Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Edward dan Emily


__ADS_3

Chelsea benar benar dibuat kelimpungan oleh kedua anak kecil yang ternyata benar benar cerewet jika sudah kenal lebih dekat dengan mereka berdua.


Beberapa saat lalu karena tau Chelsea adalah dokter yang biasa menangani bagian saraf sesuai dengan penjelasan Chelsea, kedua bocah itu memaksa Chelsea untuk segera mengobati Daddy mereka yang sedang sakit.


Alias memaksa Chelsea untuk mengobati Otniel dan menjadi dokter yang merawat Otniel sampai pria itu benar benar sembuh.


Chelsea menjelaskan kalau tak mungkin dia mengoperasi seorang dokter senior yang kemampuannya melebihi siapa pun. Tentu saja hal itu membuat Chelsea gugup, dia takut kalau dia akan melakukan kesalahan saat operasi, dan bagaimana kalau operasinya gagal dan malah akan menghancurkan karir si dokter jenius itu.


Namun seolah tak peduli, kedua bocah itu malah merengek meminta Chelse untuk menjadi dokter yang merawat Otniel, lucu memang, anak anak super dingin dan datar itu justru memaksa orang yang belum mereka kenal jelas untuk merawat Daddy Otniel mereka.


"Anak anak, Aunty gak bisa loh, kemampuan aunty jauh dibawah, aunty takut melakukan kesalahan, lagian ada kepala departemen Aunty yang lebih hebat dari aunty, dan keputusan itu juga ada di tangan Daddy kalian," jelas Chelsea masih dengan nada yang lembut seperti sejak dia berbicara dengan kedua anak menggemaskan itu.


"Nggak mau aunty, kami gak mau yang lain, pokoknya harus aunty!!!" teriak Emily.


"Aunty harus mau, gak ada penolakan!" ucap Edward dengan sangat tegas, dia masih bocah tetapi aura dinginnya sudah terlihat, bahkan sangat menyeramkan.


"Ada apa ini sayang? kenapa kalian teriak teriak?" tegur Joy yang datang menghampiri mereka bertiga karena melihat Chelsea benar benar kelimpungan menghadapi kedua bocah super tengil itu.


"Aunty Joy!!" ucap mereka berdua sambil berdiri dan menghampiri wanita itu.


"Ahh halo nyonya," sapa Chelse sambil berdiri dan membungkuk ramah yang dibalas dengan cara yang sama oleh Joy.


"Ada apa?" tanya Joy lagi pada kedua bocah itu.


" Emmm Aunty Joy, kami pengen Dokter Chelsea yang mengobati Daddy," bisik Edward.


Joy terkejut mende ucapan bocah kecil itu, bahkan Emily juga turut serta mengangguk setuju dengan bisikan Edward padahal Edward cuma berbisik.


Joy menatap Chelsea yang tampak bingung," nona ini dokter ya?" tanya Joy dengan lembut.


"Ahh benar nyonya, saya dokter di rumah sakit ini," jawab Chelsea.


"Ahhh pantes mereka berdua meminta hal itu," ucap Joy sambil mengangguk paham.


"Ahh maaf atas hal itu nyonya, saya tak bermaksud lain, tapi mereka terus saja mengatakan hal tersebut, saya mana berani ," jawab Chelsea dengan jujur.


Joy paham, " Maaf atas ketidaknyamanannya dok, tapi anak anak ini sedikit spesial, bahkan saat kami melihat mere berdua dekat dengan nona dokter saja sudah membuat kami terkejut, " jelas Joy.

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana nyonya?" tanya Chelsea.


"Mereka berdua mirip orangtua mereka, suatu saat kau akan mengerti nona, " bisik Joy.


"Ahh baiklah," ucap Chelsea.


"Jadi bagaimana anak anak, Aunty dokternya bilang kan gak bisa, apa kalian akan memaksa?" tanya Joy.


Kedua bocah itu saling menatap dan mengerucutkan bibir mereka dengan wajah kecewa.


"Emm... anak anak, masih ada dokter yang lebih berbakat di departemen bedah saraf, nanti Dokter akan tunjukkan siapa saja mereka, kalian bisa memilih mereka," ucap Chelsea dengan lembut memberikan penjelasan pada kedua bocah itu.


Edward terdiam, dia sepertinya sedang mengolah sesuatu di otak licik dan jenius nya itu. Saat Edward diam, Emily juga turut diam dan seraya berpikir.


