
Di rumah dimana Diandra dan yang lainnya tinggal bersama, kini terjadi kekacauan besar, 6 anak buah Joel dan 4 anak buah Vasko yang lain tergeletak tak sadarkan diri di posisi mereka masing masing.
Saat Vasko, Otniel dan Joel tiba, seluruh anak buah mereka sudah dilumpuhkan dan tidak berkutik sama sekali, terlihat tanda perlawanan apalagi saat melihat bekas luka di wajah dan tubuh anak buah mereka.
Sepertinya beberapa saat lalu saat Diandra pingsan sekelompok orang masuk ke rumah itu setelah memastikan kalau Diandra benar benar sendirian di dalam rumah itu.
Joel dan Vasko meneliti tubuh anak buah mereka yang tidak bergerak itu, Otniel juga ikut andil memeriksa tubuh anak buah yang tergeletak di sekitar rumah itu. Hanya saja mereka belum mati tetapi seolah mati dan ada yang aneh mereka terbujur kaku.
“Vasko, Joel,” pekik Otniel yang memeriksa di bagian belakang rumah.
Mendengar suara teriakan Otniel, Vasko dan Joel segera berlari menuju tempat dimana Otniel berada. Dokter itu berdiri di depan tubuh salah seorang anak buah mereka dan mengangkat sebuah jarum suntik berisi cairan suntik.
“Ini lihat ini, mereka menyuntikkan obat tidur tapi aku tak tau jenis apa ini,” ucap Otniel meneliti.
“obat tidur?” ucap vasko dan Joel.
Vasko memeriksa suntik itu, lama dia memperhatikan isi suntik itu, seketika matanya terbelalak dia teringat dengan jenis cairan itu, cairan yang sama yang hampir membunuhnya satu tahun lalu.
“Ini bukan obat tidur, ini racun,” ucap Vasko yang membuat Otniel dan Joel terbelalak sekaligus panik.
“Ra...racun? bagaimana bisa siapa yang melakukan hal sekeji ini?” ucap Otniel.
“Aku tau jelas siapa yang berani bermain main dengan kita, mereka kelompok Tiger, si bangsat itu sudah ku peringatkan tetapi dia menggali kuburannya sendiri,” ucap Vasko dengan tatapan mata super dinginnya itu, dia mengeraskan rahangnya, dia tak menyangka kalau hal ini akan segera terjadi padahal dia belum mengungkapkan identitas Diandra yang sebenarnya.
“Sepertinya mereka memiliki motif lain, Joel segera selamatkan anak buah kita, racun ini akan bekerja dalam 24 jam, Otniel kau harus segera menyiapkan ruangan dan penetral racun M103, yang selalu dipakai oleh David, hanya itu penawar benda ini, aku akan mengerahkan anak buahku mencari keberadaan Diandra,” ucap Vasko yang langsung bergerak cepat untuk menyelamatkan adiknya.
“Jika sampai adikku terluka seujung jari pun maka habis riwayat kalian,” geram Vasko.
Otniel dan Joel langsung melakukan tugas mereka, sedangkan Vasko segera melacak keberadaan Diandra melalui alat pelacak di jam tangan yang selalu di pakai wanita itu.
Otniel berjalan menuju ruang santai, dia melihat ponsel diandra disana, matanya terbelalak saat melihat bercak darah di atas sofa yang terlihat sangat jelas karena warna sofa itu putih.
__ADS_1
“Da... darah.... Vasko, Joel darah.... ada darah...” teriak Otniel yang membuat Vasko dan Joel beranjak menuju tempat itu.
“Apa sebenarnya yang terjadi dengan Diandra? Kenapa sampai seperti ini arhhkkkk aku tidak becus menjaganya, aku membuatnya berada dalam bahaya... “ ucap Joel frustasi, dia merem4s rambutnya sendiri, benar benar menyesal telah meninggalkan Diandra sendirian di rumah.
“Sialan....” umpat Vasko.
Mereka semua kini panik, Joel sudah menghubungi David kalau Diandra tidak di rumah, mereka semua panik dan tak bisa berpikir jernih disaat seperti ini.
Tiba tiba ponsel Vasko berbunyi,
Drrtt.... Drrttt.... Drrt....
Vasko menjawab panggilan itu, “Ada apa?” suara pria itu terdengar menyeramkan dan raut wajahnya benar benar mengerikan saat ini.
