Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
tegang...


__ADS_3

Ruangan Presentasi ,


Kembali ke masa saat ini, orang yang bersangkutan sudah berdiri di atas panggung presentasi. David menatap istrinya yang tiba tiba bertingkah aneh dan over aktif tidak seperti biasanya.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada Diandra? Kenapa istriku tiba tiba aneh seperti ini? Belum lagi dia sangat aneh akhir akhir ini, benar benar mencurigakan,” batin David sambil menatap curiga pada istrinya.


“Diandra, apa kau melakukan sesuatu pada mereka? Kenapa mereka semua babak belur begitu?” tanya Otniel dengan cara berbisik pada Diandra.


“Heheheh... tenang saja, hanya memberi mereka sedikit pelajaran kak, terutama si Aris itu hahahah, pokoknya Chelsea tidak akan bisa menolak lagi, aku menyelamatkan dunia perbucinanmu dari ambang krisis berakhir sebelum berlayar kak hahahahah...” Diandra tertawa cekikikan menatap mereka semua.


“Astaga David, kau beri makan apa Diandra sampai dia jadi seperti ini?” bisik varrel.


“entahlah, dia benar benar aneh, aku saja sampai dibuat heran oleh oleh istriku sendiri,” ucap David.


“sudahlah nanti kita bahas, sekarang lanjutkan rapatnya aku sudah tidak sabar melihat ekspresi kakak ipar itu hahahahahhah...” Diandra tampak sangat bersemangat dia benar benar berbeda dari biasanya, bisa bisanya dia bersemangat di situasi seperti ini.


“Kau benar benar aneh Diandra,” ucap Jessica.


“Hmmm? Apa iya? Hehhe nanti saja ku jelaskan,” ucap Diandra sambil menggandeng lengan jessica.


Chelsea, Jerry, Andre dan Friska yang berada di ujung masih tetap berdiri karena mereka menyadari kehadiran direktur dan wakil direktur rumah sakit, mereka membungkuk memberi hormat pada mereka semua dan hal itu ditangkap oleh Varrel dan Jessika.


“Dari semua petugas medis disini, hanya mereka yang memiliki tata krama,” bisik Varrel pada istrinya.


“Benar kak, sepertinya kita perlu meringkas pegawai lagi, ini akan jadi yang ketiga kalinya, perombakan besar besaran,” ucap Jessika.


“Apa itu tidak terlau berlebihan?” bisik Vasko.


“Tentu tidak, mereka pantas mendapatkan itu,” tukas Varrel.


Mereka semua duduk di posisi mereka di depan para dokter yang menjadi kandidat. Semuanya memasang wajah serius, terutama Aris yang langsung menyambut Otniel meski tubuhnya bendol bendol dia masih percaya diri menghadapi Otniel, dia tentu tidak akan melewatkan kesempatan sebesar ini untuk membuat namanya bersinar karena berhasil mengoperasi Otniel yang terkenal dengan kehebatannya.


“Dokter Otniel, senang melihat Anda bergabung disini, apakah anda baik baik saja?” ucap Aris seraya berdiri dengan angkuhnya dengan kulitnya yang bendol bendol itu.


Dokter dokter lain menatap sinis ke arah Aris, ada juga beberapa yang senang ketika Aris menyambut Otniel karena mereka satu tim denagn pria itu. Mereka semua sudah duduk namun keempat junior di barisan belakang masih mengingat tata krama rumah sakit, mereka tidak akan duduk sebelum dipersilahkan duduk oleh atasan mereka.

__ADS_1


“Aku baik baik saja, seperti yang kau lihat tanganku gemetaran padahal aku tidak sedang dalam ketakutan, dan aku lebih mengkhawatirkan dirimu dokter Aris, apa kau baik baik saja? Ada apa denagn penampilan itu? Kudengar ada kejadian besar beberapa hari lalu,” ucap Otniel dengan sinis.


Aris terkejut, dia tak mungkin mengatakan pada Otniel kalau dia dituduh sebagai seorang pria mesum yang melecehkan kekasih orang lain, bisa hancur citranya di depan dokter dan direktur rumah sakit itu.


“Ahhh ini hanya kejadian kecil dokter, ahhh pak Direktur dan ibu wakil direktur, maaf terlambat menyapa kalian, senang bertemu dengan anda sekalian,” ucap Aris dalam mode mencari muka di depan pejabat tinggi rumah sakit itu, padahal sejak tadi Varrel dan Jessika disana namun dia terlebih dahulu menyapa Otniel.


Begitu Aris mengatakan hal itu, para dokter lain ikut berdiri dan membungkuk pada Varrel dan Jessika selaku direktur dan wakil direktur rumah sakit itu.


