
Seluruh rumah sakit sedang dibuat heboh dengan kedatangan pasien yang begitu tiba tiba.
Otniel memijit pelipisnya saat mendengar bahwa kepala departemen bedah syaraf berada di luar negeri dan rekan rekannya yang lain ada yang tidak masuk dan sedang melakukan operasi besar.
Yang tersisa saat ini hanya Chelsea dan seorang rekannya perempuan.
" Kenapa di saat seperti ini orang orang bodoh itu hari pergi !!!" kesal Otniel.
" Hei berhentilah menggerutu," ketus Seseorang yang tak lain adalah Varrel Direktur rumah sakit itu.
Semua orang menundukkan kepala mereka dan memberi hormat pada direktur muda mereka yang begitu kompeten itu.
" Selamat siang direktur," ucap mereka dengan hormat, Varrel mengangguk ramah.
" Ck.... Kak Varrel apa yang harus ku lakukan!!" gerutu Otniel sambil menghampiri Varrel seperti seorang anak kecil yang mengadu pada kakak laki lakinya.
Melihat interaksi Varrel dengan Otniel, para dokter dan petugas medis disana sampai dibuat terheran heran,sebab dari sudut pandang ini,Otniel justru terlihat seperti seorang anak kecil tapi dibalik itu, dia adalah dokter dengan mulut paling pedas.
" Bodoh, gara gara kau aku dan kakak iparmu tak bisa makan siang, ck... lakukan saja operasinya, apa seluruh kemampuanmu telah hilang hanya karena menemukan pasien dengan begitu banyak keluhan hah?" ejek Varrel.
Otniel hanya bisa mengerucutkan bibirnya,"Aku baru saja melakukan bypass, apa menurutmu ini akan baik baik saja kak Varrel haishhh...." Otniel memasang wajah kesal.
" Ck... gak usah lebay, segera lakukan prosedur operasi, setelah itu kau bisa istirahat, dokter Chelsea akan membantumu iya kan dok?" Varrel menatap Chelsea.
" I..iya pak Direktur!" jawabnya dengan hormat.
" Baiklah segera lakukan persiapan untuk Operasi, Dokter Otniel akan memimpin operasi Ganda kali ini, panggil seluruh dokter fellow untuk melihat operasi besar ini!" perintah Varrel.
" Baik dok!" jawab mereka semua dengan tegas.
" Yaa kak Varrel kenapa harus di tonton sih, lagian pasien lain masih banyak!" gerutu Otniel.
Varrel memutar malas kedua bola matanya, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nama seseorang disana.
" Mama Luna, mana ya nomornya, sepertinya Otniel memang harus diberi pelajaran oleh Mama Luna," gumam Varrel.
Mata Otniel terbelalak, bisa habis dia direpeti oleh Mama cerewetnya itu, belum lagi kakak kakak kembarnya akan langsung menghukumnya.
"Haishhh dasar kak Varrel pengadu, dasar direktur kejam, mulut ember!! lihat saja akan kuadukan pada Mom Rose, awas kau, ck... arrhhhhh " Otniel menggerutu, sejujurnya ini situasi yang sangat lucu, ingin para dokter tertawa menanggapi interaksi mereka namun tak ada yang berani mengingat orang itu adalah Otniel si dokter pemarah.
__ADS_1
Persiapan operasi dilakukan, CT Scan, MRI semuanya dilakukan untuk mendapatkan diagnosa yang tepat untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Tiba waktunya untuk melakukan operasi besar, semua dokter tampak gugup namun tidak untuk Otniel. Dia dengan santainya melenggang masuk ke dalam ruang Opera.
Dokter Chelsea sudah berada diposisi begitu juga dengan Andre dan Jerry yang akan bertugas sebagai asisten Otniel.
Operasi pertama dilakukan, mereka akan memperbaiki katup jantung pasien yang terluka yang menjadi alasan jantung pasien tidak bekerja dengan baik.
Otniel meregangkan kedua tangannya, memutar pergelangan tangannya dan siap melakukan operasi.
Semua dokter yang tidak bertugas menonton dari luar ruang operasi. Operasi Ganda yang kurang dilakukan.
"Apa dokter Chelsea mampu melakukan ini? bukannya dia dokter Fellow tahun kedua? apa dia bisa?"