"Mereka berdua memang benar benar sepaket, parah ini bena benar hal langka," batin Joy.


"Lain lagi dengan putraku yang super dingin disana, haih, aku yang capek mengandung, tau tau ya yang kulahirkan fotokopi Bapaknya, astaga," batin Joy.


"Apa dokter Chelsea benar benar nggak mau?" tanya Edward yang masih berharap akan mendengarkan jawaban setuju dari gadis itu.


Chelsea kembali terdiam, sejenak dia berpikir untuk memberikan jawaban yang tepat untuk anak anak itu.


"Dokter yang menangani Daddy kalian bukan sembarang dokter, aunty hanya dokter junior disini dan masih ada senior senior lain yang mempunyai banyak pengalaman dalam bidang ini, dalam rumah sakit masih ada konsep seperti itu, bahkan aunty sendiri udah dikeluarin dari tim karena melawan kepala bidang, Aunty gak mau kalau harus dikeluarkan dari rumah sakit ini, jadi masalah itu akan diserahkan pada kepala departemen yang bertanggung jawab untuk bagian itu," jelas Chelsea.


"Dan lagi pula, Daddy kalian pasti tidak ingin di operasi oleh dokter seperti aunty, kami sedikit mengalami masalah di ruang operasi, aunty mengacau operasi yang kami lakukan beber waktu lalu," tambah Aunty.


Edward mengangguk paham begitu pun dengan Emily," Hmmm baiklah kalau aunty nggak mau, kami pergi dulu bye aunty dokter!" ucap Edward yang langsung menggandeng tangan Emily dan meninggalkan Chelsea tanpa menoleh sedikitpun.


"Maaf ya atas sikap mereka, sudah kubilang kan mereka agak unik?" ucap Joy yang merasa tak enak pada Chelsea.


"Ahh tak apa nyonya, namanya juga anak anak, saya harap mereka menemukan dokter lain yang lebih baik,"ucap Chelsea.


"hmmm... kuharap begitu," ucap Joy.


Joy kembali bergabung dengan yang lainnya.


Chelsea merasa aneh dengan dirinya saat Edward menunjukkan sisi dinginnya.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa seperti ditolak saat menyatakan cinta pada seseorang ya, rasanya sedikit sesak padahal aku yang menolak tawaran mereka," gumam Chelsea sambil memegang dadanya sambil menatap kedua bocah yang kini berjalan bersama pengawal dan juga Varrel yang mereka ajak tadi, entah mau pergi kemana.


"Haihh sudahlah, pikirkan karirmu Chelsea, kau sudah dikeluarkan dari tim, apa yang harus kau lakukan sekarang," gumam gadis itu.


Sementara itu kedua anak tadi pergi bersama Varrel dan masuk ke dalam ruangan kerja pria itu.


"Sekarang katakan pada paman, ada apa sampai kalian berdua mengajak paman kesini?" tanya Varrel sambil menatap mereka berdua yang duduk di atas sofa.


"Paman boleh tunjukkan daftar karyawan yang satu kantor dengan aunty dokter tadi?" tanya Edward.


"hmm? Dokter Chelsea?" tanya Varrel.


"Iya paman, kami mau memilih siapa yang paling tepat untuk mengoperasi Daddy, karena Aunty tadi menolak," jelas Edward.


Varrel mengangguk paham, "Jadi kalian akan memilih siapa yang merawat Daddy Niel?" ucap Varrel.


"iya paman," jawab mereka berdua.


Varrel tersenyum, dia mengambil daftar karyawan kantor serta orang orang dalam bidang itu.


"ini daftar dokter dan semua tenaga medis yang ada di departemen bedah syaraf, kalian bisa melihat wajahnya di buku ini," ucap Varrel sambil memberikan buku besar berwarna hitam pada Edward.


"Emmm... apa ini sudah berurutan dari seniornya paman?" tanya Edward.


"Sudah itu diurutkan dari kepala departemen dan kepala tim masing masing kelompok, " ucap Varrel sambil menunjukkan daftarnya.


"Baiklah, terimakasih paman, kami pinjam sebentar ya," ucap Edward.


Varrel mengangguk, kedua bocah itu sibuk membaca dan memilih beberapa nama di dalam buku besar itu. Emily sendiri sudah tau membaca meski usianya baru lima tahun, dia anak yang jenius.


"Apa yang akan mereka berdua lakukan setelah ditolak pertama kali oleh orang lain?" batin Varrel sambil terus menatap kedua anak yang tampak serius itu.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2