga.
GRUP CHAT SONTOLOYO
📩 Otniel : Hei hei hei.... halo penduduk bumi yang terhormat coba tebak siapa yang dengkuran nya paling keras Hahahahah🤣🤣
📩 Diandra : Kak Vasko 🤣🤣🤣
📩 David : Joy 🤣🤣🤪🤪
📩 Joel: Heh kalau Vasko bukan cuma dengkurannya yang keras tapi kentutnya mengalahkan bom Hiroshima dan Nagasaki 🤣🤣
📩 Diandra : Kakak ipar aku tau kau membaca ini juga kan hahahaha
📩David :Joy akan menerkam kita nanti huahaha🤣
📩 Otniel: Baskom mana baskom kok gak nongol, biasanya hanya sebut namanya tiga kali udah nongol 🤣
📩 Joel : Kinder Joy mana suami mu kayaknya telinganya sudah panas hahahh
📩 Joy :😒😒 Ejek terus sampai mampus, gitu amat dah sama suamiku yang tampan
📩Diandra : Cie bucin tingkat dewa hahaha
📩 Otniel : Hilih perasaan kamu nggak aja Dian, malah tingkat langit ketujuh aja lewat 🤣
📩David : Yang jomblo diam!😆
📩 Otniel: 😑😑
📩 Vasko : Ekhm... 😒😒 dakjal !
📩 Diandra : Eh kabur... 🏃♀️🏃♀️
📩 Otniel : 😆 wleekk
__ADS_1
📩 Joy : Yang emang mereka ga ada akhlak, sabar aja 🥰
📩 Vasko : iya sayang 😘
Joy terkekeh membaca seluruh pesan itu, meski tak satu tempat mereka semua terasa ada disekitar nya.
Tiba tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk dari orang tak diketahui.
Joy mengangkat panggilan itu.
" Halo," jawab Joy.
" Halo nak, ini Papa sayang, Papa mau ketemu kamu boleh? maaf ya Papa waktu itu marah sama kamu dan suami kamu Papa udah nyesal gak akan ulangi hal yang sama lagi kok," ucap Pak Putra.
Mendengar Pak Putra berbicara dengan sangat lembut pada dirinya membuat Joy terkejut bukan main, hatinya tiba tiba terasa sesak saat Pak Putra mengatakan hal itu padanya.
" Papa... " lirih Joy dengan mata berkaca-kaca.
" Iya nak ini Papa, boleh kita bertemu?" suara Pak Putra terdengar membujuk pada Joy.
" Kapan Pa?" tanya Joy.
" Hari ini nak, di rumah, kamu datang ke rumah ya," ucap Pak Putra.
" Tapi gak usah bawa menantu Papa, Papa terlalu malu untuk menemuinya, nanti saja kalau Papa sudah siap," ucap Pria itu dengan segala bujuk rayunya pada Joy.
" Baik Pa, Joy akan kesan, Mama gimana baik baik aja kan, gak ribut kan sama Papa?" tanya Joy.
" Ehh... Mama kamu ba..baik kok, gak ribut," ucap Pak Putra dengan sedikit gugup.
" Hmmm... baiklah Pa," ucap Joy.
" Hahah... baiklah Papa tunggu hari ini ya nak, " ucap Pak Putra.
Joy mematikan sambungan teleponnya, dia tersenyum mendengar bagaimana cara Papanya menghubungi dirinya.
" Papa pikir aku tidak tau?" gumam gadis itu, dia menyunggingkan bibirnya, sepertinya gadis itu mengetahui sesuatu.
" Aku tidak akan pernah menyerahkan kak Vasko pada siapapun termasuk Amel kak Amel, dia suamiku dan cukup selama 23 tahun aku jadi babu di rumahku sendiri, untuk selanjutnya aku bukan bagian kalian!" batin gadis itu sambil menatap tajam ponselnya.
