
Tak terasa sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian dimana Otniel marah besar pada dokter dokter fellow yang ikut serta dalam operasi Ganda itu.
Hari ini Otniel tidak masuk kerja untuk menemani Putranya dalam acara anak dan orangtua yang diselenggarakan setiap pertengahan semester di sekolah putranya.
Bukan hanya anak SD tetapi siswa taman kanak kanak juga mengadakan acara yang sama. Dan acara tahun ini cukup berbeda sebab diselenggarakan secara serentak oleh yayasan yang menaungi sekolah itu.
Semua orangtua siswa dipanggil untuk datang ke sekolah dan menyaksikan pentas seni yang diselenggarakan oleh anak anak mereka.
Acara nya sangat meriah, Diandra, David, Joy, Vasko dan Otniel sudah hadir di sekolah sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh pihak sekolah.
Mereka tiba disana tepat waktu dan duduk di barisan tengah paling depan.
Tersenyum suara alunan musik yang begitu tenang dan indah diputar selama acara belum dimulai.
Perlahan lahan semua tamu yang hadir sudah berkumpul di posisi mere masing masing dan duduk menghadap ke arah pentas dimana putra putri mereka akan menampilkan pertunjukan mereka.
" Wahhh ramai sekali!" seru Diandra sambil menatap seluruh tamu yang hadir, dia tampak cantik dengan gaun merah maroon yang serasi dengan pakaian kasual suaminya berwarna merah juga.
" iya ini sangat ramai, berbeda dengan acara Edward tahun lalu, " ucap Joy yang juga tak kalah anggun dengan gaun polkadot nya.
" Tentu saja berbeda Joy, acaranya digabung semua, kalau tahun lalu cuma acara anak SD, tapi tahun ini digabung semua," ucap Otniel.
"Ahh aku paham," balas Joy.
" Tapi anak anak kemana? kenapa belum muncul juga?" ucap Vasko.
"Dasar kau ini, mereka akan muncul saat pentas mereka tiba, apa kau tak pernah melihatnya?" ejek David.
"Ck.. David jangan mulai, aku sedang tidak ingin berdebat," ketus Vasko.
Mereka menunggu acara dimulai.
20 menit kemudian,
Acara di mulai lebih lama 10 menit dari jadwal yang ditentukan namun hal ini mendatangkan hal baik karena cukup banyak orangtua siswa yang terlambat.
Saat acara akan dimulai, seseorang duduk di kursi di sebelah Otniel tanpa memperhatikan siapa gerangan orang yang ada disampingnya.
Seorang wanita cantik dengan kacamata bulat, rambut bergelombang yang cantik dengan jumpsuit yang sangat cocok untuk tubuhnya yang tinggi dan proporsional.
"Haihh... gara gara orang gila itu aku jadi telat, huffft untung acaranya belum dimulai, bisa diamuk aku kalau sampai terlambat, anak itu tempramen nya benar benar buruk," gumam gadis itu.
Mendengar seseorang di sampingnya menggerutu sejak tadi, sontak membuat Otniel menoleh ke arah orang itu. Betapa terkejutnya Otniel saat melihat seorang gadis yang dia cukup kenali duduk di sampingnya tanpa tau dirinya siapa.
Wanita itu tak lain adalah dokter Chelsea rekan dokter di rumah sakit Ken.
__ADS_1
"Ck... Si Maria kemana sih? Anaknya mau tampil bukannya cepat datang malah nyuruh aku datang kesini, Haihh dasar wanita itu,"
Dia terus saja menggerutu tanpa melihat orang disampingnya. Merapikan barang-barang nya dan mengutak Atik ponselnya.
Chelsea mengeluarkan berbagai benda dari dalam tasnya, entah apa yang dia cari tapi dia tampak kelimpungan. Sungguh ribet dan tidak teratur.
Srak... Srak.. srakk
"Haih... Apa tasnya ini tak pernah dibersihkan? Apa dia sedang membuat tempat sampah otomatis? Dasar si bodoh itu, sudah punya anak tapi masih aja berantakan," gerutunya lagi.
Prukk....
Beberapa barang berjatuhan ke atas lantai lapangan. Dia menghela nafas berat, benar benar merepotkan.
"Ck... Awas kau nanti Mariaa..." Geram gadis itu sambil memunguti benda benda yang berjatuhan itu.
Melihat ada pulpen yang jatuh ke dekat kakinya membuat Otniel mengambil benda itu dan memberikannya pada Chelsea.
Dia tetap diam sampai Chelsea mengetahui siapa yang ada di sampingnya dan mendengar nya menggerutu sejak tadi.
