
Sir Petra tampak diam membisu sambil menatap mereka satu per satu, tiba tiba pria itu tampak tidak bersemangat membuat Otniel dan yang lainnya seketika itu cemas.
Wajah Sir Petra seketika itu melemah, Mereka semua terdiam menatap pria itu.
"Ni...Niel.." lirih pria itu.
Otniel tampak terkejut sekaligus khawatir, dia beranjak mendekati Sir Petra.
"Pa.. Papa... Kenapa Pa? Papa baik baik saja?" tanya Otniel khawatir, jujur saja dari lubuk hati paling dalam, Otniel sangat menyayangi pria yang merawatnya sejak dia kecil itu, baginya Sir Petra adalah segalanya dan hidupnya, tanpa pria itu dia tak mungkin bisa bertemu kembali dengan keluarga kandungnya.
"Ni.. Niel, kau menemukan keluarga mu," ucap pria itu sambil menatap Otniel yang berjalan mendekati nya.
Luna, Gama dan Si kembar tampak memperhatikan mereka, mungkin ini sesuatu yang sangat tiba tiba bagi sir Petra hingga membuat dirinya sampai shock seperti itu.
"Apa Beliau merasa sedih?" pikir Luna.
"Niel tetap anaknya juga kok," batin Luna yang tak tega melihat pria yang kira kira seusia dengan suaminya itu memasang wajah murung.
" Apa dia tidak rela atau merasa sedih karena Niel menemukan keluarganya?" batin Aiden sambil menatap Sir Petra.
"Papa... kenapa Pa?" tanya Otniel yang kini sudah berada di samping Sir Petra, dia menatap pria itu dengan tatapan khawatir, dia takut kalau Papanya kenapa kenapa.
Meskipun Otniel sering melawan, dia sangat menyayangi pria di depannya itu.
"Papa..." Sir Petra menatap Otniel dengan tatapan Sedih.
Melihat tatapan itu membuat Otniel merasa bersalah.
Lain halnya dengan Sir Justin, dia sudah menahan tawanya disana, dia sangat mengenal pria itu.
"Sayang kenapa kau tertawa, tidak baik seperti itu, dia sedang sedih," bisik Alena yang merasa aneh dengan suaminya.
"Hahahah... lihat saja sayang, dia akan membuatmu tertawa terbahak-bahak," bisik air Justin, Tampak pria tua itu menggenggam erat tangan istrinya sambil bisik bisik.
Sementara itu, Sir Petra masih menatap Otniel dengan wajah sedih.
"Pa... kenapa? jangan begini, Papa buat Niel khawatir!" ucap Otniel sedikit merengek, hak manja yang sering dia lakukan pada Sir Petra.
Pria di depannya itu seketika menyeringai dan...
grepp...
Plakk
"Kena kau orang utan.... dasar anak tengil!!!" teriak Sir Petra sambil mengapit kepala Otniel di bawah ketiaknya.
Mereka semua terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh Sir Petra, dikira akan menangis, tau taunya Sir Petra hanya akting untuk mendapatkan Otniel.
"Dasar anak bodoh, ke Indonesia gak bilang bilang, ketemu orangtua kandungnya gak bilang bilang nakal... nakal.... nakal!" ucap Sir Petra sambil memukuli kepala Otniel dengan wajah kesal dan memerah karen geram dengan kelakuan absurd anak tengil yang dia rawat sejak kecil.
"uhuk...uhuk.. ampun monyet tua.... ahhkkk.. Papa sakittt... arhhh lepas paaa.." teriak Otniel sambil memukul mukul lengan sir Petra.
"Bwahahahahahaha....." mereka semua seketika tertawa saat melihat kedua pria itu beraksi dan menunjukkan kedekatan mereka.
"Hahahahahah..."
"Papa sakit... uhukk..." Otniel terus menerus meronta-ronta.
"Kau membuatku malu di depan keluargamu dasar anak tidak sopan!" ketus Sir Petra.
"Maafkan saya tuan, nyonya, anak ini.memang sangat nakal, Saya tidak merawatnya dengan benar, maaf kalau dia jadi nakal seperti ini," ucap Sir Petra.
__ADS_1
"Saya Petra Daniel Sturridge, Papa angkatnya si kunyuk ini," ucap Sir Petra memperkenalkan dirinya sambil mengapit kepala Otniel dengan wajah kesal.
"Hahahah... kalian sangat dekat, Anda merawatnya dengan sangat baik tuan, saya berterimakasih banyak karena sudah menyelamatkan putra kami," ucap Gama sambil tersenyum.
"Anda merawatnya dengan sangat baik tuan, terimakasih banyak," ucap Luna.
Mereka berdua menghormat dengan membungkuk 90° ke arah Sir Petra begitupun dengan si kembar, sebuah penghormatan yang sangat sopan bagi orang penting.
"Ehh aduhh... jangan begitu," ucap Sir Petra, otomatis dia ikut membungkuk dengan Otniel masih di bawah ketiaknya.
"Papaaaaa.... bau asemmm tau Paaa.." pekik Ontiel yang mencium bau ketiak papanya.
"Rasain salah sendiri!" celetuk Sir Petra sambil melepas kepala Otniel.
"Heheh ya maaf," ucap Otniel.
"Edward kemari nak," panggil Otniel pada Edward yang sedari tadi anteng duduk sambil mengamati mereka.
Bocah kecil itu berjalan menghampiri Otniel dan Petra dengan wajah gembul menggemaskan itu.