Mereka masih dalam posisi berdiri menunggu tanggapan dari Varrel dan jessika, mereka berdua menatap datar ke arah bawahan mereka yang tak punya tata kram itu, padahal mereka sudah melihat beberapa kali terjadi perampingan karyawan hanya karena masalah attitude dan mereka masih belum belajar juga.


Otniel paham dengan situasinya, dia tau Varrel dan Jessika dalam mode marah saat ini.


“Apa yang harus kami lakukan pada orang orang ini,” gumam Varrel yang masih bisa di dengar oleh yang lainnya.


“Kerjai saja kak, hihihi..” bisik Diandra yang membuat mereka semua menoleh pada si Mama Gorilla itu.


“Astaga Diandra, ada apa denagnmu?” tanya Vasko yang malah khawatir dengan adiknya.


“aku baik baik saja heheh..” kekeh wanita itu dengan senyuman manis yang membuat siapa saja gemas padanya.


Varrel menatap tajam ke arah seluruh dokter yang menatapnya menunggu reaksi dari pria itu.


“Silahkan duduk,” ucap Varrel.


Mereka hampir melandaskan bokong mereka di atas kursi masing masing namun tiba tiba ucapan Varrel membuat mereka kembali berdiri tegak.


“Silahkan duduk kalau kau mau mati di tanganku hari ini,” tukas Varrel.


Brukkk... brakkk...


Beberapa orang terjatuh dari posisinya karena pendaratan yang gagal dan malah salah arah. Mereka terdiam dan seketika itu suasana menjadi tegang, sepertinya suasana ini bukan suasana untuk menentukan siapa yang akan menjadi dokter untuk mengoperasi Otrniel tetapi waktu untuk menghukum para senior yang harus belajar tata krama lagi.


“Keempat junior di belakang, kalian duduk saja, “ ucap Jessika.


Keempatnya tampak ragu, mereka saling menatap, mereka takut melakukan kesalahan.

__ADS_1


“jerry, suruh rekanmu duduk,” ucap Otniel.


“ba.. baik dok, terimakasih Pak Varrel, Ibu Jessika,” ucap Jerry sambil membungkuk diikuti Andre, Friska dan Chelsea.


Varrel dan jessika tersenyum dengan tata krama keempat junior itu, “calon pemimpin,” bisik Jessika pada suaminya.


“kau benar sayang, mereka yang pantas,” ucap varrel.


Dokter dokter senior terlihat diam dan kaku, mereka menggenggam tangan mereka sendiri karena suasnanya mengatakan kalau baru saja mereka telah melakukan kesalahan besar yang membuat pimpinan rumah sakit itu marah besar .


“Sial, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku merasa seperti sedang dihakimi,” batin merka.


Varrel menatap para senior di rumah sakit itu,” kalian tidak pantas menjadi dokter rumah sakit ini, mulai besok serahkan pengunduran diri kalian, kami akan merekrut karyawan baru yang lebih kompetitif dan memiliki tata krama, lagi pula kalian semua sudah berada dalam daftar hitamku,” ucap Varrel sambil melemparkan sebuah dokumen yang dia kumpulkan selama setahun terakhir mengenai kinerja para senior disana.


Ternyata daftar itu sama persis dengan daftar milik Diadnra dan dua kurcaci super jahil itu, Diadra mendapatkan informasi dengan meretas sistem komputer milik Varrel tentu saja daftarnya sama, hanya beberapa nama saja yang tidak ada dalam daftar iru.


“hahahha... rasakan kaian, kena PHK kan? Makanya jangan main main,” kekeh Diandra yang tertawa puas karena rencananya sukses besar bahkan lebih dari yang dia dan anak anak harapkan.


“Ta... tapi kenap dok? Bukannya selama ini kami menghasilkan uang untuk rumah sakit ini? Bukannya kami...


“Diam...” pekik Jessika yang kini naik pitam, semua orang di rumah sakit itu tau kalau jessika adalah wakil direktur yang sangat tempramental, bahkan dia lebih garang dari Varrel yang justru cenderung dingin, satu paket yang lengkap.


Semuanya terdiam, mulut mereka terkunci rapat, tak ada yang berani berkutik.


“menghasilkan uang apa? Nama rumah sakit ini kalian pertaruhkan dengan menolak pasien pasien berisiko besar , sepanjang tahun ini, tak ada satupun dari kalian yang menangani pasien dengan risiko tinggi, dan yang paling memalukan, junior yang kalian usir dari bagian bedah syaraf justru memiliki catatan memuaskan ,” ucap Jessica.


Mereka tak bisa berkutik lagi, memang benar kata jessikca, kalau mereka menolak pasien yang memiliki risiko tinggi dan mengalihkan mereka ke departemen lain, terkadang Chelsea malah mengambil alih operasi karena tak ada satupun dari mereka yang mau.


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2