Tangan Otniel terulur memberikan pulpen itu pada Chelsea. melihat hal itu membuat Chelsea menoleh dan menerima pulpen itu.
"Ahh terimakasih tuan," ucapnya sambil membungkuk namun tidak melihat wajah Otniel.
"Sama sama," ucap Otniel dengan nada datar seperti biasa.
"Tunggu dulu apa aku sedang bermimpi? Kenapa aku mendengar suara dokter psiko itu disini? Arhhh apa ini," imamnya pelan masih dalam posisi diam tak bergerak.
Mendengar hal itu membuat Otniel cukup terkejut karena Chelsea menyebut nya sebagai Dokter Psiko, tapi bukan masalah besar baginya sebab dia mendengar hal yang lebih parah dari itu seperti dokter mesum dokter badut, dokter gadungan dan pastinya itu berasal dari Diandra.
"Ekhmmm..."
Otniel sengaja berdeham, membuat Chelsea langsung menoleh. Dan...
Deg... Deg.. deg
Betapa terkejutnya Chelsea saat melihat wajah Otniel duduk di sampingnya sambil menatap datar ke arah panggung tanpa me oleh sedikit pun ke arahnya.
"Eh... Do..dokter, ha... Halo dok,"
Chelsea tetap menyapa meskipun dia benar benar malu saat ini. Ibarat dia sedang membicarakan seseorang tepat di depan wajah orang itu, sungguh memalukan.
"Ternyata selain mudah panik, kau cerewet juga ya," ucap Otniel dengan nada datar.
"Eh... Ma..maaf kalau saya mengganggu anda," ucap Chelsea.
__ADS_1
"Hmm... Untung kau sadar," ucapnya datar.
Chelse terdiam, selalu saja skakmat kalau berbicara dengan dokter itu, tak ada yang bisa kalah melawannha berdebat tetapi tidak untuk lingkungan keluarganya.
Acara pun dimulai, anak anak mulai menampilkan pertunjukan mereka. Ada yang menari ada yang bernyanyi, ada yang berlakon, ada yang melakukan stand upa Komedi dan berbagai acara lainnya.
Acara dimulai dengan anak anak TK, mereka berbari di depan . Dan kali ini adalah giliran kelas Emily dan Jacob anak pasangan Maurer dan Hares.
"Wah ini giliran Emily dan Jacob!" Ucap Otniel dengan antusias.
"Dia penuh dengan energi ya" batin Chelsea seraya melirik ke arah Otniel.
Kelas murid TK A yang ditempati oleh Emily dan Jacob masuk ke dalam panggung. Musik dimainkan dan anak anak mulai menari mengikuti tempo sesuai dengan apa yang mereka latih sebelumnya.
Anak anak itu tampak mengemaskan dalam kostum bunga yang mereka pakai. Emily tampak memakai kostum bunga Mawar membuat wajahnya tampak sangat imut dan Jacob si bocah es super dingin menggunakan kostum bunga matahari yang berlawanan dengan karakternya.
Mereka menari dan bernyanyi bersama sama. Diandra dan Joy tak mau ketinggalan semua momen itu, mereka mengambil foto anak anak mereka sebayak mungkin, sedang Vasko dan David membuat rekaman di ponsel mereka masing-masing.
lain halnya dengan Otniel, dia malah menjadi Cheerleader dadakan, dia berdiri sambil mengayunkan tangannya ke kanan dan ke kiri menikmati tarian anak anak kecil itu.
"Daddy!" seru Emily dari atas panggung saat dia sedang bernyanyi, sontak hal itu membuat semua penonton tertawa melihat tingkah gemas bocah mungil dengan pipi kemerah merahan itu.
"Hahahahah... sempat sempatnya dia menyapaku di saat seperti ini ahhahahaha..." Otniel tertawa lepas.
" Makanya duduk, kau bisa mengganggu penampilan mereka paok!" ketus David sambil menarik Otniel untuk duduk kembali di kursi.
"Hahahah... bukan salahku hahahha..." kekeh Pria itu.
Tak terasa waktu berlalu, sekarang giliran penampilan anak anak dari kelas 3 SD.
"Untuk kelas ini kami mempunyai penampilan khusus yang diminta langsung oleh salah satu anak didik kita yang sangat cerdas, Anak ini meminta penampilan solo di acara pentas seni ini, dia ingin menyampaikan sesuatu pada orang yang dia sayangi,"
Semua tamu menatap ke atas panggung, penasaran dengan penampilan apa yang ingin ditunjukkan.
"Mari kita sambut Edward Park!" seru Pembawa Acara.
"Wohooooo...."
Terdengar Tepuk tangan yang riuh dari seluruh penonton menyambut anak kecil itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