
Seorang pria tampan dengan tato memenuhi lengan kirinya baru saja selesai membersihkan dirinya, dia keluar dengan hanya berbalut handuk yang menutupi dari pinggang sampai lututnya.
pria tampan dan kekar dengan wajah sedikit berkumis, perut kotak kotak, dan tubuh atletis yang seksi yang mampu membuat siapa pun mengagumi maha karya pada tubuh pria itu.
dia berjalan menuju Cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Hmmm.... aku tak kalah tampan dengan Otniel, aku juga lebih dewasa, kurasa Joy pasti akan lebih menyukaiku, sejak awal dia sudah menyukaiku," gumam Vasko sambil bercermin.
Katakan saja leader Mafia ini tiba tiba narsis karena mengetahui punya saingan untuk mendapatkan hati sang pujaan. Dan saingannya cukup berat, sahabatnya sendiri, lebih muda dari dirinya, seorang dokter dan satu lagi dia tampan dan hangat.
"Ck... kau harus percayalah diri Vasko, Otniel jauh di bawahmu, tapi.... bagaimana kalau Joy menyukai pria seperti Niel, ahhh Niel mna punya tato, dan karirnya sangat bagus," ucapan Vasko yang semangatnya tiba tiba menciut.
brakkk..
"Tidak!" ucapnya sambil menatap diri ya di kaca.
"Kau pasti bisa, kau tampan, kau kaya dan.... astaga kenapa aku melakukan hal tidak berguna ini!!" ucap Vasko saat menyadari kalau dirinya tidak bertingkah seperti Vasko yang biasanya.
"Ahhhh..... terserah, huffff.... tapi aku harus pakai apa ya? hmm. harus wangi... haishhh.... " Vasko menggerutu Sabil mengacak-acak rambutnya sendiri, bagaimana dia bisa menggila hanya karena membahas hal seperti ini.
Akhirnya pria itu keluar dengan pakaian kasual yang menurutnya biasa saja padahal itu sangat keren, tentu saja mulutnya berkata tak ingin bertingkah berlebihan tapi tangan dan pikirannya bertindak lain.
Dia keluar dari kamar setelah memastikan dirinya rapi dan harum,dia memakai parfum yang tidak menyengat mengingat Dia Drs tengah hamil muda.
pria itu turun dari lantai dua, dia menatap kamar Joy yang berada di lantai itu juga.
"Aku akan mendapatkan mu," batin Vasko.
Dia berjalan menuju ruang santai dimana semua orang sedang berkumpul,dia mendengar suara Diandra yang menyapa seorang wanita Sepertinya tamu keluarga itu.
"Suara ini?" Vasko terhenti sejenak saat mendengar suara wanita yang sangat familiar di telinganya. Suara yang sudah lama tidak dia dengar.
Vasko selalu melihat rekaman video kebersamaan keluarganya saat dia masih kecil dan dia hapal betul dengan suara itu.
Vasko berjalan dengan pelan, jantungnya bergemuruh mendengar suara itu.
Saat dia tau dari Papanya kalau Mama dan adiknya masih hidup,dia benar benar bahagia, sama seperti Papanya, dia menantikan pertemuan dengan Mama dan adiknya.
Pria itu masuk ke ruang santai, matanya tertuju pada Diandra dan sosok wanita yang tengah di peluk adiknya itu.
Vasko menatap, dia menggosok matanya seolah tak percaya melihat siapa yang ada di depannya, meski puluhan tahun telah berlalu, Vasko masih ingat jelas wajah dan senyuman hangat Mamanya, selain itu wajah Alena tak berubah banyak.
degh...
Degupan jantungnya begitu kencang, matanya membulat, seketika tubuhnya terasa lemas, beberapa kali dia memastikan apakah wanita itu benar Mamanya atau tidak, sebanyak itu juga dia yakin kalau wanita di kursi roda itu adalah Mamanya.
Brukkk....
Vasko terjatuh di lantai, tubuhnya gemetaran, sosok yang dia rindukan kini ada di depan matanya.
__ADS_1
Tanpa aba aba, air matanya lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya.
Sang leader Mafia runtuh, pertahanannya kini luruh, siapa yang tidak akan kaget ketika melihat orang yang kita sayangi yang telah lama pergi kini ada di hadapan kita.
"Ma... Mama..." satu kata itu keluar dari mulut Vasko, dia terkejut, bahagia sekaligus tak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Mamanya saat ini.
Mereka semua menoleh ke arah Vasko,Diandra mendekati kakaknya, "Kakak kenapa?" tanya Dian yang sedikit panik.
"Dian..... I..iitu itu Mama, dia Mama!!" ucap Vasko.
Bagai menadapat kekuatan nya kembali Dia berdiri dan berlari menghampiri nyonya Alena tanpa memperdulikan citranya sebagai seorang Leader Mafia, karena setinggi apa pun kuasanya,dia hanya seorang anak lelaki yang merindukan Mamanya.
