
Diandra tampak menatap layar ponselnya setelah mendapatkan pesan dari Joel mengenai kegiatan mereka di Jerman.
Ibu hamil itu sedang berada di dalam kamarnya sambil berbaring di atas kasur, Dia memakai kaos oblong milik suaminya karena merindukan David.
Wajahnya tampak pucat, namun senyuman indah tak pernah terlepas dari wajahnya. Beberapa saat yang lalu dia baru saja mual-mual dan muntah bahkan kepalanya sangat sakit.
"Mereka sangat lucu, bisa-bisanya mereka memenuhi keinginanku, aku jadi merindukan mereka" ucap wanita itu sambil menatap layar ponselnya.
"Tenang ya sayang, Papa hanya sebentar di sana Setelah itu kita akan bertemu lagi dengan papa, Mama tahu kalau kamu merindukan Papa, Mama juga begitu sayang, kita doakan semoga semuanya baik-baik saja dan papa kamu pulang dengan selamat," ucap Diandra sambil mengelus perutnya.
Tok... Tok.... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu di pintu kamar Diandra, "masuk pintu tidak dikunci," ucapnya.
Seseorang yang tak lain adalah Otniel masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa nampan dengan sebuah mangkuk besar dan dan segelas susu ibu hamil.
"Eh... Kak,"
"Kamu udah baikan masih mual dan muntah?" Tanya Otniel sambil duduk di samping ranjang Diandra dan meletakkan nampan itu di atas meja.
"Sudah baikan Kak, hanya saja kepalaku pening, " jawab Diandra.
"Sini sebentar Kakak periksa kamu, kamu berbaring dulu ya," ucapnya sambil mengeluarkan stetoskopnya dan alat pengukur tensi yang sudah dipersiapkan di dalam ruangan kamar itu.
Diandra melakukan apa yang disuruh oleh Otniel, Dia sangat menuruti perintah dari dokter muda itu dia tidak ingin dirinya dan anaknya kenapa-napa dan justru malah membuat repot suaminya yang sedang berjuang di sana.
Otniel mengeluarkan alatnya dan memasang di lengan Diandra. Pria itu memeriksa tekanan darah ibu hamil itu.
Setelah memeriksa tekanan darah, otniel memeriksa mata Diandra Sepertinya dia menemukan sesuatu yang salah pada Diandra.
"Apa kamu sedang kepikiran dengan suami kamu?" Tanya Niel sambil menyimpan alat-alatnya, Diandra mengangguk pelan dengan wajah sedih baru sehari ditinggal suaminya dia sudah merindukan pria itu.
Fuhhhh....
__ADS_1
Otniel mengambil nafas dan menghembuskan dengan kasar, dia tahu hal itu pasti akan terjadi apalagi perasaan Diandra sangatlah sensitif.
"Diandra, kamu tenang saja jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak, kamu fokus saja pada kandungan mu, tekanan darahmu sangat rendah dan kamu kekurangan darah, itu akan berbahaya buat kamu dan janin kamu," jelas Otniel mengenai keadaan Diandra saat ini.
"Aku hanya sedikit khawatir Kak, " ucap Diandra.
"Semua akan baik-baik Dian, jika mereka sedang berjuang di sana maka kamu berjuang di sini untuk melawan mual dan muntah mu, Kamu harus berjuang untuk menjaga janinmu agar dia tetap sehat, jangan sampai mereka yang telah berada di Jerman mendengar kabar buruk dari dirimu, mereka bisa merasa bersalah terkhususnya suami kamu," Otniel memberikan penguatan pada Diandra dia tahu wanita itu pasti memikirkan banyak hal.
"Baiklah Kak, terima kasih" balas Diandra sambil tersenyum tipis.
"Nah kalau begitu kamu sekarang makan dulu setelah itu aku akan ambilkan resep obat untuk mu, kalau kamu mau sesuatu atau mau makan sesuatu kamu tinggal kasih tahu aja sama kakak, Kakak siap menyiapkannya untukmu, jangan takut ya Semua akan baik-baik saja, " ucap Otniel sambil memberikan semangkuk bubur pada Diandra.
Wanita itu duduk di atas kasur dan memakan buburnya dengan lahap, meskipun tak ada rasanya dia tetap memaksa dirinya untuk makan demi anaknya.