Mobil yang dikendarai Joy melaju menuju lokasi pertemuan dimana Joy akan melakukan rapat. Gadis itu bukan gadis yang dulu lagi, gadis yang mudah dipengaruhi oleh kata kata Papanya, dia berubah menjadi seorang gadis yang tegas dan berpendirian karena dukungan dan ajaran suaminya.
Sementara itu di rumah Pak Putra, pria tua itu tampak senyum senyum sendiri mengingat rencananya akan berhasil untuk menyelamatkan nama anak kesayangannya dari rasa malu karena hamil di luar nikah.
__ADS_1
Sungguh pria tua ini tak punya otak lagi, entah apa yang dia pakai untuk berpikir tetapi dia dengan teag menumbalkan putri keduanya untuk kebahagiaan putri pertamanya yang sangat dia sayangi.
Pak Putra memasuki kamar Amel yang sedang hamil,” Anak Papa,” panggil pria itu.
Amel yang sedang makan menoleh sambil tersenyum, satu satunya yang paling memanjakannya adalah Papanya membuat dia juga menyayangi pria tua itu dan selalu mengatakan kalau mamanya pilih kasih dan tak mendapatkan perhatian dari Mamanya padahal selama ini yang mengalami kondisi itu adalah Joy.
“Papa, bagaimana? apa Joy mau berpisah dari suaminya? aku jatuh cinta pada pria itu pa, dia akan sanagt cocok menjadi ayah dari bayi yang ku kandung,” ucap Amel sambil mengusap perutnya yang masih rata.
“ Tenang saja nak Papa akan membuat itu terjadi kalau perlu Joy kita singkirkan jauh jauh, Papa sudah menyiapkan rencana untuk memisahkan Joy dari pria yang kamu sukai itu,” ucap Pak Putra.
“Tapi apa kau tidak lagi menyukai David?” tanya Pak Putra.
“David?” ucap Amel dan Pak Putra mengangguk.
“Masih tapi aku takut pada istrinya, istrinya itu bukan wanita sembarangan, Papa tidak lihat kemarin? Caranya sangat halus dia langsung menghalangiku, aku malah takut dia menyakitiku,” ucap Amel yang memang sejujurnya takut melihat si ibu hamil yang sekalinya kejam akan sangat kejam.
“Dia biasa saja, apa perlu Papa menyingkirkannya juga?” ucap Pak Putra.
“Apa papa bisa?” tanya Amel dengan mata berbinar binar.
“Tentu saja bisa, dia kan sedang hamil, kita bunuh saja anaknya maka kau bisa mendapatkan suaminya, menyingkirkan wanita itu sangat mudah,” ucap Pak Putra yang ahlaknya sudah digadaikan ke tempat pelelangan.
“Tapi apa tidak beresiko pa? Kalau ketahuan Papa bisa disalahkan,” ucap Amel.
“Tak apa nak, tidak akan beresiko, kita main cara bersih, kita mainkan racun papa akan mengundang mereka kesini,” ucap Pak Putra dengan senyuman smirk di wajahnya.
“Ohh ayolah Pa mana mau mereka jika Papa mengundang mereka kesini, mengingat kejadian terakhir,” ucap Amel seraya memutar malas kedua bola matanya.
“Hmmm... kalau begitu kita suruh saja orang untuk melakukan hal itu,” ucap pak Putra.
“Benarkah? Baiklah Pa,” ucap Amel sambil tersenyum.
“Manisnya anak Papa,” ucap Pak Putra sambil mengusap wajah putrinya.
“Heheh... makasih banyak pa udah selalu nurutin keinginan Amel, Amel sayang sama papa, anak ini akan Amel jaga terus Pa,” ucap Amel sambil tersenyum.
“Iya sayang, sudah papa bilang kalau hanya Amel anak kesayangan papa, bukan yang lain,” ucap Pak Putra.
.
.
.
__ADS_1
Like vote dan komen