Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Anakku....


__ADS_3

Sementara itu David masih menemani istrinya di dampingi Vasko dan Otniel.


"Huweek... Uhukk... Uhukk..." Diandra masih saja mual mual, David benar benar tidak tega melihat istrinya seperti itu.


"Niel apa tak ada yang bisa kita lakukan?" Tanya Vasko pada Otniel.


"Huh.... Tak ada bro, memang gejala kehamilan seperti ini, " ucap Otniel.


"Huh... Aku akan mencari obat mual untuk Diandra, kota obatku tertinggal di kamar, aku tak ingat membawanya," ucap Otniel.


David menepuk punggung istrinya dengan lembut, membasuh wajah Dian dan memijit kepalanya.


"Sudah baikan?" Tanya David dan di jawab anggukan kepala dan sebuah senyum kecil di bibir mungil itu.


"Hmm.... Ayo sayang, apa kau mau istirahat dulu? " Tanya David.


"Sudah tidak apa apa," ucap Diandra.


"Dian apa kau masalah dengan bau minyak kayu putih?" Tanya Otniel.


"Tidak kak," jawabnya pelan.


"Nih Vid, oleskan ke punggung dan perutnya, itu akan membuatnya sedikit tenang," ucap Otniel memberikan minyak kayu yang selalu dia sediakan dalam kantongnya.


"Terimakasih, " ucap David.


Pria itu membawa istrinya menuju kamarnya di lantai dua, sedangkan Otniel dan Vasko bergabung dengan yang lain.


Sekali lagi, Otniel bersitatap dengan Luna, jantungnya kembali berdetak kencang begitu juga dengan Luna, kali ini bukan cuma Luna tapi Gama juga demikian.


Christan dan Christo menatap orangtua mereka, mereka tau ada sesuatu melalui tatapan mata Luna dan Gama.


"Kak kenalkan diri kalian," ucap Joy.


"Halo Om, Tante, Semuanya Saya Vasko Hares,"ucap Vasko memperkenalkan dirinya.


"Halo Om, Tante saya Otniel dokternya Diandra, salam kenal" ucap Otniel sambil tersenyum lembut ke arah mereka.


Deghh...


Jantung Luna benar benar berdegup kencang, "anakku..." Ucap wanita itu, dia spontan berdiri dan memeluk Otniel, bahkan air matanya sampai menetes, mereka semua terkejut melihat Luna tiba tiba memeluk Otniel sambil menangis.


Sama halnya dengan Otniel, dia benar benar terkejut, jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya begitu kencang, dia terbujur kaku, ada rasa hangat yang dirindukannya dari pelukan Luna, tanpa dia sadari matanya juga berkaca kaca.

__ADS_1


"Ma...maaf," lirih Luna sambil melepas pelukannya, Gama langsung menghampiri istrinya begitu juga dengan si kembar.


"I...iya tak apa Tante," ucap Niel sama gugupnya.


"Maaf Otniel, Mama pasti merindukan mendiang adik kami," ucap Christan sambil mengusap punggung Mama Park yang dipeluk dengan erat oleh Gama.


"Tak apa kak, saya turut sedih, " ucap Otniel.


Gama membawa istrinya kembali duduk, Mereka semua juga turut sedih dengan Luna, saat dia kehilangan anaknya, Luna sama sekali tidak bisa bangkit, dia benar benar hancur waktu itu.


"Na.... Sudah jangan bersedih," ucap Rose sambil menepuk paha wanita itu.


"Maaf semuanya, ahh... Aku hanya teringat dengan putra ku, maaf Otniel Tante gak bermaksud membuat kamu merasa tidak nyaman, sekali lagi maaf," ucap Luna sambil mengusap wajahnya.


"Iya nggak apa apa kok Tan," jawab Otniel sambil tersenyum lembut.


"Joy bisa temani aku? Kita cari obat untuk Diandra, dia terlalu lemah," Ucap Otniel.


"Baiklah, " ucap Joy.


"Bagaimana keadaannya nak" tanya Vanya.


"Dia baik Tan, hanya saja terlalu lemah untuk saat ini, dia tidak boleh merasa tertekan, dia benar benar sensitif, mual dan muntahnya juga semakin parah, oleh karena itu kami ingin mencari obat untuk Diandra," jelas Otniel.


"Kami saja yang menemanimu, Joy kau istirahat saja, atau temani rekan kalian," ucap Christan.


"Ahh baiklah, kak Niel pergi bersama kakak kembar saja ya, mereka lebih tau " ucap Joy yang di balas anggukan kepala oleh Otniel.


