
Monika berbalik saat mendengar suara itu, suara sepupunya yang pergi dari rumah.
"Chelsea? Ahh kebetulan kau disini, kau harus pulang!" Ucapnya.
Chelsea yang menggendong anak temannya yang sedang terlelap sedikit kesulitan untuk membantu Edward, dia tak tega melihat anak itu diejek.
"Mom El!" Teriak Emily sambil menghampiri Chelsea, Edward hanya diam sambil menunduk sedih.
"Mom El? Hahahah apa ini? Drama apa lagi yang kau ciptakan Chelsea hhahaha..." Monika terkejut saat Emily memanggilnya dengan panggilan Mom.
"Ck tak usah memutar pembicaraan, kenapa kau berkata kasar seperti itu pada seorang anak, bukannya kau seorang guru? " Tukas Chelsea yang tidak suka dengan sikap kasar Monika.
"apa yang kukatakan itu benar, kau tak usah ikut campur sebelum kusuruh paman menyeret mu keluar dari kota ini Chelsea, kau tau kan, aku punya kekuasaan seperti itu," Ucap Monika dengan senyuman licik.
Chelsea hanya bisa diam, Monika adalah orang kepercayaan kedua orangtuanya, bahkan mereka lebih percaya pada Monika dibandingkan dengan Chelsea anak kandung mereka sendiri.
"Miss kepala Coki sakit huaaa.. coki gak mau sama anak pungut itu, kita pergi saja!" Rengek bocah itu.
"Sakit ya? ck..ini semua karena anak jelek ini!" Ketus Monika sambil membawa pergi anak anak itu dari sana.
Chelsea langsung menghampiri Edward, sedikit kesulitan karena dia menggendong anak kecil.
"Nak, Abang lihat Mom El," Ucapnya sambil mengusap wajah anak itu.
Edward menatap Chelsea, tampak dia menahan tangisnya.
"Sakit sekali ya, disini sakit ya sayang ya?" Tanya Chelsea sambil mengusap dada anak kecil itu.
Edward mengangguk, dia masih menahan tangisnya.
"Menangislah sayang, setelah itu kamu harus kuat," Ucap Chelsea, dia turut sedih dengan semua ucapan yang dilontarkan wanita tadi.
Edward seketika menangis histeris, sambil memeluk Chelsea mengeluarkan semua rasa sakit di hatinya yang entah bagaimana caranya untuk bisa terobati.
"Huaaa... Hiks hiks .. ja..jahat, kenapa mereka jahat Mom hiks hiks... Mereka jahat, Abang cuma mau berteman tapi mereka.. " Edward menangis sejadi jadinya, Emily memeluk Edan dari belakang, dia juga menangis disana.
Kembali ke masa saat ini,
Otniel menatap putranya yang tampak sedih dan hanya dia memeluk dirinya menutup matanya dan menyimpan kesedihannya.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahukan apa apa padaku Chelsea, kau tau kan masalah seperti ini tidak bisa dibiarkan, apa kau tidak tau akibatnya pada anak anak hah!" Otniel marah dan membentak Chelsea, baginya Chelsea bukan orang dewasa yang bijak.
"Kenapa tidak langsung kau beritahukan saat ada kejadian buruk seperti ini, kenapa hah!"
"I..itu, sa...saya tidak ingin terlalu ikut campur dan saya sudah berjanji pada Edward untuk tidak memberitahukan Anda, saya pikir Edward akan mengatakannya sendiri, maaf Dok," Ucap Chelsea yang merasa bersalah dengan apa yang terjadi, benar kata Otniel seharusnya dia memberitahu Otniel tentang masalah seperti ini.
"Ck.. plin plan, gadis bodoh, kau membuat kesal!" Ketus Otniel.
__ADS_1
"Seharusnya kau beritahu kan padaku, aku tidak bisa melihat putraku direndahkan seperti itu, apa karena dia anak angkatnya semua orang berhak merendahkan dia hah!!"
"Apa kau juga menganggap remeh putraku !" Kesal Otniel.
"Bu..bukan begitu dok, s..saya tidak bermaksud, saya hanya..."
"Diam!" Kesal Otniel.
Chelsea tersentak, perubahan sifat Otniel itu benar benar membuat Chelsea takut tapi tak bisa dipungkiri dia juga salah, seharusnya dia memberitahu Otniel tentang kejadian itu.
"Maaf dok," Ucap Chelsea.
"Daddy.. ma..maaf, ini salah Abang, a..Abang yang minta Dokter Chelsea merahasiakannya dari Daddy, hiks hiks maaf" Edward menangis sambil menatap Daddynya.
"Jangan marah sama dokter Chelsea, Abang yang paksa biar gak ngomong apa apa sama Daddy,"
"Tapi kenapa nak? Kenapa kamu gak bilang hmm? Daddy khawatir, apalagi mendengar hal seperti ini, Daddy gak mau siapa pun melukai kamu," Ucap Otniel sambil mengusap wajah putranya.
"Abang gak mau Daddy kesusahan karena Abang, Abang gak mau ngerepotin Abang, seperti yang dibilang Miss Monika dan teman teman sekolah kalau Abang cuma anak pembawa sial, Abang..."