“Nona Diandra sedang di rumah sakit Pierce tuan, segera datang ke sini, nona mencari kalian, akan saya jelaskan kejadian sebenarnya,” ucap seseorang di balik sana yang ternyata adalah Sean tangan kanan Vasko.
Sean kembali ke Eropa empat hari lalu setelah beberapa minggu menemani Reva di Jepang dan mengunjungi keluarga kecilnya di Australia.
“Baik,” ucap Vasko dengan tegas.
Otniel dan Joel menatap penasaran pada Vasko, tampak wajah Vasko sudah lebih tenang dan menandakan kalau ada kabar baik mengenai keberadaan Diandra.
“Ada apa?” tanya Joel, pria itu benar benar merasa bersalah karena telah membiarkan Diandra sendirian di rumah dan dengan yakin kalau tidak akan ada yang mengganggu wanita itu.
“Diandra di rumah sakit,” ucap Vasko.
Degh...
Jantung Joel bagai di hujam batu yang sangat besar, rasa bersalah semakin besar mendengar kalau diandra kini berada di dalam rumah sakit, apalagi melihat bercak darah di atas sofa membuat pria itu benar benar panik.
Sama halnya dengan Joel, Otniel juga khawatir dengan kondisi Diandra saat ini.
__ADS_1
“Ma.. maafkan aku.., aku tidak becus, aku bahkan tak bisa melindungi Diandra, akhhh maaf... maafkan aku,” ucap Joel dengan wajah penyesalan, pria itu duduk di atas lantai dengan wajah lesu, bagaimana hal ini bisa terjadi.
Vasko memegang bahu pria itu, Vasko tau kalau Joel berusaha keras untuk melindungi mereka semua, bahkan meski Vasko memiliki Anak buah yang juga sama kuatnya dengan bawahan Joel, dia tetap mengirimkan anak buah untuk mengikuti Vasko jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Kegagalan kali ini benar benar membuat Joel merasa tidak berguna, dia merasa kalau dirinya benar benar lemah dan tak bisa melindungi sahabat sahabatnya, bahkan dia sampai lengah hingga Diandra menjadi korban.
“Sudahlah ini bukan salahmu, kita memang akan menghadapi hal seperti ini apalagi ada Diandra diantara kita, ayo cepat kita harus ke rumah sakit, Dian mencari kita, dia pasti butuh kakak kakaknya,” ucap Vasko memberi semangat pada Joel dan Otniel.
“Ya kau benar, ayo kita kesana, Diandra butuh kita, ayo pastikan kalau Dian tak akan pernah mengalami hal seperti ini lagi,” ucap Otniel dengan percaya diri, dia juga memegang bahu Joel.
Joel menatap mereka berdua, dia benar benar merasa bersalah, entah apa yang akan dia katakan pada David nanti.
Mereka berangkat menuju Pierce Hospital dimana Diandra dirawat saat ini. Otniel menghubungi David mengenai keberadaan Diandra saat ini dan memintanya segera datang ke rumah sakit itu.
Dengan kecepatan tinggi mereka melaju menuju rumah sakit yang dimaksud.
Sama halnya dengan ketiga pria itu, David langsung menuju rumah sakit dimana istrinya saat ini berada, rasa takutnya benar benar sudah pada level paling tinggi, dia benar benar khawatir dengan keadaan Diandra saat ini.
Sementara itu di dalam rumah sakit, Diandra tengah di periksa oleh pihak medis, wanita itu menangis histeris saat pihak medis menyampaikan sesuatu mengenai dirinya, air matanya tumpah membasahi pipinya bahkan sampai membuat pakaiannya ikut basah.
Berita mengejutkan yang membuat dirinya mengalami sakit perut yang sangat parah bahkan sampai mengalami pendarahan.
“Kakak.... hiks hiks hiks..... huaaa..... hiks hiks hiks.... “ Diandra menangis sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri, dia sudah bangun sejak di bawa ke rumah sakit, tangisan wanita itu membuat panik seluruh pihak medis apalagi melihat wajah Sean yang sudah siap menerkam mereka saat mendengar tangisan Diandra dari dalam Ruangan.
.
.
.
Like, Vote dan komen, kita lanjut besok hahahaha.
__ADS_1