Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Menangis


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, aroma bangunan bangunan di kota Jakarta tercium menusuk di hidung, terik dan panas matahari membakar kulit.


Namun berbeda di dalam ruangan rumah sakit VVIP dimana Diandra berada. Bau obat obatan khas tercium di seluruh ruangan itu, ada isak tangis dan orang orang berpakaian hitam.


Tampaknya seseorang kembali dinyatakan meninggal dunia hari ini, membuat tangisan dan jeritan menggelegar di dalam ruangan rumah sakit itu.


Seorang dokter tampan berlari menuju ruang perawatan, dia melewati beberapa orang yang sedang berkabung, atmosfer di rumah sakit itu tak secerah cahaya matahari di hari ini.


“Apa yang terjadi padanya?" tanya Otniel saat masuk ke dalam ruang perawatan dengan wajah panik, jas dokternya sampai kusut berantakan.


“Dia marah dan menghancurkan semua makanannya, dia tidak mau makan kak, dia menangis lagi, “ ucap Reva sambil menatap Otniel yang baru tiba dengan wajah sedih, bahkan air matanya berderai melihat kondisi Diandra yang tak juga pulih.


Alena bahkan tak bisa menenangkan Diandra, wanita itu menolak menemui Mama dan kedua mertuanya, dia terus menangis dan menghubungi nomor ponsel David namun hasilnya nihil, David tak pernah mengangkat ponselnya.


Alena dan mertua Diandra juga turut sedih dengan hal ini, namun mereka dilarang untuk menyampaikan apa yang terjadi pada David.


Sebab tanpa di beritahu saja Diandra sudah histeris dan stress seperti saat ini, bagaimana jadinya kalau Diandra tau kalau David mengalami kecelakaan itu, tentu keadaan akan makin kacau.


“Diandra,” panggil Otniel dengan lembut sambil membawa semangkuk bubur untuk Diandra.


“Kak... hiks hiks hiks.... kak David dimana.... huaaaa.... Dian kangen kak David,” ucap Diandra yang duduk di atas kasurnya dengan wajah sembab.


“Sabar ya, sebentar lagi David pasti pulang,” ucap Otniel berusaha menenangkan Diandra. Dia duduk di atas ranjang disebelah Diandra.


“Hiks hiks hiks kakak selalu bilang seperti itu, tapi sudah 5 hari kak David gak pulang juga, ponselnya juga gak diangkat, setidaknya kalau gak pulang dia jawab telepon Diandra, Kak Vasko dan Kak Joel juga sama,” ucapnya sambil menangis.


“Dian, mungkin David kehilangan ponselnya atau sedang sangat sibuk, kamu yang sabar ya, kalau begini terus kamu dan kandunganmu bisa bahaya,” ucap Otniel.


“Anakku baik baik saja,” jawab Diandra.


“Kamu harus makan, mana bisa kamu bilang kalau anakmu baik baik saja padahal makan sesendok pun kau tidak, sudah lima hari kau seperti ini, jangan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal di kemudian hari Diandra,” ucap Otniel dengan penuh penekanan.


“Aku tidak mau... hiks hiks hiks... aku mau suamikuuuu.... dan Kak Bella kenapa mereka tidak datang jugaaaa...”teriak Diandra.


Otniel benar benar kesal dengan sifat keras kepala wanita itu.


Pranggg....

__ADS_1


Kali ini sudah habis kesabaran Otniel menghadapi Diandra yang tidak mau makan dan terus menerus menangis. Otniel melemparkan bubur yang ada di tangannya ke lantai hingga jatuh berserakan.


Diandra terkejut bukan main, bahkan tangisannya semakin kencang.


“Teruslah menangis bodoh,” umpat Otniel sambil bangkit berdiri, dia memijit pelipisnya dengan wajah kesal.


“Apa kau tidak punya otak sedikitpun Diandra? Hah? Kemana Diandra yang dulu?” ucap Otniel.


“Kau pikir semua orang disini tidak mengkhawatirkan mu dan David, kau pikir hanya kau yang khawatir dengan keadaan David? Semua disini khawatir apalagi melihatmu seperti ini semuanya sangat panik ,” dada Otniel naik turun, kesabarannya tak ada lagi dia benar benar marah sekarang.


“Lihat Mama Alena, Mertuamu, Joy, Reva, Sean dan semuanya mereka sangat khawatir Dian, kalau kau terus begini kau akan mengalami keguguran dan akan kehilangan anakmu selama lamanya dasar bodoh kau ini,” teriak Otniel.