"Mana Diandra yang sangat bersemangat dulu hmmm? dulu saja sewaktu kau baru bangun dari pingsan langsung teriak-teriak dengan marahi ku bawakan kau sampai mendorongku hingga aku terjerembab ke atas lantai, Kenapa kau sekarang sangat lemah? Dasar wanita,"ucap Otniel.
"Hehehe, ini kan lagi pusing banget loh Kak jangan ngajak berdebat Kenapa ?? Entar deh kalau udah aku sehat kita debat lagi kayak dulu," cerocos wanita itu.
"Cih... Emang sanggup debat sama Eike, " goda Otniel sambil memainkan tangannya.
"Heh dasar pembuat onar, makan saja makananmu, jangan sampai kau busung lapar karena malas makan," ketus Otniel.
"Jiah dasar dokter gadungan, mana ada orang gak makan sehari langsung busung lapar, emang dasar ya kalau dokter gadungan itu gak bisa apa apa,"balas Diandra tak kalah ketus.
"Hemmm.... Iya iya kau yang paling benar nyonya, pembuat Onar, " balas Otniel.
"Dasar dokter somplak, barusan ngomongnya sangat lembut sekarang ngomongnya kayak orang lagi demonstrasi di depan kantor DPR, kayaknya bibir itu perlu di jahit kali ya!" Balas Diandra.
"Jahitlah kalau bisa, makan aja kau gak sanggup, sakit kepala langsung menyerah dasar lemah, " balas Otniel dengan mulut pedasnya itu.
"Ihhkkk Dokter gadungan,aku makannya kuat tau grrhhh, seandainya kepalaku gak pusing udah ku gebukin kau pakai sendok ini!!" Ucap Diandra sambil menggenggam erat sendok yang ada di tangannya.
"Ya itu kan buktinya kalau kamu LEMAH!!"
__ADS_1
"Hahahahah.... Kau Lemah!" Otniel terus-terusan meledek Diandra.
"Dokter aneh, dokter gadungan, pria anehhhh.... Dasar dokter konyoool!!" Pekik Diandra.
"Ehh si Bambang marah, Ups hhahahahahah... Bumil lagi ngamuk," ejek Otniel yang terus terusan menggoda Diandra.
"Kau akhirnya tertawa dek, syukurlah, jangan khawatir, semua akan baik baik saja," Batin Otniel.
Sementara itu di luar ruangan Diandra tampak Aiden dan Mikha mendengar perdebatan kedua orang itu, mereka berdua saling menatap seketika sebuah senyuman terukir indah di wajah keduanya.
"Syukurlah Diandra memiliki Otniel di sisi-nya, setidaknya dia nyaman di rumah ini karena ada pria itu," ucap Mikha.
" Menantu kita itu sehebat dirimu sayang, mari kita persiapkan pernikahan mereka dengan baik, ini menjadi kado terindah untuk mereka, David dan Diandra sudah melalui banyak hal, mereka harus merasakan kebahagiaan," ucap Aiden yang dibalas anggukan kepala oleh Mikha.
Sementara itu di Jerman, The Lunar kembali menjalankan aksinya sebelum acara pertemuan perusahaan besar dimulai esok hari.
Di dalam rumah keluarga Aniston, tiba tiba seluruh lampu mati dan menyala berkali kali, bahkan seluruh televisi di rumah itu tiba tiba menampakkan film horor.
Rumah yang dilengkapi dengan remote control itu tiba tiba mengalami kekacauan sistem, pintu dan jendela terbuka sendiri,air tiba tiba mengalir, berulang kali bagaikan teror yang menakutkan.
Besara yang berada di dalam kamar Nyonya Helen terkejut bukan main. Mereka berdua sedang membicarakan rencana mereka untuk esok hari namun tiba tiba rumah besar itu di teror.
"Ada apa ini? kenapa sistemnya menjadi kacau seperti ini?" ucap Helen dengan mata terbelalak, hampir saja dia terjungkal dari atas kursinya karena lampu kamar dan televisi yang tiba-tiba menyala dan mati di waktu bersamaan.
"Apa mungkin kerusakan sistem, bukankah rumah ini memakai remote control?" tanya Besara sambil meletakkan berkas yang ada di tangannya ke atas meja.
"Tidak mungkin, dua hari lalu sudah di perbaiki!" ucap Helen sambil berdiri.
"Apa jangan jangan pria itu membohongiku?" gerutu Helen.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😊😉