Para dokter mulai bergumam dan membicarakan tentang dokter Chelsea yang akan melakukan operasi perdananya sebagai seorang ahli syaraf.
"Entahlah, aku ragu dengannya tetapi dia ada dokter Otniel disana, semuanya akan berjalan dengan lancar,"
Operasi jantung dilakukan, Otniel melakukannya dengan sangat baik dan membuat semua orang terkagum dengan kemampuannya.
Selama satu jam dia telah menyelesaikan bagiannya dengan tenang tanpa ada masalah.
Dokter Chelsea mengangguk dengan wajah gugup, namun dia yakin dia bisa melakukannya.
Gambar hasil CT scan otak pasien dipampangkan di layar LCD, ada penggumpalan darah di bagian batang otak dan saraf motorik yang tertekan, mereka harus memperbaikinya agar pasien selamat.
Chelsea tampak gugup di posisinya, berkali kali dia menenggak Salivanya sendiri, tangannya gemetar, ini operasi perdananya tanpa dampingan kepala departemen karena dalam kondisi darurat.
Dia tampak memegang alat bedah, berusaha untuk tenang, namun jantungnya berdegup kencang tak karuan belum lagi saat melihat tangan pasien yang terus menerus bergetar meski sudah diberikan obat bius .
" Hei apa yang kau lakukan, kau ingin membuat pasien mati hah!!!" kesal Otniel saat melihat keraguan di mata dokter Chelsea.
" Ma..maaf dok, akan saya mulai!" ucapnya.
Alat untuk membuka tulang bagian kepala sudah dipasang, Chelsea memulai pekerjaannya, di layar tampak jelas gambar otak pasien yang akan diperbaiki.
Chelsea memulai pekerjaannya dengan baik, dia menyedot darah di bagian kepala yang terganggu menggunakan sebuah selang, menekan saraf motorik dan mengembalikannya ke posisi awal, dia melakukannya dengan baik meski ini pertama kalinya bagi wanita itu.
" Tangannya tidak Tremor lagi dok, anda berhasil!" ucap Jerry yang mengamati pasien.
__ADS_1
Chelsea bernafas lega, Tremor sudah dihentikan, Otniel menatap gadis itu dengan lekat, belum lagi dia memakai kacamata saat ini membuat Otniel seperti menyadari sesuatu.
" Gadis ini? dimana aku pernah melihatnya ya?" gumam Otniel yang sempat sempatnya memikirkan hal itu saat operasi sedang berlangsung.
Saat Chelsea akan menyelesaikan pekerjaan tiba tiba tubuh pasien bergetar lebih hebat dari sebelumnya.
" Tremornya Kembali lagi dok!!!" ucap rekannya.
Chelsea panik, dia menatap ke layar monitor yang menunjukkan pemantauan saraf motorik pasien.
Otniel diam saja dan menatap menunggu apa yang akan dilakukan oleh Chelsea.
Gadis itu panik, dia mengecek lagi dan lagi, tapi tak ada masalah apa pun, dia melihat lebih dalam lagi tetapi semua sudah di bereskan dengan baik.
Gadis itu bergetar ketakutan, bahkan orang orang di luar ruangan itu juga ikut panik melihat kejadian itu.
" Ba..bagaimana ini, apa ... apa yang harus ku lakukan seseorang tolong bantu aku!" ucap Chelsea, dia benar benar pusing saat ini.
" Dok cepat, apa yang harus dilakukan, Pasien bisa dalam bahaya !!" teriak rekannya yang bahak tak bisa melakukan apa apa dan hanya bisa berteriak.
" Aku sedang berusaha, apa yang harus kulakukan!" Chelsea dalam kebingungan.
" Kenapa juga kau mengambil operasi ini Chelsea, tunggu pak kepala datang baru kita melakukan nya!!" kesal rekannya di departemen bedah syaraf.
Chelsea semakin gugup dia tidak tau harus melakukan apa. Tangannya bahkan gemetar.
Otniel menatap kesal ke arah rekan kerja Chelsea yang hanya bisa melihat dan membentak gadis itu tanpa melakukan apa apa.
Otniel berjalan ke belakang tubuh Chelsea dan berdiri disana sambil memegang bahu Chelsea yang gemetaran.
" Tenang!" ucapnya tegas namun bukan dengan nada marah.
" Tarik nafas dan konsentrasi," ucap Otniel.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