
Pak Putra berjalan membukakan pintu untuk Joy yang sudah dia dengar berteriak memanggil dirinya untuk keluar dari dalam rumah.
Dengan langkah yakin dan bahagia, Pak Putra membukakan pintu untuk Joy dan berharap akan keberhasilan semua rencananya.
Pak Putra membukakan pintu dan...
“Ding Dong,” seru dua pengawal Joy yang berdiri sambil menatap Pak Putra dengan tatapan seperti Joker.
“Arrhhhkkkk....” Pak Putra malah berteriak sekencang kencangnya karena kaget melihat dua wajah seram di depannya.
“prftthh... hahhaha...” Joy tekikik geli di belakang kedua pengawal itu.
“Bisa bisanya mereka berdua sama persis seperti tuannya hahahhaha, ada ada saja, kurasa ini anak didikan Diandra dan Otniel,” kikik Joy.
“Ekhmm... Pa, kenapa duduk di lantai, ohh ayolah jangan merendah seperti itu,” ucap Joy sambil melenggang masuk ke daam rumah tanpa memperdulikan Papanya yang jatuh di atas lantai.
Pak Putra malah terkejut melihat penampilan Joy yang begitu menyeramkan, Satu bulan sejak pernikahan Joy dan Vasko terjadi, perubahan wanita itu benar benar drastis, sebulan lamanya mereka tak bertemu tetapi Joy berubah seperti orang asing.
Joy masuk ke dalam rumah.
“Mama!!” teriak Joy.
“Mama, Joy pulang Ma,” teriaknya lagi namun tak ada yang menyahut.
Pak Putra yang mengikutinya dari belakang terdiam saat mendengar Joy memanggil istrinya yang kabur dari rumah sejak dua hari yang lalu karena kesalahan dirinya.
“Ma... mama kamu lagi pergi Joy, dia lagi cari buah untuk kakak kamu,” ucap Pak Putra.
“kakak kamu lagi sakit,” ucap Pak Putra selembut mungkin, belum lagi melihat dua bodyguard yang tubuhnya besar besar berdiri di dekat Joy membuat ruang gerak Pak Putra sedikit kurang leluasa.
“Ohh... “ ucap Joy dengan nada angkuh dan centil, seperti bukan dirinya.
“Sialan kau anak tidak tau diri, beraninya kau berkata sombong di depanku, tunggu saja, aku akan membuatmu menuruti semua keinginanku, maka putri kesayanganku akan selamat dari sakitnya,” batin pak Putra.
Joy berjalan dengan angkuh dia melewati kamar Amel, namun tiba tiba dia berbalik dan mencoba untuk membuka pintu kamar itu.
Dengan sigap Pak Putra menghalangi Joy mendekati kamar Amel, sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan di kamar putrinya itu.
“kakakmu sedang tidur nanti saja masuknya, dia sedang tidak enak badan,” ucap pak Putra yang sudah berdiri di depan pintu kamar putri kesayangannya.
“Bau amis,” batin Joy.
Bukan hanya Joy yang menyadari hal itu, kedua bodyguardnya juga merasakan hal yang sama, mereka mencium bau menyengat dri kamar Amel.
__ADS_1
Setahu Joy, Amel adalah tipikal pembersih dan tida menyukai jika kamarnya berbau sedikitpun.
Bahkan sejak kecil, Amel adalah tipe gadis pembersih meskipun semakin parah sejak dia beranjak dewasa.
Segala hal akan dia bersihkan dan Pak Putra menyayangi Amel karena dia gadis pembersih, baginya itu satu nilai plus wanita itu padahal dia tidak tau ada sesuatu di balik sikap pembersihnya yang berlebihan itu.
“Sebenarnya apa yang terjadi disini, sebulan tak kesini tetapi segala hal menjadi misterius,” gumam joy yang sudah duduk di sofa ruang tamu, namun dia terkejut saat melihat sofa yang berdebu belum lagi musim kemarau, jika tak dibersihkan sehari saja pasti akan langsung berdebu.
“Aku kan membeli vacuum Cleaner? Tapi kenapa ini sangat berdebu,” pikir Joy yang kembali bangkit berdiri untuk membersihkan pakaiannya.
“Pa kenapa rumah kotor dan lusuh? Seperti tidak dibersihkan saja,” ucap Joy heran.
“Eh... dibersihkan kok, Cuma debu emang tebal banget, “ ucap Pak Putra seraya mengusap keningnya, dia seperti merasa ketakutan, belum lagi saat mendengar nada bicara Joy yang sedikit membentak dan mendominasi.
“Hmmm..” joy megangguk paham.
