
Tuk tak tuk tak...
Deru kaki para penumpang pesawat terdengar menderu di bandara. Seorang gadis cantik dengan rambut pendek, wajahnya yang dingin dan datar baru saja tiba di Indonesia, dia mendorong kursi roda wanita lainnya.
Reva dan nyonya Alena telah tiba di Indonesia ditemani oleh Sean dan beberapa anak buah yang lain.
Mereka berjalan dengan santai, tiba tiba ada beberapa pria berpakaian hitam yang menghampiri mereka.
"Selamat datang tuan, nyonya dan Nona, nyonya Park sudah menantikan kalian, silahkan ikut saya," ucap pria itu yang dibalas anggukan kepala oleh mereka.
Luna memerintahkan beberapa anak buah mereka untuk menjemput Alena di bandara. Mendengar kabar kedatangan salah satu sahabatnya itu membuat Luna begitu bahagia.
Alena mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Luna saat mereka sudah di dalam mobil.
"Halo Nana," ucap Alena.
"Aleee... Apa kau sudah tiba? Aku mengirim pengawal, kalian semua baik kan? Ahhh... aku merindukanmu, kenapa kau bilang mau ke Indo setelah di pesawat dasar kau ini, aku bisa menjemputmu, bagaimana kondisimu? Kakimu masih sakit, aku benar-benar merindukan dirimu Aleeeee...." Seperti biasa wanita itu akan mengoceh pada orang terdekatnya.
"Astaga satu satunya yang tidak berubah dari dirimu adalah mulut cerewet mu itu," ucap Alena sambil tersenyum.
"Heheheh, jadi bagaimana?" Tanya Luna lagi.
"Kami baik Nana, kondisiku juga baik, kakiku masih sering sakit tapi sudah biasa, aku bilang setelah di pesawat agar kau tidak menghebohkan seantero negeri mengenai kedatanganku, dan aku benar Benar merindukan si cerewet ini,"Alena menjawab semua pertanyaan Luna dengan wajah bahagia, bahkan Sean dan Reva sampai terkejut, sangat jarang Alena menunjukkan raut wajah bahagia itu apalagi pada orang lain.
"Hmmm baiklah Ale, aku menunggu kedatangan kalian oke heheheh," ucap Luna.
"Iya, aku benar benar ingin mencubit bibir cerewemu itu," ucap Alena sambil bercanda.
"Jangan dicubit, itu milik suamiku nanti dia marah hahahaha," jawab Luna.
"Heh dasar kau ini," ucap Alena.
Sementara itu David, Diandra, Vasko, Otniel dan Joel tengah mengelilingi kota itu, sebelum berangkat ke Jerman besok, mereka menyempatkan diri untuk menemani Diandra berkeliling dan menunjukkan beberapa tempat milik keluarga besar mereka di kota itu.
Diandra tampak menikmati perjalanan mereka, David dan yang lainnya begitu protektif terhadap Diandra, kebahagiaan wanita itu bertambah saat dia tau kalau Vasko adalah kakak kandungnya.
Mereka menemani calon ibu muda itu berbelanja kebutuhan mereka selama di Jakarta, tentu saja yang keluar bukan Cuma uang David, Vasko, Otniel dan Joel turut membelanjakan wanita itu dengan berbagai hal yang mereka rasa cocok untuk Diandra.
__ADS_1
“Ummm kak, Papa kita dimana?” tanya Diandra tiba tiba, entah apa yang mereka lihat tadi, tiba tiba dia teringat lagi dengan keluarga kandungnya.
“Papa di Jerman dek, hmm beliau sudah menantikan kedatanganmu, Papa benar benar yakin kalau Kamu dan Mama kita akan segera datang dan kita akan berkumpul seperti dulu,” ucap Vasko sambil menepuk pucuk kepala Diandra.
“Aku menantikan itu kak, Papa orang seperti apa? Bisa ceritakan sedikit?” tanya Diandra.
“Papa itu orang yang paling bertanggungjawab yang pernah ku kenal, dia berjuang mati matian untuk bertahan hidup dan melindungi kakak, waktu itu kami sempat hidup di jalanan, dia orang yang cerdas dan hebat tapi dia itu mudah menangis persis seperti dirimu hahahah,” ucap Vasko sambil tertawa.
“Dia pasti akan menangis saat melihat putrinya sudah besar saat ini,” ucap Vasko dengan tawa bahagia, sejak mengungkapkan identitasnya Vasko banyak tertawa.
“Wah ternyata Vasko yang menyeramkan sudah berubah ya, hampir setiap detik kulihat kau tersenyum,” ejek Joel.
“Pantas saja sedari tadi orang orang mengikuti kita, Vasko lihat para gadis gadis itu mengekorimu dari belakang,” ucap Otniel sambil melirik gerombolan gadis gadis yang mengikut merkea dari belakang, berpikir kalau mereka adalah Artis baru.