Otniel dan si kembar C beranjak untuk membeli obat Diandra, Otniel belum paham jalan di Ibu Kota sehingga dia butuh teman yang paham jalan disana.


Setelah kepergian mereka, Semua keluarga besar kini menatap Joy membuat gadis itu merinding sendiri, dia tau kalau ini saatnya menjelaskan alasan mengapa Diandra pindah.


"Jelaskan semuanya Joy, " ucap Mark dengan nada tegas seperti biasanya.


"Jadi sebenarnya......"


Joy menjelaskan semua kejadian di Jerman dibantu oleh Vasko dan Joel.


Seluruh keluarga benar benar terkejut saat mendengar kalau Diandra terancam bahaya bahkan nyawanya menjadi taruhannya.


Pantas saja David pindah secara terburu buru.


Meski mereka membahas tentang kejadian itu, Luna masih kepikiran dengan Otniel dan putranya yang telah meninggal, hal ini membuatnya tidak fokus.

__ADS_1


Kiel dan Karina mengusap punggung Luna yang duduk diantara mereka, mereka tau Mama Luna mereka itu menghadapi banyak cobaan.


Sementara mereka membahas kejadian yang menimpa Diandra, di negara Jepang Nyonya Alena tengah melacak keberadaan putrinya yang tiba tiba tak ada kabar, bahkan Sean pun tak tau dimana Vasko dan Diandra, sebab mereka pergi tanpa sepengetahuan siapa pun.


“Ma apa kakak sudah ketemu? Kak Sean juga gak ada informai tentang kemana kak Vasko,” ucap Reva sambil berjalan membawakan teh untuk Mamanya.


“belum sayang, tiba tiba semua jaringan yang terhubung ke rumah mereka terputus, sepertinya ada yang dengan sengaja memblokir informasi tentang mereka, Mama jadi khawatir dengan keadaan kakakmu,” ucap nyonya Alena.


“Tenang Ma, kakak ipar dan Kak Vasko ada disana, Reva yakin kalau mereka akan baik baik saja, jangan khawatir,” ucap Reva sambil memeluk Mamanya dari belakang.


“Hmmm.... tapi Mama benar benar khawatir Va, ahhh Mama benar benar tidak bisa tenang kalau seperti ini,” ucap nyonya Alena.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Reva yang juga sama khawatirnya dengan sang Mama.


“Sepertinya kita harus meminta bantuan teman mama,” ucap Nyonya Alena sambil menatap layar komputernya.


“Maksud mama nyonya Park?” tanya Reva yang di balas anggukan kepala oleh Alena.


“kalau begitu kita hubungi saja Ma,” ucap Reva.


Nyonya Alena menggelengkan kepalanya,”kita harus ke Indonesia segera sayang, Dia sudah terlalu banyak membantu kita, tak enak kalau Mama meminta dari sini,” ucap Nyonya Alena.


“Tapi kaki Mama masih sering sakit, Reva gak mau mama kenapa kenapa,” ucap gadis itu yang keberatan dengan keputusan Mamanya.


“Mama baik baik saja sayang, kita harus segera menemui teman mama,” ucap Nyonya Alena.


“huh tapi Ma, kaki Mama loh, Reva gak Mau Mama kesakitan terus ahh,” ucap Reva yang benar benar menolak usulan Mamanya.


“Reva gak mau mama kenapa kenapa, Mama terlalu banyak ngorbanin diri Mama hiks hiks hiks, selama ini Reva coba mengerti, sampai Mama juga ngorbanin kaki Mama untuk Kak Vasko, ngorbanin dir Mama lagi untuk Kak Diandra, semua yang Mama lakukan hanya untuk mereka ahhh…” Reva menangis, dia berusaha sabar dan mengerti kalau Mamanya ingin melindungi Vasko dan Diandra namun tidak sampai mengorbankan keselamatan mamanya sendiri.


“Reva Mama…”


“Mama juga mikirin Reva dong, hiks hiks hiks, apa belum cukup selama ini Reva juga ngikutin kak Dian, Mam juga sampai mendekati mereka seperti itu, Reva…. Gak mau Mama kenapa kenapa, tapi apa? Mama Cuma peduli sam mereka hiks hiks hiks,” Reva menangis sambil terduduk di atas lantai, hatinya benar benar kecewa.


“Kalau kamu gak mau, biar mama sendiri yang pergi !!” ucap Nyonya Alena bersikukuh dengan keputusannya.


.


.


.


like, vote dan komen 😊😉😊

__ADS_1


__ADS_2