
Diandra masih menangis tersedu-sedu, dia mencari suami dan kakak kakaknya, salah satu alasan dia menangis karena dia takut sendirian dengan orang asing bertato dan berwajah sangat.
"Hiks hiks... hiks... kakak... huaaaa...." Wanita itu kembali menangis histeris.
Para petugas medis panik, mereka sudah menjelaskan dengan sangat baik tapi Diandra malah menangis kencang saat mendengar kabar itu.
Sean yang sudah tidak tahan mendengar Diandra menangis, menerobos masuk ke dalam ruangan itu sambil melemparkan tatapan Pembunuh pada tiga orang petugas medis yang memeriksa kondisi Diandra.
"Apa kalian bisa bekerja dengan baik hah? kenapa dia masih menangis!!" senggak pria itu.
Mendengar Sean memarahi petugas medis, Diandra terkejut, dia ketakutan sendiri sampai sampai dia berusaha menahan tangisnya sambil menutup mulutnya dan menyembunyikan dirinya di dalam selimut.
"Hiks... hiks... hikss.. kak... kalian dimana, aku takut," lirih wanita itu sambil menutupi tubuhnya, dia persis seperti kepompong saat ini.
Sean melirik ke arah Diandra, seketika pria itu menghela nafas berat, Ternyata saudara angkatnya sangat cengeng berbeda dengan Reva yang memiliki sifat terlalu cuek, lain lagi dengan Vasko yang terlalu menyeramkan.
"Mereka bertiga ini benar benar sulit di hadapi, ck... tiga manusia aneh, karakter kalian itu ughhh.... benar benar persis seperti Mama," batin Sean yang menatap Diandra sambil memijit pelipisnya.
"Bagaimana keadaannya? kenapa dia menangis?" tanya Sean, kali ini dia tidak semarah sebelumnya, tentu untuk membuat Diandra nyaman.
"Keadaan Nona sudah mulai membaik, sakit perut dan pendarahan yang dialaminya adalah gejala biasa pada kehamilan di trimester pertama, kami sudah memberikan pereda nyeri dan menghentikan pendarahannya," ucap Dokter yang menangani Diandra.
"Lalu kenapa dia menangis?" tanya Sean.
"Ah... I...itu karena kami memberitahukan kalau nona tengah hamil muda, tiba tiba saja dia menangis, melihat reaksi nya apa mungkin dia ham..."
"Dia sudah menikah," potong Sean yang mengerti arah pembicaraan doktet itu.
"Ahh maaf atas kelancangan saya tuan," ucap Dokter itu yang di balas anggukan kepala oleh Sean.
"Apa masih ada yang perlu kalian lakukan padanya?" tanya Sean.
"Tidak tuan, semuanya sudah beres, tinggal menenangkan nona, " ucap Dokter itu.
"Hmmm... usai kandungnya?" tanya Sean.
"Menjalani enam Minggu tuan dan kandungannya cukup kuat," jawab Dokter tersebut.
"Baiklah, kalian boleh pergi jika sudah selesai," ucap Sean.
"Baik tuan, kami permisi," ucap Dokter tersebut.
__ADS_1
Setelah kepergian petugas medis yang merawat Diandra, Sean mendekati Dian dan duduk di samping brankar anak Mama angkatnya itu.
Diandra tampak diam di balik selimut, tak ada tanda tanda kalau wanita itu menangis lagi.
"Kenapa dia tiba tiba diam?" pikir Sean.
Beberapa saat kemudian terdengar suara dengkuran halus dari wanita itu, dia terlelap dalam posisi duduk sambil membungkus tubuhnya.
"Hadehhh.... gak Mama gak anak sama sama kebiasaan molor kalau udah nangis," gumam Sean sambil geleng-geleng kepala.
Dengan perlahan dia memperbaiki posisi tidur wanita itu, merapikan selimutnya dan membuat Dian senyaman mungkin.
Saat dia tengah menggeser tubuh Diandra tiba tiba pintu di buka dan terdengar suara bariton seseorang yang benar benar mengganggu.
"Apa yang kau lakukan Sean!!" ucap Vasko dengan suara beratnya itu, dia berpikir kalau Sean tengah menyentuh adiknya.
Sean memutar malas kedua bola matanya, dia berbalik sambil menaruh telunjuknya di depan bibirnya dan melirik Diandra yang tengah terlelap.
Vasko, Joel dan Otniel melirik Diandra, adik mereka tengah terlelap rupanya.
Setelah memastikan Diandra nyaman, Vasko dan Sean duduk di sofa dalam kamar VVIP itu tak jauh dari Diandra. Sedangkan Otniel dan Joel duduk di samping brankar wanita itu, mereka masih bisa mendengar suara Sean dan Vasko.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Vasko.
