Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Hahah


__ADS_3

Chelsea berjalan keluar dari ruangannya, dia memijit pelipisnya, Operasi ganda yang menegangkan tadi sukses membuat dirinya kelelahan dan lehernya terasa tegang.


Sembari meregangkan tubuhnya, dokter muda nan cantik itu berjalan keluar dari dalam ruangan dan menyusuri koridor rumah sakit dan berpapasan dengan beberapa dokter dan pasien.


Namun saat dia berjalan, dia mendengar dengan jelas kalau rekan rekan dokternya membicarakan tentang dirinya, meski secara halus.


"Dia terlalu naif, hanya seorang Fellow tahun kedua tapi sudah berani mengambil operasi besar tanpa pimpinan mereka,"


"Aku tidak yakin apa karirnya akan aman setelah kejadian ini?"


"Ya kau benar, belum lagi kejadian di ruangan operasi tadi sudah sampai di seluruh grup komunitas rumah sakit ini,"


"Apa Pak Direktur akan mengambil keputusan untuk keributan yang ditimbulkannya? dia terlalu naif!"


Para dokter dan perawat bergunjing membicarakan Chelsea, gadis itu mendengar namun berusaha untuk sabar dan menahan dirinya agar tidak terbawa amarah yang justru akan merugikan dirinya.


" sabar El, semua akan baik baik saja, mereka hanya iri, kita hadapi bersama!" ucapnya menguatkan dirinya sendiri.


Tekanan mental saat bekerja di rumah sakit jauh lebih besar dari yang dia perkirakan.


Chelsea berjalan santai, menyapa dan berinteraksi dengan orang yang berpapasan dengan dirinya.


Hingga dia tiba di lantai satu rumah sakit itu, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh lokasi, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan pelan.


" Huffft... tenang El, semua akan berjalan dengan saaaaangaaaat baik!!" ucap gadis itu.


Chelsea berjalan dengan santai, namun matanya tak sengaja menangkap pemandangan menggemaskan saat Otniel si mulut pedas sedang memberi makan Edward dan Si kecil Emily.


Kaki gadis itu berhenti dan menatap mereka dari seberang lobi rumah sakit itu. Dia berhenti dan menatap mereka disana, seutas senyuman tergambar jelas di wajah gadis cantik itu.


" Keluarga mereka tetap saja harmonis bahkan sejak pertama kali kami bertemu di toilet waktu itu, tapi apa mereka mengingatku? hmm mungkin saja tidak," gumam Chelsea.


" Dokter Otniel benar benar memiliki sikap yang berbeda pada keluarganya, dia orang yang lembut bahkan terkesan kekanak kanakan," ucapnya lagi.


" El!"


Tiba tiba seseorang memanggil namanya, dia menoleh dan melihat Dokter Richard dari departemen anak menyapa dirinya, teman satu kuliah meski berbeda jurusan.


" Hai dokter Richard," ucap Chelsea menyapa pria itu dengan ramah.


"Hei El, sejak kapan kau jadi seformal itu padaku? dasar kau ini!" ejek Richard sambil mengacak acak rambut Chelsea dengan gemas.

__ADS_1


Hubungan mereka cukup dekat namun hanya sampai sebatas teman dekat dan tak lebih dari itu.


" Kita di rumah sakit, setidaknya aku menunjukkan rasa hormat pada dokter anak ini heheheh..." seloroh Chelsea.


" ya..ya terserah padamu nona manis, apa kau sudah makan siang? kita makan yuk, lapar nih, kudengar kau baru saja melakukan operasi besar bersama dokter psiko itu," cerocos Richard.


Pria tinggi dengan rambut pirang keriting ini adalah seorang pria yang sangat suka berbicara.


" Ya, baru beberapa saat lalu selesai, dan aku sangat lapar saat ini, kita makan yuk!" ajak Chelsea.


" Apa kalian tidak ada pertemuan?" tanya Richard.


"Nanti setelah makan siang, sepertinya kami akan terkena amukan dokter psiko itu," ucap Chelsea sambil bergidik ngeri membayangkan wajah Otniel mengamuk dan memarahi mereka semua.


" Tapi operasinya sukses kan? " Tanya Richard. Keduanya berjalan menuju kantin rumah sakit dimana Otniel, Diandra, David dan kedua bocah kecil itu sedang menikmati makanan mereka.


" Sukses meskipun sedikit menegangkan karena pasien sampai kejang kejang, beruntung Dokter Otniel membantuku, jika tidak, uhh... aku tak tau apa yang akan terjadi," ucap Chelsea.