“Haisshhh... merepotkan,” ketus David yang tidak suka dengan hal hal seperti itu.
Kembali ke rumah besar Park, Luna tengah duduk di ruang santai bersama Christan,sedangkan suaminya dan Christo sedang di perusahaan.
“Ma, apa mama masih memikirkan Otniel?” tanya Christan tiba tiba, pria itu tengah memijit ujung tungkai Mamanya yang buntung.
“hmm.. eh i... itu.. Mama,” Luna tergagap, sebab dia sudah berjanji pada mereka untuk melupakan kejadian puluhan tahun lalu yang membuat anaknya meninggal.
Luna menatap anak pertamanya, “Maaf sayang, Mama mengecewakan kalian,” ucap Luna.
“Nggak kok Ma, kami paham, dan kami juga merasakan apa yang mama rasakan saat melihat Otniel, hanya saja kita tidak bisa terlalu berharap, karena adikku kala itu dinyatakan meninggal, kita juga dapat pakaiannya, dan darah di pakaian itu milik adikku,” ucap Christan.
“Maaf jadi membuat kalian memikirkan kejadian itu lagi,” ucap luna tertunduk sedih.
“Tenang ma, Christan akan cari tau, tapi kita tidak bisa berharap terlalu banyak, hanya doakan saja kita mendapat hasil yang baik, yah setidaknya kita tau latar belakang Otniel,” ucap Christan sambil menggenggam tangan Mamanya.
“terimakasih Nak,” ucap Luna.
Seorang pelayan datang dari arah pintu depan,” Nyonya, Tuan ada tamu di luar, Nyonya Alena sudah tiba,” ucap pelayan itu sambil menunduk hormat.
“Suruh mereka masuk bi,” ucap Luna.
“Baik nyonya,” jawab pelayan itu sambil berlalu menyambut tamu nyonya besar mereka.
__ADS_1
Christan memasang kaki palsu Mamanya dan menutup dengan kaos kaki seperti kebiasaan Luna sejak muda.
Nyonya Alena, Reva dan Sean masuk ke dalam rumah anak buah mereka juga turut serta.
“Selamat datang Aleeee....” seru Luna yang langsung berdiri dan menghampiri Alena sambil memeluk wanita itu.
“Akhirnya aku bertemu denganmu Nana,” ucap Alena menghamburkan pelukan pada sahabat baiknya yang membantunya di kala kesulitan di masa lalu.
“Selamat datang semuanya, ayo duduk dulu,” ucap Luna mempersilahkan mereka duduk.
Reva mendorong kursi roda Mamanya, matanya bersitatap dengan pria dingin di samping Luna yaitu Christan, seketika dia bergidik ngeri melihat wajah dingin itu.
“Dari semua pria yang kutemui, tatapan mata pria itu yang paling dingin, menyeramkan sekali, jangan sampai aku menikah dengan orang seperti itu,” batin Reva yang langsung mengalihkan perhatiannya.
“Aku benar benar merindukanmu, akhirnya kau tiba disini, huh kenapa selama ini baru berkunjung, kau tau tidak aku ingin mengajakmu jalan jalan, berkeliling, belanja, bermain semuanya, aku kesepian disini, orang orang di rumahi ini sibuk semua ,” cerocos Luna sambil memanyunkan bibirnya.
“Mama kesepian? kalau gitu Christan gak usah kerja deh kalau mama kesepian di rumah, “ ucap Christan yang langsung menoleh ke arah Luna.
“Heh jangan, kamu bawa menantu aja biar mama gak bosan sayang hahahah,” kekeh Luna sambil menepuk kepala putranya, Christan yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum manis, dia suka dimanja oleh Mamanya.
“wah kalian ini membuatku iri ya, dasar kau Nana, bagaimana kakimu apa masih sering sakit?” tanya Alena.
“Hmmm kakiku sudah jarang sakit Ale, kalau kakimu bagiamana?”tanya Luna.
“Ini sudah mati rasa hahahaha, tapi terkadang sedikit nyeri di bagian telapak, selebihnya mati rasa,” kekeh wanita itu sambil menusuk nusuk pahanya dengan jari jarinya.
“Hmmm... Kalian pasti lelah, istirahat saja dulu, Ale kau ikut bersamaku, Christan tunjukkan kamar untuk tamu kita, dan pastikan gadis cantik ini nyaman,” ucap Luna sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Christan dan mendorong kursi roda Alena.
"Dasar si Mama,"batin Christan.
Kedua wanita itu pergi dari sana, Christan menatap mereka sekilas lalu bangkit berdiri, pria itu sangat berkharisma, auranya begitu kuat.
“Silahkan ikut saya, akan saya tunjukkan kamar kalian,” ucap Christan yang dianggukkan oleh mereka.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😉😉