"Siapa?" tanya Sir Petra.
"Biar ku perkenalkan," ucap Otniel sambil menggendong Edward kecil yang menatap Sir Petra dengan tatapan berbinar binar dan langsung saja membuat hati pria itu hangat.
"Siapa Daddy?" tanya Edward.
"Daddy?" gumam Sir Petra.
"Beliau Papanya Daddy, panggil Kakek Petra saja, atau kakek pertapa heheheh..." ucap Otniel sambil terkekeh.
"Pa dia anakku, namanya Edward Daniel Park, aku menggabungkan marga keluarga Papa dan Mama serta nama Papa di namanya, dia anak angkatku Pa," ucap Otniel.
"Jadi nama bocah tampan ini, Edward? halo sayang, ini kakek Petra, panggil Kakek Petra ya, jangan ikuti sifat tengil Daddymu ini, hehehe," ucap Sir Petra sambil mengusap kepala Edward dengan penuh kasih sayang.
"Peluk boleh kakek?" tanya Edward.
"ohh tentu saja sayang, sini peluk Kakek, hahahah..."
Mereka semua berbahagia di hari itu, semuanya menemukan kembali potongan potongan hidup mereka yang telah menghilang dan kini bersatu kembali.
...****************...
Setelah kepulangan Vasko, Joy mengajak pria itu ke rumahnya untuk mengenalkan Vasko pada keluarganya.
Seperti yang diucapkan oleh Papa nya, Joy hari cepat datang ke rumah karena ada yang ingin mereka bicarakan.
Di dalam mobil Vasko tampak gugup untu bertemu pertama kali dengan Papa Joy, Dia sudah kenal Mama Joy dan sekarang tinggal menemui Papanya sebelum melakukan lamaran yang resmi.
Saking gugupnya, Vasko sampai keringatan bahkan yang membawa mobil saat ini adalah Joel karena pria itu terlalu gugup untuk membawa mobil.
David, Diandra, Otniel dan Edward ikut serta untuk mengantarkan pria itu. Dan semua itu atas permintaan Vasko sendiri, dia lebih percaya diri jika mereka semua ikut menemaninya.
"Astaga kak, kau berkeringat sekali!" ucap Joy yang malah jadi khawatir dengan Vasko.
"Ini tisu, lap dulu kak," Diandra memberikan tisu kering pada Vasko.
"Terimakasih, ahhh apa ini rasanya ingin menemui calon mertua, aku benar benar gugup, apa mereka akan menerimaku nanti?" ucap Vasko, berkali kali dia menenggak air putih karena terlalu gugup.
David menatap Vasko yang duduk di kursi di depan dia dan istrinya.
"Sayang, aku takut Vasko di tolak Om Putra," bisik David.
__ADS_1
"ihhh jangan bilang begitu, nanti kak Vasko dengar," balas Diandra.
"Huffft.. aku takut dia menyerah yang," bisik David lagi.
"Kita lihat saja nanti," ucap Diandra.
Sementara itu Joy terus menenangkan Vasko, dia sebenarnya sama gugupnya dengan Vasko, karena sangat hapal dengan perangai Papanya.
Beberapa lama mereka dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup sederhana, rumah yang sangat nyaman untuk ditinggali.
Joy dan Vasko keluar dari dalam mobil, yang lainnya diam di dalam mobil dan menunggu mereka.
"Selamat berjuang bro!" seru mereka menyemangati Vasko.
"Ya, thanks!" jawab Vasko percaya diri.
Joy menggenggam tangan Vasko dan membawanya masuk ke dalam rumah dengan senyum bahagia.
"Pa... Ma... Joy pulang!" seru gadis itu.
Terdengar langkah kaki dari dalam rumah, pintu dibukakan dan tampak lah Cindy mamanya Joy membuka pintu.
"Ehh anak Mama pulang, masuk sayang, ehh ada nak Vasko juga," sapa Cindy.
"Siapa Ma?" tanya Pak Putra papa Joy.
"Joy Pa, sama temennya," ucap Cindy sambil membawa mereka berdua masuk.
Vasko dan Joy duduk di ruang tamu, tampak Vasko sangat gugup, berkali kali dia mengepal tangannya untuk mengurangi gugupnya.
"Tenang kak," bisik Joy yang dianggukkan oleh Vasko.
"Kamu pu... Ekhmmm siapa ini Joy?" suara Pak Putra terdengar tak enak.
"Ehh... pa," Joy dan Vasko berdiri, Vasko membungkuk," Ha.. halo om," sapa Vasko.
Mata Pak Putra menatap Vasko dari atas sampai bawah, dia tak suka melihat tato di tangan pria itu.
"Duduk," ucapnya dengan ketus.
"Pa.. ini pacar Joy, Namanya kak Vasko," ucap Joy memperkenalkan Vasko pada Putra.
"Halo Om saya Vasko, salam kenal," ucap pria itu.
"Apa!!! pacar? kau jangan main main Joy, siapa yang nyuruh kamu pacaran hah? sama orang seperti dia lagi!" Pak Putra langsung marah.
Vasko dan Joy terkejut, "Pa.. kenapa begitu?" tanya Cindy yang merasa tak enak dengan Vasko.
"Mama diam, ini urusan Papa!" ucap Putra dengan tegas.
"Joy sayang sama kak Vasko, kenapa gak boleh Pa, emangnya kak Vasko kenapa? papa Aneh!" kesal Joy.
" Tidak boleh!" ucap Putra dengan tegas .
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉
__ADS_1