Dokter Richard mengangguk paham, mereka mengambil makanan mereka dan duduk di meja tak jauh dari posisi Otniel dan keluarganya.


" Jadi dokter... " Richard melirik Otniel.


" Ya dia membantu membuatku sedikit tenang dan lebih konsentrasi, beruntung ada dia," balas Chelsea dengan berbisik.


Richard mengangguk paham, dia melirik Otniel yang tampak begitu bersemangat bersama kedua bocah kecil itu. Tatapan Mata Richard tampak sinis dan tidak suka pada Otniel, entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.


" Dokter seperti itu, apa yang perlu dikagumi cihh..." batinnya.


Sementara itu Otniel dan Kedua bocah kecil bersama Diandra dan David sedang menikmati makan siang mereka sambil sesekali melontarkan berbagai candaan.


" Umm Nak, jam berapa acaranya?" tanya Otniel sambil menyendokkan makanan ke mulut Emily.


" Jam delapan pagi Daddy, semua siswa harus datang bersama orangtuanya, Daddy bisa? Nggak sibuk?" Tanya Bocah kecil yang sudah terlihat jiwa kepemimpinannya itu.


" Daddy bisa sayang, biar nanti Daddy kosongkan jadwal, apa yang nggak buat anak Daddy," ucap Otniel sambil mengusap wajah putra dan tersenyum lembut.


" Wahhh asiikkk, Nanti Abang Edward mau nyanyi di depan kelas, Daddy tonton ya, hehehe...."


" Mau nyanyi apa sayang?"


" Nyanyi... Ummm... Ada deh, rahasia, iya kan Baby Bubu?" Ucap Edward seraya mengedipkan sebelah matanya pada Emily.

__ADS_1


" Ho..oh... Abang Edward udah latihan di sekolah, Emily tadi lihat, keren deh pokoknya!" Celetuk bocah kecil yang kecerdasan nya turun dari kedua orangtuanya.


" wah... Wah... Wah... Asik sekali ya, apa Papa dan Mama gak diajak nih? Masa kalian saja?" Celetuk David.


" Papa emangnya bisa? Nanti kayak tahun lalu sampai maksain diri, nggak baik loh Pa," celetuk Edward kecil.


" he.. em... Nanti Papa malah jadi kecapekan, akhirnya jadi gak bisa kerja, kan Papa juga yang repot," tambah Emily


."Eh.. itu ... Hehehhe Kan Papa usahakan," kekeh David sambil menggaruk garuk tengkuknya, dia selalu saja kalah kalau berdebat dengan anak anak kecil itu.


"Hahahaha... Sayang mereka saja tau kalau kau terlalu berlebihan dalam bekerja, kau ini sih, sampai gak ada waktu buat diri sendiri," ejek Diandra.


" Ya maaf, memang lagi repot sih, tapi Papa janji akan usahakan, terus akhir bulan ini kita jalan jalan," ucap David.


" papa nggak jalan jalan juga nggak apa apa, yang penting Papa bisa tidur nyenyak aja satu malam," ucap Edward.


" Edward benar sayang, kami nggak perlu jalan jalan, kami butuhnya kami itu sehat, otaknya fresh, jauh dari kata stress, percuma kamu kerja banting tulang sampai gak sempat olahraga dan jaga kesehatan kalau toh akhirnya kamu malah jatuh sakit, masalah jalan jalan pikirkan belakangan, sekarang pikirkan dirimu dulu," ucap Diandra sambil menepuk punggung suaminya.


Otniel menatap mereka," Apa yang mereka katakan itu benar Vid, kau tidak harus memaksakan dirimu, kalau terjadi apa apa padamu bagaimana dengan mereka nanti," ucap Otniel.


"Kalau terjadi apa apa sih, aku yang enak, jadi janda kaya, hahhaha..." Celetuk Diandra.


" ihh.. sayang kok gitu sih?" Gerutu David.


" Hahahah... makanya kamu jaga kesehatan, jaga diri kamu, dasar, udah bapak bapak harus diingatkan terus buat makan yang bener," ejek Diandra.


"hishhh... aku mah gak apa sayang, yang penting kamu bahagia," ucap David.


" Ck... mulai lagi deh bucinnya, dasar somplak!" ejek Otniel.


" Iri? bilang kawan hahahahhaha...." David tertawa terbahak-bahak mengejek Otniel begitu juga dengan Diandra.


Tiba tiba....


Ponsel Otniel berbunyi,


.


.


Like, vote dan komen 😊

__ADS_1


__ADS_2