"Sudah jangan ingat itu lagi!" Ucap Otniel memotong kata kata Edward, sakit rasanya mendengar Edward mengatakan hal hal itu.
Chelsea bahkan merasa sedih dengan Edward, ternyata fakta kalau Edward hanya anak angkat itu benar dan Chelsea tak menyangka orag sehebat Otniel mau mengangkat seorang anak menjadi keluarga nya.
"Edward anak Daddy Niel, kamu akan tetap jadi anaknya Daddy, nggak ada yang bisa mengubah itu, Mau Daddy nikah atau tidak, mau Daddy dekat sama orang lain atau tidak Daddy akan selalu prioritaskan kamu"
"Bukan karena kamu merepotkan, alasannya adalah karena separuh hidup Daddy ada di kamu sayang, kalau orang orang yang dekat dengan Daddy nggak bisa menerima kamu, maka Daddy juga nggak bisa menerima mereka,"
"Janji ya nak, kalau kamu gak beritahu, jutsru kamu membuat Daddy khawatir, Abang mau Daddy khawatir hmm?" Otniel menatap putra nya.
"Nggak, Abang nggak mau," Lirih bocah itu.
"Nah kalau gitu janji, kalau ada apa apa langsung kasih tau sama Daddy!"Ucap Otniel.
"Lagian siapa bilang kamu gak punya Mama? Mama Diandra kan ada, kamu juga punya aunty Joy, aunty Ara, Nenek Luna, Nenek Mikha, aunty Aurel, aunty Jessica dan keluarga besar kita sayang,"
"Kamu pamerkan saja mereka, tak ada yang berani menyakitimu Karena kamu itu bagian keluarga besar kita, cucu pertama keluarga Park, ya sayang," Ucap Otniel.
Edward mengangguk, dia mengusap air matanya dan memeluk Daddynya.
"Abang sayang Daddy," ucapnya.
"He..em Daddy juga sayang kamu," Ucap Otniel.
Chelsea menatap mereka dengan tatapan iri, dia juga merindukan kasih sayang sebuah keluarga, bahkan Chelsea iri pada Edward yang diterima oleh banyak orang yang bahkan bukan keluarga kandungnya.
Sedangkan Dirinya yang anak kandung jutsru hidup dalam kesepian selama bertahun tahun dia hidup.
__ADS_1
Chelsea menunduk, dia memainkan jari jarinya, menahan air matanya dan hal itu ditangkap oleh Otniel.
"Apa kau iri Chelsea? Apa kau kesepian? Kau melalui semuanya dengan baik selama ini, kau pasti bisa bahagia Chel, aku ingin jadi pria yang membuatmu bahagia," Batin Otniel.
"Namun sebelum itu, kau harus banyak belajar dulu Chelsea, kau harus lebih dewasa, kau harus paham dengan arti keluarga sesungguhnya, aku akan membuatmu paham," Batin Otniel.
Saat mereka hanya duduk diam disana, tiba tiba Jerry dan Jenny datang menghampiri mereka.
"Niel, apa yang kau lakukan disini? Kenapa.kau keluar kau belum pulih sepenuhnya!" Suara melengking Jenny membuat Otniel memutar malas kedua bola matanya, wanita itu persis seperti si cerewet Diandra.
"Jen, suaramu!" Ketus Otniel.
Edward menatap Jenny, dia tak lagi kesal pada wanita itu, dia bersikap seperti biasa, sepertinya Edward mulai terbuka dengan orang lain.
"Kau masih sakit, ayo ke dalam, Edward ayo ikut aunty kita ke dalam, Baby Bubu mencarimu," Ajak Jenny.
"Baik Aunty," Ucapnya menurut,.
"Sejak kapan?" Otniel menatap Jenny dengan heran karena putranya menerima Jenny.
"Rahasia hehheeh.." bisik wanita itu.
"Chelsea bisa ikut denganku? Ada yang ingin kukatakan," Ucap Jerry yang juga ada disana.
"Ada apa?" Tanya Chelsea.
"Ayolah, ada urusan penting,"Ajak Jerry sambil menggandeng tangan Chelsea dan hal itu membuat Otniel cemburu.
"Jerry apa kau tidak melihatku hah?"Ketus Otniel.
"Eh ma..maaf dok, habisnya dokter sibuk dengan kekasih dokter, saya jadi segan,"Ucap Jerry.
Mendengar kata kekasih membuat Chelsea merasa hatinya sakit, cintanya benar benar berakhir disini.
"Cih.. dasar, mau kemana kalian?" Tanya Otniel namun matanya terus menatap tangan Jerry yang menggandeng tangan Chelsea.
"Ada urusan pribadi dok, kalau begitu kami pergi dulu,"
Jerry membawa Chelsea, dan Otniel berhasil dibuat cemburu buta.
"Ck.. urusan pribadi apa sih? Kenapa harus pegang pegang!!" Gerutu Otniel.
"Edward Daddy kamu cemburu tuh hahaha, tinggalkan saja yuk hihihi" Jenny terkikik geli, dia membawa Edward yang juga senyum senyum melihat wajah Daddynya yang benar benar cemburu saat ini.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...