"Ha.... hamil? ma.. maksudmu adikku hamil?" ucap Vasko yang benar-benar terkejut dengan kabar baik ini.
Sama halnya dengan Vasko, Otniel dan Joel juga terkejut bahkan mereka sampai menoleh ke arah mereka berdua.
"Apa kalian belum tau? pantas saja dia ditinggalkan di rumah sendirian ,ck... apa kau tak bisa menjaga dia Vasko?" ucap Sean dengan tatapan sinis.
"Cih... diamlah Sean, kami memang belum tau hal ini, sebab Diandra tidak menunjukkan gejala apa pun, hanya porsi makannya yang semakin besar," untuk Vasko dengan wajah kesal.
"Hmmm... terserah, tapi kusarankan beri perlindungan khusus untuk nona, dia bisa dalam bahaya, kau tentu tau siapa dalang di balik ini bukan?" ucap Sean.
"Hmmm... Tiger, mereka melakukan ini tapi aku belum tau apa motifnya," ucap Vasko.
"Ck... kalau begini kita harus bergerak pelan pelan, Diandra bisa dalam bahaya dan janinnya juga akan terancam jika hal seperti tadi terjadi lagi" jelas Sean.
"Katakan apa yang terjadi pada istriku!" ucap seseorang yaitu David yang baru tiba dengan Helikopter, dia tampak acak acakan, lengan kemejanya di gulung dan dasinya di lepas, Joy juga datang di belakangnya.
Topengnya dibuka, David tak lagi memakai topeng keloid itu. Dia benar benar menunjukkan wajah aslinya sekarang.
__ADS_1
Mereka semua berdiri saat melihat kedatangan David, wajahnya tampak khawatir, dia langsung menghampiri istrinya yang tengah terlelap di atas brankar.
Mata Joel dan Otniel terbelalak saat melihat wajah David yang sempurna dan tak ada cacat disana, mereka benar benar terkejut dengan wajah itu.
"Wa..wajahmu... A...apa kau benar benar Da..David? Siapa kau hah!!" senggak Joel yang seketika itu tidak mengenali David karena wajahnya benar benar berbeda.
"Ini aku," ucap David datar, dia tidak peduli apa tanggapan mereka tentang dirinya, yang penting sekarang dia harus tau keadaan istrinya.
Joel dan Otniel benar benar terkejut ada perasaan senang sekaligus sedikit kecewa namun bukan masalah bagi mereka sebab mereka yakin kalau David punya alasan.
Dan yang terpenting saat ini adalah kondisi Diandra.
"Ck... ahhh... dia terlalu tampan, ahhh bahkan aku saja menyukai wajah itu," gumam Otniel yang bisa di dengar jelas oleh Joy.
"Sepertinya pria di sampingku ini tidak normal," batin Joy yang bergidik ngeri mendengar ucapan Otniel.
David menatap wajah lelah Diandra, wajah sembab habis menangis itu membuat David benar benar khawatir.
“Ada apa dengan kakak ipar?” bisik Joy yang berdiri di samping Otniel.
“Kami juga belum mendengar penjelasan pria itu, kita sama penasarannya,” bisik Otniel sambil melirik Sean yang berdiri sambil menatap mereka dengan tatapan datar, auranya persis seperti Vasko.
“Siapa dia?” bisik Joy lagi.
“Tangan kanan Vasko di Black Rose,” ucap Otniel yang membuat Joy seketika itu paham.
“Kejadian ini sepertinya berhubungan dengan mafia, tapi kenapa kak Diandra yang menjadi sasaran mereka? Atau mungkinkah ada yang memerintahkan mereka?” pikir Joy yang merasa janggal dengan kejadian ini sebab dia sendiri belum tau siapa itu Diandra sebenarnya.
Yang mengetahui siapa Diandra sebenarnya hanya Vasko, Sean dan David selebihnya tidak ada yang tau identitas asli wanita itu. Vasko belum mengungkapkan identitas Diandra sebab dia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan, bahkan sebelum dia mengungkapkan identitas Diandra, wanita itu sudah diincar.
Sementara itu David menatap wajah cantik istrinya, dia mengusap wajah itu, membersihkan sisa air mata dan keringat dipelipis Diandra,” Maaf,” ucapnya pelan sambil mengecup kening istrinya.
“Aku ceroboh meninggalkanmu sendirian sayang, maafkan aku, aku akan membalas siapa pun yang melakukan ini padamu, aku pulang sayang,” ucap David lagi sambil menatap wajah itu.
Puas melihat istrinya yang tengah terlelap dengan damai, David kini beranjak mendekati Vasko dan Sean.
“Jelaskan apa yang terjadi pada Diandra,” ucap pria itu dengan sorot mata tajam, wajah itu benar benar dingin dan marah saat ini.
.
.
__ADS_1
.
Like Vote dan Komen ya 😉😉