Diandra terdiam, dia mengusap perutnya mengingat janinnya yang masih rentan dan mengingat keluarganya yang juga mengkhawatirkan dirinya.


“Hisk hiks hiks.... ma.. maaf.. maaf aku buat masalah hiks hiks hiks...” Diandra menunduk dan menangis, bahunya naik turun, untuk kesekian kalinya dia kembali menangis.


Otniel menarik nafas kasar dan mengembuskannya, sungguh berat menghadapi wanita di depannya itu.


Dokter muda itu kembali duduk di atas bed rest Diandra, dia memegang bahu wanita itu sambil menatap Diandra dengan lembut.


“Diandra, kamu makan ya, please nurut sama kakak, hari ini kakakmu Bella akan tiba, David masih ada urusan disana, dia akan menghubungimu, kamu makan ya, tenangkan dirimu demi anak kamu,” ucap Otniel menguatkan diandra.


“Hmmm baiklah, ayo kita makan ya, kakak juga makan kok, lapar soalnya baru bantuin kakak ipar operasi besar,” ucap Otniel seraya mengusap perutnya.


“Baiklah,” ucap Diandra sambil menatap Otniel.


Pria itu mengambilkan makanan untuk mereka, “kamu mau makan bubur atau gimana Dek? Tadi Mami Mikha bawain nasi goreng sama ayam goreng sambal balado buatan Reva, “ ucap Otniel.


Di dalam ruangan itu sudah tersedia semua kebutuhan mereka jadi tak perlu repot-repot mengambil keluar.


“Pilihan kedua kak, Dian lapar, kalau makan Bubur gak kenyang,” ucapnya.


“Hohoh... kamu udah tau ya makanan yang enak, dasar pembuat onar ini, sedari kemarin kek makannya begini,” ledek Otniel.


“Maaf kak,” hanya kata itu yang terucap dari bibir mungil itu.


“Tak usah dipikirkan dek, semua akan baik baik saja, David paling lagi dikejar sama pekerjaannya supaya dia bisa cepat pulang,” ucap Otniel berbohong.

__ADS_1


“Kamu harus sehat, janinmu butuh makan, kamu juga, jangan sampai saat David pulang nanti, kamu dan calon bayi kalian sakit,” ucap Otniel sambil membawa kan makanan pada Diandra.


“Aku akan makan, terimakasih kak dan Maaf,” cicit wanita itu.


“Uluh uluhhh... dasar pembuat onar, gadis aneh, sudah cepat habiskan makananmu kalau tidak ku ambil semua tau rasa kau,” ucap Otniel.


“Iya iya ini makan , dasar bawel,” ketus Diandra yang mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


“Hmmm enak, kita lomba ya, kalau kamu gak habiskan dengan cepat, aku habisin semua ayam dan nasi gorengnya biar tau rasa kamu,” ucap Otniel.


“Ehhh nggak ya kak, Dian yang duluan, dian lapar,” ucapnya sambil melahap makanannya dengan lahap.


“Ehhh curang kan kakak belum bilang mulai,” ucap Otniel.


“Wleekkk siapa suruh kakak lambat kayak siput...” ejek Diandra sambil menjulurkan lidahnya.


“Haisssshhh ayamnya bisa habis kalau begini,” Otniel terus memancing Diandra agar dia makan yang banyak.


Semua yang mereka lakukan tak luput dari perhatian Nyonya Alena, Mikha dan Aiden.


Mereka setidaknya bisa bernafas lega setelah melihat Diandra makan dengan lahap seperti saat ini.


“Kenapa Dian hanya menurut pada Otniel, Joel, Vasko dan David ya?” tiba tiba Aiden berbicara membuat kedua wanita itu menoleh.


“Karena mereka keluarga pertama bagi Diandra yang menemaninya di saat paling menyedihkan di dalam hidupnya, mereka punya ikatan yang sangat kuat,” ucap Alena.


“Ya Alena benar sayang, Diandra hanya nyaman bersama mereka berempat, mereka sudah saling melengkapi,” tambah Mikha.


“Hmmm.. ya benar,” balas Aiden.


“Kau sudah melihatnya kan nak? Cepat pulang, istrimu bisa depresi jika kau berlama lama disana dasar anak tengil, kalau kau telat datang akan kupelintir kepalamu itu bodoh,” umpat Aiden sambil berbicara dengan seseorang di ponselnya.


.


.


.

__ADS_1


Like, Vote dan Komen.


__ADS_2