“Jadi ada apa Papa memanggilku kemari?” tanya Joy.
“begini nak, ummm sebaiknya kita minum dulu, sebentar papa ambilkan,” ucap Pak Putra yang langsung melongos ke dapur tanpa sempat mendengar jawaban anaknya.
“Tapi Pa biar Joy aja,” ucap Joy namun tak digubris oleh pak Putra.
Bodyguard Joy membisikkan sesuatu ke telinga Joy yang langsung membuat gadis itu sedikit terbelalak dia tidak terpikir sampai disana.
Pesan pengawal itu pada joy.
Joy mengangguk paham, bersyukur dia membawa dua pengawal bersamanya, jika tidak dia akan kecolongan bagian ini.
Di depan Joy kini tersedia minuman yang dibawakan oleh pak Putra, kedua bodyguard Joy malah duduk di samping Joy melindungi Joy di kiri dan kanan.
Melihat mereka bertiga sontak membuat Pak Putra sedikit gemetar karena aura mencekam dari Joy.
“Minum dulu nak, setelah itu kita bicara,” ucap Pak Putra sambil memberikan minuman pada Joy.
Tak enak jika menolak minuman yang disuguhkan orangtua tetapi jika diminum, Joy tidak tau apa yang dimasukkan pria itu ke dalam minumannya.
“Terimakasih Pa,” ucap Joy.
“kalian juga minumlah,” ucap Pak Putra pada dua bodyguard itu.
Salah satu bodyguard mengambil gelas mendahului Joy dan mencicipi minuman itu namun tidak menelannya,” obat ini,” batin pria itu saat tau rasa dan bau yang ditimbulkan obat itu.
Mereka tentu tau jenis obat obatan karena sudah berhubungan langsung dengan dunia narkotika bahkan beberapa kali mencuri dan menggagalkan penjualan narkotika milik aliansi besar lainnya.
__ADS_1
Minuman yang dicicipi oleh pria itu ternyata dicampur dengan obat halusinogen yang membuat siapa pun yang meminumnya akan menurut dengan orang yang memberi perintah.
Joy sadar kalau ada yang salah, dia mengangkat gelasnya dan melakukan seperti yang dilakukan oleh anak buah yang mendampinginya.
“Nyonya ikuti saja arahanku,” bisik salah satu pengawal itu yang di balas anggukan kepala oleh Joy.
Setelah meminum minuman itu, Pak Putra tersenyum menatap putrinya,”Anak papa, aku merindukan mu nak,” ucap Pak Putra berusaha mengambil hati Joy.
Joy melirik pengawalnya, pria itu mengangguk sedikit,” Joy juga merindukan Papa, apa kabar dengan papa, sudah sebulan Joy tak ke rumah, apa yang mau papa bicarakan?” tanya Joy.
“Ummmmm... ada yang benar benar harus kamu lakukan untuk Papa,” ucap Pak Putra sambil mengeluarkan beberapa dokumen di hadapan Joy.
“Nyonya berakting pusing dan menurut saja setelah itu lanjutkan permainan, kami akan pura pura tidur,” bisik pengawalnya saat melihat ada kesempatan karena pak Putra fokus pada dokumennya.
Joy paham, sebenarnya sangat sakit hatinya saat mengetahui apa yang dilakukan oleh Papanya, tapi dia akan melihat sejauh mana Papanya melangkah untuk menjebaknya.
“Nak kau sayang kan pada papa?” tanya Pak Putra.
“Akhh... pa, kepalaku pusing,” ucap Joy yang tiba tiba lemah alias pura pura lemah.
“Tak apa kau akan paham maksud papa, kau , harus berpisah dengan Vasko karena Vasko akan kujodohkan pada kakakmu Amel, kau mau kan menandatangani surat ini sayang,” ucap Pak Putra to the point.
Hampir saja Joy keluar dari ranah aktingnya, bagaimana bisa Papanya meminta Joy berpisah dari suaminya.
“Tega,” batin gadis itu menangis.
“Kakakmu sedang sakit, dia butuh seorang pendamping dan dia menginginkan Vasko sebagai pasangannya,” kali ini nada bicara pak Putra mendominasi saat dia berpikir kalau dia berhasil membuat Joy meminum minuman berbahaya itu.
“Kenapa pa?” tanay Joy dengan nada lemah.
“Karena hanya Amel yang patut bahagia, bukan dirimu anak sialan!!” ucap Pak Putra sambil menarik kasar tangan joy untuk segera menandatangani surat perceraian yang sudah dia siapkan untuk Joy tandatangani.
“Ta...tapi,”
“Menurut dan tanda tangan,” tegas pria itu.
Tangan Joy bergerak dan....
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...