Nyonya Alena juga merasakan hal yang sama, dia benar benar terkejut, belum dia menyampaikan niatnya pada Luna untuk membantu mencari keberadaan anaknya, ternyata takdir membuat mereka bertemu di rumah besar itu.
"Sepertinya memang ini saatnya memberitahukan kebenaran itu," batin Sean yang sedari tadi berdiri di belakang nyonya Alena mengawasi Mamanya itu.
Vasko berlari, dia langsung menghampiri Nyonya Alena dan memeluk wanita itu, air matanya mengalir, dadanya terasa sesak, hatinya benar benar bahagia.
Itulah dia, Vasko seorag leader Mafia menunjukkan sisi lemahnya di hadapan mereka semua.
Diandra masih bingung, dia menatap suaminya yang juga tidak tau dengan maksud semua ini.
"Kak, aku bingung, kenapa kak Vasko memanggil Tante Alena Mama?" ucap Diandra.
"Aku juga tidak tau sayang, kita tunggu penjelasan mereka," ucap David sambil merangkul bahu istrinya.
Vasko memeluk Alena dengan deraian air mata, dia mengenal wajah Mamanya, rasa rindunya dia hamburkan saat itu juga, pelukannya begitu erat.
Alena juga turut menangis, dia membalas pelukan Vasko tak kalah eratnya, dia begitu bahagia, akhirnya bisa memeluk Mamanya kembali setelah sekian lama berpisah, sungguh hatinya bahagia saat ini.
"Maaf kak, Maafkan Mama meninggalkan Kaka terlalu lama, Maaf Mama tidak bisa langsung menemui kalian pada waktu itu, maafkan Mama sayang, Mama juga merindukan kalian hiks hiks hiks...." Alena menangis tersedu-sedu dalam pelukan Vasko.
"Kakak rindu, rindu sekali hiks hiks hiks hiks," Vasko masih memeluk Mamanya dengan erat.
"iya Mama tau, maaf ya anak tampannya Mama," ucap Alena.
Mereka semua terharu melihat pertemuan yang membahagiakan itu, mereka benar benar terkejut sekaligus bahagia melihat mereka bisa bersatu kembali.
"Diandra!" panggil Vasko.
Semua menoleh pada Dian yang memeluk lengan suaminya.
"Kemari dek, dia ini Mama kandung kita, Dia Mama kita dek," ucap Vasko.
Deghh....
Diandra terkejut, dia diam membisu menatap mereka semua, entah apa yang dirasakan Diandra saat ini, tapi dia benar benar terkejut.
"Nggak mungkin!!!" pekik Diandra yang tiba tiba histeris.
__ADS_1
"Dian?" ucap mereka terkejut.
Mereka menatap wanita itu, tampak Diandra menyembunyikan Dirinya di balik tubuh David.
"Nggak mungkin!! dia bukan Mamaku hiks hiks hiks.... dia... dia bukan Mamaku, " ucap Diandra menangis, bisa mereka rasakan kekecewaan dari nada suara wanita itu.
"Sayang?" ucap David.
,
Vasko juga terkejut, Otniel dan joel jadi panik dan khawatir saat melihat Dian ketakutan.
"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya Sean yang tidak suka dengan reaksi Diandra.
"Dia bukan Mamaku, kalau dia Mamaku dia tak akan membiarkan aku hidup dan disiksa di rumah Aniston!!!" teriak Diandra.
"Kenapa dia tega membiarkan aku hidup dengan orang lain? lalu datang sebagai seorang pelatih? dia bukan Mamaku!!!!" pekik Diandra.
deghh...
Alena terkejut, dia tak menyangka kalau respon Diandra akan seperti itu, sama seperti yang lain, mereka juga terkejut.
"Sayang, tenangkan dirimu," ucap David.
"Sharon..." gumam Alena.
"Mama Alena berjuang mati matian melindungi kalian, dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengawasi kalian, apa kau tak bisa mengerti itu!" ucap Sean yang malah menjadi marah.
Vasko melirik Sean, dia sedikit bingung mengapa tangan kanannya itu berada disini bahkan membela Mama mereka.
"Kau tidak merasakan apa yang kurasakan di rumah itu! lagi pula kau siapa? aku tak mengenalmu!! dan dia hanya seorang pelatih tidak lebih!!" ucap Diandra.
"Kalau dia Mamaku, dengan alasan apa pun dia tak akan meninggalkan Putri nya pada orang lain, dengan alasan apa pun itu dia tidak akan membuatku menderita di rumah itu, " ucap Diandra dengan tegas.
"Kau!!" Sean menggeram, namun Nyonya Alena memenangkan pria itu.
"Kau tidak tau bagaimana rasanya ketika kau sendirian, disiksa secara mental dan fisik bahkan hampir diperkosa beberapa kali di rumah neraka itu!!!" pekik Diandra dengan air mata berderai.
Hingga...
Brruk...
Diandra tak sadarkan diri karena terlalu syok.
"Diandra!!" teriak mereka khawatir.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😉